
...*HAPPY READING* ...
Santi benar-benar tak ingin menyerahkan semuanya begitu saja pada WO. Meskipun konsep yang mereka tawarkan sudah begitu apik, tetap saja masih banyak yang kurang bagi Santi.
Memang tak lebih dari 200 undangan yang disebar, namun kerempongannya sama saja dengan undangan sejumlah 200.000 orang.
Bahkan untuk souvenir saja Santi maunya serba custom. Undangan pun demikian. Untung jumlahnya tak banyak, jadi masih ada tim creative yang bisa menerima job ini.
"Ma, udah belom sih Ma..."
Rina rasanya ingin merem saja. Dika persis seperti anak kecil yang menolak saat disuapi ibunya.
"Masih kurang 1 tema lagi. Pokoknya pernikahan kalian nggak boleh biasa-biasa saja."
"Tapi Ma. Resepsinya kan nanti, sekalian pas kita udah siap publish pernikahan. Terserah deh, Mama mau bikin acara 30 hari 30 malam kita nggak akan komplain. Ya kan sayang."
Bukannya bilang iya Rina justru memelototi calon suaminya ini.
"Kalau Mama beneran bikin acara 30 hari 30 malam bisa mati lemas kita."
"Iya juga ya." Dika terduduk lemas membiarkan penata rambut menata ulang rambutnya yang berkali-kali ia acak.
Sekarang Rina dan Dika sedang melakukan photoshoot. Santi bilang tidak boleh melewatkan sesi prewedding dalam pernikahan mereka ini.
Mereka sudah ganti kostum berkali-kali, namun sampai sekarang belum selesai juga.
Mulai di pagi hari dan selesai menjelang tengah hari.
Saat Dika selesai, Dedi sudah menunggunya dengan membawa setumpuk berkas yang harus Dika tanda tangani.
"Jangan ketawa lu," ketua Dika saat mendapati Dedi diam-diam menertawakannya.
"Siap-siap aja ngerasain posisi gue kalau lu nikah nanti."
Dedi memilih diam daripada menjawab dan akan berbuntut panjang.
Dika sengaja tak menyebut nama Rista, karena ia sendiri tak dapat memastikan bagaimana nasib hubungan sahabat dan adiknya ini kelak di kemudian hari. Yang jelas Dedi sudah dianggap anak oleh Rudi, untuk itu ia yakin dengan siapapun kelak ia menikah, pastilah Santi akan rempong seperti saat ini.
Rina datang dengan membawa es kelapa.
"Makasih sayang," kata Dika saat menerima es kelapa dari Rina.
"Sama-sama."
Rina kemudian duduk di kursi yang tak jauh dari Dika. Dia mengambil ponsel yang diacuhkannya sejak pagi.
"Eh Ded, kuliah lu gimana jadinya?"
"Kudu ya kuliah sekarang? Apa aku nggak dikasih izin kalau mau nyari modal dulu dengan kerja sama kamu?"
"Lagian lu ya, Ayah kan udah bilang bakal ngecover semua biaya pendidikan elu, termasuk biaya hidup elu, tapi kenapa masih ditolak. Nyari susah aja."
"Ya nggak gitu, tapi selama bisa sendiri kenapa harus terlalu bergantung pada orang lain."
"Serah deh..."
Dika melanjutkan pekerjaannya.
"Andre tadi ke kantor," ucap Dedi tiba-tiba.
__ADS_1
"Ngapain?"
"Nganterin file. Dia bilang pak Edo kurang sehat."
"Pak Edo sudah seharusnya punya asisten. Dia banyak berjasa dalam perkembangan Surya."
"Kenapa kamu nggak rekrut Andre sekalian. Dia juga kuliah dijurusan yang sama kayak kamu. Mumpung perkuliahan belum mulai, sekalian biar dia ambil kelas sama kayak kamu, biar dia bisa bantu urusan kamu."
Dika meletakkan pulpennya.
"Kamu ini ngomong apa sih. Aku udah ada kamu dan saat ini belum butuh orang lain. Selain itu nggak semudah itu merekrut orang untuk berada langsung dibawahku. Andre memang anak pak Edo, tapi nggak ada yang bisa menjamin kinerja dan attitudenya."
Dedi menghela nafas. Ia kembali memilih untuk diam.
"Rina!"
Tak hanya Rina, namun Dika dan Dedi juga turut menoleh ke arah sumber suara.
"Iya Ma," jawab Rina.
"Sini sayang."
Rina segera bangkit untuk memenuhi panggilan calon ibu mertuanya.
"Sayang aku ke mama dulu ya."
"Iya. Kamu yang sabar ya."
Rina tersenyum menanggapi Dika.
"Aku nggak keberatan kok sama semua maunya mama."
"Ya udah aku ke sana..."
Rina dan Santi yang sibuk dengan printilan pernikahan sedangkan Dika yang masih saja sibuk dengan pekerjaan.
"Gue udah nyaman sama elu Ded, jadi please nggak usah bawa-bawa kandidat lain."
"Gue nggak yakin bisa kerja dengan baik kalau bukan elu partnernya."
Dedi menghela nafas.
"Surya itu punya elu, nyawa Surya adalah elu. Jadi sebaiknya elu nggak terlalu bergantung sama orang luar."
Dika menatap sahabatnya yang tengah menatap langit lepas. Entah mengapa ia mendadak resah.
...***...
Tak terasa hari pernikahan tinggal kurang dari seminggu. Persiapan sudah menyentuh 90%.
Dika dan Rina sudah sangat siap untuk menyambut hari bahagia keduanya.
Sebelum dipingit, Rina dan Dika memutuskan untuk jalan-jalan hari ini.
"Sayang, kamu nggak pengen minta apa gitu buat seserahan?"
Rina mendongak untuk menatap Dika. Ia hanya menggeleng setelahnya.
"Aku cuma minta seluruh hati dan jiwa kamu. Jangan pernah berubah meski nanti aku udah tua dan nggak ada cantik-cantiknya lagi."
__ADS_1
"Sayang, aku sayang sama kamu. Sayang banget sama kamu. Kamu percaya ya..."
"Ke sana yuk..."
Rina mengajak Dika untuk duduk di sebuah kursi panjang.
"Boleh tanya sesuatu nggak?"
"Tanya aja."
"Ada wanita lain nggak selain aku di hati kamu?"
"Ada," jawab Dika tanpa ragu.
Wajah Rina murung seketika.
"Kok langsung diem?" tanya Dika saat melihat Rina diam saja.
"Mundur bisa nggak sih, aku nggak siap kalau harus berbagi cinta..."
Dika merangkul bahu Rina dan mencubit gemas hidung gadisnya ini.
"Apa sih yang kamu pikirin, hmm?"
"Aku cuma mikirin apa yang baru saja kamu ucapin."
"Terus?"
"Terus aku nggak bisa berbagi hati, apa lagi poligami."
Dika terkekeh dengan penuturan kekasihnya.
"Astaga sayang. Wanita lain itu adalah mama dan Rista. Masa iya aku nggak boleh sayang sama mereka."
"Ih, nyebelin! Aku kan serius, tapi malah kamu bercandain."
"Siapa yang bercanda aku juga serius."
Dika meraih tangan Rina dan menggenggamnya.
"Aku trauma dengan penghianatan, jadi aku nggak mungkin menghianati sebuah hubungan. Ya walaupun penghianatan yang menyisakan trauma itu ternyata salah paham, tapi tetap saja masih menyisakan nyeri di sudut hati."
"Bahkan kalau sedikit menoleh ke belakang, aku takut kamu yang menghianati aku. Aku masih suka kecewa saat mengingat penghianatan kamu sama Rio waktu itu."
Rina tiba-tiba di dera rasa bersalah. Kalau ia tak gegabah, nggak mungkin ia terjebak hubungan yang berbahaya macam hubungannya dengan Rio.
"Maaf sayang. Aku nyesel banget."
"Iya. Jangan diulang lagi ya?"
Rina mengangguk mantab.
"Janji..."
"Janji..."
Keduanya menakutkan kelingking seperti janji sepasang anak kecil.
Keduanya tertawa bersama dan kembali berjalan. Mereka jajan sana-sini dan berbelanja barang-barang tak penting hanya untuk menghabiskan waktu hari ini.
__ADS_1
Ya Allah. Lancarkanlah niat kami. Ridhoilah langkah kami. Berkahilah hidup kami.
TBC