
Hai hai.
Siapa yang kalian harapkan muncul di part ini.
HAPPY READING
Setelah keluarga besarnya tahu Rina sedang mengandung, semua sepakat kalau Rina tak boleh tinggal di rumahnya sendiri. Ia harus memilih salah satu antara tinggal di rumah orang tuanya atau di rumah mertuanya. Hal ini mengingat Dika yang tak tentu jadwal pulangnya sehingga para calon nenek tak tega jika Rina harus sendirian di rumah. Ya meskipun Rina dalam arti sebenarnya tak pernah sendiri, namun keberadaan para asisten rumah tangga bukan termasuk anggota keluarga yang bisa membuat mereka tenang saat Dika sibuk bekerja.
“Kudu banget ya pindahannya sekarang Ma?” tanya Dika yang kini harus menjadi sopir untuk istri dan kedua mamanya.
“Ya iya. Kalau nggak sekarang kapan lagi?” sahut Santi.
“Terus aku gimana?”
“Ya terserah kamu, mau ngikut Rina apa mau tetep di rumah terserah,” jawab Santi lagi.
“Ya mendingan kamu ikut Rina saja. Rina mau di mana kamu di sana juga. Kan nggak baik juga kalau suami istri tinggalnya masing-masing,” timpal Ririn.
“Iya Sayang, kamu ikut pindahan juga ya,” pinta Rina pada Dika yang fokus dengan kemudi di sampingnya.
“Oke lah.” Dika menyerah. Berurusan dengan satu wanita saja kadang ia bisa sakit kepala, apa lagi dikeroyok bertiga seperti ini.
Setelah menempuh sekian waktu perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di rumah Dika. Di sana mereka di sambut oleh para asisten yang sudah berjajar seperti biasa. Beberapa orang langsung diintruksikan untuk mengemasi barang-barang Rina dan Dika karena mereka akan tinggal di rumah Santi untuk
sementara.
“Kamu ngapain sih?” tanya Rina pada Dika yang mondar-mandir sejak tadi.
“Kamu kalau di sini aja gimana? Apa benar-benar tidak bisa?” tanya Dika yang sepertinya tak rela kalau harus meninggalkan rumahnya.
“Kamu kenapa?” Rina berjalan menghampiri Dika dan memegang tangan suaminya. “Sebenarnya aku nggak masalah kalau harus tinggal di sini. Toh aku tak pernah sendiri.”
Dika membalas genggaman tangan Rina sehingga tangan keduanya kini saling menggenggam.
“Aku kan juga punya porsi saat bekerja, dan mulai besok Andre juga sudah masuk lagi, jadi aku yakin aku tak akan pulang larut atau bahkan tak pulang seperti yang pernah terjadi sebelumnya.”
__ADS_1
“Sayang beneran deh, aku sebenarnya nggak masalah kita tetap tinggal di sini, cuma gimana caranya ngasih tahu mereka. Ayah saja yang sudah biasa menghadapi mama Santi hari ini tak berhasil sama sekali. Tinggal papa yang belum coba bujukin mama, tapi nggak tahu juga kalau mama bakal tetep kekeh karena mama Santi yang sependapat dengan dia.”
“Kenapa bawa-bawa nama saya?” tiba-tiba Santi muncul mengejutkan pasangn Rina dan Dika yang sedang pusing soal tempat tinggal ini.
“Ma, kayaknya akan ribet deh kalau kita harus pindahan,” ujar Dika pada mamanya.
“Kalau ribet pun yang ribet kan mereka bukan kalian,” ujar Santi setelah menyerahkan segelas jus buah segar pada menantunya.
“Tapi butuh container Ma kalau mau pindahin barang-barang Dika juga, soalnya yang dibawa nggak cuma baju banyak lagi perintilan lainnya.”
“Ya udah tinggal sewa container, sudah kan?”
Dika mengacak rambutnya. “Ya nanti kalau Rina pengen di rumah mama Ririn pasti ribet lagi kan, terus kalau balik ke tempat mama makan waktu lagi. Apa nggak sebaiknya kami tetap tinggal disini.”
“Nggak bisa, Rina nggak boleh sendiri,” ujar Santi sambil duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka.
Dika melepaskan tangan istrinya kemudian ia duduk menyusul sang mama. “Ma, jangan gini dong Ma.”
Dika menghela nafas untuk meredakan kekesalannya pada sang mama. Bagaimana pun juga maksud Santi sebenarnya baik, hanya saja situasi mereka benar-benar sulit untuk menuruti apa yang disarankan mama dan mertuanya.
“Aku harus kerja Mama, dan dan kalau pulang aku pengennya ada Rina. Ya mama bayangin aja lah pas ayah pulang kerja capek-capek tapi mama nggak ada di rumah, gimana rasanya coba?”
“Ma…” Rina berjalan dan menghampiri mertuanya. Ia duduk di tempat kosong persis di samping Santi sehingga saat ini Santi duduk dengan diapit oleh anak dan menantunya.
“Sebenarnya Rina juga nggak apa-apa Ma di rumah sini saja. Rina juga nggak tenang Ma kalau tidur nggak ada Dika,” ujar Rina mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.
“Tapi sayang, kita nggak tega membiarkan kamu sendiri.”
“Di sini Rina nggak sendiri kok. Ada lebih dari sepuluh orang yang tinggal di sini, jadi Rina nggak akan pernah sendirian di rumah sambil nungguin Dika pulang.”
“Ya tapi mereka di sini kan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, jadi kalau kamu sampai kenapa-kenapa mereka kan nggak langsung tahu.”
“Rina akan hati-hati Ma, percaya deh.” Rina meraih tangan Santi dan menggenggamnya erat.
“Yang kamu maksud hati-hati itu sampai terjatuh seperti kemaren, iya? Sama siapa itu, pacarnya Andre ya yang kata Lili sampai sekarang masih di rumah sakit.”
__ADS_1
Spontan Dika menatap Rina dan Rina pun sebaliknya. Mata keduanya serempak membola mendengar apa yang baru saja dituturkan mamanya. Ya memang Lili belum tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya diantara mereka, tapi kalau sampai cerita pacar Andre hamil juga itu kan bunuh diri namanya.
“Ehm. Memang Lili cerita apa Ma?” tanya Dika agar Santi tak curiga karena melihat ia dan istrinya diam terlalu lama. Ia berusaha menetralkan wajahnya dengan cepat dan bicara dengan nada biasa seakan tak terjadi apa-apa dengan mereka.
“Ya Lili hanya bilang kalau Rina jatuh pas dirumahnya, untung pacar Andre membantu jadi Rina nggak apa-apa.”
Rina membuang muka dan mengurut dadanya lega. Sebenarnya Dika juga sama, hanya saja ia lebih bisa mengontrol emosinya jadi wajahnya seakan biasa saja.
“Sebenarnya pacar Andre kenapa sih kok sampai dirawat di rumah sakit?” tanya Santi sambil memakan cemilan yang ada di dekat mereka.
“Emm, itu…” Rina tak ada ide untuk melanjutkan ucapannya. Ia menatap Dika berharap otak cerdas suaminya bisa menyelamatkan kondisi mereka.
“Kata Andre sih dia ada cidera lama, makanya sampai seperti itu.”
Kembali Rina dibuat lega dengan kemampuan berfikir cepat suaminya.
“Cidera apa?” tanya Santi penasaran.
“Kurang tahu Ma. Andre nggak sempat cerita. Keburu panic, soalnya pacar dia pingsan,” kilah Dika berharap Santi akan menghentikan tanyanya.
Santi tertawa geli tiba-tiba.
“Kenapa Ma?” tanya Dika yang heran melihat tingkah mamanya.
“Mama kira hamil juga.”
“Uhuk…” Rina yang sedang minum jus tiba-tiba tersedak.
Spontan Dika dan mamanya serempak menatapnya. Berbeda dengan Dika yang melotot, Santi justru terlihat Santai dengan menyuapkan sepotong kue kering ke dalam mulutnya. Sepertinya ia sama sekali tak menyadari dengan keanehan yang dialami menantunya.
“Tapi mama lupa kalau Andre bahkan belum menikah,” lanjut Santi dengan santainya.
“Atau kalian desak saja Andre buat cepat menikah, terus promil juga biar anak kalian sepantaran.”
What!!???
__ADS_1
Dika dan Rina serempak meringis sambil menatap mamanya yang tengah tersenyum dengan mulut penuh kue kering.
Bersambung…