
HAPPY READING
Risma memperhatika dengan seksama apa yang Bayu lakukan pada Hana. “Gimana Bay?” tanya Risma yang penasaran.
Bayu menggeleng. “Nadinya lemah sekali.” Bayu melepaskan tangan Hana dan beralih menatap Risma. “Sepertinya apa yang terjadi pada Hana ini?”
“Aku nggak tahu. Memangnya bagaimana kondisinya?”
“Kondisinya sangat lemah. Sepertinya kita harus bawa dia ke rumah sakit. Dia harus ditangani dokter segera.”
“Duh…” Risma nampak gelisah dan berjalan dengan lemah. Ia menarik kursi dan terduduk lemas di sana. “Nggak ada duit lagi…” lirihnya.
Bayu dan Risma sejenak beradu pandang. Keduanya memang tak berada dalam kondisi ekonomi yang cukup baik, tapi mereka tak tega juga melihat Hana dalam kondisi seperti ini.
Hana, Hana. Coba kamu tadi nggak ngasih jam tangan itu langsung. Kita jual dulu lah, kan sisanya masih bisa buat hidup. Batin Risma saat mengingat jam tangan mahal Hana.
“Ayo bawa dia ke rumah sakit…” ajak Bayu.
Bayu bersiap mengangkat tubuh Hana, tapi tiba-tiba Risma tahan.
“Kenapa Ris…” heran Bayu.
“Bawa dia ke rumah sakit itu biayanya pasti mahal. Mau bayar pakai apa? Cuma punya ini dan masih seminggu lagi sebelum gajian.” Risma menunjukkan sisa uang di dompetnya yang tinggal beberapa lembar saja.
“Aku ada,” ujar bayu.
“Tapi kita nggak tahu Hana sakit apa Bay. Gimana kalau sakitnya parah dan butuh biaya besar.”
“Setidaknya kita sudah berusaha Ris…”
Bayu menepis perlahan tangan Risma dan hendak melanjutkan niatannya mengangkat tubuh Hana. Namun tepat saat itu juga, Hana perlahan membuka mata.
“Hana, Hana… Bay, Hana sadar Bay…” ujar Risma yang terlebih dahulu menyadari kembalinya kesadaran Hana.
Spontan Bayu menarik tangannya dan tanpa sadar menggenggam tangan Hana. “Hey, hey… Nama kamu siapa?”
“Hana,” jawab Hana dengan suara lemah.
Bukan maksud Bayu mengajak Hana berkenalan saat ini, namun ia hanya mengecek sejauh mana tingkat kesadaran Hana.
Bayu duduk di bawah dan memperhatikan Hana yang masih terbaring lemah. Risma juga sama, namun entah mengapa ia merasa Bayu lebih mencemaskan Hana ketimbang dia. Padahal logikanya Bayu tak akan seperti ini karena ia tak punya hutang budi atau kedekatan tertentu seperti ia dengan Hana.
“Ma…”
Merasa namanya dipanggil, Risma lalu mendekat. “Kenapa Han?”
“Aku boleh ya di sini dulu…” ujar Hana lemah.
__ADS_1
“Kamu ngomong apa sih. Tentu saja boleh.” Jawab Risma yang sudah menunduk untuk mensejajarkan Hana.
“Tapi kamu sekarang harus kami bawa ke rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu dengan luka kamu. Aku takut prosedur yang aku lakukan bermasalah karena aku melakukan semuanya tanpa pengawasan dokter.”
Hana menggeleng lemah. “Jangan bawa aku ke mana-mana,” ujarnya.
“Kami tak akan membawa kamu ke mana-mana Hana, kamu hanya butuh penanganan yang lebih baik,” terang Bayu.
Hana berusaha menggerakkan kepalanya. Meski gerakannya lemah, tapi Bayu dan Risma paham apa maksudnya.
“Hana, kita khawatir sama kamu…” ujar Bayu meyakinkan.
Hana tak lagi bersuara. Ia hanya menatap Risma dengan pandangan mengiba.
Risma memegangan tangan Bayu saat pria ini hendak membuka suara lagi. Beruntung Bayu langsung menurut. Ia tak lagi berbicara untuk membujuk Hana.
Risma menghela nafas. Ia tak tahu apa yang Hana alami sebelum bertemu dengannya, namun ia yakin ini bukan sesuatu yang sederhana. “Sebenarnya kamu sakit apa sih Han? Bahkan kamu semalam muncul dengan pakaian rumah sakit?”
Hana tak langsung menjawab. Ia meringis saat menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi tempat Risma duduk di sampingnya.
“Aku janji nanti akan aku ceritakan, yang jelas aku mohon sementara tinggalkan aku tinggal.”
Hanya berbicara satu kalimat yang tak terlalu panjang, Hana sudah nampak kelelahan. Terlihat dengan bagaimana caranya bernafas sekarang.
“Aku janji setelah aku sembuh, aku akan bekerja dan mengganti semua,” lanjut Hana setelah dirasa cukup mengisi paru-parunya dengan udara.
Risma tadi memang ragu saat Bayu mengajaknya membawa Hana ke rumah sakit. Namun jika kondisi Hana memang mengkhawatirkan, ia pun tak segan mencari berbagai cara untuk menyelamatkan Hana, mengingat apa yang sudah Hana lakukan untuknya sejak tadi malam hingga hari ini.
“Ya sudah Hana, sekarang kamu istirahat ya,” ujar Bayu sambil membenahi selimut Hana.
Hana hanya mengangguk sebagai jawabannya sebelum ia kembali memejamkan mata.
“Ris, ikut aku,” ujar Bayu sambil berjalan menuju pintu keluar kamar Risma.
Risma bangkit tanpa terlebih dahulu menjawab. Ia berjalan mengekori Bayu dari belakang dan menghilang bersama tertutupnya pintu kamarnya.
“Kenapa Bay?” tanya Risma setelah ia dan Bayu berada di luar.
Bayu menyandarkan punggungnya dan memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana. “Hana sebenarnya kenapa?”
“Aku juga nggak tahu. Tahu sendiri kan aku baru kenal semalam,” jelas Risma.
“Kok bisa kamu sebaik ini sama dia?” heran Bayu.
Wajar Bayu bertanya seperti ini, karena ia baru pulang saat Risma panic melihat Hana yang tiba-tiba pingsan di meja makan. Sehingga ia tak tahu kejadian dimana Hana menjadi pahlawan untuknya dan membebaskan Risma dari kejaran para penagih hutang untuk selama-lamanya.
Risma sendiri ragu apakah ia harus mengatakan semua pada Bayu atau tidak. Ia sendiri masih belum tahu banyak tentang Hana, tapi bukan berarti ia bisa membicarakan ia seenak hatinya.
__ADS_1
“Entahlah. Aku hanya merasa perlu membantunya saja,” ujar Risma akhirnya.
Bayu menghela nafas. “Aku benar-benar khawatir dengan kondisi dia,” ujarnya kemudian
Spontan Risma melayangkan tatapan tak biasa pada satu-satunya pria yang akrab dengannya di kosan ini. “Tumben?”
“Apa yang tumben?” kata Bayu balik bertanya.
“Ya enggak. Tumben saja kamu semudah ini simpati pada orang yang baru kamu kenal. Bukan Bayu banget,” cibir Risma.
“Ya…” Bayu terlihat salah tingkah dan menggosok tengkuknya yang sebenarnya tak butuh elusan. “Ya sama kaya kamu. Aku cuma ngerasa dia pantas aku cemaskan,” lanjutnya cepat.
“Ck, bicit. Bilang aja karena Hana cantik,” sindir Risma.
“Tck. Terlalu cepat untuk menarik kesimpulan. Aku cuma simpati bukannya jatuh hati.”
“Hi hi hi hi.” Hana segera menutup mulutnya yang dengan lancangnya menyembulkan tawa. “Hwa ha ha ha ha ha…” Bukannya reda, tapi tawa Risma justru pecah seketika.
“Bay, ha ha ha, Bayu, Bayu. Ehm, ha ha ha…”
Risma masih kesulitan mengendalikan dirinya. Ia yang semula berdiri kini harus terduduk sambil memegangi perutnya yang terasa kaku karena terlalu kencang tertawa. Bayu yang merasa kesal nyelonong begitu saja meninggalkan Risma yang dengan tanpa perasaan menertawakannya.
"Bay!"
Dipanggil dengan suara sekencang ini membuat Bayu terpaksa berhenti karena ia tak mungkin pura-pura tuli.
"Ape?"
"Aku cuma bilang Hana cantik, belum mulai bahas masalah hati, ha ha ha..."
Bayu melanjutkan langkahnya dan membiarkan Risma bahagia dengan tawanya. Ia kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
Risma yang masih belum benar-benar mampu meredakan tawanya, mulai celingak-celinguk melihat kesana-kemari.
"Dih, bisa-bisa dikira nggak waras ketawa-ketawa sendiri," gumam Risma.
Ia kemudian cepat-cepat kembali ke kamarnya juga. Ia tak mau lebih lama berdiri di depan kamarnya seperti orang tak berguna.
Setelah pintu tertutup, kini hanya ada dia dan Hana yang berbaring dengan mata terpejam. Diam-diam RIsma memperhatikan Hana dari tempatnya.
“Hana, kamu itu terlalu cantik untuk jadi gelandangan. Sebenarnya kamu ini siapa?” lirih Risma saat menatap wanita yang telah dua kali menjadi penyelamat untuknya ini.
Sejak pertemuannya semalam, ia memang belum sempat berbicara panjang dengan Hana hingga saat ini. Sehingga ia masih abu-abu saat melihat wanita ini. Ia cukup penasaran dan entah kapan baru akan punya waktu untuk mencari jawaban.
Risma merogoh sakunya dan mengeluarkan benda kotak yang menjadi harta termahal miliknya saat ini. “Sudah malam ya ternyata," ujarnya setelah melihat sekarang jam berapa. "Aku harus tidur sepertinya, biar bisa segera mimpi memeluk ratusan juta."
Risma yang tak pernah mengenal treatment malam langsung mengambil selimut dan bersiap tidur di atas karpet, karena ia takut jika harus seranjang dengan Hana yang terluka.
__ADS_1
Bersambung…