Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Emperan


__ADS_3

Pernah ada nggak yang makan es krim sampai kekenyangan?


Gimana reaksi tubuh kalian.


Kalau Senja sih kenyang, hahaha


HAPPY READING


Lili sudah berusaha berjalan tegak, namun sungguh perutnya terasa tak enak karena makan es krim terlalu banyak.


“Kamu kenapa Li?” tanya Rina saat Lili membukakan pintu untuknya.


“Tidak apa-apa Nona.” Lili masih berusaha menahan sakitnya. Ia berjalan memutar untuk mengambil posisi di belakang kursi kemudi. Keringat dingin seketika keluar saat Lili hendak menarik handlenya.


Lili urung menarik handle dan langsung memegang perutnya. Ia benar-benar tak mampu berdiri tegak saat ini. Ia berjongkok dan menekan dengan kuat perutnya yang terasa sakit. Ya Tuhan, kenapa harus sekarang. Baru saja aku dapat pekerjaan sebagus ini, kenapa perutku tak bisa diajak kompromi.


Lili berusaha berdiri.


Brugh!


Namun ia justru ambruk dengan mengenaskan. Jika saja Lili tak malu dengan titelnya sebagai pemegang sabuk hitam karate, mungkin ia sudah guling-guling karena sakit perut yang tiba-tiba mendera. Saat ini ia juga merupakan seorang asisten,


bodyguard, supir atau apa pun itu yang jelas ia yang akan selalu berada di samping istri Restu Andika sejak 2 hari terakhir. Ia berhasil lolos seleksi setelah menyingkirkan puluhan orang yang didelegasikan untuk melaksanak tugas ini. Selain berbekal sabuk hitam yang ia pegang, ia juga lulusan perguruan tinggi ternama dengan nilai memuaskan, sehingga menjadi nilai plus selain kemampuan beladirinya. Sayangnya karena tak punya cukup koneksi ia hanya berhenti sebagai pengangguran. Tak sepenuhnya menganggur  juga sebenarnya. Kesibukan sehari-harinya adalah membantu sang bunda menjalankan usaha rumahan yang menjadi penopang kehidupan mereka.


“Lili, are you okay?” tanya Rina yang langsung keluar saat melihat ada yang tak beres dengan Lili.


“Nggak apa-apa Nona, saya hanya kurang hati-hati saja.”


Lili beberapa kali menarik nafas. Ia berusaha mengubur dalam-dalam rasa sakitnya. Ia berdiri tegak dan kembali membukakan pintu untuk Rina. Tak berselang lama, ia sendiri segera masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya.


Ya Tuhan. Jangan sekarang. Kalau aku sampai terlihat lemah, pak Restu pasti tak mungkin mempercayakan istrinya untuk ku jaga.


***

__ADS_1


Mobil Ken berjalan meninggalkan halte. Mobil itu melaju dengan kecepatan rendah seolah tengah mencari sesuatu yang hilang di sana.


“Kemana sih dia?” Ken coba memutar haluan untuk memastikan jika ia tak meninggalkan sesuatu yang penting di sana.


Ken menghentikan lagi mobilnya di depan halte. Matanya menyisir ke segala sisi, mencari wanita yang hendak diantarnya tadi.


“Masa ilang begitu saja?” ujar Ken sambil menelisik ke setiap bagian.


“Kalau ngumpet, dimana pula ngumpetnya, kalau lari kok ya cepat sekali.”


“Atau jangan-jangan tadi bukan Hana. Tapi siapa. Masa hantu?”


Ken memicingkan matanya.


“Kalau hantu kenapa cantik sekali.” Ken tertawa kecil dengan pikirannya. Kemudian ia kembali fokus untuk mencari Hana. Wajahnya pun berubah serius seketika.


“Menarik.” Ken tersenyum miring sebelum masuk lagi ke dalam mobilnya. Kali ini ia tak berjalan pelan seperti tadi, namun dengan kecepatan standar di awal kemudian semakin bertambah setelah berjalan.


Hana kembali berjalan sambil menyeret kopernya. Ponsel yang ia bawa juga belum menunjukkan fungsi sama sekali, karena saat keluar dari apartemen, ia baru sadar jika dayanya habis tak tersisa.


Hana hanya berharap perjalanannya aman dan tak harus menjumpai gangguan. Ia dulu pernah juga tidur di emperan, namun ia tak pernah merasa seterancam ini. Ia ingat betul beberapa hari yang lalu saat ia dan Andre tiba-tiba diserang orang yang tak dikenal. Ia yang bahkan tak pernah menyakiti hewan bahkan harus melawan hingga membuat orang lain terluka parah karenanya.


Hana tertarik saat melihat jajaran bunga-bunga yang cantik di dalam pot. Sepertinya ini toko bunga, baik bunga hidup ataupun bunga segar.


“Cukup unik. Biasanya orang itu jualannya either bunga segar dan bibit bunga doang, tapi ini kok dua-duanya jadi satu.”


Setelah bermonolog, Hana melepaskan genggamannya pada koper yang ia bawa dan berjalan lebih dekat untuk memperhatikan bunga-bungaan ini.


“Seandainya aku bisa tinggal dan kerja di sini, pasti menyenangkan sekali.”


Setelah merasa cukup memperhatikan, ia menarik kopernya ke emperan toko ini.


“Welcome to emperan. Aku padamu ya malam ini.”

__ADS_1


Selain baju yang memang Andre belikan untuknya, Hana membawa sebuah selimut tebal karena ia yakin malam ini akan tidur di pinggir jalan. Selain itu, ia juga menyambar sebuah jaket yang baru Andre kenakan. Dengan


begini, ia berharap akan merasa Andre sedang memeluknya sepanjang malam seperti hari-hari sebelumnya meski nyatanya tidak. Dan bahkan ia harus melewati malam yang dingin ini seorang diri dengan berselimut sepi.


Hana mencari tempat yang tak terlalu terlihat dari jalan. Ia sadar Tuhan menganugerahkan fisik yang begitu baik kepadanya. Jika ia sembarangan, bisa saja akan membahayakan dirinya jika ada orang yang berniat jahat. Meskipun nyatanya selaput yang harus dijaga itu sudah tidak ada lagi, setidaknya ia bisa menjaga amanah mamanya untuk tak terjerumus dalam pergaulan yang pernah menjebak mamanya.


“Kenapa kamu harus bertingkah Hana. Baru berapa lama kamu enak dengan Andre, masa sekarang begini saja tidak bisa memejamkan mata. Bukankah Tuhan malam ini sudah begitu baik dengan mengurungkan hujan yang sempat hendak diturunkan.”


Hana benar. Tadi memang sempat hujan, namun tak lama karena memang langit tak pernah murung dan terlihat cerah sejak awal. Bayangkan jika hujan benar-benar turun? Emperan semacam ini pasti tak bisa melindungi Hana dari percikan air hujan yang pasti akan membasahi tubuhnya.


Barusan itu, Hana berusaha menyemangati dirinya yang ingin sekali mengeluh. Ia tak boleh mengeluh atau pun menangis. Ia harus kuat menghadapi semua ini. Karena ia tak bisa mengandalkan orang lain selain dirinya sendiri untuk mengatasi setiap kesulitan dalam hidupnya.


Hana memeluk tubuhnya sendiri, namun dinginnya udara dan kerasnya lantai yang menjadi alas tidurnya benar-benar membuatnya tak bisa memejamkan mata.


Ctak tak tak tak


Hana samar-sama derap langkah yang berjalan ke arahnya. Ia menajamkan telinga inging memastikan itu hanya ilusinya saja ataukah benar-benar ada seseorang yang berjalan ke arahnya.


“Ya Tuhan.”


Hana merasa memang ada yang sedang berjalan ke arahnya. Ia dapat melihat bayangan itu dengan jelas sehingga ia bergegas untuk lebih rapat menyembunyikan keberadaannya.


“Mati.”


Hana merasa ini merupakan tempat tersembunyi di emperan ini,  tapi orang itu cukup jeli hingga dapat menyadari keberadaanya. Ia memejamkan mata saat orang itu kian mendekat ke arahnya.


Ya Tuhan, semoga aku nggak kelihatan. Hana masih merapalkan doa. Meskipun ia tak begitu percaya diri memohon kepada Tuhan yang notabene tak pernah menjadi prioritas dalam hidupnya, tapi selain hal ini tak ada yang bisa ia lakukan saat ini.


Saat ia merasa derap langkah itu menghilang, Hana memberanikan diri untuk perlahan membuka mata.


“AAAAAAA… hmbbbbfft…”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2