
Pagi telah tiba. Rina pun tengah bersiap untuk pergi sekolah.
Rina POV
Hari kedua aku tak berkomunikasi dengan Dika. Aku ingin marah, tapi bagaimana aku bisa marah. Bahkan menurutku kita sama saja. dia tak menghubungiku, aku pun tak menghubunginya. Dia jalan bersama perempuan lain, sedangkan aku jadian dengan laki-laki lain. Dan satu lagi kesamaannya, aku pacarnya dan dia pacarku. Oh masih ada satu lagi, terakhir aku berkomunikasi dengannya, ada wanita di sana. Dia membohongiku terkait itu. Memang aku tak melihat wajahnya, tapi suaranya begitu jelas. Masa iya aku harus mengkambinghitamkan hantu wanita yang tiba-tiba berbicara padanya. Sangat tak logis jika hal ini dijadikan alasan.
Selesai sarapan, ojek online yang aku pesan sudah menunggu di luar. "Ma, Pa, Rina ke sekolah dulu ya," pamit ku pada mama dan papa sambil mencium tangan mereka.
"Berangkat sama siapa Nak?" tanya Mama.
"Ojek ma, sudah nunggu di luar," jawab ku.
"Nggak sama Dika?" tanya papa.
Aku hanya menggelengkan kepala. Mama segera berdiri dan mengelus puncak kepalaku dan merapikan anak rambut yang jatuh ke wajahku. Dia seakan tahu kalau aku dan Dika sedang tak baik-baik saja.
"Sekolah yang bener, ingat pesan Mama, selesaikan semuanya dengan baik-baik," kata Mama sambil mengecup keningku.
"Iya Ma." Aku segera berjalan keluar namun aku tak melihat tukang ojek yang aku pesan di sana. Aku malah menemukan Dika tengah menungguku. Namun bukan dengan motor kesayangannya, kini dia bawa mobil. Saat melihatku muncul, ia segera membukakan pintu mobilnya untukku.
"Kamu ngapain kesini?" tanyaku pada Dika.
Dika mendekat untuk meraih kedua tanganku, namun aku menepisnya. "Sayang, maaf kemarin aku sibuk banget makanya nggak bisa hubungin kamu, nggak bisa nganter sama jemput kamu, maaf ya."
"Sibuk apa sibuk kencan?" kataku dengan suara meninggi.
"Kamu ngomong apaan sih, aku beneran sibuk sayang, sekarang kita berangkat ya," bujuk Dika.
"Terserah deh, aku mau sekolah keburu telat," ucapku sambil kembali memesan ojek online.
Namun Dika segera meraih hp yang kini aku pegang.
"Kamu apaan sih ih?!" protesku yang tak suka dengan perlakuannya.
"Ayo masuk nanti kamu telat, aku anterin ya," bujuk Dika lagi.
"Nggak mau. Udah deh kamu berangkat aja sono. Nggak usah merasa bertanggung jawab atas keberangkatan dan kepulangan sekolahku. Kamu bukan sopir aku."
"Tapi kamu pacar aku."
"Mulai sekarang nggak lagi. Aku nggak mau pacaran sama tukang bohong kayak kamu," ucapku sambil merebut HP dari tangan Dika.
"Rina, please," kata Dika sambil menarik pergelangan tanganku untuk membawaku masuk ke dalam mobilnya.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tanganku. Namun apa daya, dilihat dari posturnya saja jelas aku tak mampu melawan tenaganya.
"Lepasin Rina, kamu nggak malu main kasar sama cewek."
Ucap Mas Rio yang tiba-tiba datang. Karena begitu terkejut, Dika tak sengaja mengendurkan cekraman tangannya. Kesempatan ini tak ku sia-siakan untuk melepaskan diri darinya.
"Kamu siapa, jangan ikut campur deh," kata Dika.
__ADS_1
"Aku pacarnya Rina," kata mas Rio sambil menarikku dan membawa ke belakang tubuhnya.
Dika begitu terkejut mendengar ucapan mas Rio. Keterkejutan yang Dika rasakan begitu jelas terlihat di wajahnya.
"Kamu jangan banyak omong, Rina itu cewek aku, bahkan orang tuanya pun kenal sama aku," kekeh Dika.
"Itu sebelum aku datang di kehidupan Rina, tapi sekarang Rina cuma milikku, bukan siapapun termasuk kamu."
Mas Rio mengucapkannya dengan penuh penekanan. Dika benar-benar tenggelam dalam keterkejutannya. Sebenarnya bukan hanya Dika, tapi aku juga terkejut dengan sikap dan kata-kata mas Rio.
"Mas," lirih ku.
Tanpa menunggu ku berbicara, mas Rio segera menarikku menuju mobilnya. Aku masih benar-benar terkejut dengan ini semua.
Mas Rio, siapa kamu sebenarnya. Apakah menjalin hubungan dengan mu adalah sebuah kesalahan. Bukankah sebelumnya aku begitu ingin berpisah dengan Dika, namun kenapa saat ini aku merasa dipaksa berpisah dengannya.
Aku menatap sosok Dika dari pantulan kaca spion. Dia masih berdiri mematung sambil menatap mobil Mas Rio yang melaju membawaku menjauh darinya.
Rina POV End
Saat tiba di sekolah, Rio tak lantas berhenti di gerbang. Namun dia terus melajukan mobilnya hingga kini dia berada di tempat parkir di dalam kawasan sekolah.
Sejak naik mobil hingga kini keduanya tiba di sekolah, sama sekali tidak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Selain itu, juga karena Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata dengan dalih dia tengah buru-buru.
"Mas kok nganternya sampai sini sih, katanya mas Rio lagi buru-buru?" tanya Rina sambil membuka seat belt.
"Iya urusannya Mas di sekolah kamu," jawab Rio sambil keluar dari mobil dan berlari memutar untuk membukakan Rina pintu.
"Iya, aku ke kantor dulu ya," pamit Rio kepada Rina.
Rina hanya mengangguk dan berjalan lesu menuju kelasnya. Baru kemarin dia jadian, seharusnya dia kini lagi bahagia bahagianya. Namun Rina merasa sepertinya ada yang salah.
Apakah meninggalkan Dika dan memulai hubungan dengan mas Rio adalah sebuah kesalahan? Batin Rina.
Saat tiba di kelas, suasana di sana belum terlalu ramai. Bahkan Nita pun belum datang.
Rina begitu tak bersemangat, bahkan untuk sekedar menegakkan tubuh. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas meja. Menelungkupkan wajah di antara kedua lengannya. Hingga akhirnya seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Rina, Rina," panggil Nita.
"Pagi-pagi kok lemes banget sih, kamu sakit ya?" tanya Nita panik.
Rina hanya mengangkat wajahnya sebentar untuk menatap Nita dan kembali menelungkupkan wajahnya di tempat semula.
"Ke UKS yuk, aku anterin," bujuk Nita.
Rina hanya menggelengkan kepalanya.
Drrkkk
Nita akhirnya menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Kamu kenapa sih, cerita dong," tanya Nita.
__ADS_1
Lagi lagi Rina hanya diam.
"Apa ada sesuatu yang terjadi pas kamu tiba-tiba pergi kemarin?"
Kini Rina mencoba untuk menegakkan tubuhnya, kemudian bahwa tubuh itu untuk bersandar di kursi. "Aku mutusin Dika," ucap Rina kemudian.
"What ?!"
Rina hanya mengangguk menanggapi keterkejutan Nita.
"Emang kenapa sih, Dika juga nggak bisa milih kali dilahirkan 1 tahun setelah kamu," kata Nita.
Rina menghela nafas. "Aku kemarin liat dia jalan sama cewek lain," terang Rina.
"What?! Kamu lihatnya di mana?" tanya Nita.
Rina tampak beberapa kali menarik nafas dan menghembuskannya kasar. "Pertama pas di kolam renang kemarin, tapi aku nggak yakin kalau itu Dika, abis itu pas di taman kota kemarin, aku kayak ngelihat Dika lagi. Aku cepet-cepet cabut karena pengen ngikutin mereka. Nampaknya mereka lagi jalan berdua. Aku membuntutinya hingga mereka sama-sama masuk di mobil Dika."
"Terus kamu ngelabrak Dika?"
Rina hanya menggeleng. "Aku mutusin dia tadi pas dia jemput aku, tepat saat itu Mas Rio datang dan membawaku pergi bersamanya," jelas Rina.
"Kok Mas Rio bisa tahu rumah kamu? Berarti kamu pagi ini diantar Mas Rio dong ke sekolah?"
"Aku nggak sengaja jadian sama mas Rio kemarin," lirih Rina.
"Nggak sengaja jadian gimana sih!?" pekik Nita kaget.
"Aku...."
"Rina, ada yang nyariin di luar," kata seorang teman sekelas Rina yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Siapa?" tanya Nita.
"Nggak tahu, udah ya aku ke bangku dulu."
"Siapa yang nyariin kamu sepagi ini?" tanya Nita kepada Rina.
Rina hanya mengidikkan bahu kemudian dia berjalan keluar untuk dapat melihat siapa yang kini mencarinya.
TBC.
Alhamdulillah untuk part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak kalian.
Happy reading, love you all.
__ADS_1