Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Salut


__ADS_3

Sikon sekarang membuat tubuh gampang sakit.


Jaga kesehatan ya dimana pun kalian berada.


HAPPY READING


Setelah beberapa waktu lamanya Andre berada di dalam ruangan Dika, akhirnya ia keluar juga. Rahma dan Elis melanjutkan pekerjaan mereka hingga akhirnya Rahma sadar jika Andre masih berdiri di depan pintu sambil memandangi


rekannya.


Lhah, Pak Andre ngapain mandangin Elis seperti itu? Apa mungkin ada perasaan ya? Racau Rahma dalam hati.


Rahma hanya mampu membantin semua pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Ia pun tak berani memandangi Andre lebih lama karena jika sampai hal ini membuat Andre marah, maka tak ada seorang pun yang bisa menjamin


nasibnya.


“Ehm, Elis. Tolong ke ruangan saya sekarang…”


Elis dan Rahma sempat beradu pandang.


“Baik Pak.” Tanpa membantah, Elis pun segera meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Andre masuk ke ruangannya. Meski pun sedikit terkejut, namun Elis tak ingin menunda untuk segera mengikuti bosnya. Ia bahkan tak menoleh kepada Rahma yang penasaran ingin bertanya.


Masuk ke ruangan bosnya tanpa alasan yang jelas seperti ini, membuat Elis dag dig dug juga.


“Duduk Elis…” Andre segera mempersilahkan Elis untuk duduk segera setelah stafnya ini muncul di dalam ruangannya.


“Terimakasih Pak Andre…” jawab Elis sebelum duduk di atas kursi yang bersebrangan dengan Andre.


Keduanya duduk berhadapan terpisahkan sebuah meja yang berisi banyak pekerjaan yang harus Andre tuntaskan. Setelah sekian waktu duduk, ternyata Andre masih diam dan membiarkan Elis gelisah dalam ketidak pastian.


Pak Andre kok malah diem aja sih. Terus buat apa dong nyuruh aku kesini. Perasaan aku tak melakukan kesalahan, apa jangan-jangan pak Andre naksir aku? Ah nggak mungkin.


Elis mulai meracau dalam hati. Ia bertanya, mengira-ngira, dan menjawab sendiri pertanyaannya. Elis menggigit bibir dengan kepala tertunduk. Berdua dengan Andre seperti  ini membuat jantungnya terancam. Meskipun Andre sama sekali


tak menatapnya, tetap saja Elis deg-degan hanya berdua di dalam ruangan dengan orang yang dikaguminya dalam waktu lama ini.


“Elis…” Panggil Andre akhirnya.


“Ya Pak.” Buru-buru Elis menjawab panggilan Andre. Ia penasaran mengapa Andre tiba-tiba memanggilnya ke ruangan seperti ini, padahal pekerjaan yang tadi ia minta sudah Rahma taruh di atas meja.


Andre sempat menunduk dan memijat pelipisnya sebelum mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Elis yang stand by padanya sejak tadi. “Oke gini, apa yang kamu tangkap dari pertemuan kita kemarin?”


“Tangkap apa pak?” tanya Elis tak paham.


Andre meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Ya kamu apa yang kamu pikir tentang saya?”


“Oohh, itu." Andre mengangguk paham. "Ya kaget Pak.” Elis menarik paksa kedua sudut di bibirnya. “Dan kita-kita pun belum sempat kasih selamat.”


Andre menghel nafas. “Well, kamu sudah cerita sama siapa saja tentang pertemuan kita kemaren?”


Elis menggeleng. Bibirku belum siap becerita bapak, karena hati ini masih penuh dengan luka dan kecewa. Ya kalau semua nggak mendadak aku masih bisa siap-siap. Menyiapkan jiwa raga biar bisa merelakan orang yang dikagumi jatuh ke dalam dekapan wanita pilhannya.


“Elis…” Andre memanggil Elis sekali lagi karena sekertarisnya ini hanya diam saat ia menanyai.


“Saya belum menceritakan kepada siapa pun.”

__ADS_1


“Termasuk Rahma?”


“Termasuk Rahma.”


Andre menghela nafas lagi. “Kalau begitu, terus rahasiakan halini.”


“Jangan tanya alasannya,” potong Andre cepat saat Elis terlihat hendak membuka mulutnya.


Akhirnya wanita ini mengangguk. “Iya Pak…”


Dua orang ini saling menatap.


“Terimakasih Elis. Maaf saya sudah membuat kamu repot dengan masalah saya.”


Elis tak mengeluarkan suara sama sekali. Ia hanya menatap Andre dengan mulut terkunci rapat. Apa ini bagian dari kehidupan pak Andre yang sebenarnya? Sisi aslinya yang tak seorang pun tahu aslinya. Duh pak Andre... Kok aku malah makin terpesone dengan personality kamu yang penuh rahasia seperti ini.


“Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu,” ujar Andre dengan nada tak terbantahkan.


Elis pun bangkit dari tempatnya. Ia mohon diri segera seletah Andre mempersilahkan.


***


“Lili, kamu tahu nggak sekarang Hana tinggal dimana?” tanya Rina sambil memakan buah strawberinya.


“Maaf Nona, saya tidak tahu.”


“Kok bisa nggak tahu?”


“Ya karena saya dan Hana sama sekali tak berkomunikasi setelah Hana keluar dari rumah saya.”


“Kok bisa, dia nggak pernah hubungin kamu?”


“Kamu nggak coba hubungin dia?”


“Mau hubungin pakai apa Nona, Hana kan nggak dikasih HP sama Andre, eh pak Andre.”


“Lhah, kok bisa?”


Aduh Nona, capek saya. Kan sudah dibilang nggak tahu, jadi kalau pun ditanya lagi ya tetep nggak tahu. Gerutu Lili dalam hati.


“Ya itu buktinya Nona.”


Rina meletakkan buah potongnya. Ia meraih ponsel dengan gerakan tak sabar. Sepertinya akan ada yang terkena lemparan batu kali ini. “Wah Andre kudu dikasih tahu nih.”


Lili menutup mulutnya yang hendak menyemburkan tawa. Sepertinya Andre akan jadi tumbal kekesalan Rina selanjutnya. Akhirnya ada orang lain yang akan diajaknya berbagi derita. Pasalnya kini ia tengah kepanasan dengan kaki pegal karena harus  berdiri sejak tadi mengenakan kostum strawberry sesuai permintaan Rina.


Setelah mengusap dan menyentuh ponselnya beberapa kali, akhirnya Rina menempelkan ponselnya di telinga. Ia tengah menunggu seseorang yang belum juga menjawab panggilannya di seberang sana.


Setelah panggilannya tersambung, Rina langsung menyerbunya dengan jurus seribu kata wanita yang tak terbantahkan. Terlebih sekarang ia sedang hamil, sehingga ia bisa menghajar siapa pun tanpa ada yang berani melawan karena hak istimewa yang dimilikinya.


Sementara yang di seberang sesekali menjauhkan ponselnya karena teriakan Rina yang amat kencang. Ia yang sedang bekerja segera keluar dari ruangan untuk menemui seseorang.


Orang itu adalah Andre. Buru-buru ia keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruangan Dika agar bosnya ini bisa segera menjinakkan siang betina yang tengah mengamuk padanya sekarang ini.


“Nih, nih, nih…” Buru-buru Andre menyerahkan ponselnya dengan panggilan tersambung kepada Dika.

__ADS_1


“Apaan sih?” tanya Dika yang merasa ditodong saat ini.


“Nih bini lu," singkat Andre masih dengan menyerahkan ponselnya.


Karena Dika tak kunung menerima ulurannya, Andre kemudian meletakkan ponselnya di meja depan Dika. Ia mundur dan membanting tubuhnya di kursi.


“Hana saja tak pernah protes masalah ini, kenapa si Rina bisa seheboh ini,” gerutu Andre sembari melihat Dika yang mulai sibuk menjinakkan Rina. Dengan mata terpejam, Andre memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa sakit di


kepalanya.


Entah setelah berapa lama, akhirnya Dika menyerahkan ponsel Andre yang tadi ia gunakan untuk berbicara dengan istrinya.


“Rina pengen tahu sekarang Hana dimana," ujar Dika kemudian.


“Hana di rumah gue. Aman lah dia.”


“Di rumah bokap?” kaget Dika.


“Ya lu gila apa gimana? Nyiksa Hana itu namanya!” kesal Andre.


“Ya gua pikir lu mau jadi brengsek dengan mengatas namakan orang tua.”


“Ck, nggak waras.”


“Ya intinya sekarang Lu kirim alamat Hana ke Rina, dari pada dia ngamuk lagi.”


Andre menghela nafas. Ada tak tenang di dadanya saat Dika berkata bahwa Rina ingin tahu tempat dimana Hana tinggal. “Rina mau ngapain sih?”


“Rina mau ngirim HP buat Hana, katanya kamu keterlaluan nggak ngasih HP buat dia.”


Andre membulatkan mata tak percaya. “Rina tahu darimana?”


“Kagak tahu Andre. Tapi bener kan?”


Andre mengangguk masih dengan mulut terbuka.


Brak!!


“Cepet kirim alamatnya Onta. Ini Rina sudah calling gua lagi,” panik Dika saat mendengar dering ponsel dengan display foto istrinya di layar.


Andre kembali meraih ponselnya dan berusaha menutup mulutnya yang semula terbuka. Ia mencari kontak Rina dan mulai mengetikkan alamat tempat Hana tinggal bersamanya.


“Rina masih harus bedrest juga sebenarnya.”


“Memangnya kemarin apa yang terjadi?” tanya Andre yang memang belum sempat mendengar penjelasan dari Dika kenapa siang kemarin Rina mendadak dilarikan ke rumah sakit.


Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia meringis menatap Andre yang masih menantikan jawabannya.


“Ck, gua tahu.” Andre menghela nafas. “Lu emang nggak tahu seberapa rawan trisemester pertama kehamilan?”


“Ya kagak. Kan ini kali pertama Rina hamil. Emang lu tahu?”


“Tahu lah, sejak aku tahu Hana hamil, aku mencari tahu segala sesuatu tentang kehamilan.”


Prok prok prok!

__ADS_1


Dika tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada kesiagaan Andre. “Salut gue…”


Bersambung…


__ADS_2