Zona Berondong

Zona Berondong
Onbooked


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Hari berganti dengan cepat. Tak terasa ini sudah hari minggu lagi. Seminggu sudah Dika dan Rina tak saling bersua. Hanya saling menyapa lewat pesan dan telfon saja.


Rina hanya mampu menatap foto kekasihnya yang tersimpan dalam memory ponselnya. Karena untuk sekedar video call saja ia nyaris tak bisa.


Kadang ia merasa cemas, mungkinkah di sana Dika sedang bersama wanita, sehingga tak lagi ingat pada dirinya.


"Sayang, ikut Mama yuk."


Rina mengalihkan pandangannya dari drama di layar laptopnya menuju sang mama yang berjalan ke arahnya.


"Ke mana Ma?"


"Ke salon."


"Mau ya...."


Rina nampak berfikir. Mager banget sih sebenernya, tapi masa iya aku nolak ajakan mama.


"Ada janji sama Dika ya?" tanya Ririn dengan nada kecewa.


Rina menggeleng cepat.


"Enggak Ma. Bahkan Dika baru hubungi aku subuh tadi, abis itu dia belum ngasih kabar lagi sampai sekarang," jawab Rina dengan cepat. Ia tak ingin mamanya kecewa dan salah sangka.


"Kamu kangen dia?" tanya Ririn dengan tawa kecil di bibirnya.


"Ih Mama. Enggak ya..." sangkal Rina.


"Mama juga pernah muda sayang, meskipun saat seusai kamu belum ada sedikitpun pikiran untuk menikah."


"Enggak Ma, dibilang enggak kok. Aku santai aja nggak ketemu sama dia."


"Aku siap-siap dulu ya Ma."


Rina bangkit begitu saja menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ririn menatap punggung putrinya yang menjauh. Bahkan kamu menjelaskan apa yang belum saya tanyakan. Malah bikin makin kelihatan apa yang sedang berusaha kamu tutupi.


Ririn bergegas meninggalkan kamar Rina. Ia juga bersiap-siap untuk jalan-jalan hari ini. Sesungguhnya ia tahu benar apa yang dirasakan sang putri. Rina berlagak sibuk hanya untuk mengusir rindu dari kekasihnya yang belum halal.


Ia tak menegur karena itu adalah sebuah hal yang normal. Selain itu tak ada hal negatif yang dilakukan Rina sebagai pelampiasan. Ia bahkan jadi lebih rajin dari pada biasanya.


"Dah siap Nak?" tanya Ririn saat melihat putri cantiknya menuruni tangga.


"Udah Ma..."


Mereka berjalan menuju mobil yang sudah dipanasi sebelumnya.


"Mama mau nyetir sendiri?" tanya Rina saat tak melihat ada orang lain di dekat mobil mereka.


"Iya, udah dikasih izin sama papa. Atau kamu aja yang nyetir?"


"Emmm, boleh Ma?"


"Boleh dong, asal nggak ngebut aja."


Senyum ceria terbit di wajah Rina.


"Oke Mama."


Keduanya bertukar posisi. Rina memang sudah lama bisa mengendarai mobil, hanya saja ia belum mendapat izin untuk berkendara sendiri di luar pantauan orang tua.


"Ini mau ke salon mana Ma?"


"Mama pengen massage, sauna, waxing. Spa di tempat langganan Mama aja ya."


"Oke Mama."

__ADS_1


Rina menjalankan mobil dengan kecepatan standar.


"Kamu laper nggak?"


Bukan tanpa alasan Ririn bertanya demikian. Pasalnya Rina akhir-akhir ini sering melewatkan makan dan kalaupun makan porsinya sangat jauh berkurang dari biasanya.


Alhasil tubuh gadis ini terlihat kurus dengan kantong mata yang menghitam.


"Enggak Ma, Rina masih kenyang."


Kenyang?


Rina bahkan lupa kapan terakhir ia makan hingga kenyang. Akhir-akhir ini ia benar-benar kehilangan selera untuk makan.


Ririn tak mau memaksa. Ia tahu betul kondisi putri semata wayangnya.


Rina memarkirkan mobilnya di area salon dan spa yang ditujunya.


"Bentar Ma Dika telfon."


Ririn mempersilahkan putrinya untuk berbicara sementara ia lebih dulu masuk ke dalam.


"Hai sayang."


"Assalamualaikum sayang."


Rina menepuk pelan dahinya. Ia begitu senang hingga lupa mengucap salam.


"Waalaikum salam."


"Kamu lagi di mana?"


"Pagi nganter Mama, mau massage katanya."


"Kamu nggak sekalian?"


"Lihat ntar lah."


Rina menghela nafas. Sejak kapan satu setengah tahun itu berubah singkat?


"Sayang, kok diem sih?"


"Enggg, aku terlalu bahagia denger suara kamu."


"I miss you."


"Miss you too tunanganku."


"I love you calon istriku."


"Love you too calon imamku."


Sekian detik mereka diam membisu. Mereka kini sama-sama tengah berjuang menahan Rindu.


"Sayang, aku matiin ya. Dedi udah ngajak mulai lagi."


Boleh nggak sih aku bilang jangan matiin telfonnya. Aku pengen denger suara kamu meskipun itu bukan obrolan denganku. Racau Rina.


"Sayang."


"Engg, iya. Kamu semangat ya belajarnya, biar bisa lulus tepat waktu."


Entahlah Rin. Bahkan pikiran dan lidahmu saja sudah tak sejalan.


"Makasih sayang. Tunggu aku ya, aku akan lulus secepatnya dan menikahimu segera."


"Iya."


Rina tak mau lagi berbalas kata dengan Dika. Hal ini hanya membuat rindu ya semakin menjadi saja.

__ADS_1


Sambungan telfon terputus setelah keduanya mengucap salam.


Rina segera berjalan menghampiri mamanya yang sudah masuk terlebih dahulu. Namun di dalam ia disambut dengan wajah mamanya yang nampak cemberut.


"Ada apa Ma?"


"*O*nbooked semua."


"Masa nggak bisa Mbak satu orang aja, toh yang booking belum datang kan?"


"Tapi kalau sewaktu-waktu datang gimana Mbak. Nggak mungkin treatment berhenti tengah jalan."


Rina diam. Iya juga sih.


"Ya udah deh Ma, kita jalan-jalan aja yuk."


Tiba-tiba seorang pegawai datang dan membisikkan sesuatu pada orang yang berbicara pada Rina.


"Maaf Mbak, Bu, orang yang kami maksud sudah datang."


Mereka tampak berbaris hendak menyambut kedatangan seseorang yang Rina dan Ririn tak ketahui itu siapa.


"Orang kaya mah gitu, suka nggak peduliin orang lain," decih Rina.


"Udah, kita jalan."


Rina segera keluar dengan perasaan kesal. Hingga tiba-tiba ia merasa bahunya ada yang menahan saat hendak membuka pintu mobil.


"Ya ampun Rina sayang, Mama kangen."


Perempuan cantik itu memeluk Rina begitu saja.


"Mbak Santi..."


Santi segera melepaskan pelukannya.


"Ya ampun. Maaf Mbak Ririn. Saya nggak lihat. Saya cuma fokus sama Rina."


Kedua wanita ini saling memeluk sejenak.


"Kok bisa banget ketemu di sini?" tanya Santi.


"Iya, kita mau spa, nggak tahunya onbooked semua."


Santi tiba-tiba merasa tak enak.


"Gara-gara Restu nih," cicit Santi.


"Kenapa Ma?"


Memang saat acara tunangan mereka minggu lalu, Santi memaksa Rina untuk memanggilnya Mama.


"Maaf ya, Mas Rudi sekarang jadi protektif banget sama saya gara-gara Restu racunin dia."


"Racunin gimana Mbak?" tanya Ririn penasaran.


"Semua serba privat, apa-apa nggak boleh sendiri. Apa lagi sekarang Rista juga minta les vokal. Jadi sepi kan saya."


Tiba-tiba Santi menarik Rina dan Mamanya untuk masuk kembali diikuti dengan 2 orang perempuan dengan pakaian gelap.


"Mbak/Ma, udah onbooked loh," serempak Rina dan Ririn.


Tiba-tiba Santi berhenti.


"Saya yang booking dan saya pengen kalian temenin saya, nggak masalah kan."


Santi melanjutkan langkahnya dengan membawa dua wanita beda usia ini bersamanya.


Diam-diam Rina tersenyum. Memang benar kata Dika, sifat Mama Santi mirip banget sama Rista. Susah dicegah kalau udah ada maunya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2