
^^^Spam komen please, biar author makin kenceng ngehalunya. 😅^^^
^^^Mungkin pernah ada temen-temen writer yang ngehujat saya masalah ini, but tiap orang kan mikirnya nggak sama.^^^
^^^Apa yang saya suka belum tentu orang lain juga suka, begitu sebaliknya.^^^
^^^Say everything that you want, nggak akan dilakukan penilaian kok.^^^
...*HAPPY READING*...
Niatnya double date, nonton film romantis dan baper berjamaah. Namun nyatanya dua laki-laki ini malah tidur menyisakan dua gadis yang tak karuan kesalnya.
Sebenarnya Rista ingin langsung membangunkan kakak dan kekasihnya jika saja Rina tak mencegahnya. Alhasil, Rina dan Rista hanya menonton berdua ditemani Dedi yang Dika yang tertidur di kanan dan kiri keduanya.
Kedua pemuda ini bangun tepat beberapa saat sebelum film usai dan langsung disambut muka kecut dari masing-masing kekasihnya.
"Elu sih, kalau kerja suka nggak kira-kira, jadi kecapekan kan kita..." racau Dika dengan suara seraknya.
Dedi memilih diam saat Dika mengomelinya. Ia tahu, ini hanya alibi sahabatnya saja untuk meredam kekecewaan kekasihnya. Belum lagi Rista yang ikut-ikutan bersuara menyalahkan dia yang gila kerja dan tak ada lagi waktu untuk bersantai bersama Rista.
"Kayaknya nggak ada karyawan yang mau kerja siang malam kalau nggak ada tuntutan dari bosnya."
Dika langsung mendelik saat Dedi membalasnya. Dedi berbicara dengan begitu santai bahkan tak sedikitpun menatap ke arahnya.
"Terus, ini pulangnya gimana nih?" tanya Rina.
"Ya nganter kalian dulu, abis itu kita pulang, ya kan Ded."
Dedi mengangguk saja. Dia malas bersuara saat matanya masih begitu ingin terpejam.
"Aku bisa sih pulang sendiri.... naik taksi."
Suara Rina memelan diujung kalimatnya. Sejujurnya ia ragu untuk pulang sendiri, tapi tak tega memaksa Dika untuk mengantarnya saat dia nampak lelah seperti ini.
Jadi intinya kamu gimana Rin?
Dasar wanita. Susah dimengertinya.
"Nggak. Kita bareng aja," putus Dika.
Keempat orang itu lantas beranjak dari kursinya. Mencari kopi adalah solusi dari kantuk yang mendera dua laki-laki muda ini.
Kruyk!
Rista meringis saat tiga pasang mata itu manatapnya.
"Kamu lapar?"
Rista meraih lengan Dedi dan bergelayut manja di sana.
"Lapar?" tanya Dedi sekali lagi.
Rista hanya mengangguk.
"Makan bentar nggak apa-apa kan?"
"Iya lah, ketimbang adik gue kelaparan."
"Pengen di pesenin apa?" tanya Dedi yang sudah berdiri dari tempatnya.
"Pengen bubur yang malem-malem itu, boleh nggak?"
"Bubur setan?"
Rista mengangguk dan tersenyum menatap Dedi. Dedi membalas senyuman itu dan mengacak lembut puncak kelapa Rista.
"Ck, jangan sampai kebablasan kalian," cibir Dika melihat romantisme adik dan sahabatnya.
__ADS_1
"Apanya yang kebablasan. Kita kan cuma saling pandang, nggak peluk cium seenaknya kayak kakak."
Dika tergagap, sementara Rina yang berada di pelukannya segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dika.
"Kita masih di level yang sama. Sama-sama dosa jika terlalu dengan pasangan yang belum halal."
"Ta* lu."
Dika melemparkan kacang kepada sahabatnya. Sementara sebelah tangannya masih memeluk Rina.
"Tenang aja. Kita nggak mau ngehujat kalian kok karena kita sama-sama punya dosa. Cuma beda aja jalur yang dipilihnya," ucap Dedi sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Iya deh iya. Berasa ngomong sama Ayah Rudi jadinya."
Dedi tertawa kecil di tempatnya.
"Bubur setan itu bubur yang gak pake kuah kaldu kan ya?" tanya Rina setelah melepaskan pelukan dari Dika.
"Iya Kak. Awalnya lucu aja saat Kak Dedi ngajak ke sana, biasanya bubur kan pagi, tapi ini malam."
"Enak nggak?" tanya Rina penasaran.
"Surprisingly enak loh Kak, makanya ini aku pengen ke sana lagi. Kakak pernah ke sana nggak?"
"Dulu Dian sempet ngajakin, tapi aku lagi mager waktu itu."
"Nah pas banget sekarang. Kak Rina kudu coba."
Rina mengangguk antusias. Karena asik ngobrol dengan Rina, Rista bahkan tak sadar jika Dedi kini tengah kembali berkutat dengan tab ditangannya. Dapat dipastikan jika pria ini tengah mengurus pekerjaan.
"Kak Restu."
"Apa Ris?" tanya Dika sambil memakan kentang gorengnya.
"Kakak masih bisa enak-enakan makan, sementara Kak Dedi kerja terus," protes Rista karena di tempat seperti ini pun kekasihnya masih harus bekerja.
Merasa dibicarakan, Dedi menghela nafas dan meletakkan gadgetnya.
"Aku lagi lembur Ta, kamu ingat kan apa yang sudah pernah aku bilang?"
Rista membalas tatapan Dedi dengan wajah ditekuk.
"Untuk memperoleh sesuatu yang indah, usahanya juga nggak mudah. Dan kamu tahu kan apa keindahan yang aku mau, hmm?"
Rista mengulum senyumnya kemudian menunjuk dirinya. "Rista."
"Great. Jangan mengeluh lagi ya sekarang. Aku sedang berusaha."
Rista masih menatap kekasihnya dan mengangguk dengan senyum manisnya.
"Si**an lu. Awas aja kalau mau ikut-ikutan nikah barengan sama gue."
Spontan Rina mencubit pinggang kekasihnya. Namun Dika yang sigap segera menahan tangan gadisnya.
"Enggak mungkin lah Kak, Rista masih takut kalau tiba-tiba perutnya besar terus ada bayinya."
Rista befgidik ngeri di ujung ucapannya.
Dika mendelik menatap sahabatnya.
"Eh dodol, lu ngomong apa sama adik gue!"
"Ngomong sesuai yang dibilang Rista, iya kan Ta..."
Rista mengangguk setuju. "Iya, apa ada yang salah Kak?"
"Enngg..." Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menyesal karena terlalu gampang emosi tanpa menalarnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kak..."
Mampus lu Dika. Sekarang Rista malah penasaran dan minta penjelasan sama elu. Dika terus merutuki kebodohannya dalam hati.
"Enngg, katanya laper, ayo cari makan."
Dika bangkit begitu saja setelah meninggalkan sejumlah uang diatas meja.
"Loh Kak..." Rista hendak mengejar kakaknya sebelum Dedi mencegahnya. Ia tahu benar jika Dika tengah menghindar agar adiknya ini tak terus meminta penjelasan kenapa Dika protes terhadap ucapan Rista.
"Aku duluan."
Rina segera menyusul Dika.
"Kita nggak ikut Kak?" tanya Rista saat Dedi masih menahannya di tempat.
"Bentar aja. Aku pengen habisin kopi ini ditemenin kamu."
"Oh, oke."
Rista meraih ponsel dan memainkannya. Ia bahkan tak sadar saat Dedi terus menatapnya.
Di area parkir, Dika dan Rina sudah duduk di jok belakang mobil Dedi. Entah apa bahan candaan mereka yang jelas mereka sedang tertawa dan saling menggelitiki.
"Sayang, udah."
Dika masih belum puas melihat kekasihnya tersiksa.
"Sayang...!"
Dika menghentikan serangannya.
"Apa?"
"Aku nggak tahan..." kata Rina dengan manja.
"Aku juga nggak bisa nahan..."
Rina menahan wajah Dika yang sudah begitu dekat dengannya.
"Tahan ya...."
"Kalau susah gimana?"
"Susah bukan berarti nggak bisa kan sayang."
Dika menghela nafas. Sepertinya dia akan menyerah.
"Kalau ini masih boleh kan?"
Dika menyentuh lembut bibir Rina dengan ibu jarinya.
"Ak..."
Belum tuntas Rina menjawab, Dika sudah meraup candunya. Hanya sekilas dan sekarang pun sudah lepas.
"Aku cuma takut lupa caranya..." Dika kembali mendaratkan bibirnya. Sepertinya ini akan lebih panjang dari sebelumnya.
Ah sudah lah, author udah capek ngingetin mereka berdua.
Rina nampak tersengal tak mampu mengimbangi panjangnya nafas Dika.
Melihat Rina kehabisan nafas, Dika tak tega. Ia segera membebaskan benda kenyal milik kekasihnya.
Namun belum puas juga, Dika beralih ke bagian lainnya.
TBC
__ADS_1
Wes wes wes, author tutup mata, jam buka juga masih lama, hahaha.