
^^^Maaf update nya telat, anak rewel lagi kurang sehat, 🙏😊^^^
...*HAPPY READING*...
"Nak, sholat subuh yuk."
Santi mengguncang-guncang tubuh anak gadisnya.
"Masih ngantuk Ma..."
Rista menutup rapat tubuhnya dengan selimut.
"Nggak malu apa anak Mama nggak sholat."
"Rista sholat Ma, tapi entar lagi."
"Keburu matahari naik Nak, nggak malu apa sama Dedi."
"Ya jangan kasih tahu dong Ma."
"Keburu tahu."
Spontan Rista menyibak selimutnya dan menatap sekitar dengan was-was.
"Mama ngerjain Rista ya."
"Dia di bawah."
Rista langsung melompat ke kamar mandi, Santi hanya tersenyum dan meninggalkan putri cantiknya menuju mushola di rumahnya.
Dika mengumandangkan adzan, Dedi iqomah dan Rudi yang menjadi imam dalam sholat subuh kali ini.
...***...
"Mereka lagi olahraga apa lagi berantem sih Pa?" tanya Rista saat melihat Dedi dan Dika yang katanya mau olahraga tapi yang nampak malah orang yang saling adu pukul.
"Papa juga baru tahu kalau mereka suka olahraga ekstrem ini."
"Bahaya nggak sih Pa?"
"Bahaya sih, tapi mereka pasti sudah mempertimbangkannya baik-baik."
Rista merebahkan kepalanya di paha Rudi. Ia tahu Rudi ayah tirinya, namun sejak awal perkenalan mereka, diam-diam Rista merasa tenang saat bersamanya. Hanya saja waktu itu logika yang melarangnya untuk mempercayai kata hatinya karena menganggap Rudi adalah biang kerusakan rumah tangga kedua orang tuanya.
...***...
"Rina..."
Rina hafal betul dengan suara ini. Suara berisik yang akhir-akhir ini jarang mengganggu telinganya lagi.
"Aku ke toilet dulu."
Cepat-cepat Rina bangkit namun secepat itu pula Nita menahan tubuhnya.
Rina hanya mendesah saat ia dengan terpaksa merentangkan senyum di bibirnya.
"Hai Di," sapanya setelah Dian berada tepat di depannya.
"Maafin gue."
Rina kembali mendaratkan pantat di tempat duduknya. Senyum yang ia paksakan hilang sudah. Memudar dan berganti dengan raut kecewa. Terlebih ketika Dian mengucap maaf, karena kata-kata ini membuat rasa kecewanya makin jelas terasa.
Ddrrkkk!
Dian menarik kursi dan turut duduk di sana.
__ADS_1
"Maaf kalau kekepoan gua bikin lu kurang nyaman."
Rina menghela nafas. Ia masih ingin mendengar keterangan lebih lengkap lagi dari Dian. Sementara itu Nita memilih untuk diam membiarkan sahabatnya ini menyelesaikan masalah diantara keduanya.
"Gue sadar, sedekat apapun sahabat, tak sepantasnya terlalu jauh mencampuri urusan orang."
"Tapi satu hal yang kamu harus tahu, aku tak punya niat lebih selain ingin tahu ada masalah apa antara kamu dan Dika, karena..." Dian menggantung ucapannya saat merasa ada sosok yang berjalan ke arahnya.
Dian mendongak saat merasa sebuah tangan memegang erat bahu kanannya.
Pemandangan ini tak luput dari perhatian Rina. Sementara Nita sudah bersama Miko, kekasihnya.
"Dan sekarang pun dia sudah kembali," tutur Dian sambil meraih tangan yang memegang pundaknya itu.
Rina masih enggan bersuara, namun sejuta tanya terpancar jelas dari matanya.
"Kenalin, ini Andre, dia..." Dian enggan melanjutkan ucapannya.
"Gue Andre, pacarnya Dian..." kata Andre sambil mengulurkan tangganya pada Rina.
Rina sedikit bingung, namun ia segera menjabat tangan yang sudah terulur itu.
"Gue Rina..."
Flashback on kemaren
"Dian, Di...."
Andre berlari mengejar Dian meninggalkan Miko dan Nita di caffe.
"Tunggu."
Akhirnya Andre berhasil menahan tangan Dian dan membuatnya terpaksa berhenti.
"Apaan sih Ndre. Lepasin."
"No. Sebelum kamu mau bicara sama aku."
Dian masih berusaha melepaskan tangannya.
"Kalau kamu nggak mau lepas, aku teriak kenceng nih."
Dan Andre pun langsung melepaskan tangan Dian. Namun bukannya membiarkan Dian pergi, Andre justru meraih pinggang Dian dan merapatkan ke tubuhnya.
Entahlah berapa detik durasi yang dibutuhkan, namun ia berhasil meraup bibir Dian dengan sebuah kecupan.
Spontan Dian mendorong tubuh Andre, namun hanya sampai situ saja. Sepertinya tenaganya sudah habis untuk membuat pelukan antara keduanya lepas.
"Ikut aku."
Andre mengenggam tangan Dian dan mengajaknya berjalan.
Tapi Dian menolak. Ia masih setia diam di tempat.
"Kalau nggak ikut, gue cium lagi sekarang juga."
Kakinya lemas tak bertenaga, akhirnya Dian mengikuti Andre dengan terpaksa.
Dian masih diam saja saat Andre memakaikan helm di kepalanya. Andre memintanya untuk naik ke atas motor setelahnya, dan Dian masih enggan bersuara. Hingga motor itu berjalan, keadaan pun masih sama.
"Loh kok..."
Itu adalah suara pertama yang Dian keluarkan, karena saat ini Andre membawanya masuk ke komplek tempat tinggalnya.
Andre menyeringai di balik helm fullfacenya.
__ADS_1
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Dian seolah tak tahu ini daerah mana. Ia merasa tak pernah memberi tahu alamat rumahnya pada Andre, terlebih mereka sudah bertahan-tahun tak berjumpa.
"Mau ke rumah calon mertua."
Jawaban santai Andre membuat perasaan Dian tak karuan.
Kenapa takdirmu kejam sekali Tuhan. Batin Dian.
Ia semula berfikir Andre datang dan akan meminta maaf padanya. Ia bahkan sudah bertekat untuk tak akan memaafkan ya dengan mudah.
Tapi apa? Jangankan maaf, Andre justru akan mengenalkannya dengan kekasihnya dan lebih parahnya lagi pacar Andre tinggal di komplek yang sama dengan dirinya.
Dian kembali diam. Ia berusaha menata hatinya agar tak menangis saat Andre mempertemukannya dengan pacar barunya.
Andre memelankan laju motornya saat Dian merasa itu hampir mencapai rumahnya.
Ya Tuhan, bahkan rumahnya pun dekat denganku. Siapa dia ya Tuhan? Dian terus meracau dalam hati.
"Ngapain di sini?" tanya Dian saat Andre berhenti tepat di depan rumahnya.
"Udah aku bilang kan tujuannya apa."
Andre turun dan melepaskan helm Dian.
"Yuk masuk..." ajak Andre sambil mengenggam tangan Dian.
Dian menggeleng dan bertahan di tempat.
"Kenapa? Kalau kamu nggak ikut masuk, aku takut ntar kamu bisa ilang dibawa orang."
Andre memutuskan mengikuti permainan Dian saat ia berlagak tak mengenal kompleks rumahnya ini.
"Ini...."
"Ini apa?" tanya Andre memotong ucapan Dian.
"Udah ayo."
Pikiran Dian tak karuan saat Andre terus membawanya masuk ke rumahnya sendiri.
Dian menatap kosong pemandangan di hadapannya. Di ruang tamu rumahnya ada orang tuanya dan orang tua Andre juga.
Andre adalah teman masa kecil Dian. Rumah nenek Andre berada tepat di samping rumah nenek Dian. Saat kecil mereka sering dititipkan di rumah nenek masing-masing jika orang tuanya sibuk bekerja.
Saat kelas 2 SMP Andre sempat menyatakan cintanya untuk Dian, namun Dian tak lantas menjawabnya. Ia meminta waktu agar lebih dramatis menurutnya.
Di waktu yang telah mereka sepakati untuk bertemu, ternyata Andre kecelakaan dan hilang kabar untuk beberapa waktu. Saat Andre berusaha menghubungi Dian, sayangnya Dian telah memutus semua kontak dengan Andre karena ia merasa kecewa dan dipermainkan.
Karena pengalaman cinta pertama yang menyakitkan itu lah Dian enggan untuk berpacaran.
"Jadi Om, Tante. Apa Andre boleh jalan sama Dian, maksud Andre apa boleh kalau kita pacaran?"
Papa mama Dian saling menatap sejenak dengan senyum yang sama lebarnya.
"Mau pacaran aja udah kayak mau nikah ya?" kata papa Dian pada orang tua Andre.
Orang tua Andre hanya saling mengumbar senyum lebar tanpa kata.
"He is a good boy Pa, nggak main ajak jadian anak orang tanpa ijin dulu sama orang tuanya," puji mama Dian.
"Sok, tanya aja langsung sama Dian, kita mah oke," imbuh mama Dian kemudian.
Semua serba tiba-tiba semua serba mengejutkan. Dian masih belum bisa banyak berkata. Awalnya ia memang marah, namun ia begitu bahagia karena cintanya telah kembali.
Flashback Off
__ADS_1
TBC