Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Telur Gulung


__ADS_3

Kira-kira kalau Hana ketemu Rina apa yang terjadi ya?


Apa lagi kalau Rina sampai mengenali Hana.


Kan dulu Rina sempat beberapa kali dijahati sama Hana.


HAPPY READING


“Kalian sibuk nggak?”


Keluar dari ruang istirahat Rina melihat Dika sedang berbincang dengan Andre. Namun kali ini keduanya terlihat santai tak tegang seperti tadi.


“Aku tinggal nunggu kamu, Andre mau nyari Hana,” jawab Dika.


Sedikit aneh saat Rina mendengar ucapan suaminya. Tapi ia ingat jika Lili juga punya saudara bernama Hana. “Aku mau nyamperin Hana,” ujar Rina tiba-tiba.


“Kamu tahu dimana Hana?” sahut Andre cepat.


Rina cukup terkejut dengan reaksi yang Andre berikan. Namun sepertinya tak masalah, karena ia bisa menjalankan sebuah ide jahil yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia kurang suka dengan pacar Andre dan berharap bisa menjodohkannya dengan Lili karena dengan Dian sepertinya sudah tak ada harapan lagi.


Dika juga menatap heran istrinya. Rina memang sering pergi sendiri akhir-akhir ini, tapi ia tak pernah lepas dari jangkauanku. Mana mungkin keberadaan Hana bisa iakketahui sementara aku tak tahu sama sekali. Apa lagi aku tak pernah membahas masalah Hana dengan Rina sebelumnya.


“Dia ada di rumah Lili.”


Lili kaget karena tiba-tiba membawa-bawa namanya, terlebih saat dua pria di sana menatapnya dengan tatapan yang sama tajam. Namun hanya Andre yang terus menatapnya sementara Dika nampaknya hanya menatap ia karena terkejut dan segera memutuskan kontak setelahnya.


Ya ampun, ditatap aja rasanya kayak ditembak, gimana kalau ditembak beneran? Batin Lili. Awalnya ia ingin bertanya pada Rina apakah nonanya ini mengenal Hana yang ada di rumahnya, Namun gara-gara Andre menatapnya, Lili jadi lupa dan lebih memilih mengagumi wajah dingin yang menurutnya tampan ini.


“Benar yang Rina bilang?” tanya Andre dengan suara rendahnya.


Lili hanya menjawab dengan anggukan.


Tiba-tiba Andre meraih tangan Lili. “Antarkan saya.”


Rina menahan tangan Andre yang sudah siap menarik Lili pergi dari sana.


“Eh maaf.” Cepat-cepat Rina melepas cekalannya pada Andre karena tatapan tajam yang Dika layangkan padanya. Tak peduli seberapa dekat Andre dengan Dika namun Andre tetaplah laki-laki yang tak boleh terlalu dekat dengan Rina. Rina tersenyum lebar dan berjalan ke arah suaminya kemudian.


“Ih tambah ganteng tauk.” Ujarnya setelah susah payah berjinjit untuk bisa mencubit kedua pipi Dika.


Sebelah tanganku dipegang pak Andre, dan ini malah disuguhi pemandangan pasutri uwu ini. Bunda, Lili lemes.


“Kita ke sana bareng-bareng ya,” ujar Rina sambil menggoyang-goyangkan lengan suaminya.

__ADS_1


Dika menyentuh kepala istrinya. “Ayo.”


Andre melepaskan tangan Lili dan berjalan tergesa menuju ruangannya. Dika pun meraih ponselnya berjalan setelah merangkul istrinya.


Di luar, Andre nampak sudah bersiap di mobilnya. Sementara Dika yang sudah bersiap membuka pintu tiba-tiba di tahan oleh Rina.


“Kamu nyetir ya?” pinta Rina pada Dika.


“Terus kamu mau di jok belakang sama Lili?” tanya Dika memastikan.


“Ya nggak gitu sayang, tapi biar Lili ikut mobilnya Andre,” jelas Rina.


Dika menutup kembali pintunya dan bersedekap menatap Rina. “Kamu ada rencana apa sih?”


Dika menghela nafas. “Biar Andre sendiri, aku sama kamu. Jangan aneh-aneh lagi,” putus Dika. Ia membuka pintu lagi dan meminta Rina untuk segera masuk. Dan setelah ia sendiri masuk, pintu mobil segera ditutup. Lili yang sudah bersiap di jok depan mulai menjalankan mobilnya.


Rina yang nampak sedikit kesal. Ia menatap keluar jendela dan mobil pun mulai berjalan. Padahal aku kan pengen deketin Andre Lili. Siapa tahu cocok kan, daripada Hana yang nggak tahu asal-usulnya gimana.


Andre yang membawa mobilnya sendiri berjalan di belakang mengikuti mobil yang dikemudikan Lili


***


“Ken…” panggil Dian saat Ken baru saja menghentikan mobilnya.


“Kenapa lagi Di?” tanya Ken dari balik kemudi.


“Takut apa? Semua sudah aku urus. Kamu legal masuk  ke China.”


Dian menunduk. “Bukan itu.”


Ken memegang wajah Dian agar gadis ini menatapnya. “Terus apa?”


Dian sempat melepas kontak pandangannya, namun kemudian kembali menatap Ken yang persis di hadapannya. “Aku nanti di sana ngapain, terus aku kudu gimana? Aku nggak bisa bahasa mandarin pula.”


“Ada aku di samping kamu. Than, beberapa anggota keluarga juga pernah stay di Indonesia buat ngurus bisnis, jadi ya meskipun nggak fluent mereka bisalah ngobrol pakai bahasa Indonesia. Ya cuma in general mereka jarang yang bisa bicara pakai bahasa Inggris.”


“Nah kan, informasi pentingnya di taruh di belakang.” Dian cemberut meski Ken sudah memasang senyum yang sangat lebar.


“Hehehe, mungkin mulai sekarang kamu harus mulai belajar bahasa China juga, biar nggak cuma bisa ngomong bahasa Inggris sama bahasa Indonesia.”


“Ck. Aku nggak mau belajar lagi. Belajar di sekolah saja sudah makan berapa belas tahun, masa iya sekarang harus belajar lagi?”


“Iya, iya ayo berangkat.”

__ADS_1


Ken keluar terlebih dahulu dari mobilnya dan berjalan memutar karena Dian masih belum juga membuka pintunya.


“Nunggu dibukain pintu nih?” goda Ken saat membuka pintu untuk Dian.


“Aku nggak minta, cuma lagi nyiapin diri aja.”


“Terus?”


“Terus kamunya aja yang nggak sabar pengen aku cepet-cepet keluar,” ketus Dian mengacuhkan uluran tangan Ken. Ia berjalan ke belakang untuk menurunkan bawaannya dari bagasi.


“Nih punya kamu juga bisa aku turunin.” Dian memang tipe perempuan mandiri yang tak ada manja-manjanya. Dia pekerja keras dan dan suka tantangan.


Ken mengambil 3 buah koper yang baru saja Dian turunkan. 1 koper besar miliknya dan 2 milik Dian. Mereka berjalan menuju pesawat yang sudah disiapkan.


Sambil berjalan Ken memperhatikan koper yang ia bawa. Perempuan memang banyak sekali perintilannya. Jika tadi Dian packing sendiri pasti yang akan dia bawa lebih banyak dari ini. Selain dua buah koper, Dian juga membawa banyak sekali cemilan yang ia beli tadi. Mungkin ia berencana makan selama perjalanan. Batin Ken.


“Untuk apa sih kamu beli makanan sebanyak ini. Apa kamu khawatir akan kelaparan selama perjalanan?” tanya Ken begitu mereka duduk di dalam pesawat.


Dian tak menjawab. Ia lebih memilih meringis dan membuka telur gulung yang sudah dingin itu. “Kamu mau?” tawar Dian pada Ken.


“Kamu aja,” tolak Ken.


Dian menggigit ujungnya dan mulai mengunyah. Namun tiba-tiba ia berhenti mengunyah saat Ken memegang tangannya. Setelah usah dengan keterkejutannya, Dian kembali mengunyah, namun terhenti lagi saat Ken tiba-tiba memasukkan telur gulung yang tersisa di tusukan itu ke dalam mulutnya.


“Kudu banget ya bekas gigitanku? Kan masih banyak yang masih utuh.”


Ken menaik-turunkan alisnya dan terus mengunyahnya. Ia tersenyum melihat Dian yang kesal karena ia sama sekali tak menjawab protesnya.


Setelah telur gulung di mulutnya habis, Dian kembali mengambil telur gulung yang lain dan menggigitnya. Saat Ken hendak kembali melakukan hal yang sama, Dian dengan sigap menjauhkan tangannya. “Nih masih banyak,” ujarnya sambil menyodorkan sekantong telur gulung.


“Aku belum move on dari yang tadi. Boleh minta lagi?”


Dian melengos. Konektifitas otaknya yang sudah normal seperti sedia kala. Sehingga ia dapat memahami dengan cepat apa yang Ken maksudkan lewat ujarannya. Dian memakan sisa telur gulung di tusukannya dalam satu suapan. Sedikit penuh di mulut, namun dengan begini ia bisa mengelak untuk tak menanggapi ucapan Ken. Namun sepertinya Ken sangat bersabar untuk Dian. Hingga Dian selesai mengunyah makanannya, Ken masih setia memandangi wajahnya.


Dian membalas tatapan Ken, sebelum akhirnya melengos karena ia tak kuat mental dan salah tingkah sendiri karenanya. Ia mengambil satu tusuk lagi dan hendak memasukkan ke dalam mulutnya. Namun saat itu juga Ken menahanya.


“Di, aku sayang kamu…”


Dian tak bisa lari lagi karena Ken tak hanya menahan tangannya namun juga mengunci matanya.


“Will you be mine?”


Dengan pandangan beradu, Dian menganggukkan kepala. “Yes, I will.”

__ADS_1


Dan Ken pun tak bisa menahan diri untuk menahan luapan kebahagiaannya yang membuncah.


Bersambung…


__ADS_2