Zona Berondong

Zona Berondong
Terlalu Mudah


__ADS_3


Dika ngapain gigit jari sambil jongkok kek gitu?



Senyumnya cantik banget ya, pantes Dika suka.


...-Happy reading-...


Santi memaksa Dika untuk meninggalkan mobil mereka di rumah. Alasannya adalah agar ia tak kabur pulang dan malam ini bisa menginap di kediaman Rudi.


Setibanya mereka berenam di sebuah restoran bergaya klasik nan mewah itu, meraka sudah disambut dengan jajaran waiters dan karyawan resto dengan seorang manager yang berdiri paling depan untuk menyambut Rudi dan keluarganya.


"Kok sepi Mas?" tanya Santi saat tak menjumpai adanya pengunjung resto selain mereka.


Rudi meraih tangan Santi yang terapit di lengannya. "Saya sengaja menutup resto ini dari pengunjung lebih awal, karena akan menyambut putra dan putri kita."


Santi sungguh terharu mendengar penuturan suaminya. "Makasih Mas..."


Keduanya terus berjalan dengan diikuti 4 remaja di belakang mereka.


Rista terus berbincang dengan riang bersama Dedi. Sementara Rina dan Dika lebih banyak diam. Rina yang merasa minder dengan statusnya sedangkan Dika dengan rumitnya kehidupan yang akan segera dimulainya. Mau bagaimana pun juga Dika tetaplah remaja, yang masik suka kebebasan dan mencoba berbagai hal baru. Kadang ia ingin protes, kenapa author tak menuliskan cerita tentang dirinya yang menjadi remaja biasa saja, yang sibuk dengan PR dan mengatur waktu kencan dengan pacar, itu rasanya akan lebih mudah diterima reader.


Hidangan terbaik sudah tersedia lengkap di hadapan mereka.


"Silahkan dinikmati. Meskipun yang favorit tetap masakan Mama kalian, tapi ini semua adalah yang terbaik yang ada di resto ini," kata Rudi mempersilahkan keempat remaja ini untuk menikmati sajian yang ada.


"Yah, kami nggak akan habis makanan sebanyak ini?" kata Dika yang disambut anggukan oleh 3 yang lainnya.


"Mending mereka ikut makan Pa, dari pada cuma ngelihatin kita," usul Rista.


"Apa boleh?" tanya Rudi pada Dika. Karena ia mendedikasikan semua ini pada kedua kakak beradik ini terutama Dika.


"Tentu Ayah..."


Mendengar Dika menyebut Rudi dengan panggilan ayah, Rudi mengeratkan genggamannya pada Santi.


"Perhatian untuk semuanya. Malam ini, anak-anak saya ingin berbagi dengan kalian semua. Semua yang tersaji di sini, mari kita nikmati bersama-sama." Dengan bangga Rudi menyebut 4 remaja ini sebagai anaknya. Dia tak pernah mengungkap siapa keluarganya karena ia dan Santi sadar bahwa pernikahan meraka merupakan sebuah luka bagi Dika dan Rista. Tapi kali ini dia membawa Santi muncul sebagai istrinya dan keempat remaja ini sebagai anaknya.

__ADS_1


Ucapan terimakasih tak henti-hentinya menghampiri keempat remaja ini. Memang Rudi hanya punya 1 anak biologis dan 1 anak tiri, namun ia yakin Dedi dan Rina punya peran dalam melunakkan hati anak-anaknya.


Awalnya Rina dan Dedi hendak menyangkal bahwa mereka bukan anak Rudi, tapi Rudi mencegahnya. Rudi berkata bahwa keberadaan mereka berdua sama pentingnya dengan Rista dan Dika.


Setelah puas bercengkrama dengan para karyawan di sana, Rudi mengajak istri dan keempat remaja ini untuk menikmati bintang di lantai terbatas restoran.


Rudi sudah memberitahu Santi bahwa kedua anak mereka sudah memiliki kekasih. Awalnya Santi keberatan terutama terkait hubungan Rista, namun setelah berbincang dengan Dika tentang rencananya dengan Dedi, akhirnya Santi setuju. Santi bahkan sangat menyukai Rina terlebih karena ia tahu bahwa Rina menyukai Dika sebagai remaja biasa, bukan seorang remaja yang tumbuh ditengah gelimang harta.


Rudi tiba-tiba mengajak Dedi untuk mengobrol berdua, memisahkan diri dari empat orang yang lainnya.


Tiba-tiba Rudi menyerahkan sesuatu pada Dedi yang duduk di sampingnya.


"Apa ini Om?" tanya Dedi saat Rudi menyerahkan sebuah kunci mobil untuknya.


"Itu buat kamu."


Dedi mengernyit, kemudian menggeser kunci mobil itu hingga kini tepat berada di depan Rudi. "Maaf, saya nggak bisa nerima..."


"Itu untuk hasil kerja keras kamu..."


"Saya merasa tak melakukan pekerjaan apapun Om." Dedi masih kekeh menolak pemberian Rudi.


Melihat raut serius yang terpancar dari wajah ayah tiri dan sahabatnya, Dika kemudian memisahkan diri dari para wanita dan menghampiri mereka.


"Dan walaupun saya merasa dicurangi, setidaknya berkat kamu teka-teki yang selama ini belum terpecahkan bisa ku temukan jawabannya," potong Dika cepat di sela ucapan Rudi.


Rudi mengangguk sepakat dengan ucapan anak tirinya.


"Dan lagian nih ya, pacar Rista masa kalau mau jemput kudu pake mobil kakaknya. Kamu itu pacar apa sopir?"


Dedi tersenyum kecut, ingin marah tapi ia memang tak punya apa-apa. Menjadi sopir seorang tuan putri seperti Rista bahkan sudah bisa mengangkat derajatnya.


Dika sadar perubahan raut wajah sahabatnya. "Aku tahu kamu masang harga diri tinggi banget, makanya terima ini sebagai upah dari kerja kamu. Dan satu lagi, kamu harus bekerja keras untuk memantaskan diri bersanding dengan Rista, makanya mulai sekarang ayo kita mulai kerja. Jangan ditunda atau kamu akan melihat Rista terluka saat kamu merasa tak pantas dan memilih pergi darinya."


Rudi takjub dengan apa yang baru saja Dika ucapkan. Ia juga baru tahu bahwa Dedi punya pemikiran seluar biasa itu. "Saya bangga sama kalian."


Kedua pemuda jangkung itu serempak menatap Rudi. "Cuma saya Yah yang baru nyabet juara dua nasional, kalau dia lombanya masih baru 2 minggu kedepan. Jadi bangganya sama saya saja bukan sama dia."


Ketiga pria ini tertawa. Rasanya Rudi ingin terus terjaga sepanjang malam ini. Ia takut untuk tidur karena khawatir jika bangun esok pagi kebahagiaan ini akan sirna begitu saja.

__ADS_1


Karena malam semakin larut, akhirnya Dedi pulang dengan mengendarai mobil barunya dan Rina diantar oleh semua termasuk Rudi dan Santi.


"Semoga Reno belum tidur ya."


Rina hanya tersenyum tanpa berniat menjawab dengan kata. Meski semua nampak baik-baik saja, ia tak berani banyak berharap tentang hubungannya. Dia hanya anak dari karyawan Surya sedangkan yang bersamanya adalah pemilik dan petinggi Surya Group.


"Rina ini pacar kamu yang kamu ceritain pas mama nginep itu Nak?"


Dika mengangguk.


"Dasar kamu ya!" Santi, beringsut agar bisa menatap Rina di jok tengah. "Rina ngerti nggak Restu jawab apa pas tante tanya kamu orangnya gimana?"


Rina menggeleng, "Gimana Tan?"


"Katanya kamu nggak cantik."


"Ck." Rista berdecak dari jok belakang. "Kalau Kak Rina nggak cantik, mana mungkin Kakak masih mepet aja meski udah diputusin."


"Iya, kah..." Santi tertawa geli sementara Rudi tak bisa menahan senyum di bibirnya.


"Itu cuma salah paham Tante," jawab Rina sungkan.


"Iya, lagian mana mungkin berondong menawan kayak aku mau disia-siain," ujar Dika dengan menarik-turunkan alisnya.


"Berondong?"


Rina kembali cemas saat melihat ekspresi wajah Santi yang tak ia mengerti.


"Selisih berapa tahun sih kalian?"


Rina menghela nafas. "Rina kelas XII Tan, selisih 10 bulan dari Dika."


Santi menatap Rina dan Dika bergantian. "Usia itu bukan jaminan sayang, yang paling penting itu saling sayang dan pengertian. Ya kan Mas?"


Rudi mengangguk. "Saya harap kalian yang masih muda ini bisa saling support juga, masa depan masih panjang."


"Tapi kalau pengen nikah muda, saya nggak keberatan..." Santi terkikik di akhir kalimatnya.


"Makasih, Ma, Ayah..."

__ADS_1


Sementara itu Rina hanya menatap kosong. Ini beneran nggak sih? Masa iya mereka ngizin hubungan kita semudah itu.


TBC


__ADS_2