Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Bandingkan


__ADS_3

HAPPY READING


Hana tiba-tiba bangkit tanpa permisi meninggalkan Andre yang masih mengobrol Dian.


“Han, mau kemana, Han!” Dian yang berada di sampingnya langsung panik dan ingin mengejar saat Hana meninggalkan ruangan. Namun Dian menahan langkahnya dan duduk kembali saat melihat Andre yang menatap dingin. Dian melihan dengan seksama raut dingin sahabatnya.


“Kalian ada masalah?” tanya Dian sesaat setelah ia menyadari sesuatu.


Andre menyandarkan punggungnya dan memijat pelipisnya. Tak mungkin aku mengatakan pada Dian apa yang tengah aku pikirkan. Tak mungkin aku mengungkapkan bahwa aku kesal saat Hana ingin tahu keberadaan Ken.


“Ndre… Hana itu rapuh Ndre…” ujar Dian saat melihat Andre kaku seperti ini. Ia memang tak tahu apa yang terjadi dengan pasangan ini, yang jelas ia sadar betul jika sebenarnya Andre sangat mencintai Hana hanya saja terkadang ia sulit mengendalikan dirinya.


Cklek!


Dian dan Andre serempak menoleh ke arah pintu. Semula


mereka menyangka itu adalah Hana yang kembali bersama mereka, ternyata yang muncul adalah Ken dengan setelan jas dengan raut khawatir di wajahnya.


“Sayaaaang, kenapa kamu malah ke sini sendiri sih…” ujar Ken yang nyelonong menghampiri Dian tanpa permisi dengan sang pemilik ruangan.


“Kamu kelamaan.” Dian yang sempat menatap kedatangan suaminya segera membuang muka.


Ken tak peduli Dian yang mengacuhkannya. Ia tetap menghampiri wanita cantik ini dan memegang kedua bahunya. “Aku ada meeting sayang. Aku yang baru bergabung tak bisa melewatkan agenda begitu saja.”


Dian menghela nafas. Ia pasrah saja saat kemudian Ken memeluknya.


“Jangan marah. Nanti yang di dalam juga jadi ikutan marah,” ujar Ken sambil mengusap perut rata istrinya.


Dian yang semula nampak ceria dan bijaksana saat bersama Andre mendadak merajuk saat Ken tiba. Hana tadi kenapa? Apa dia juga sedang ingin menunjukkan rasa tak nyamannya padaku? Batin Andre.


Apa masalahnya? Perasaan tadi baik-baik saja. Apa mungkin ia risau memikirkan Ken yang sebentar lagi akan jadi papa dari anak yang dikandung Dian? Lanjut Andre. Sepertinya Andre belum bisa move on saat tak sengaja mengingat kejadian dimana Hana hampir dibawa Ken ke Beijing beberapa waktu lalu.


Di tempat lain Hana sedang tersedu. Ia mengunci diri di kamar mandi dan menumpahkan tangisnya seorang diri. Ia tak tahu apa salahnya, kenapa Andre mendadak dingin padanya. Jika memang karena Andre belum bisa melupakan Dian, kenapa dulu ia memilihnya saat Dian menyatakan ingin memulai hubungan lagi?


“Kenapa sesakit ini?” gumam Hana di tengah tangisnya.


Andre adalah orang yang cuek. Ia hampir tak pernah peduli dengan sekitar kecuali pada Hana yang katanya merupakan wanita yang ia cinta. Namun saat ada Dian, ia mendadak peduli dan perhatian. Apa karena hati mereka tarik ulur dalam waktu lama sehingga masih sama-sama ada rasa. Kembali Hana meracau, karena hatinya penuh akan rasa kesal dan kecewa.


Setelah Hana berhasil menumpahkan semuanya, muncul satu hal lagi yang membuatnya kesal, yaitu ia tadi pergi begitu saja tanpa membawa peralatan make up sama sekali. Jika sudah begini, mana mungkin ia bertahan lama-lama di kamar mandi. Tapi kalau memaksa keluar, hanya ada dua pilihan. Ia keluar dengan make up berantakan atau muncul dengan wajah pucat dengan make up yang dibersihkan.

__ADS_1


Setelah menimbang, akhirnya Hana memutuskan untuk menghapus semua make up nya. Ini lebih bagus daripada muncul dengan wajah belang-belentong tak karuan.


Cklek!


Greb!


Mata Hana membulat sempurna saat baru saja pintu ia buka tubuhnya langsung disambul sepasang lengan kekar yang memeluknya. TBelum juga Hana menetralkan keterkejutannya, pelukan erat itu mulai mengendur dan terlepas begitu saja.


“Kamu nangis?” ternyata Andre sejak tadi telah menunggu Hana di luar pintu. Meski masih ada sisa ego, yang jelas ia tak mau Hana sakit dan kembali pergi darinya. Melihat Hana yang diam saja, Andre munali menelisik dan memeriksa wajah ayu kekasihnya.


“Aku habis cuci muka,” ujar Hana yang masih berusaha menghindari tatapan langsung dengan kekasihnya.


Andre menghela nafas. Ia kembali menarik Hana ke dalam pelukannya. “Jangan diam Hana. Katakan apa yang kamu rasakan.”


Hana menggeleng da masih memilih diam.


“Aku nggak akan pernah tahu kalau kamu tidak mau katakan…”


Hana mengangkat wajahnya sebentar sebelum kembali ia tundukkan.


“Kamu balik saja ke ruangan ya. Kasihan Dian sendirian,” ujar Hana sambil mendorong tubuh kekasihnya.


Hana nampak menghela nafas lega. Jika Ken sudah datang, tak mungkin Andre akan focus pada Dian. Batin Hana.


Melihat perubahan raut kekasihnya, mendadak sorot mata Andre mulai berubah lagi. Ia yang semula khawatir pada Hana mendadak dingin dan acuh lagi.


Kenapa Hana antusias sekali hanya dengan mendengar nama Ken disebut, kesal Andre dalam hati.


Tahan Andre, tahan. Ujar Andre dalam hati.


“Ayo kita kembali ke ruangan. Nggak enak ninggalin tamu lama-lama,” ajak Andre dengan gaya bicara yang berbeda.


Andre melepaskan kedua tangannya yang semula berada pundak Hana. Ia berjalan begitu saja tanpa menggandeng kekasihnya.


Hana sebenarnya tak nyaman, tapi ia masih belum dapat benar-benar memahami apa yang tengah terjadi. Mood Andre gampang sekali berubah, persis seperti orang yang sedang datang bulan. Ia berjalan mengekori Andre tanpa niat untuk mendahului atau melarikan diri. Hana hanya bisa pasrah menjalani apa pun yang akan terjadi.


Hingga keduanya tiba di dalam ruangan, Andre tidak menahan pintu meski Hana belum masuk. Akhirnya Hana harus membuka sendiri pintu untuknya agar bisa masuk ke ruangan kekasihnya.


Dian yang semula bergelayut manja pada Ken,segera menegakkan tubuhnya saat melihat kemunculan Andre dan Hana. Ia cukup lama kenal dekat dengan Andre sehingga ia tahu benar jika ada yang tak beres dengan teman masa kecilnya ini. Ia kemudian menyenggol bahu Ken agar sang suami ikut melihat kedua orang ini.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Ken tanpa suara.


Kembali Dian menunjuk pada Hana dan Andre secara bergantian.


“Asem…”


“Apa sayang?” kaget Ken saat tiba-tiba Dian bersuara.


“Asem banget,” rengek Dian manja.


Ken jadi bingung dengan kelakuan tiba-tiba istrinya. Pasalnya kini Dian tak sedang makan apa-apa, jadi apa yang asem dan menganggunya.


Dian belummau berhenti. Ia yang sengaja mencari perhatian, nampak melirik Andre dan Hana bergantian. Ia ingin melihat bagaimana reaksi pasangan sejoli ini. Apakah mereka akan tetap cuek atau memperhatikan ulah yang sengaja ia buat sekarang.


“Apa sih sayang, apa kamu pengen sesuatu yang asem, atau kamu benci sama sesuatu yang asem?” tanya Ken yang masih belum menangkap maksud istrinya.


“Aa aa aaaaa, aku nggak suka aseeemmm…” bukannya menjelaskan, Dian malah terus merengek.


“Apa sayang yang asem? Bilang dong...” Ken hingga menggaruk kepala saking bingungnya.


Dian menggigit pipinya dari dalam. Ia tak boleh tertawa meski kini sedang bahagia. Ia yakin kini Ande dan Hana sepertinya juga mulai penasaran dengan dirinya.


“Dian sayang, ngomong ya. Aku yang bikin kamu nggak


suka?” tanya Ken dengan sabar.


Sepertinya Ken benar-benar siap dengan kehamilan Dian. Ia begitu sabar dan telaten menghadapi Dian yang sering moody seperti sekarang ini. Dulu saat Hana sempat Hamil aku bahkan tak pernah bisa seperti ini, padahal Hana kondisinya tak begitu baik saat itu.


Diam-diam Andre mulai memperhatikan Ken dan membandingkan dengan dirinya. Pria ini ada di usia yang hampir sama dengan dirinya, namun dalam bersikap ia bisa jauh lebih dewasa. Dian yang sangat mandiri dan terlalu kuat untuk ukuran wanita jadi berubah manja seperti sekarang ini karena yang menjadi pasangan adalah pria yang punya aura mengayomi dan melindungi.


Apa kabar dengan Andre. Dia bahkan memposisikan Hana seperti sekarang, padahal jika sedikit menengok ke belakang, Ken menikahi Dian tanpa restu dan di atas tentangan. Tapi dengan sikap bijaknya, Ken berhasil mengatasi segalanya dan membuat Dian bahagia.


Sedangkan dirinya?


Meski tak tahu penyebabnya, Andre baru saja membuat Hana menangis. Belum juga air matanya kering, karena sesuatu yang tak pasti kembali Andre mengacuhkannya seperti sekarang.


Di sisi lain Hana juga menatap Dian. Wanita cantik ini sepenuhnya menyandarkan diri pada Ken yang berada di sampingnya. Mana mungkin ada celah untuk Andre memberikan hati? Apakah Andre merasa kehilangan karena Dian sekrang seperti ini?


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2