
HAPPY READING
Hana diam termenung sambil menghadap jendela. Ia melihat bangunan yang nampak begitu padat yang nampak kecil di bawahnya. Ia tengah memikirkan roda kehidupan yang telah dialaminya. Pernah berada di puncak, setelah itu terlempar ke dasar terbawah. Dan sekarang dia terombang-ambing tak jelas tanpa arah. Lantas bagaimana esok nasib akan membawanya?
“Han…”
Panggilan Andre berhasil menyadarkan Hana dari lamuannya. “Hmm…” jawab Hana singkat.
“Tolong kamu periksa…” Andre menyerahkan beberapa lebar dokumen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Tanpa menjawab, Hana lantas bangkit dan segera menghampiri Andre. Ia memeriksa apa yang diminta kekasihnya.
“Selanjutnya diapain?” tanya Hana tak paham.
“Kalau sudah fix tolong serahkan pada Riza,” ujar Andre masih dengan fokus yang sama dengan sebelumnya.
Meski sedikit enggan, Hana tetap mencoba memeriksa data yang sebenarnya ia merasa tak pantas untuk melakukannya. Setelah ia yakin dengan semuanya, ia kemudian keluar untuk menemui Riza.
“Mbak…” ujar Hana sembari menyerahkan dokumen yang telah diperiksanya.
“Makasih ya,” jawab Riza sambil menerima apa yang Hana serahkan.
Kemudian Hana segera kembali ke dalam. Tanpa ia sadari, sepasang mata terus mengamatinya sejak tadi.
“Eling Lis, eling…”
Elis sama sekali tak menggubris ucapan Riza terhadapnya. Ia masih setia dalam keruwetan isi kepalanya. Apa kecantikan adalah harga mati bagi wanita? Lantas bagaimana nasib yang pas-pasan seperti aku ini? Racau Elis dalam hati.
“Heh…” Rahma menepuk bahu Elis yang diam saja meski Riza sudah coba mengajak berbicara.
“Hmm…” Elis segera menggerakkan lagi jemarinya agar Rahma menganggap ia tengah bekerja.
“Jangan pura-pura sibuk,” ujar Rahma yang tahu intrik rekannya.
Elis menghentikan jemarinya dan menoleh untuh membalas tatapan Rahma. “Iya, aku masih patah hati, puas kamu…” ujar Elis seakan tahu apa yang ingin didengar oleh rekannya.
Rahma menarik kedua sudut di bibirnya samar. Ia menggeser kursi yang ia duduki untuk mendekat ke arah Elis berada. “Kamu semangat ya, doakan aku semoga tidak bernasib sama…” goda Rahma yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Elis. Ia segera kembali ke tempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Rahma memang menyimpan sendiri bagaimana penolakan yang telah ia terima saat menyatakan perasaannya pada Dedi tempo hari. Meski ia telah tertolak, tapi Rahma yakin jika Dedi masih sendiri. Untuk itu ia belum mau menyerah untuk berhenti berharap atas cinta dokter tampan nan jenius seperti Dedi.
Di dalam ruangan Andre, Hana memang benar-benar Andre pekerjakan sekarang. Entah apa jabatannya, yang jelas ia benar-benar membantu setiap pekerjaan yang Andre lakukan. Andre pun kali ini menepati janjinya untuk menjaga Hana. Ya jelas saja Andre tak sempat punya pikiran mesum meski hanya berdua, karena seluruh tenaga dan pikirannya tercurah pada pekerjaan yang seperti tak ada habisnya.
“Sayang…”
“Hmm…”
“Aku keluar ya…”
“Buat apa?” Andre sejenak meletakkan pekerjaannya untuk menatap Hana.
“Aku mau cari makan siang untuk kamu,” jujur Hana pada kekasihnya.
“Pesan saja. Masih terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum akhir pekan ini.”
Andre memutus kontak dan segera kembali bekerja. Ini adalah kali pertama Hana melihat Andre babak belur tanpa dipukul. Saat ia masih menjadi staf, ia berasa di ruang yang berbeda sehingga ia tak melihat langsung bagaimana jungkir balinya Andre saat bekerja. Yang ia tahu Andre selalu menyelesaikan denganbaik semua yang dikerjakannya.
Saat sudah bersama seperti sekarang, ia kadang lelah sendiri melihat Andre yang terus bekerja tanpa jeda, namun saat ia berada di ruang kerja kekasihnya, ia malah jadi iba. Ini adalah hal yang terjadi sebenarnya dibalik kesuksesan yang diraih seorang pria.
“Makannya ngikut aku kan?” tanya Hana memastikan.
Saat Hana sedang memilih dan memilah makanan, seruan adzan menyeruak di indera pendengaran. Ia sempat melihat keluar sebelum kembali sibuk dengan pilihan makanan. Dan tiba-tiba pintunya terbuka tanpa diketuk sebelumnya.
“Sholat dulu Ndre,” ujar Dika yang muncul dari balik pintu.
“Jangan ditunda, kalau kamu mau urusan kamu mau Allah turun tangan untuk mengurai keruwrtan hidup kamu.” Setelah menyelesaikan ucapannya, Dika menarik tubuhnya dan menutup pintu yang semula dibuka.
Mendengar ucapan tersebut, Hana segera meletakkan ponselnya. Ia merasa tertampar dengan apa yang baru saja Dika ucapkan. Masalahnya dengan Andre seperti jalan di tempat. Tidak semakin parah namun juga tak kunjung temu yang menjadi akar masalah. Semua serba ruwet dan berputar-putar tanpa ujung untuk mengakhirinya.
Semula Andre cuek dengan apa yang Dika ucapkan, karena yang demikian sudah biasa ia acuhkan. Namun sekarang ia merasa gelisah saat melihat raut wajah Hana yang berubah setelah kepergian bosnya.
Tanpa banyak menunda, Andre segera meletakkan pekerjaannya dan bangkit untuk menghampiri Hana. “Sayang…”
Hana mendongak dan tersenyum menatap Andre yang memegang bahunya. “Hmm…”
“Kamu kenapa?”
__ADS_1
Hana menggeleng dan memutus kontaknya.
“Kamu terganggu dengan perkataan Dika?” terka Andre.
Hana mendongak lagi dan menatap Andre yang masih berdiri. Ia hanya diam dan menatap Andre tanpa niat untuk bicara.
“Mau keluar?” tanya Andre lagi.
Kembali Hana menggeleng. “Aku nggak bawa mukena.”
Andre menghela nafas. “Rina biasanya bawa. Atau kamu mau kita ke masjid seberang kantor?”
“Em... Kita ke masjid saja…”
Akhirnya Andre dan Hana menanggalkan semua urusan dunia mereka dan bersiap untuk cari muka di hadapan Tuhannya.
Ini adalah salah satu hal yang menjadi kelemahan Andre dan Hana. Mereka cerdas, mereka rupawan, dan mereka baik dalam kepribadian. Namun sayangnya mereka berada jauh dari rengkuhan Tuhan. Entah siapa yang harus bertanggung jawab jika demikian, tapi teguran kecil dari Dika berhasil menyadarkan mereka jika masih ada Tuhan yang berkuasa atas segalanya.
Saat Andre dan Hana muncul dari dalam ruangan, hal ini tak luput dari perhatian ketiga staf yang kebetulan masih di tempat. Hana sampat menyapa namun Andre tak membiarkannya berhenti untuk sekedar sejenak berbincang.
“Senang ya kalau sudah punya pasangan,” gumam Rahma.
Rahma menghela nafas saat kedua rekannya mengacuhkan. “Tadi pak Restu sama Nona Rina, barusan Andre sama Hana, untungnya…”
“Aku juga sudah punya pasangan,” timpal Riza cepat sebelum Rahma mulai berhalusinasi untuk menjadi pasangan dari satu lagi penguasa muda perusahaan ini.
Rahma mendengus. “Ya tapi kan nggak di sini Mbak,” balas Rahma dengan nada kesalnya.
Keduanya tertawa termasuk Elis yang sejak tadi diam saja. Mereka pun bangkit untuk menjalankan hak istirahatnya.
“Mau sholat dulu apa makan siang dulu?” tanya Elis yang berjalan diantara Riza dan Rahma.
“Makan siang dulu,” serempak keduanya.
“Kalau sholat dalam keadaan lapar, bisa-bisa kita nggak khusyu’ dan malah terus kepikiran makan,” lanjut Rahma.
“Ha ha ha…” ujaran Rahma disambut tawa oleh Riza dan Elis.
__ADS_1
“Bener banget,” imbuh Elis sebelum ketiganya menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
Bersambung…