Zona Berondong

Zona Berondong
Cita-cita dan Takdir


__ADS_3

"Kakak bisa masak nggak?"


"Ha?! Nggak ada yang lebih random apa pertanyaannya?"


Rista tertawa kecil. Ia yang semula tengkurap di ranjang Dedi, kini bangkit menyusul Dedi yang sedang mencuci baju di kamar mandi.


"Nih...," Rista menunjukkan video berbagai olahan cumi yang ia lihat di YouTube.


"Owh..."


"Bisa nggak?" tanya Rista lagi.


"Kayaknya sih bisa?"


"Kok kayaknya."


"Aku udah lama nggak masak Ta." Dedi mengangkat cuciannya untuk dijemur. "Tunggu sini bentar ya."


"Ikut dong."


"Sini aja ya..."


Rista pun kembali ambruk di atas ranjang Dedi. Kembali menjelajah dunia maya untuk menemukan makanan apa yang akan ia santap malam ini.


"Dah. Mau pulang sekarang?"


Rista masih ragu untuk menjawab. "Makan malam Kakak ya yang masak."


"Kalau nggak enak gimana, aku udah lama nggak pegang wajan dan kawan-kawan."


"Emang terakhir pegangnya kapan?"


"Dulu..." ucapan Dedi menggantung, pandangannya menerawang. "Sebelum aku kehilangan orang tua dan akhirnya tinggal di panti asuhan."


Dedi merebahkan tubuhnya di samping Rista yang masih tengkurap. "Emang sih nggak sekaya kalian, tapi aku dulu ngerasa hidup berkecukupan. Cukup makan dan kasih sayang." Dedi tersenyum mengingat masa lalunya.


"Orang tua Kakak?"


"Seperti yang udah aku bilang, mereka meninggal." Dedi menghela nafas. "Mereka meninggal saat dalam kecelakaan pesawat."


"Kakek Nenek...?"


Dedi menatap Rista. Bukan ia tak paham maksudnya, hanya saja ia belum pernah mengungkap secara gamblang siapa dirinya, termasuk kepada Dika.


"Orang tuaku sama-sama tak punya sanak keluarga. Mereka berasal dari panti asuhan yang sama. Ayah sama Bunda memutuskan menikah setelah keduanya keluar dari panti asuhan dan sama-sama bekerja."


Rista merasakan pilu di hatinya.


"Kakak nggak sendiri, ada aku dan Kak Restu yang bakal jadi keluarga buat Kakak."


Dedi menegang. Bukan, bukan keluarga seperti ini yang aku inginkan. Aku mencintaimu gadis kecil. Tidakkah kamu merasakannya?


***


Rio mengalihkan sejenak pandangannya dari layar laptop. Di ponselnya ada panggilan masuk yang menantikan jawabannya.


"Iya Pa..."

__ADS_1


^^^^^^"Proposal kamu sudah siap?"^^^^^^


"Sudah Pa, ini sedang Rio cek ulang."


^^^"Persiapkan baik-baik, kamu harapan Papa satu-satunya."^^^


"Iya Pa. Rio mengerti."


^^^"Papa mau istirahat dulu. Jaga diri baik-baik."^^^


"Iya Pa."


Rio kembali meletakkan ponselnya. Rio telah menyelesaikan study bisnisnya. 2 tahun yang lalu. Kini ia tengah berusaha menyelesaikan kuliah Penjasnya. Menjadi guru olahraga adalah cita-cita Rio, namun meneruskan perusahaan Papanya adalah takdir. Dan Rio tahu itu semua.


"Surya Group akan tumbang. Aku yakin bocah ingusan seperti kamu tak akan sebanding denganku, Restu Andika Putra Surya."


Rio meraih ponsel yang belum lama di taruhnya itu. "Kenapa kamu belum juga menghubungiku bocah tengik."


Rio nampak mendial nomor seseorang. Panggilan itu berhasil terhubung, namun tak ada jawaban dari seberang sana.


Rio yang mulai tersulut emosi nyaris membanting ponselnya, sebelum ia membuka chat rooms dengan nama Rina Malinda.


^^^Rina Malinda.^^^


^^^Angkat telpon aku atau kamu akan menerima kejutan saat ini juga. Sepertinya akan seru kalau romantisme kita di sebar lewat Web sekolah.^^^


Setelah menekan send dan langsung mendapat centang biru Rio girang bukan kepalang. "Ini rasanya lebih dari sekedar menang lotre." Dia berbicara tepat di depan ponselnya seakan ponsel itu mengerti maksudnya.


Tak lama berselang, ada sebuah panggilan masuk.


"Halo sayang, gimana. Nggak keberatan kan menerima tawaranku."


"Ya hubungi dong, jangan sok polos kamu."


"Mas...."


"Terima atau besok pagi kamu akan mendapat kejutan di sekolah. Aku pastikan kamu akan di DO jika video vulgar kamu tersebar."


"Mas, tapi Mas juga akan hancur."


"Setidaknya aku sudah menyelesaikan jenjang study SMA," ucap Rio santai.


^^^"..."^^^


Rina nampak panik, setidaknya itu yang dapat Rio tangkap dari deru nafas yang di dengarnya. "Terima atau tidak!" Rio tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menekan Rina.


^^^"I, iya." Dengan berat hati Rina menyanggupi.^^^


"Anak baik. Kamu sekarang mending cepet tidur dan susun rencana sebaik mungkin untuk menjerat Restu Andika."


Rina tak mampu menjawab. Ia segera memutuskan panggilan itu dan meletakkan ponselnya dengan tak sabar. Rina meraih bantal dan menenggelamkan kepalanya di sana.


"Aaaaaaaa.....!!!"


Rina berteriak frustasi.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus mengalami yang seperti ini. Dika terlalu baik ya Alloh..."

__ADS_1


Rio bangkit dari kursi kamarnya dan berjalan menuju ranjang. Saat itu juga Indah datang dengan susu hangat yang ia bawa dari kamarnya.


"Yo..., udah mau tidur?"


"Hmm..."


Indah menyerahkan susu yang ia bawa. "PPL dan ngantor sekaligus itu butuh banyak energi. Kamu minum ya, biar istirahatnya nyenyak."


Rio segera menerima gelas yang diulurkan Indah itu dan menandaskan isinya dalam sekali teguk.


"Aku balik dulu."


Saat Indah bangkit, Rio justru menahannya. "Aku butuh kamu."


"Apa kita bisa segera menikah?" tanya Indah yang berdiri di tepian ranjang.


"Saat ini belum bisa."


"Aku ingin kembali ke kamar." Indah berusaha melepaskan cekalan Rio.


"Aku tak ingin dibantah." Rio menarik tubuh Indah hingga terjatuh di atas dadanya.


"Aku tak ingin bernegosiasi."


Kembali mereka melakukan tindakan terlarang yang tak sepantasnya mereka lakukan. Atas dasar cinta, keduanya dibuat buta dan termakan buaian setan.


***


"Pemenang dalam kompetisi ini adalah SMA 77 Jakartaaaa!"


Tepuk tangan terdengar riuh memenuhi gedung. Dika, Tommy dan Panca turut bertepuk tangan meskipun mereka tak berhasil menyabet juara pertama.


"Maaf ya, kita cuma bisa jadi yang ke-dua."


"Andika minta maaf buat siapa?" tanya Panca yang berdiri di tengah.


"Buat kalian," jawab Dika.


"Sialan!"


Ketiganya kini berdiri di atas podium. Menjadi juara 2 dalam perlombaan bertaraf nasional seperti ini sungguh sebuah kebanggan.


"Nggak pengen nih tahun depan rebut posisi yang pertama," tanya Tommy.


"Kadang takdir nggak ngijinin kita untuk mengejar keinginan."


Ketiganya saling merangkul sembari menunggu penyerahan trofi dan hadiah.


Tak lengkap rasanya jika melewatkan foto bersama dalam momen seperti ini. Begitu pula bagi Dika. Dia segera meraih ponsel yang sejak pagi hingga semalam ini belum disentuhnya.


Saat layar kunci terbuka, nampak begitu banyak panggilan tak terjawab yang didominasi 1 nama sebanyak 225 panggilan. Selain itu ada beberapa nama lain namun tak sebanyak nama itu. "Rina," gumam Dika saat membuka dp sang pemanggil terbanyak.


Ragu, dia ingin menghubunginya, namun hatinya belum mampu saat mengingat percakapannya dengan Reno waktu itu.


Akhirnya setelah menimbang, Dika memutuskan untuk menghubungi seseorang. Dia meletakkan ponselnya itu di telinganya. Tak ada yang menerima panggilan itu, hingga akhirnya terdengar suara operator seluler yang bersuara.


"Rina, kamu kemana?"

__ADS_1


TBC


Say something dear.


__ADS_2