Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Dipaksa


__ADS_3

Ya ampun, ada apa dengan Senja.


Kenapa Senja sampai lupa tak mengucapkan selamat tahun baru untuk kalian.


HAPPY NEW YEAR ya dear.


Semoga masih pada setia mensupport Senja.


HAPPY READING


“Kenapa tiba-tiba setuju pulang? Kan tadi kamu bilang kalau nggak ada yang urgent di kantor?”


Setelah sempat menahan tanya kepada Andre yang tiba-tiba merubah keputusan, kini akhirnya Hana ungkapkan di tengah perjalanan pulang mereka. Andre dan Hana setuju mengantarkan Rida untuk pulang, dan saat ini Rida sedang tidur di jok belakang. Sehingga pasangan ini merasa leluasa untuk mengobrol berdua.


“Rio bilang kalau Rida pasti capek pulang sekolah. Selain itu ruang tunggu tak terlau baik untuk anak, sehingga ia baru tenang untuk membawa Rida dan Rangga kalau Indah sudah melewati proses melahirkan dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan,” jelas Andre tentang alasannya merubah keputusan secara tiba-tiba.


Hana mengangguk paham. “Iya juga… Terus ini mau kemana?” tanya Hana lagi.


“Jangan random Han. Kamu tahu benar tujuan kita sekarang…” sarkas Andre.


Hana menghela nafas. Susah sekali berkamuflase dengan orang yang sangat teliti. Gerutunya dalam hati.


“Kamu takut ya bertemu dengan mamanya Rio?” tebak Andre melihat Hana yang labil. Ia hafal benar jika sudah seperti ini berarti Hana sedang panik atau gelisah.


Hana mengangguk. Sepertinya akan susah untuk berbohong dengan Andre meski pun ia sudah berusaha dengan susah payah.


“Hadapi sayang. Jangan terus lari dan sembunyi. Kalau kamu masih peduli dan berharap kamu mereka terima…” Entah ini ancaman atau dukungan. Yang jelas Andre merasa hal ini harus ia tegaskan.


“Iya…” Hana pasrah saja, karena ia juga merasa ini adalah jalan terbaik yang harus ia tempuh saat ini.


Hana lantas diam. Ia tengah memikirkan apa yang baru saja Andre katakan, serta apa yang harus ia lakukan untuk merealisasikan hal tersebut.


“Kalau dipikir-pikir, tante Mustika itu nggak pernah bilang benci sama aku,” gumam Hana tiba-tiba.


“Terus kenapa kamu selalu menghindar?” Andre jadi penasaran juga akhirnya. Padahal kelihatannya Hana itu sangat tangguh tapi ternyata aslinya hanya seperti ini.


Hana menggeleng. “Bahkan selama aku tinggal bersama mereka, nggak pernah sekali pun tante Mustika birbicara kasar sama aku.”


Makin heran lagi akhirnya Andre setelah tahu hal ini. “Kalau begitu bagaimana interaksi kalian?” tanyanya penasaran.


Hana menghela nafas. “Kami nyaris tak pernah berinteraksi,” jujurnya kemudian.

__ADS_1


Andre tak habis pikir. Tapi ia harus menahan diri. “Dia mendiamkan kamu?” tanyanya mencari tahu.


Hana menggeleng lagi. “Aku yang lebih sering menghindarinya. Aku takut kalau dia sakit hati saat melihatku. Bagaimana pun juga aku adalah anak suaminya dari wanita lain di tengah pernikahan mereka…”


Andre benar-benar ingin menggetok kepala Hana. Apa sih yang kekasihnya ini pikirkan. “Itu menurut kamu. Tapi kamu apa pernah memastikan hal itu?” tanya Andre yang mulai kehilangan kesabaran.


Hana terdiam lagi. Benar juga. Sebagian besar alasan ketakutanku itu berasal dari pikiranku. Jangankan bertanya untuk tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan, untuk bertegur sapa saja sebisa mungkin selalu aku hindarkan. Hana terus meracau, mengingat bagaimana yang terjadi selama ini.


“Han…” Andre mengulang panggilan karena merasa pertanyaannya diacuhkan.


“Hmm…”


“Coba cerita, jangan diam saja. kita sekarang sedang berjuang bersama, jadi please ya. Libatkan aku dalam kesulitanmu, support aku dalam usahaku. Jangan sok-sokan mau menghadapi sendiri kalau solusi kamu cuma lari. Nggak ada habisnya Han.”


Hana menunduk setelah sebuah helaan nafas.


“Aku merasa semua yang aku lakukan adalah kesalahan di mata orang lain, terutama tante Mustika.”


“Itu menurut kamu, lantas bagaimana menurut mereka.”


“Ya I think so.”


“Itu namanya tetap menurut kamu sayang. Tapi kamu tak pernah mau dengar langsung bagaimana menurut mereka ya jadi jangan seenaknya menyimpulkan.”


“Rio membencimu saat kamu tak pernah berani berbicara langsung padanya. Lebih tepatnya kamu merasa dibenci, karena aku yakin ini lagi-lagi adalah hasil kesimpulan sepihakmu lagi.”


Glek!!


Hana menelan ludah. Benar. Dengan hanya melihat tatapannya aku sudah yakin Kak Rio sangat membenciku. Tapi sejujurnya, kami tak pernah sekalipun perang kata, adu mulut atau terlibat konflik secara langsung.


“Oke Han. Sekarang aku akui, aku kembali menjadi Andre yang otoriter terhadapmu. And see, bahkan Rio sudah sangat menyayangimu setelah berbincang sekali. Bukankah dia yang paling kamu perdulikan perasaannya sebelumnya? Lantas kenapa setelah kamu mampu berdamai dengan Rio kamu masih belum berani menghadapi orang tuanya yang kalau benar keyakinanmu papanya adalah papamu juga.”


Hana sekali lagi menelan ludah. Bibir tipisnya harus kembali menjadi pelampiasan atas kegundahannya.


“Masalah dengan Rio sudah mampu kita atasi, kenapa tak kita lanjutkan dengan Om Galih atau Tante Mustika.” Kembali Andre mendesak karena wanitanya hanya diam saja.


“Aku takut. Aku takut ditolak…” akhirnya Hana kembali bicara.


“Kalau kamu tak pernah coba, bagaimana kamu bisa tahu hasilnya?”


Hana kembali diam. Kepalanya tertunduk perlahan.

__ADS_1


“Sayang. Kita bukan lagi remaja yang harus kucing-kucingan saat menemui kesulitan dalam berhubungan. Lagian aku tak mau kalau sampai buah cinta kita harus kembali menjadi korban.”


Spontan Hana yang semula menunduk langsung mengangkat wajahnya. Ia kini mendelik menatap Andre yang masih mengemudi dengan santainya.


“Han, aku nggak bisa ya bilang akan menjagamu selamanya. Aku manusia yang semua ada batasnya. Kamu pikir aku nggak capek menahan diri untuk…”


“Andre!” potong Hana setengah berteriak.


Sesaat setelah membentak Andre Hana langsung membekap sendiri mulutnya karena ia baru saja ingat jika ada Rida yang sedang tidur di jok belakang mereka.


“Aku tahu itu dosa, tapi menolak nikmat itu susah Hana. Ya kan, ya kan? Ngaku deh…” dengan Sengaja Andre berbicara seperti itu pada Hana. Tak lupa matanya mengerling nakal menatap kekasihnya yang belingsatan karena ulahnya.


Di tempatnya, Hana menangkup wajah hingga telinga. Semua terasa panas karena malu yang menyerang secara tiba-tiba.


“Ndre udah…” ujar Hana memelas.


“Makanya ayo nikah…”


“Ayo kita cepat antar Rida…”


Andre tertawa kecil karena ia justru meminta sesuatu yang semula dihindarinya. Tak ingin terus menggoda Hana, Andre perlahan menambah kecepatan laju mobilnya. Ia ingin segera sampai di rumah Rio dan berharap ada Mustika di sana. Ucapan Andre tak hanya omong kosong belaka. Ia benar benar ingin Hana segera bertemu dengan Mustika. Masalah ini harus ia tuntaskan karena jika asal-usul Hana sudah terpecahkan ia yakin orang tuanya bukanlah lagi halangan.


Dan Tuhan sepertinya memang berpihan pada Andre yang berniat menapaki jalan yang benar dalam memperjuangkan hubungannya dengan Hana. Saat baru saja ia memarkirkan mobilnya, ia sudah disambut dengan sosok paruh baya yang nampak menawan dengan balutan dress bermodel sederhana namun elegan. Ia sedang bermain dengan bocah laki-laki kecil di halaman di temani beberapi asisten dan seorang lagi yang diyakini adalah baby sitter.


“Sayang…” Andre coba memanggil Hana yang tak bergerak meski mobil sudah ia matikan.


“Iya, kita turun,” sahut Hana cepat.


Hana melepas sendiri seatbeltnya dan segera membuka pintu di sampingnya. Ia kemudian membawa bawaan Rida sementara Andre membawa bocah yang masih terlelap ini ke dalam gendongannya.


Andre tahu yang Hana tampilkan sekarang adalah palsu. Ia yang ketakutan membungkus paniknya dengan wajah kaku. Namun ia tetap membiarkan. Hana sesekali harus dipaksa menghadapi situasi semacam ini.


Perempuan paruh baya itu dengan tergopoh-gopoh berjalan dengan cepat menghampiri Andre dan Hana.


“Hana, itu kamu kan…”


Hana yang semula merasa actingnya mengagumkan kini mulai kehilangan kestabilan. Tubuhnya mulai gemetar dan tubuhnya terasa ringan. Saking cepatnya detak jantung di dadanya, hingga ia merasa degupnya hilang.


Andre yang tahu hal ini pun tak berbuat apa-apa. Selain karena ada Rida di gendongannya, juga karena ia ingin Hana menghadapi sendiri masalah yang selalu ia hindari dan tinggal lari selama ini.


Saat Mustika terus mendekat, Hana sepertinya tak mampu lagi melangkah. Jangan lari lagi seperti biasanya, berbalik saja ia sudah tak bisa.

__ADS_1


Hana, kamu bisa sayang. Kita harus bisa. Hadapi, jangan lari lagi. Kamu tak pernah tahu hasilnya kalau tak pernah berani mencoba.


Bersambung…


__ADS_2