Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Hot Office


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Meeting perdana telah di selesaikan Rina. Tenang, bukan ia yang memimpin tapi Dika suaminya dan ia bertindak sebagai asisten. Tanpa diduga, Rina cukup cepat beradaptasi, terbukti dengan penguasaan materi yang cukup baik karena secara mendadak ia harus menggantikan Andre yang tiba-tiba sakit perut.


Stigma pada Rina sedikit berubah saat para petinggi melihat langsung kemampuan perempuan cantik ini.


"Baik, saya rasa sudah tak ada yang perlu di bahas lagi," ujar Dika mengakhiri.


"Cukup," sahut seseorang di belakang.


"Dengan demikian, maka rapat kali ini saya akhiri. Terimakasih atas perhatian dan kerjasamanya. Selamat siang, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Satu persatu orang meninggalkan ruang rapat hingga akhirnya menyisakan Dika dan Rina saja di sana.


Dika tak bisa menahan diri untuk tak memeluk sang istri. Selama ini Dika sudah sangat terpikat oleh kecantikan Rina, ditambah setelah menikah, ia makin mencintai wanitanya karena ketulusan dalam memainkan perannya sebagai seorang istri.


Sampai situ saja sudah bahagia, apa lagi kini ia tahu satu lagi kelebihan Rina, kecerdasan dan kemampuan berbicara yang tak pernah ia saksikan langsung selama ini.


"Sayang, kalau ada yang lihat gimana?" protes Rina kala Dika memeluknya dari belakang.


"Biarin," ujar Dika sambil menyembunyikan wajah di ceruk leher istrinya.


"Udah ih," Rina berusaha melepaskan tangan Dika yang melingkar di perutnya.


"Nanti kalau beneran ada yang lihat, aku di sangka simpenan kamu yang bebas pakai kapan aja."


"Biarin. Toh kamu emang simpenan aku, karena nggak ada yang tahu status kita yang sebenernya. Dan aku emang bisa pakai kamu kapan aja..."


Dika memutar tubuh istrinya.


"Karena kamu milikku seutuhnya."


Dika tak tahan untuk tak menyentuh istrinya.


Cklek


Pintu terbuka dan menampilkan seorang OB di sana. Rina gelagapan membenahi penampilannya sementara Dika terlihat santai dan menatap tajam OB yang berdiri bak orang tolol di tempatnya.


"Biasakan mengetuk pintu saat hendak memasuki ruangan. Sekali lagi kamu ulangi kesalahan ini, maka kamu harus bersiap angkat kaki."


"M_m_ma_af pak Restu. Saya janji akan lebih berhati-hati."


OB itu membungkuk saat Dika dengan santai melewatinya dengan menggandengan tangan Rina.


"Dika, udah ih, lepasin tangan kamu."


Dika menghentikan langkah, namun enggan melepaskan genggamannya.


"Bersikap biasa aja, atau kamu akan terlihat mencolok di hadapan mereka," bisik Dika tepat di depan telinga istrinya.


Akhirnya Rina pasrah dan berjalan lebih dekat agar genggaman tangan mereka tak terlihat oleh orang lain.


Begitu masuk ruangan, Dika langsung mengunci pintunya.

__ADS_1


Rina mendongak dan mendapati tatapan nakal dari Dika.


Rina segera menahan dada Dika saat pria ia hendak meraup bibirnya.


"Sayang, ini di kantor."


"Terus apa masalahnya. Ini bukan di ruang terbuka kan?"


Rina berpaling saat Dika nyaris menjangkau bibirnya.


"Ya tapi kalau ada yang curiga gimana?"


"Itu urusan mereka," sahut Dika cepat.


Dika yang sudah gelap mata segera mengangkat tubuh istrinya kemudian keduanya ambruk di atas sofa. Ia segera bangkit untuk melepas jas dan dasinya.


Rina diam di tempat. Jantungnya berdetak cepat dan ia mulai berkeringat. Tanpa sadar kakinya yang terangkat membuat bagian yang digilai Dika terlihat. Terbungkus dengan rapi dengan warna yang disukai sang suami.


Dika sudah tak mampu berfikir lagi. Mereka sudah halal dan tak ada lagi halangan yang mengharamkan tindakan mereka.


Rina yang awalnya menolak, akhirnya hanyut juga. Ia membiarkan Dika menyelam dan semakin dalam. Riak ombak cinta membuatnya terbuai dalam nikmatnya surga dunia.


Hingga akhirnya keduanya ambruk dan terkulai setelah pertempuran bawah laut yang menguras tenaga.


"Aku sayang kamu."


Dika tak menjawab namun lebih memilih untuk mengecup kening istrinya.


Dika masih enggan untuk melepaskan diri hingga tubuh Rina yang biasanya tak akan diam saat Dika menindihnya kini mendadak tenang. Nafasnya pun nampak teratur dan saat Dika melihatnya, ternyata Rina tengah memejamkan mata.


Saat Dika tinggal memakai dasi, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


Cklek


Setelah pintu dibuka, ternyata muncul Hana yang sudah menyampirkan tasnya di pundak.


"Ada perlu apa Hana? Bukankah jam pulang sudah lewat?" tanya Dika dengan tatapan heran.


Hana memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan menatap Dika. Kenapa rambut pak Restu basah. Jangan-jangan benar asisten hanya kedok untuk memasukkan simpanannya.


"Ennggg, saya hanya mengkhawatirkan Bapak. Saya takut anda menemukan masalah dengan asisten pribadi anda, karena sepertinya..." Hana nampak ragu saat hendak meneruskan ucapannya.


"Sepertinya?" ulang Dika.


"Sepertinya dia tak punya cukup pengalaman," ucap Hana akhirnya.


Dika tersenyum mendengar apa yang baru saja Hana ucapkan. Ia sadar betul, tampilannya saat ini pastilah mengundang tanya bagi siapa saja yang melihatnya.


Melihat ekspresi Dika, Hana merasa menang. Sepertinya benar apa yang aku katakan.


"Hana. Kamu cukup cerdas dan kemampuan analisamu boleh juga."


"Kalau bapak tak keberatan, saya bisa..."

__ADS_1


"Hana." potong Dika cepat.


"Gunakan kemampuan kamu untuk bekerja dengan baik dan tak perlu repot-repot memikirkan saya."


Wajah sumringah Hana hilang seketika.


"Lebih baik kamu segera pulang dan beristirahat dengan baik."


Dika mempersilahkan Hana untuk pulang.


Dengan diliputi rasa kesal, Hana segera memohon untuk undur diri.


Setelah memastikan Hana pergi, Dika kembali masuk dan menutup pintunya rapat-rapat.


Saat ia mulai kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda, samar-samar Dika mendengar gemericik air yang ia yakini berasal dari istrinya yang tengah membersihkan diri.


Saat ia menatap sofa, ia tertawa kecil saat melihat pakaian Rina yang tercecer akibat ulahnya. Adegan panas yang baru saja mereka lakukan bak film yang diputar ulang dalam kepalanya.


Rina yang sudah selesai dengan urusan kebersihan sempat celingak-celinguk sebelum akhirnya keluar dengan tubuh berbalut kimono dan rambut terbungkus handuk.


"Sayang ih. Bajuku kok kamu biarin berantakan sih?" gerutunya sambil memungut 4 piece pakaiannya yang tercecer di tkp.


"Nggak apa-apa. Aku masih suka mandanginnya."


"Ck kurang kerjaan."


Dengan kesal Rina juga memungut baju Dika yang juga teronggok di tempat yang sama.


"Ya ampun rok aku!"


Rina menghentakkan kakinya dan berjalan ke arah suaminya.


"Nih, gimana ceritanya kok bisa sampai sini, kan nggak ada cerita cabut dulu terus muntah diluar!"


Dika tertawa mendapati omelan dari Rina.


"Ceritanya aku pake lap," ujar Dika dengan santainya.


"Ha?"


"Terus aku pulangnya gimana Pak Restu Andika. Mana ini warnanya hitam, dicucipun akan sulit hilang."


"Ehm, tinggal pilih salah satu kemeja saya ibu Rina Malinda, saya yakin itu cukup untuk menutup hingga lutut anda."


Mata Rina membulat maksimal.


"Ya ampun."


Rina yang tak tahu harus berbuat apa segera ke kamar mandi. Tak ada cara lain selain di cuci. Ini kan warnanya hitam jadi nggak akan kelihatan kalau dipakai dalam keadaan basah. Batin Rina.


Rina terus menggerutu sambil mengucek rok ya di bawah guyuran air.


"Nyuci tu caranya beneran gini nggak sih?" gumam Rina sambil membersihkan sisa lendir cinta milik suaminya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2