Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Rencana Dedi


__ADS_3

Kesel sama Andre ya?


Sabar. Senja juga, xixixixi


Tapi percayalah, akan ada rindu saat Ending akhirnya tiba.


HAPPY READING


Setelah berusaha akhirnya Andre berhasil menyelamatkan telinganya. Dedi yang menyaksikan pun hanya diam saja. Bahkan pada pria yang sudah menganggapnya anak ini, ia belum menyapa.


“Coba kalau Papa tidak kesini, bisa bangkrut perusahaan ini. Dokumen mandek bahkan dari kemarin tidak tuntas dan dijalankan. Jadwal pertemuan semua batal karena hanya ada Hana yang dia tak berani bertindak jika tak ada kamu dan Dika,” omel Edo pada anaknya di sela langkah mereka.


“Tapi Dika juga tak pernah ke kant, aduhh!!!”


Baru saja telinganya terselamatkan, sekarang kepalanya yang giliran mendapat serangan. Niatnya ingin membela diri, tapi justru yang ia dapat serangan bertubi. Bahkan ia sampai tak bisa menuntaskan kalimatnya.


“Kamu jangan seenaknya membandingkan diri dengan Dika. Dia pemilik perusahaan dan ingat, kamu digaji mahal untuk membantu pekerjaannya!” Edo masih mengomel dengan nada tinggi.


Andre mendengus. Ingin sekali ia minta bantuan Dedi namun dokter ini nampaknya sedang cosplay menjadi buta dan tuli. Andre juga lupa pertanyaan yang belum sempat ia ungkapkan kenapa Dedi mengajaknya ke tempat ini, padahal hari ini saja ia bersembunyi untuk mangkir dari kewajibannya di kantor ini.


“Oke, oke. Andre salah maaf. Andre sedang tak sehat makanya perlu perawatan intensif dari dokter Dedi…” ujar Andre berusaha mencari pembelaan atas dirinya kini.


Dedi mendelik namun hanya sekilas sebelum ia kembali membuang muka.


Ctak!


Andre meringis. “Papaaa… ini tu kepala Pa,” protes Andre karena Edo kembali menyerangnya.


“Tak masalah sepertinya Papa melukai kepalamu, mumpung ada Dedi yang bisa menolongmu jika sampai ada syaraf yang putus atau konslet di dalam situ.”


Andre mendengus. “Jahat sekali,” gumamnya pelan sekali.


“Pendengaran Papa masih terlalu bagus untuk tak mendengar umpatanmu,” sarkas Edo.


“Andre nggak mengumpat Paaa…” bela Andre. Ia merengek seperti balita. Ia kini sama sekali tak peduli dengan wibawa yang harus dijaga. Karena sekarang Andre benar-benar kesal dengan sang papa.


Ting!


Pintu lift terbuka dan sampailah mereka di lantai teratas kantor pusat Surya. Dedi masih mengekor dari belakang membiarkan ayah dan anak sibuk dalam perdebatan.


Sudah di sini, dan Hana juga ada di sini, apakah aku harus melanjutkan rencanaku tadi?


Tak salah memang saat Andre merasa ditelanjangi setiap kali Dedi dengan penuh keyakinan membahas tentang wanita yang terjebak dosa bersama pria. Karena yang Dedi meksud memanglah Hana dan pria brengsek itu adalah dirinya.

__ADS_1


Lantas apakah Dedi benar-benar beniat menikahi Hana? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.


“Om?!” kaget Hana saat menyadari Edo yang belum lama pergi kini muncul lagi. “Kenapa kembali?” tanya Hana sambil mengacuhkan sementara pekerjaan di tangannya.


Belum tuntas keterkejutan Hana dengan kembalinya Edo di sana, ia sudah kembali mendapat kejutan dengan kemunculan sosok lain di sana. Sosok itu adalah sosok yang paling ingin ditemuinya hari ini. Orang yang benar-benar dibutuhkan saat ini, karena gara-gara dia Hana sampai kalang kabut sepanjang hari.


Hana bangkit seketika sekarang. Lelah yang ia rasa tak hanya sebatas kata, tapi tubuhnya kini pun mampu bekerja karena ia paksa.


“Sekarang kamu berkemas, biar orang tak bertanggung jawab ini yang menyelesaikan semuanya,” ujar Edo pada Hana.


Hana memegang ujung meja dan menghela nafasnya. Berkali-kali hingga nampak jelas bahwa ada kesal di sela lelahnya.


“Kenapa diam saja? Papa tidak mau tahu, selesaikan dulu semua baru kamu boleh pulang,” ujar Edo pada anaknya.


Andre dan Hana hanya diam. Keduanya masih sama-sama bertahan tanpa sedikitpun bergerak dari tampatnya. Hingga akhirnya Edo mulai sadar, jika dua sejoli ini sedang tak baik baik saja.


“Kalian duduk,” titah Edo dengan nada tak terbantahkan.


Hal ini membuat Andre dan Hana segera melakukan apa yang pria ini minta dengan duduk di tempat yang Edo isyaratkan pada mereka. Sempat keduanya saling menatap sebelum pantat keduanya mendarat.


“Katakan.”


Sejenak Andre dan Hana kembali bertatapan, namun lagi-lagi hanya dalam waktu sekian detik saja kontaknya sudah terputuskan.


Hana menunduk dalam. Jujur ia ingin sekali marah pada Andre yang dirasa juga seenaknya terhadapnya. Bahkan membuatnya kalang-kabut karena harus mengerjakan apa yang tak seharusnya menjadi tugasnya. Belum lagi rasa tak nyaman karena sejak sehari sebelumnya Andre sering kali mendiamkannya tanpa alasan.


Sementara Andre yang menjadi tersangka utama belum bisa berbicara. Isi kepalanya masih begitu ruwet dan belum ketemu ujungnya. Jadi ia sendiri belum tahu harus mulai buka suara dari mana.


“Ehm, apa saya boleh bicara…”


Dedi yang keberadaannya hampir terlupakan pun kini baru ternotice oleh Hana yang hanya fokus pada Andre sejak awal. Ia tersenyum simpul dan sedikit mengangguk untuk sekedar menunjukkan rasa hormatnya.


“Oh iya. Maafkan Om yang sejak tadi hanya fokus pada Andre saja,” ujar Edo yang juga sadar sejak tadi belum sempat bertegur sapa. “Silahkan jika kedatangan Nak Dedi kali ini memang ada kepentingan sendiri.”


Dedi melangkah dan duduk di salah satu kursi. Ia tahu ini adalah momen yang tepat terlebih keberadaan Edo juga akan membuat semuanya lebih mudah.


“Hana, Andre. Secara personal saya ingin bicara pada kalian,” ujar Dedi setelah ia memiliki kesempatan untuk bicara.


Hana spontan mengangkat wajahnya ketika dengan jelas namanya dibawa-bawa. Ia terpaku sejenak menatap Dedi, karena ini adalah kali pertama akan terlibat dalam sebuah percakapan dengannya. Hal ini karena saat ia masuk ke dalam perusahaan, Dedi sedang ada di luar negeri dan hanya namanya yang sempat terdengar karena sepat terjangnya bersama sang CEO muda.


“Ada apa?” tanya Andre dengan lugas. Ia sama sekali tak punya clue tentang apa yang akan dokter ini bicarakan. Bahkan hingga harus menyela kondisi dimana ia dan Hana sedang tak baik-baik saja.


“Andre, apa rencana kamu dengan Hana selanjutnya?” tanya Dedi tanpa basa-basi.

__ADS_1


Andre menelan ludah. Kenapa rasanya ia seperti ditodong begini.


“Aku…” Andre kembali menelan ludah. Ia mendadak kehilangan kemdali atas seluruh sistem di kepalanya. Ia terdiam dengan mata berkedip sesuai irama. Untung saja jantung dan nafasnya bekerja tanpa komando dari otaknya. Jika demikian bisa-bisa ia mati ketika otaknya macet seperti sekarang.


Dedi menyatukan kedua tangan yang semula ia letakkan di atas paha dengan tatapan lurus yang dengan arah yang masih sama.


Melihat situasi tak biasa ini Edo memilih untuk menyimak dengan tangan disilangkan di depan dada. Hana sendiri yang berada diambang lelah dan penasaran hanya mampu menatap pasrah sambil menajamkan indera. Biarlah Andre yang menghadapi Dedi ini.


“Sebenarnya apa urusan kamu dengan hubungan kami?” tanya Andre yang merasa diusik saat ini.


Dedi menghela nafas. Sama sekali ia tak merasa terintimidasi dengan respon Andre yang nampak dipaksakan. Andre dalam kondisi tak baik-baik saja, sehingga sekuat apa pun ia mencoba, tetap saja tak akan mampu membuat Dedi merasa terjebak dan tersudutkan olehnya.


“Jangan berlagak tak mengerti Andre. Ini yang menjadi pembahasan kita hari ini. Dan aku tak mungkin terus diam melihatmu begini,” ujar Dedi.


Merasa ini bukan tentang sebuah hal yang aman-aman saja untuk dirinya, akhirnya Andre memilih untuk segera membawa Dedi memisahkan diri.


Namun Dedi menolak. Ia bersikukuh dan diam di tempat. “Jangan jadi pengecut Andre. Kita hargai keberadaan Om Edo,” kilah Dedi.


“Sebenarnya kamu kenapa sih? Apa untungnya untuk kamu mencampuri urusanku seperti ini!” kesal Andre yang sudah tak bisa stabil lagi. Ia mulai geram dan tersulut emosi. Ini memang kelemahannya dimana ia kerap kali merasa kesulitan jika harus menjadi si penyabar dan bijaksana di situasi yang tak menguntungkan seperti ini.


“Oke, to the point saja. Aku berniat melamar Hana.”


Jedherrrr!!!!


Mata Hana membola seketika. Mulutnya yang menganga pun dibungkam segera. Masih tak percaya dia dengan apa yang baru saja didengarnya.


Ini ngeprank apa gimana? Batin Hana disela keterkejutannya.


Andre sendiri juga sama, tapi ia masih berusaha tak  menampakkanny. Ia menutupi hal ini dengan senyumremeh dan tatapak kesal terhadap sahabatnya. “Bercanda kamu nggak lucu...” lanjut Andre yang berharap keadaan akan berbalik kepadanya.


Santai Andre, santai. Rapal Andre dalam hati. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja Dedi ucapkan. Bisa-bisanya Dedi punya pikiran seperti ini meski hanya sebatas candaan.


“Apa sebegitunya kamu tidak laku, sampai-sampai hubungan teman sendiri kau buat bercanda seperti ini,” canda Andre berharap akan mencairkan suasana.


“Aku sedang tidak bercanda,” balas Dedi dengan entengnya.


“Sial,” lirih Andre yang sudah tak lagi bisa biasa saja. Ia benar-benar frustasi.


Buru-buru ia menatap Hana, dan seketika rasa bersalah begitu kuat menekannya. Tapi perasaan tak pantas membuatnya takut untuk sekedar bergerak mengenggam tangan Hana.


“Kamu diam saja berarti boleh kan?”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2