Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Boneka Beruang Putih


__ADS_3

Mau tambah part atau ini aja?


Xexexe…


Tinggalkan jelak yang banyak ya kawan, biar Senja punya amunisi buat nambah part lagi.


HAPPY READING


Andre memicingkan mata melihat dua orang di sana.


“Galih menyerah karena sudah kehilangan anak panah, atau Rio yang sudah berubah pikiran dan ingin belok ke jalan yang ayahnya lalui selama ini?”


Andre memarkirkan mobilnya di depan pusat pertokoan dimana Galih dan Rio masuk ke dalamnya. Ia penasaran dengan apa yang ayah dan anak ini lakukan di sana.


“Ngapain mereka ke toko mainan?” gumam Andre pada dirinya sendiri.


Andre terus mengikuti sepasang ayah dan anak ini.


“Ini sepertinya cocok untuk Rida,” ujar Rio dengan tangan memegang mainan.


“Dan yang ini untuk Rangga,” Galih juga melakukan hal yang sama. Memilih mainan untuk cucunya.


“Pa, Papa sekarang sudah punya Rio. Rio sudah punya Rangga dan Rida, dan sekarang Indah sedang mengandung cucu papa yang ketiga, apa semua ini masih kurang?” tanya Rio dengan tatapan sungguh-sungguh.


Galih tersenyum. “Sudah lebih dari cukup.”


“Kalau begitu lepaskan dia Pa, lepaskan anak haram itu, dia hanya akan merepotkan Papa.”


Degh!


Andre ingin keluar dari persembunyiannya sekarang juga. Ia ingin memukul mulut kurang ajar Rio yang semabarangan mengatai wanitanya.


Galih meletakkan lagi mainan yang semula dipegangnya. Ia kemudian menatap tajam anak laki-lakinya.


“Jangan sangkut pautkan dia dengan keluarga kita. Kamu memang anak Papa. Yang sudah membuat Papa kecewa saat kamu tak bisa sejalan dengan saya, padahal kamu juga besar dari hasil jerih payah Papa. Kamu merasa apa yang saya lakukan buruk dan yang kamu lakukan baik dan seenaknya mengubah haluan Papa. Papa nggak bisa.”


Rio menghela nafas. “Apa yang bisa saya lakukan agar Papa tak lagi berurusan dengan anak haram itu?”


“Jangan terus memojokkan Hana. Bagaimana pun juga dia adalah adik kamu, dan dia bisa melakukan apa pun yang Papa minta, tidak seperti kamu yang membangkang Papa dan merasa paling benar.”


“Pa, tapi ini demi kebaikan Papa,” kekeh Andre.


Galih tersenyum remeh dan memegang kedua pundak anaknya. “Papa sudah terlebih dahulu terlatih untuk memikirkan apa yang terbaik untuk kamu jauh sebelum kamu pahamapa itu baik dan buruk.”


Ssrk

__ADS_1


Brak!!


Spontan Galih dan Rio menoleh ke arah suara. Tangan Andre mengepal kuat untuk menahan amarah yang bisa meledak kapan saja.


Kenapa mainan ini harus jatuh sih, padahal kan hanya kesenggol sedikit. Kesal Andre


Menurut Andre hanya tersenggol sedikit, tapi nyatanya raknya saja hampir roboh karena terdorong olehnya.


Saat ini Andre tak bisa lari, ia harus tersenyum seakan tak ada hal apa pun yang mempengaruhi moodnya.


“Pak Rio, Pak Galih. Apa kabar?” sapa Andre begitu ayah dan anak ini menemukan keberadaannya.


“Baik.” Jawab Rio dengan menatap heran Andre yang tiba-tiba muncul di sana. “Pak Andre sedang…” Rio sengaja tak melanjutkan ucapannya.


“Saya sedang mencarikan mainan untuk pacar saya.” Andre langsung menatap ke atas, untuk emngusir gugupnya. Kenapa harus pacar? Kan bisa keponakan atau apa pun yang lebih masuk akal. Kembali Andre merutuki kebodohannya


“Pacar?” Rio makin kaget.


Andre menarik kedua sudut di bibirnya. Harus selebar mungkin agar dua orang ini tak berfikiran macam-macam tentangnya.


“Iya. Karena sewaktu kecil punya jadwal yang padat, ia sampai lupa caranya jadi anak-anak. Dan setelah dewasa dia jadi kekanakan.” Andre menjeda ucapannya. “Anda berdua silahkan lanjutkan, saya masih ada kepentingan.”


Andre cepat-cepat mohon diri dari sana setelah mengambil mainan secara random. Ia tak menoleh untuk melihat reaksi ayah dan anak yang baru saja ditemuinya. Setelah membayar, buru-buru ia kembali ke mobil. Setelah mendengar pembicaraan Rio dan Galih, ia jadi ingin cepat-cepat melihat Hana.


Aku tidak percaya dengan adanya kebetulan. Aku yakin ada sesuatu dengan sekertaris Surya ini.


***


Hana sudah selesai mandi. Ia tak tahu untuk apa ia mandi lagi. Dia juga sudah selesai bersih-bersih dan membereskan hunian Andre. Sejak di sana Andre memang  tak pernah membiarkan orang lain untuk masuk ke apartemennya. Bahkan tukang bersih-bersih pun di larang. Semua Hana yang melakukan. Wanita ini tak hanya pintar otaknya, pandai berdandan, dan lihai bermain peran, namun urusan rumah pun bisa ia lakukan.


Jika saja Andre punya sabun cuci, mungkin pakaian kotor yang teronggok itu sudah selesai di kuceknya. Hana memang biasa hidup susah. Saat kecil ibunya bekerja sebagai buruh serabutan untuk menghidupinya. Terkadang Galih memang memberi tunjangan namun tak tentu kapan akan datang. Hana sudah biasa membantu ibunya mencuci dan menyeterika, bahkan terkadang ikut menjadi tenaga panggilan untuk membersihkan rumah orang. Saat ibunya sibuk, sering kali tak sempat membuat makanan untuk Hana, dari sini lah Hana mulai belajar memasak. Mengolah bahan yang ada menjadi makanan seadanya untuk mengganjal perut laparnya.


Hana tak mau di kamar lagi, saat ini dia sedang nonton TV. Ia terus menekan remote di tangannya tanpa tahu acara apa yang sebenarnya ingin dilihatnya. Haingga akhirnya pintu terbuka. Nampaklah Andre dengan dua boneka yang cukup besar di tangannya.


Hana sempat menoleh, dan ekor matanya melihat benda apa yang Andre bawa.


Boneka besar itu kenapa lucu sekali. Aku ingin memeluknya. Damba Hana dalam hati.


Namun sedetik kemudian Hana kembali memalingkan wajahnya.


Ingat Hana, itu tak mungkin untuk kamu. Bisa saja untuk Dian saat mereka bertemu lagi. Batin Hana mengingatkan dirinya.


Andre berjalan dan duduk begitu saja di samping Hana. Ia menyandarkan punggungnya dan menengadahkan kepalanya.


“Hana, apa ada sesuatu yang bisa di makan?” tanya Andre tiba-tiba tanpa melihat yang diajak bicara.

__ADS_1


“Makanan tadi bisa dihangatkan kalau kamu mau,” ujar Hana yang menatap acuh acara televisi di hadapannya.


“Aku mau kamu buatkan yang baru,” putus Andre dengan dana tak terbantahkan.


“Aku masih lemar Ndre.” Hana berusaha sabar meskipun sebenarnya ia sangat kesal. Hal ini membuat nada bicaanya aneh dan terdengar lucu.


Andre berani bertaruh, pasti Hana mulai cemburu karena ia tadi pergi bersama Dian. Andre menegakkan tubuhnya perlahan, dan mencondongkan tubuhnya ke samping.


“Kalau kamu nggak mau masak, berarti kamu sedang ingin aku makan.”


Hana langsung bangkit dan berlari ke dapur. Ia tak tahu ada bahan apa yang bisa ia masak, yang jelas ia tak sanggup jika Andre harus mengerjainya lagi.


Andre tertawa kecil melihat tingkah Hana. Kenapa kamu sekarang sangat menggemaskan. Meskipun tak anggun lagi seperti dulu.


“Hana!” belum juga semenit Hana pergi, tapi sekarang sudah dipanggil lagi.


“Belum jadi Andre. Kompornya saja belum nyala!” jawab Hana dengan cara berteriak pula.


“Kamu sekarang ke sini.”


“Tapi ini…”


“Saya minta kamu kesini!” potong Andre sebelum Hana selesai menjawabnya.


Hana mendengus. Ia menutup kembali kulkas yang baru saja ia buka.


“Nih…” Andre menyodorkan dua buah boneka beruang berwarna putih yang tadi ia bawa.


Mata Hana berbinar, namun sesegera mungkin ia netralkan.


“Cepet ini terima. Kamu pikir nggak berat pegang boneka sebesar ini,” ketus Andre.


“Ini buat apa?” tanya Hana.


Andre tak menjawab. “Saya ingin tidur siang di temani kamu dan dua boneka ini.”


“Tapi makanannya…”


“Kan sudah ada kamu kalau saya lapar.” Lagi-lagi Andre memotong ucapan Hana seenaknya.


“Tap, tapi…”


Andre mendorong Hana dan keduanya menghilang bersama pintu kamar yang tertutup.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2