Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 THT


__ADS_3

HAPPY READING


“Pokoknya ya, aku yang harus desain kamar buat bayinya Kak Rina.”


“Ya nggak bisa. Selera kamu itu jelek. Masih bagusan Mama.”


“Selera Mama itu jadul.”


“Eh jangan salah. Mama itu gaul, jadi tahu perkambangan tren.”


"Ya tapi kan masih otentik anak muda."


“Nggak bisa. Mama kan Neneknya, nggak sopan kalau sebagai Tante kamu mau ngelangkahin Neneknya.”


“Ma…”


Rina mengusap punggung Rista, berharap adik iparnya ini akan mengalah dari mamanya. telinganya sudah sakit mendengar pertengkaran anak dan Mama ini hanya karena berebut ingin membuat desain kamar untuk anaknya kelak.


“Nah kan. Rina aja setuju kan…” ujar Santi dengan wajah penuh ekspresi kemenangan.


“Iya deh iya…”


Rista akhirnya menyerah.


Ketiganya melanjutkan makan siang karena para laki-laki masih sibuk dengan masing-masing pekerjaannya. Rista baru saja tiba. Ia pulang setelah mendapat kabar bahwa kakak iparnya ini sedang mengandung calon keponakannya. Saking senangnya, ia ingin malam ini melewatkan malam dengan Rina sebelum ia harus kembali pada rutinitas kuliah yang baru saja dimulainya. Saat ini mereka sedang berada di rumah Santi karena Rista menolak jika harus bermalam di rumah kakaknya. Ia sangat merindukan Rina namun ia enggan bermalam di rumah kakaknya, jadilah sekarang ia menyeret kakak iparnya ini untuk ikut denganya bermalam di rumah Santi.


“Dikit banget makannya,” ujar Santi saat melihat menantunya ini makan sedikit sekali.


“Sudah kenyang Ma,” jujur Rina.


“Tapi sekarang kamu nggak cuma makan buat diri kamu loh. Ada cucu Mama yang butuh asupan nutrisi juga.”


“Tapi Rina beneran kenyang Ma,” ujar Rina meyakinkan.


“Masa sih? Lagi hamil masa makannya cuma segitu?” tanya Santi tak percaya.


Rina hanya menanggapi dengan helaan nafas. Selain tak sopan, membantah ucapan mertuanya ini bukanlah perkara yang mudah.


“Mama dulu sejak tahu hamil porsi makannya langsung disuruh nambah.”


“Siapa yang nyuruh Ma?” tanya Rina penasaran.


“Ya semua. Tapi yang paling kenceng nenek.”


“Nenek siapa Ma?” ternyata Rista juga ikut penasaran.


“Ya Nenek ibunya Mama, ya Nenek ibunya almarhum papa kamu,” jawab Santi dengan nada sedikit berbeda.


Dari sini Rina merasa ada yang lain, namun ia sendiri tak paham apa yang sedang terjadi pada ibu mertuanya ini. Jadi ia berusaha tak menganalisa dan buru-buru menarik kesimpulan.

__ADS_1


“E tapi babynya cowok apa cewek sih Kak?” tanya Rista setelah mengunyah makanan yang semula memenuhi mulutnya.


“Ya belum tahu Ris, kan masih 10 week,” jawab Rina yang piringnya pun sudah disingkirkan oleh ART yang stand by tak jauh dari mereka sejak tadi.


“Masa? Kan bisa USG?”


“Terus maksud kamu?”


Rista menggerakkan tangannya meninta waktu agar ia dapat mengunyah dengan baik makanan di dalam mulutnya dan menelannya sebelum mulai berbicara. Setelah makanannya tertelan semua, ternyata tenggorokannya masih membutuhkan cairan untuk membuatnya lega. Ia kemudian meraih air putih yang sejak semula sudah tersedia, dan meminumnya dengan rakus.


“Ahhh, lega…” Rista meletakkan gelas yang hampir habis isinya. “Gimana tadi?” tanyanya pada mama dan kakak iparnya.


“Kamu tadi bahas USG,” ujar Santi mengingatkan.


“Nah itu,” ujar Rista menjentikkan jarinya.


“Kita USG yuk, aku penasaran sama jenis kelamin calon ponakan.”


“Ya belum kelihatan sayang, kan masih kecil sekali,” kata Santi.


“Tapi kan tetep bisa diintip, ya kan?”


“Ya tidak bisa,” sanggah Santi.


“Apa sih ribut-ribut…”


Spontan ketiga wanita ini menoleh ke arah sumber suara.


Rista bangkit dan menyambut Rudi. Memang di atas kertas Rudi adalah ayah tirinya, namun faktanya ia adalah ayah biologisnya. Jadi mungkin ini yang membuat Rista merasa dekat dengannya meskipun sampai sekarang semua masih


mengira ia anak Hendro sahabat papanya yang kini telah tiada.


“Kamu sudah lama?” tanya Rudi pada Rista yang tengah memeluknya.


“Emm, lumayan sih. Jam segini Papa kok sudah pulang?” tanya Rista yang melepaskan diri dari pelukan Rudi.


“Papa rencananya mau makan siang di rumah, eh ternyata telat ya….”


“Yah, baru saja kita selesai…” ujar Rista penuh sesal.


Santi bangkit menghampiri suami dan anaknya. “Mas duduk saja gih, biar aku siapin makanan,” ujar Santi sambil melepas jas Rudi dan mengambil alih bawaannya.


“Itu biar Rista aja Ma…”


Rista mengambil barang-barang Rudi yang dibawa mamanya. Rudi tersenyum bahagia meskipun ia belum punya keberanian mengakui dosanya pada Rista.


Saat hendak meletakkan barang-barang Rudi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering nyaring. Setelah membuka dan mencari-cari, akhirnya Rista menemukan ponsel papanya di salah satu saku jas. Tanpa banyak berfikir, Rista pun segera meraihnya.


Rista merasa lututnya mendadak lemas saat melihat siapa yang tengah membuat panggilan dengan papanya ini. Nomornya dan DPnya masih sama dengan dengan yang terakhir ia lihat 5 tahun yang lalu. Gambar itu adalah dia yang

__ADS_1


memilih dan dia juga yang memasangkannya.


“Untuk apa kamu menghubungi papa? Tapi kenapa sekali pun kamu tak pernah menghubungiku?”


Bukannya segera menyerahkan ponsel itu kepada Rudi, Rista justru terduduk sambil memandangi layar ponsel yang terus menyala itu. Ia sudah mematikan deringnya, sehingga yang ada hanya gambar tangan seorang pria yang mengenggam erat tangan mungil yang malangnya adalah tangannya itu.


Hingga dering itu berhenti, RIsta belum mau juga beranjak dari posisinya. Dadanya terasa nyeri saking besarnya rasa yang ia tahan di sana. Ia menahan rindu, kesal, kecewa, marah, dan entahlah rasa apa lagi yang jelas sangat berhasil menyiksanya dalam waktu lama.


Kalau saja Rista tak lupa, ia sudah memblokir akses komunikasinya dengan Dedi, sehingga dengan jarak yang sangat jauh ini, tentunya Dedi tak akan pernah bisa berkomunikasi dengannya sebelum Rista yang membuka sendiri aksesnya.


“Rista, Ris, Rista…!!!”


Terdengar teriakan nyaring dari suara yang amat Rista kenal, ia pun segera bangkit cepat-cepat kembali ke meja makan bersama orang tua dan kakak iparnya.


***


“Cancel semua jadwal hari ini.”


“Apa?” Kaget Andre karena ia kini tengah memeriksa berkas untuk pertemuan yang akan diadakan sebentar lagi.


Dika tak menjawab keterkejutan sekertarisnya. Ia justru melepas kacamata dan memijat keningnya yang terasa berdenyut.


“Kamu nggak apa-apa Bos?”


“Aku nggak enak badan. Rasanya pengen perutku kayak diaduk-aduk,” adunya pada Andre.


Andre mengernyit. “Mual?”


“Nggak tahu deh. Mana kepala kliyengan lagi.”


“Semalam kamu begadang?”


“Enggak.”


"Terus kenapa dong?"


“Berisik tahu nggak! Ya mana aku tahu, orang sakitnya barusan,” kesal Dika karena menilai kecerewetan Andre sama sekali tak bisa mengurangi rasa tak nyaman yang ia rasakan.


Andre menghela nafas. Tidak di rumah tidak di kantor, kesabarannya benar-benar diuji. “Terus anda maunya gimana Pak Restu?”


“Kamu ke THT saja deh.”


“THT?” Andre nampak menimbang dan mengira apa maksud ucapan bosnya ini. Ia benar tak tahu ada dimana tempat THT yang baru saja Dika ucapkan.


“Gue yang bego apa gimana sih?” lirihnya yang tak kunjung menemukan titik terang maksud ucapan bosnya.


“Sekertaris Andre, mungkin saya bisa mencarikan posisi lain jika sepertinya posisi ini tak lagi cocok untuk Anda. Karena akan sangat merepotkan kalau saya harus punya sekertaris yang mengalami masalah pendengaran."


Andre mengacak rambutnya. Tuhan, aku lelah. Kenapa harus

__ADS_1


berbelit-belit sih, kan tinggal bilang aja maunya apa. Belum juga aku tahu THT itu mana, sekarang dia menuduhku punya masalah pendengaran.


Bersambung…


__ADS_2