Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pedas


__ADS_3

HAPPY READING


Sebuah panci dengan dua jenis kuah mendidih telah disiapkan. Hana dengan antusias memasukkan bahan mentah ke dalamnya.


“Aduh Han, aku dulu mual pas pertama Ken ajak makan yang beginian. Saat itu masih jarang resto yang menyediakan menu ini, jadi Ken buat sendiri,” jelas Dian menceritakan pengalaman pertama makan makanan yang populer di China ini.


“Lu bisa Ken?” tanya Andre tak percaya.


“Bisa lah. bahkan mungkin aku lebih bisa masak dari pada Dian.”


“Coba sekarang masak,” tantang Dian.


“Ya kalau sekarang karena sudah jarang masak jadi banyak yang lupa,” ujar Ken sambil menyunggingkan senyum lebarnya.


Dian mencebik dan memasukkan beberapa potong babat mentah ke dalam kuah pedas. Ia kemudian mengaduk-aduknya agar jerohan ini bisa tenggelam dengan sempurna.


“Kamu suka babat?” tanya Hana pada wanita hamil ini.


“Dian suka makanan dengan rasa kuat,” timpal Ken dari tempatnya.


“Suami siaga kamu ya,” puji Andre kala melihat Ken yang nampak begitu memperhatikan istrinya.


“Iya lah. itu bagian dari investigasiku dulu saat Dian selalu menolakku. Jadi aku tak lelah mencari tahu apa yang ia suka dan apa yang dia tak suka.”


“Tapi usahamu nggak sia-sia.”


“Siapa bilang. Sia-sia semua bahkan bisa dibilang. Dan asal kalian tahu, hotpot yang sangat nikmat dan berharga ini pernah dia tumplekin gara-gara kesel aku masukin bahan yang urutannya nggak sesuai dengan Dian minta.”


Dian menutup mulutnya dengan punggung tangan saat ingat hal itu. “Eh, bayangin aja, ikan daging, jerohan, sayur, apa pun itu di masukin di panci yang sama, direbus di bumbu yang sama padahal waktu masak kan nggak sama terus kita ngangkat satu-satu sesuai yang sudah bisa dimakan. Gimana kalau yang di dalam itu ada yang belum matang, kan bisa sakit perut kita,” ujar Dian menjelaskan alasannya waktu itu.


Tak lupa Dian bergidik ngeri di akhir cerita sementara Hana hanya bisa tersenyum menanggapinya.


“Tapi sekarang gimana?” tanya Ken yang kesal namun ia tahu istrinya sudah tak akan seperti dulu lagi saat ia mengajaknya makan hotpot seperti ini.


“Sekarang ya biasa, soalnya paling lama seminggu kamu nggak ngajakin makan makanan aneh ini,” ujar Dian sambil mengaduk dan membolak-balik makanannya.


“Nggak sakit perut Di?” tanya Hana menggoda.

__ADS_1


“Sebenarnya dari awal nggak pernah sakit perut, hanya saja rasanya iuh… kayak diaduk.”


“Bukannya itu hobi kamu, diaduk-aduk?” goda Ken sambil menaik-naikan alisnya.


“Apa sih…” Dian berdecih sambil menatap sinis suaminya.


“Dimuntahin pun kamu nggak pengen aku narik diri kan…”


“Ih Ken! Nggak sopan tahu,” ujar Dian memperingati.


Untung saja Ken dan Andre tidak pernah punya urusan yang selalu memasangkan mereka berdua. Jika sampai keempatan yang semacam itu ada, mungkin otak partner mereka lainnya akan turut kotor terkontaminasi oleh mulut keduanya.


“Nggak apa-apa. Andre sudah khatam juga, ya kan?” Ken masih berusaha mengelak dari serangan istrinya.


“Para wanita emang suka gitu. Padahal menikmati, tapi suka nggak mau mengakui…” Andre sepertinya tak tega Ken terus mendapat serangan.


“Andre. Pulang nih kalau gitu terus…”


Baru saja mau membela, Andre sudah ganti diserang Hana.


“Tu lihat Ken. Nunggu makan aja udah nggak sabaran…”


Ken semua ingin membalas tawa Andre sebelum Dian memasukkan sepotong besar daging ke dalam mulutnya. Alhasil dia harus membereskan dulu mulutnya yang mendadak penuh.


“Kita makan dulu, masalah dibalik ranjang entar aja…” Dian pun memutuskan untuk mengikuti saja apa yang jadi bahasan para pria. Toh pembahasan ini bukan hal yang taboo lagi untuk mereka karena Dian dan Ken bahkan sudah resmi menjadi suami istri.


“Esshh, gila pedes, hahh, hahh…” Andre mengipas-ngipas mulutnya antara panas dan pedas yang menyerang di sana.


Tadi setelah Hana menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, ia juga turut menyuapi Andre makanan yang sempat ia angkat dan dinginkan. Ia yang kesal karena Andre terus membicarakan hal yang membuat telinganya geli sampai sampai ia tak ingat saat kekasihnya ini tak begitu kuat makan pedas.


“Nggak sepedes mulut kamu juga…” Hana ingin menggoda namun kasihan juga sebenarnya.


Dian dan Ken tak lagi menimpali kekacauan pasangan ini. Mereka menikmati makanan dengan santai karena sebenarnya mereka di sana bukan karena lapar, tapi karena ingin menemani sahabatnya ini saja. Namun tiba-tiba muncul dua orang yang sama sekali tak mereka duga akan muncul di sana.


Dian yang semula sedang bercengkrama bersama suaminya, segera bangkit untuk menunjukkan rasa hormatnya. “Om, Tante… Ini tadi janjian ya?”


Semula Hana dan Andre tak begitu peduli mendengar kalimat sapaan yang baru saja Dian katakan. Sebelum Ken bangkit dan datang bersama dua orang pelayang yang menambah kursi.

__ADS_1


Otomatis Hana turut mengalihkan pandangannya dari Andre ke arah pandang yang sama dengan pasutri yang bersama mereka ini.


“Tante…” desis Hana saat mengenali wanita anggun yang muncul di hadapannya.


“Sayang minum…” Andre masih belum sadar apa-apa. Ia masih sibuk mengatasi pedas yang menyerangnya.


“Sayang…” Baru saat panggilan keduanya diacuhkan, Andre baru merasa perlu untuk mencari tahu apa yang membuat semuanya diam.


“Papa, Mama…” Andre bangkit seketika saat sadar di sana ada orang tuanya. Kenapa bisa ada kebetulan semacam ini?


“Kenapa? Apa kedatangan kami begitu tak menyenangkan untuk kalian?” sarkas Heni yang sejak awal nampak tak senang.


“Ya… Andre cuma nggak nyangka aja…”


Andre lupa jika tadi ia sedang berjuang melawan pedas yang membakar mulutnya. Keringat yang sebelumnya belum muncul kini mulai mengucur. Rasa panas akibat cabe dalam makanannya tak sepanas atmosfer yang dibawa oleh orang tuanya.


“Sudah lah. Karena di sini sepertinya terlalu ramai, sepertinya kita harus cari tempat lain yang lebih tenang. Ayo Pa…”


“Maaf Tante, di sini ada ruang VIP yang biasa Om dan Tante gunakan,” ujar Dian yang bermaksud mencegah Heni benar-benar pergi bersama Edo dari restorannya.


“Dian memang paling mengerti dengan kebutuhan kita. Kita memang tak bisa bergabung dengan terlalu banyak orang saat makan,” ujar Heni dengan nada yang sungguh tak enak di telinga Hana.


“Em, mari Om,” ujar Ken mempersilahkan.


Saat Heni hendak melangkah, ia sadar jika suaminya masih membatu di tempatnya. Sehingga ia pun memutuskan untuk ikut berhenti juga.


“Andre ikut Papa…” ajak Edo pada anak tunggalnya.


“Oh, iya. Ada anak kita juga,” ujar Heni tanpa sedikit pun menatap Hana.


Kepala Hana tertunduk kian dalam, dan Dian segera menghampirinya. Ia merangkul Hana dan mengusap lembut pundak kurusnya.


“Gimana?” tanya Dian pada suaminya tanpa suara.


Ken hanya memberi isyarat agar istrinya ini tenang saja.


“Sama Hana juga.” Edo melangkah begitu saja tanpa peduli Heni yang ingin protes kepadanya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2