Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Sendiri


__ADS_3

HAPPY READING


Hana langsung lupa akan rasa sakit yang ia rasa kini. Setelah


mendengar teriakan tadi, ia langsung berdiri dan mencari sumber suara teriakan yang ia yakini berasal dari seorang wanita. Setelah berjalan dan mencari, ia melihat seorang wanita yang terlihat sedang tarik menarik dengan seorang pria.


Hana terbelalak saat tiba-tiba pria itu terlihat mengeluarkan pisau, dan wanita itu langsung mundur dan membiarkan pria


tadi pergi membawa tasnya.


Pria itu berlari ke arah Hana. Hana ingin sekali menolong wanita tadi, sayang ia benar-benar tak menguasai beladiri sama sekali.


Namun Hana tak mau menyerah begitu saja. Ia berusaha menahan pria itu dan berhasil. Pria itu terjatuh saat Hana memukulnya dengan sebilah kayu yang ia temukan berada tak jauh darinya. Naasnya, Hana tak ada rencana lanjutan saat pria itu bangkit dengan wajah marahnya.


“Kurang ajar. Berani-beraninya kamu menghalangiku," umpat pria itu


“Kembalikan.” Hana berusaha merebut tas wanita yang baru saja pria ini rampas dari pemiliknya.


“Itu dia…!”


Wanita tadi ternyata mencari bantuan. Ia datang dengan beberapa orang pria yang berhasil ia temukan.


Perampok yang Hana tahan ini nampak panic. Ia ingin kabur, tapi Hana terus memeganginya.


“Lepaskan!” pria itu mendorong Hana.


“Akh…”


Hana langsung melepas cekalannya saat benda tajam itu mengoyak perut sebelah kirinya. Ia meraba di sana dan ditengah gelapnya malam, masih dengan jelas ia lihat cairan berwarna merah itu mengalir dengan derasnya.


Apakah hidupku akan berakhir seperti ini? Pergi begitu saja tanpa ada yang tahu tanpa ada yang merasa kehilangan. Tuhan, aku benar-benar sendiri.


***


“Sayang, bangun…” Rina mengguncang pelan tubuh suaminya.


“Engghhh…” Dika hanya melenguh dan menyamankan tidurnya.


“Sayang bangun. Sebentar lagi adzan nih," ujar RIna yang terus berusaha mengembalikan kesadaran suaminya.


“Kan masih sebentar lagi…” Dika menarik selimutnya untuk


menyembunyikan telinganya.


“Iihhhh…” Rina menarik lagi selimut suaminya.

__ADS_1


Dengan sedikit kesal, Dika menyibak selimut dan menampakkan wajah bantalnya. “Sebenarnya kamu kenapa sih sayang, lagi pengen sesuatu, lagi ngidam?” terkanya bertubi.


“Enggak…” jawab Rina dengan menggelengkan kepala.


“Terus apa dong. Di luar masih gelap tuh…” ujar Dika sambil menguap.


Rina yang sudah duduk sejak tadi memaksa Dika lagi untuk bangun. Dika menguap lebar sebelum mengucek kasar matanya. Ia berharap dengan begitu dapat membuat matanya lebih mudah terbuka dan belek yang mengotorinya pun rontok seketika.


“Udah melek nih, kamu mau ngomong apa?” tanya Dika dengan suara seraknya.


Rina menghela nafas dan menatap suaminya penuh harap. “Bisa minta tolong anak buah kamu untuk cari Hana nggak? Aku kasihan sama dia. Jangan-jangan dia di… hhhh” Rina menghela nafas karena tak sanggup menyelesaikan ucapannya.


Melihat kesedihan dari mata istrinya, membuat Dika tak tega. Ia memegang bahu Rina dan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. “Apa kamu benar-benar khawatir dengan Hana?” tanya Dika memastikan.


Rina mendongak dan mengangguk sebagai jawaban.


Dika mengusap rambut pendek Rina dan menarik kepalanya untuk bersandar padanya. “Maafkan aku?”


“Kenapa minta maaf. Apa permintaanku begitu sulit untuk kamu kabulkan?” lirih Rina dengan nada kecewa yang begitu terasa.


Dika menahan kepala Rina yang ingin ditarik darinya. “Bukan begitu.”


“Lalu apa…”


Dika kembali menguap, sehingga niatnya untuk segera menjawab pertanyaan Rina harus ia tunda untuk sementara.


“Apa? Jadi sejak awal kamu sudah setuju hubungan mereka?” kaget Rina.


Sekali lagi Dika menguap, bahkan ini lebih panjang dari tadi, hingga membuat Rina kesal karena harus menunggu lagi untuk Dika menjawab pertanyaannya.


“Aku sama sepertimu. Aku diam-diam ikut campur karena tak mau Andre terjebak oleh Hana. Ternyata aku justru menemukan fakta jika bahaya mengancam Hana dari mana-mana,” jelas Dika.


“Maksud kamu?”


“Aku sudah menceritakan sebagian sama kamu,” jawab Dika sambil mengusap sudut matanya yang berair saat menguap tadi.


“Yang masalah papanya itu?” tanya Rina.


“Termasuk itu,” singkat Dika.


“Terus sekarang gimana?”


Dika mencium puncak kepala istrinya. “Kamu bantu doa saja, biar selebihnya kami sebagai laki-laki yang menangani.”


“Dan satu lagi, kamu harus fokus pada anak kita. Jangan sampai dia kenapa-napa.”

__ADS_1


Rina mengangguk dan melingkarkan lengannya di perut suaminya.


“Makasih. Aku beruntung sekali punya suami baik seperti kamu.”


“Bukan. Aku yang beruntung punya istri berhati malaikat seperti dirimu.”


Saat keduanya berpelukan adzan subuh pun berkumandang membuat keduanya harus segera bangkit dan melaksanakan kewajiban sebagai umat islam.


***


Dengan mengenakan kemeja yang sama dan celana yang belum berganti sejak satu hari sebelumnya, Andre nampan duduk seorang diri dengan pandangan entah kemana. Memang faktanya tak ada yang menjadi objek pandangannya, karena yang sekarang ingin dlihatnya adalah Hana, dan hanya Hana.


“Nak, kamu tidak tidur semalam?” tanya Heni yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia kini bersiap untuk membuat sarapan pagi ini.


“Nggak ngantuk Ma…” jawab Andre sekenanya.


“Tapi tubuh kamu butuh istirahat Nak. Kalau pun tak bisa tidur cobalah berbaring…”


Andre tak menanggapi, ia kembali menenggelamkan diri dalam lamunannya.


Heni tahu bagaimana watak anaknya. Dari luar terlihat keras, namun sangat rapuh jika sudah berurusan dengan hati.


“Ambil wudhu dan sholat,” ujar Edo yang tiba-tiba muncul dengan sarung yang melilit bagian bawah tubuhnya.


Andre tak menjawab. Ia bangkit dan berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Diam-diam Edo mengurungkan niatnya untuk memeriksa pekerjaan sembari menemani sang istri mempersiapkan sarapan seperti biasa. Ia sekarang berjalan perlahan mengikuti anaknya naik ke kamarnya.


Edo membuka perlahan pintu kamar Andre dan menutupnya pelan-pelan. Ia berjalan dan duduk di kursi sementara Andre terdengar membersihkan diri di kamar mandi.


Nak, maafkan papa yang telah mengabaikanmu selama ini. Menganggapmu baik-baik saja dan tak ada saat kamu kesepian dan membutuhkan kehangatan. Papa hanya sibuk bekerja dan mama sibuk dengan kegiatannya. Kami lupa kalau kamu juga butuh sandaran, tak cukup hanya dengan kami banggakan.


“Pa…” Andre sedikit terkejut saat melihat papanya tiba-tiba ada di kamarnya. Kamar yang sudah sangat lama ia tinggalkan dan hanya sesekali ia tempati saat ia sedang berkunjung di rumah ini.


“Kamu cepat sholat, mumpung matahari belum mempermalukanmu,” ujar Edo sambil menatap anak tunggalnya.


Andre sempat menatap ragu, sebelum akhirnya ia berjalan ke lemari untuk mengambil sarung dan sajadahnya.


“Apa kamu sudah tak punya peci?” tanya Edo saat melihat anaknya menggelar sajadah tanpa peci di kepalanya.


Andre tersenyum kecut. Ia malu mengakui kebobrokannya selama ini.


“Nak, apa pun masalah yang engkau hadapi, seberapa berat dan bahkan mungkin kamu merasa tak sanggup dan ingin lari, tetaplah sertakan Allah dalam setiap langkahmu. Karena hanya Dia yang bisa kau andalkan bahkan saat tak ada lagi manusia yang bisa kau mintai bantuan…”


“Apa aku pantas Pa?”


“Papa nggak bisa jawab, karena hanya kamu yang tahu jawaban pastinya.”

__ADS_1


Edo bangkit dan meninggalkan kamar Andre saat itu juga.


Bersambung…


__ADS_2