
^^^2 part terakhir. ^^^
^^^Abis itu Senja mau memyiapkan amunisi buat season kedua kehidupan pernikahan Rina dan Dika. ^^^
^^^Biar bisa nulis cerita yang menghibur dan bisa diterima. ^^^
^^^Karena feedback reader adalah kebahagiaan saya. ^^^
^^^Big hug buat kalian. ^^^
^^^Kiss, Kiss, 😘😘😘😘^^^
...*HAPPY READING*...
"Ya ampun, kanggggeeeeennnnnn...!" pekik Rina yang disambut tawa bahagia dari kedua sahabatnya yang sudah terlebih dahulu tiba di sebuah caffe yang sejak dulu menjadi langganan mereka.
Rina berlari dan memeluk dua sahabat yang berbulan-bulan tak ditemuinya ini. Ketiganya begitu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Nita yang menjadi mahasiswa jurusan kedokteran tahun pertama. Dian yang mengambil jurusan menejemen bisnis dan membuka resto sebagai usahanya. Terakhir Rina yang sibuk sebagai mahasiswa dan ibu rumah tangga yang masih harus membagi waktu untuk magang di tempat Jasmine untuk dapat mendapat pengalaman belajar yang lebih nyata. (Yang lupa Jasmine itu siapa bisa flashback ke part 128 ya).
"Ya ampun, semenjak jadi istri Dika kamu makin kinclong aja ya," puji Nita.
"Iya ih, dari ujung kaki sampe ujung kepala branded semua," imbuh Dian.
Bukannya malu Rina justru berputar-putar di hadapan kedua kawannya, memamerkan barang-barang mahal yang melekat di tubuhnya.
Terakhir Nita dan Dian bangkit kemudian saling berpelukan erat.
Tentu saja tak hanya Rina yang bersinar di sini, namun Dian dan Nita juga sama. Mereka sama-sama terlahir sebagai orang kaya, sehingga bukan hal yang aneh jika terdapat barang berkelas dengan harga selangit melekat di tubuh mereka.
Dan ucapan mereka tak lebih sebagai cara untuk menggoda Rina karena dia menjadi satu-satunya yang sudah berumah tangga.
"Udah pada pesen belum?" tanya Rina.
"Udah dong. Termasuk es krim coklat favorit kamu," jawab Nita.
"Thanks Nita."
"Sama-sama Rina."
Ketiganya mulai mengobrol sembari menunggu makanan tiba.
"Coba lokasi resto kamu di sini Di, kita kan bisa makan gratis sepuasnya," celetuk Rina sambil memasukkan satu sendok es krim ke mulutnya.
"Ya elah Rin. Emang kalau makan di sini bakal bikin suami elu bangkrut apa."
"Hehe, nggak sih."
Rina mencomot kentang dan di makannya perlahan.
"Ngapain lihat-lihat?" ketus Dian saat menyadari Rina yang diam-diam menatapnya.
"Hehe..." Rina hanya mampu memamerkan deretan gigi putihnya.
"Itu Nita. Mentang-mentang calon dokter kenapa jadi anteng gini," lanjut Rina.
"Ha? Biasa aja," kaget Nita yang merasa dibicarakan.
"Ehm. Udah deh Rin, kamu tu nggak jago drama, jadi mending jujur aja ada apa?"
Mereka bertiga sudah berteman lama, tak heran jika ketiganya hafal karakter masing-masing.
__ADS_1
Rina menelan ludah, karena ragu perihal keingintahuannya.
"Andre..."
"Gue udah putus," sahut Dian cepat. Hanya dengan menyebut nama, ia sudah sangat paham maksudnya.
Rina terdiam, karena tiba-tiba merasa tak enak. Sementara Nita yang tak tahu apa-apa lebih memilih untuk menjadi pendengar saja.
"Mukanya biasa aja, Mbak. Aku yang ngejalanin aja biasa."
Spontan Rina mendongak dan mendapati wajah Dian memang nampak baik-baik saja.
"Beneran?" tanya Rina.
"Hu'uh..."
Dian menghela nafas.
"Kita baru sadar kalau kita cocok itu sebagai teman bukan sebagai pasangan. Dan kita paham setelah jadian," terang Dian.
"Jangan gitu. Jangan-jangan kalian cuma kejebak friendzone. Terus dulu ngapain, marah-marah sakit hati pas dia pergi. Artinya apa coba kalau bukan cinta."
"Awalnya aku juga mikir itu cinta Rin, tapi sekarang aku sudah sadar apa yang kita rasain sebenarnya. Selain itu keyakinan kita berbeda, ngertikan?"
Rina menarik nafas dan meniup-niup poninya.
"Terus hubungan kalian sekarang gimana?" lanjut Rina penasaran.
"Kita temenan. Meskipun belum pernah jalan sejak putus. Jadi canggung..."
"Pasti sulit ya...." sambung Nita.
Nita nampak lesu.
Dian dan Rina sempat beradu pandang, dan keduanya sepertinya sama-sama tak paham.
"Kita sama-sama ngambil jurusan kedokteran."
"Lalu?" serempak Rina dan Dian.
"Kita sama-sama diterima di kampus yang sama."
"Bagus dong. Tapi kok kamu kayak nggak seneng?" tanya Rina penasaran.
Dengan wajah cemberut Nita menatap kedua sahabatnya.
Dian memicingkan mata. "Kalian nggak putus kan?"
Nita menggeleng.
"Terus masalahnya apa?!" pekik Rina dan Dian tak habis pikir.
"Miko jadi makin keren tanpa seragam SMA, hhwwwaaaaaa...........!!"
Mulut kedua gadis ini terbuka, mata mereka membola, kemudian pecahlah tawa mereka melihat kekonyolan Nita.
Untuk sekian waktu Rina dan Dian masih bertahan dalam tawa, sementara Nita terus mengoceh kemana-mana menceritakan bagaimana para mahasiswi yang tanpa sungkan menyatakan suka pada kekasihnya padahal sudah ada dia di sampingnya. Terlebih tak hanya mahasiswa baru saja karena mahasiswa senior juga sama saja.
Menurut Nita dalam fakultas kedokteran, mahasiswa tampan itu sangat langka, tak seperti yang ada di drama-drama. Kebanyakan dari mereka berkacamata dan berpenampilan seadanya. Beda dengan Miko. Dia cukup tampan dan hobi olahraganya membuat tubuhnya sedap dipandang mata. Jadi begitu ia masuk di sana, ia langsung bersinar memancarkan pesona.
__ADS_1
"Udah-udah, yang penting Miko kan sayangnya cuma sama kamu kan?" hibur Dian.
"Betul, itu yang terpenting," timpal Rina.
Ketiganya terus bercerita hingga tak terasa petang pun menjelang.
***
"Pak, sepuluh menit lagi anda ada pertemuan dengan bapak Rio Rahardja."
Dika masih fokus ke layar ponselnya setelah Andre mengingatkan jadwalnya.
"Oke Ded, sepertinya aku harus bekerja lagi."
"Maafkan aku Dika."
"Kenapa aku merasa direndahkan saat mendengarmu meminta maaf. Apa kau pikir aku setidak mampu itu tanpa kamu?" tanya Dika dengan wajah sinis.
Mendadak Dedi merasa tak enak. "Bukan begitu maksudku."
Melihat air muka sahabatnya berubah, Dika segera mengganti wajah sinis itu dengan wajah cerah berhias tawa. "Aku tahu dan aku cuma bercanda."
Kedua sahabat ini sedang melangsungkan panggilan video untuk pertama kalinya setelah 2 bulan lebih Dedi meninggalkan Indonesia. Tak ayal membuat keduanya banyak sekali bercerita hingga memakan waktu yang cukup lama. Termasuk mengabarkan bahwa Rista memutuskan untuk tinggal di asrama sejak awal tahun ajaran baru.
"Salam untuk semuanya."
"Baik. Kamu baik-baik juga di sana."
"Terimakasih. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah menyimpan ponsel, Dika mengalihkan pandangannya pada Andre yang berdiri di sampingnya sambil menscroll layar gadget di tangannya.
"Apa semuanya sudah siap?"
"Siap Pak. Dan saya baru dapat kabar jika bapak Rio sudah tiba."
Dika segera bangkit dan berjalan diikuti Andre di belakang. Di depan pintu Andre terlebih dahulu membuka pintu mempersilahkan Dika berjalan terlebih dahulu.
Di ruang rapat sudah ada Rio dan asistennya. Melihat Dika datang, ia langsung berdiri dan menyambutnya.
"Apa kabar Pak Rio."
"Sangat baik Pak Restu."
"Silahkan duduk."
Rio segera duduk setelah dipersilahkan oleh Dika.
"Saya sebaiknya memanggil apa? Mengenal anda awalnya sebagai Dika tapi dalam bisnis anda lebih dikenal sebagai Restu."
"Terserah anda lebih suka memanggil apa. Saya tak terlalu mempermasalahkan."
Keduanya saling berbalas tawa. Awal yang baik bukan untuk sebuah kerjasama.
"Baiklah, bisa anda jelaskan produk apa yang anda tawarkan?"
Rio bukan bekerja di perusahaan ayahnya. Ia memilih merintis usahanya sendiri karena merasa tak sesuai dengan ideologi Galih Rahardja. Saat ini ia sedang membawa sebuah produk game yang ia rancang bersama sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
TBC