Zona Berondong

Zona Berondong
Wanita dan Perhiasan


__ADS_3

...*HAPPY READING* ...


Siang berganti petang, semua sudah pulang, menyisakan 4 pasang muda-mudi di sana. Ada Dika Rina, Dedi Rista, Andre Dian, dan Miko Nita.


"Dika, sorry ya. Aku selama ini nggak tahu kalau kamu atasan bokap."


"Udah kali berapa kamu bilang sorry. Aku juga nggak cari tahu dan nggak pengen banyak yang tahu tentang siapa aku."


"So stop bersikap segan sama aku, karena yang kerja sama aku tu papa kamu, dan kamu tetep temanku."


"Tapi..."


"Stop bahas ini," potong Dika cepat. "Aku lagi pengen jadi remaja normal saat ini," lanjut Dika sambil merangkul bahu Dedi.


"Tapi aku penasaran deh, gimana kalian mainin dua peran kayak gini. Surya itu bukan perusahaan kecil loh."


Akhirnya setelah sejak tadi diam, Miko tak dapat membendung lebih lama rasa penasarannya.


"Seandainya kalian tahu, yang luar biasa itu Dedi. Tanpa dia aku pasti kalang kabut."


Miko dan Andre ganti menatap Dedi.


"Apa sih. Aku cuma yatim piatu miskin yang dipungut sama pangeran," canda Dedi dengan senyum lebarnya. Senyum lebar yang sama sekali tak diumbar saat masih banyak orang tadi.


"Coba sini, cek saldo ATM kamu. Pengen tahu nasib orang miskin ini setelah sekian waktu dipungut pangeran," tantang Andre.


"Semua langsung dideposit, nariknya kalau udah dapet tuan putri."


Rista yang merasa sedang dibicarakan lantas bergelayut manja di lengan kekasihnya.


Mereka melanjutkan candaannya hingga tak terasa malam pun menjelang. Semua suda membubarkan diri. Tak terkecuali Dedi yang langsung mengantar Rista pulang, sementara Dika masih bersama Rina.


"Sayang, kamu suka diamond nggak?" tanya Dika pada Rina saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah.


"Kenapa emang?"


"Ke tempat desainer perhiasan temen mama yuk?"


"Buat apa?"


"Pengen lihat-lihat aja. Temenin ya..."


"Boleh..."


Rina sudah izin pada kedua orang tuanya untuk pulang telat karena sedang bersama Dika. Jadi tak ayal kini mereka santai sekali dan tak buru-buru untuk pulang.


Setibanya Dika dan Rina di tempat yang dimaksud, mereka langsung mendapat sambutan hangat dari perempuan cantik berhijab berusia sekitar 40 tahunan.


"Assalamualaikum Tante Jasmine ..." Dika langsung mencium tangan wanita yang ia panggil Jasmine itu.


"Waalaikum salam."


Rina juga melakukan hal yang sama.


"Ini calon istrinya?"


"Iya Tante."


"Masa allah cantiknya. Pantesan pengen buru-buru dinikahin, takut nambah dosa ya," canda Jasmine yang disambut senyum bahagia oleh Dika dan Rina.


"Ayo, ayo sini. Mama kamu tadi udah telfon. Aku kira bercanda kamu mau ke sini sama calon istri. Eh ternyata enggak."


Jasmine terus berbicara sambil mengajak sepasang remaja ini ke ruangannya. Ruang kerja khusus miliknya yang terasa sangat nyaman dengan nominasi warna nude.


"Kamu namanya siapa?"


"Rina Tante."


"Ya ampun, kalau lihat pasangan muda yang udah berani menikah kayak kalian ini Tante jadi berasa nostalgia deh. Tante dulu nikahnya pas belum lulus SMA tahu nggak?"


"Masa iya?" kaget Rina.


"Iya, maksudnya pas lamaran itu langsung dinikahin. Nikah siri gitu sambil nunggu hari H."


"Oh..."

__ADS_1


"Ini desain terbaru Tante, bisa kamu cek dulu. Tante tinggal keluar sebentar ya..."


"Iya Tante..." serempak Rina dan Dika.


Jasmine berjalan keluar segera. Ia nampak menempelkan ponsel di telinga.


"Dia itu temen kuliah Mama..." kata Dika tiba-tiba.


"Oh. Ramah banget ya..."


"Iya. Aku cek ini bentar ya."


Rina mengangguk. Ia kemudian melihat desain perhiasan yang begitu membuatnya terpikat.


Rina mengamati setiap detail perhiasan rancangan Jasmine. Wanita dan perhiasan adalah suatu hal yang tak dapat terpisahkan, karena tanpa aksesori pun, wanita sudah menjadi perhiasan. Perhiasan dunia.


Ruangan ini mendadak senyap. Dika yang berkutat dengan tabnya dan Rina yang larut mengamati desain perhiasan di tangannya. Hingga tanpa mereka sadari, Jasmine telah kembali.


Melihat dua muda-mudi yang tampak sibuk itu, membuat Jasmina tergelitik untuk mengabadikan momen ini. Momen manis yang tercipta tanpa adegan romantis.


Jasmine kembali berjalan dengan langkah pelan, berharap tak mengacau konsentrasi dua muda-mudi ini.


"Ada yang kamu suka?"


"Eh Tante..." Rina tampak terkejut dengan kedatangan Jasmine yang menurutnya tiba-tiba.


"Ikut Tante Yuk."


"Kemana?"


"Ke etalase tempat perhiasan yang udah jadi."


"Rina Tante bawa ya Res..."


Dika mengangguk. "Iya Tante..."


Rina berjalan mengikuti Jasmine. Matanya berbinar melihat wujud asli perhiasan yang jauh lebih indah dari gambarnya ini.


"Ini semua hasil karya Tante?"


Jasmine mengangguk.


Jasmine menghela nafas. "Tante suka perhiasan sejak muda, karena orang tua Tante punya usaha toko perhiasan. Tapi kalau nyoba bikinnya sejak anak-anak Tante masuk ke pondok pesantren."


"Sejak lulus kuliah kerjaan Tante cuma 2, ngikutin suami yang ngurusin kerja kesana-kemari sama ngurus anak. Dan sekarang anaknya udah belajar mandiri bahkan yang pertama sudah bisa bantu-bantu papanya, dan dua masih di pondok pesantren."


"Pekerjaan yang jauh-jauh sudah diambil alih sama anak kami yang pertama, jadi suami Tante sudah bisa sedikit santai kerjanya."


"Dan akhirnya Tante memutuskan untuk membuka galeri perhiasan sebagai kegiatan dan wadah menyalurkan hobi."


"Galeri ini dibuka sejak kapan?" tanya Rina.


"Baru beberapa tahun. Sebelumnya Tante cuma nebeng di toko perhiasan orang tua. Sama nerima pesanan doang."


"Oh..."


"Kamu mau coba gambar desain perhiasan impian kamu atau mau coba modif gambar Tante."


"Yah, apanya yang mau dimodif Tan, punya Tante udah perfect semua."


"Mau coba bikin?"


Rina mengangguk antusias. "Tante tolong ajarin ya..."


"Iya..."


Kini dua wanita itu tengah bermain dengan pensil dan kertas. Jasmine sudah menyelesaikan 1 desain cincin, sementara Rina sudah menghabiskan entah berapa lembar kertas namun belum berhasil juga dia membuat satu desain.


"Rina nyerah Tante..." kata Rina sambil meletakkan pensilnya.


"Jangan dong. Baru pertama juga."


Rina hanya menghela nafas lelah.


"Ya udah gini aja deh. Kamu bilang sama Tante apa yang ada di pikiran kamu, biar Tante yang gambar..."

__ADS_1


Rina tampak berfikir.


"Ayo coba..."


"Iya deh Tante..."


Rina mulai berbicara dan Jasmine perlahan menggoreskan pensilnya di atas kertas. Beberapa koreksi dilakukan dan proses menggambar terus dilanjutkan.


Dika mengamati dari jauh, melihat wajah serius calon istrinya ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi nampaknya kegiatan mereka belum selesai juga.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Dika segera mencium tangan laki-laki dengan usia 50 tahunan ini.


"Kamu udah lama Res...?"


"Lumayan Om Mahmud."


"Kenapa berdiri di sini?"


"Lagi nungguin calon istri yang lagi belajar sama tante Jasmine."


Mahmud menengok ke dalam ruangan sekilas.


"Oh, duduk sini yuk..."


Mahmud mengajak Dika untuk duduk.


"Om apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. Orang tua kamu gimana?"


"Ayah sama Mama sehat, adik juga."


Mahmud tersenyum mendengar Dika sudah tak segan menyebut Rudi sebagai ayahnya. Meskipun tak tahu persis, tapi Mahmud cukup paham bahwa anak muda ini sempat tak menolak ayah tirinya.


"Rencana nikah kapan?"


"Doakan segera ya Om..."


"Pasti niat baik harus disegerakan."


Mereka mulai mengobrol sambil menunggu para wanita. Hingga tak terasa jarum jam pun menunjukkan pukul 11 malam. Saat Mahmud hendak memanggil istrinya ternyata kedua wanita ini sudah nampak membereskan perlengkapannya.


"Mas sudah lama?" Jasmine segera mencium tangan suaminya.


"Sudah hampir jamuran nunggu kalian..." canda Mahmud.


"Maafin saya ya Om, gara-gara ngajarin Rina sampai lupa waktu."


"Nggak masalah, yang penting ilmunya nyampe."


"Nyampe kok. Selera Rina bagus juga. Kami tadi bisa menyelesaikan desain 1 set perhiasan loh..."


"Kan Rina cuma ngomong Tan, tapi Tante yang udah berhasil memvisualisasikan pikiran Rina."


"Kamu cuma belum terbiasa, kalau udah biasa apa yang keluar dari pikiran kamu itu adalah hasil karya yang pasti berbeda dengan orang lainnya."


"Tapi tetep saja saya nggak berbakat."


"Bakat itu lahir kalau kita nggak lelah untuk terus mencoba dan berusaha."


"Iya Rin, aku juga udah buktiin kok. Bakat itu lahir saat kita nggak lelah untuk terus mencoba dan berusaha," imbuh Dika.


"Ya udah, berhubung ini malamnya sudah larut banget, kami mohon diri Om, Tante," pamit Dika.


"Kita juga mau pulang kok."


"Hati-hati dijalan. Anterin pulang Rinanya, jangan dibawa nginep dulu."


"Iya Om. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Waalaikum salam..."


TBC


__ADS_2