Zona Berondong

Zona Berondong
Secuil Kenyataan Masa Lalu


__ADS_3

^^^Yang udah mampir jangan lupa spam komen ya.^^^


^^^-Happy reading-^^^


Malam semakin larut, namun Dika belum juga berhasil memejamkan mata. Dia masih menggeliat gelisah karena fakta yang baru saja diperolehnya dari Reno.


Tak sanggup menahan hingga esok tiba, akhirnya Dika meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang di seberang sana.


"Halo Om..." Sapa Dika saat panggilannya terjawab.


"..."


"Bisa saya minta tolong."


"..."


"Saya butuh informasi lengkap tentang Om Rudi."


"..."


"Rudi Andika, suami Mama saya."


"..."


"Tentang semuanya, termasuk tentang bagaimana ia menyelamatkan perusahaan Papa, serta..." Dika merasa dadanya tiba-tiba nyeri. "Serta bagaimana kecurangan dia sama Mama kepada Papa."


"..."


"Terimakasih. Selamat malam."


Dika meletakkan kembali ponselnya setelah ia menutup panggilannya.


"Saya tidak percaya kamu sebaik itu Rudi."


Dia kembali merebahkan tubuh lelahnya. Percakapan dengan Reno bagai rekaman yang diputar ulang di kepalanya.


Flashback On


"Bagaimana kabar Rudi dan Santi?"


Dika kini ngobrol berdua dengan Reno di ruang kerjanya.


"Sepertinya baik Om." Dika menjawab dengan enggan. Sebenarnya ia sama sekali tak tertarik membahas Rudi, namun tak sopan rasanya jika ia tak menjawab pertanyaan Reno.


"Sepertinya?"


Dika menghela nafas. Sepertinya aku tak bisa menutupi semua ini lebih lama lagi dari orang tua Rina. "Saya tidak tinggal bersama mereka Om."


"Kamu sekarang tinggal di mana?" tanya Reno yang masih memilah-milah album foto di salah satu rak di ruang kerjanya.


"Saya tinggal di rumah peninggalan Papa."


"Sama siapa?"


"Sejak Papa meninggal saya tinggal sendiri, namun sekitar sebulan terakhir, Rista ikut tinggal bersama saya."


Reno menghentikan aktivitasnya sejenak. "Kenapa kamu mengambil resiko tinggal sendiri?"


"Saya...," Apa aku harus mengungkapkan kecurangan Rudi dan Mama sebagai alasannya?


"Rudi sangat menyayangi kamu, hingga Hendro pun tak keberatan menyematkan nama belakang Rudi di dalam namamu."


Dika terdiam. Apa benar Andika dalam namaku papa ambil dari nama om Rudi? Aku pikir ini semua hanya kebetulan.


"Fuhh, ffuuuhhh..." Reno meniup-niup sampul album foto yang kini dipegangnya. Kemudian ia menyerahkan pada Dika.


"Ini apa Om?" tanya Dika saat kedua tangannya menerima album foto lawas bersampul coklat.


"Kamu buka aja."

__ADS_1


Perlahan Dika membuka album itu. Di halaman terdepan terpampang sebuah foto dua orang pemuda berseragam SMA. Dika menajamkan pengelihatannya saat merasa kedua wajah itu terasa tak asing untuknya. "Papa," gumam Dika setelah mengenali salah satu sosok dalam foto tersebut.


"Benar, dan yang di sebelahnya itu adalah Rudi."


Dika membulatkan matanya tak percaya. "Kenapa?"


"Mereka bersahabat."


Dika menggeleng dan urung membuka lembar album yang selanjutnya.


Reno menepuk bahu pemuda di hadapannya ini. "Suka tidak suka, ini kenyataan Nak."


Dika mencengkeram erat album ditangannya.


"Mohon maaf Om, kalau sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, Dika mohon diri."


Reno mengangguk. "Om cuma pesan 1 hal sama Dika. Jangan pernah menyimpulkan segala sesuatu yang belum jelas."


"Terimakasih Om."


Dika keluar dari ruang kerja Reno dengan perasaan tak menentu. Dia bahkan lupa untuk berpamitan dengan Ririn dan Rina.


Flashback off.


Rina segera keluar dari kamar saat terdengar deru mobil meninggalkan kediaman mereka.


"Dika udah pulang," kata Reno saat melihat putrinya berdiri di depan pintu dengan memandang hampa.


"Kok pulang..."


"Belum halal sayang kalau mau nginep..." sambung Mama yang muncul dari balik punggung suaminya.


"Ya nggak gitu juga Mama..."


"Dah tidur sana."


Rina segera menaiki tangga dan menghilang di balik pintu kamarnya menyisakan kedua orang tuanya di ruang tengah.


"Emm, Dika sepertinya masih salah faham dengan kemunculan Rudi yang tiba-tiba dalam kehidupannya."


"Emang rumit ya?" tanya Ririn.


"Ya, cukup mengoyak hati dan perasaan." Reno terkekeh dan menarik tubuh istrinya untuk dipeluk.


"Papa ini di tanya juga." Ririn merengut kesal karena candaan suaminya.


"Kita juga tidur yuk, kayaknya Papa udah lama nggak dipijitin Mama." Kata Reno sambil menunjuk adik kecil di bagian bawah tubuhnya.


Tanpa aba-aba Ririn mencubit perut suaminya.


"Aw! Kok dicubit sih Ma?!" protes Reno pada Ririn.


"Dicubit dikit aja protes, biasanya juga minta dijepit."


Reno mengangkat tubuh istrinya tanpa aba-aba."


"Aaaaa!"


"Sstttt, jangan teriak. Nanti Rina denger." Reno berbisik tepat di telinga Ririn yang kini berada di gendongannya.


"Ya abis Papa nggak bilang-bilang." Meskipun protes, namun Ririn justru mengalungkan lengannya di leher Reno.


"Jepitnya jadi kan?" goda Reno.


Ririn menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reno. Meskipun sudah punya anak gadis, kemesraan mereka seperti tak pernah luntur.


***


Pagi ini Dika sudah bersiap untuk pergi, namun satu hal yang belum teratasi masih membuatnya ragu untuk melangkah.

__ADS_1


Dia menatap pintu kamar sang adik yang masih tertutup. Sepertinya aku nggak bisa minta bantuan Rina kali ini. Kalau nitip di Mama, aku nggak tenang juga. "Dedi." Nama itu meluncur dengan mudah dari mulutnya.


Dika segera merogoh ponsel dan mengetuk icon pesan berwarna hijau. Ia segera mengetikkan sesuatu di salah satu chat room.


Dedi Yohanes


^^^Ded, mampir ke rumahku ya.^^^


Setelah menekan tombol send, Dika kembali meletakkan ponselnya. Tak lama menunggu, sebuah notifikasi pesan masuk datang.


Dedi Yohanes


Oke.


Dika tersenyum lega dan kembali meletakkan ponselnya. Dia kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar Rista.


Tok tok tok


"Rista, sarapan yuk...!"


"Ya Kak, bentar," sahut Riset dari dalam.


"Kakak tunggu ya."


"Oke Kak."


Dika berjalan kembali ke meja makan. Di sana bibi sudah selesai menyiapkan sarapannya.


"Bi..." panggil Dika pada art yang sudah bekerja dengannya sejak ia kecil.


"Iya Den..."


"Bibi malam ini bisa nginep sini nggak?"


"Aden mau pergi ya?"


"Iya Bi, kalau bisa saya minta tolong bibi nemenin adik malam ini saja."


"Rista nggak nginep di Tante Ririn aja Kak?" tanya Rista yang kini tengah berjalan menuruni tangga.


"Nggak bisa Ris, mereka lagi ada acara." Maafin ya, kakak terpaksa bohong.


"Oh, ya udah. Itu tadi Bibi bisa nggak?" Rista kemudian duduk di hadapan Dika.


"Maaf Den, anak Bibi lagi kurang sehat, jadi nggak bisa kalau nginep di sini."


"Yaaahhhh, terus Rista gimana dong."


Dika menghela nafas. Dia juga bingung, hanya saja dia tak ingin mengeluh di hadapan adiknya.


"Ya udah Bi, makasih ya."


Setelah Bibi berlalu, terdengar deru motor yang berhenti di depan rumah Dika.


"Siapa sih yang namu sepagi ini?" tanya Rista.


Dika tak menjawab, karena ia yakin sebentar lagi tamu itu akan tiba di meja makan.


"Pagi..." Dedi yang baru tiba langsung menarik kursi dan duduk di samping Dika.


"Kak Dedi ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Rista yang masih terkejut dengan kedatangan Dedi.


"Tau deh. Tanya nih sama kakak kamu." Dedi langsung ikut sarapan tanpa permisi.


"Mau nemenin Rista malam ini ya?!"


"Uhuk...?!"


Dika dan Dedi langsung terbatuk saking terkejutnya. Kemudian mereka saling memandang dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


TBC


Tinggalkan jejak ya teman-teman.


__ADS_2