
Double up.
Semoga bisa gantiin yang kosong kemaren.
*HAPPY READING*
“Aaaarrrrggghh, nggak mau nggak mau, aaarrrggghhh!!!!!”
Dika melompat dan lari begitu saja. ia ingin segera keluar namun Rudi menahannya.
“Ya ampun Nak, nggak malu sama badan.”
“Yah, jangan bercanda deh. Berantem aja deh, mending ditonjok aku dari pada di giniin.”
“Ya tapi ini tak seberapa dari pada yang akan Rina alami. Masak baru gini aja kamu sudah mau lari.”
“Nggak Yah, nggak Yah. Aku nggak mau. Nggak ada cara lain apa.”
Dika sudah hendak kembali melompat jika saja Rudi tak memegangi dengan kuat.
Rina menunduk lesu dan menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangan. Ia benar-benar malu dengan tingkah suaminya
GedE badannya doang. Ini kalau nggak di rumah sakit Ayah pasti udah jadi bahan berita di media. CEO Surya Group yang terkenal bertangan dingin, tegas, cerdas, tampan, gagah, muda, dan semua gelarnya yang tak habis diceritakan sepanjang jalan kenangan akan runtuh begitu saja setelah terbuka kedoknya yang takut dengan jarum suntik. Astaga. Kenapa aku baru tahu sekarang.
“Nak, ini buat kebaikan kalian.”
“Nanti kalau aku pingsan kehabisan darah gimana?”
Dika merengek seperti anak kecil yang sedang meminta permen.
“Darah yang diambil itu hanya beberapa mili, sebagai sampel saja, bukan untuk didonorkan.”
“Mending Ayah tonjok muka Dika saja nih. Nanti kalau keluar darah bisa diambil, jangan ditusuk-tusuk pakai, hhiiiiii…”
Dika bergidik dan hendak kembali berlari.
Untuk di sana sepi. Jika ramai habis sudah Dika. Hanya ada seorang perawat senior yang sekarang menjabat sebagai kepala perawat, dokter Halima dan Rudi saja. Oh iya, masih ada Rina yang duduk menahan
malu di pojokan sana.
“Ayo Yah, pukul aja. Sini nih. Dika janji nggak bakal ngelawan. Ayah masih suka muangthai kan. Di kick juga nggak apa-apa, yang penting darah keluar kan.”
Uapan Dika makin tak jelas, membuat semua yang di sana hanya mampu geleng-geleng kepala.
Perawat bernama Sidiq itu hanya mampu menahan tawa. Untung dokter Halima mengenakan masker, ditambah dengan hijabnya mampu menutupi tawa geli yang terpatri di wajahnya.
“Ayah bisa masuk penjara kalau melukai pasien. Terus nasib mama kamu gimana?”
Rina menepuk jidatnya. Kenapa ayah malah ikutan somplak sih. Tuhaaannn!!! Aku malu.
__ADS_1
“Kalau nggak mau diambil sampel darahnya, mending punya anaknya kita pending aja.”
Rina melenggang melewati Dika dan Rudi begitu saja. Ia menarik handle pintu dan keluar setelahnya.
“Rin, Rina!!”
Rina tak menggubris panggilan Dika. Dika menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Rina ngambek ya?” tanya Dika pada Rudi.
Rudi melepaskan cekalan pada anak laki-lakinya. Dia menggidikkan bahu kemudian.
“Ayah kok diem aja sih.” Dika mengacak rambutnya frustasi.
“Ya Rina kan istri kamu, bukan istri Ayah.”
Seakan baru menyadari posisinya, Dika segera berlari untuk menyusul Rina.
Rudi berjalan menuju kursi yang tak jauh darinya. Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya.
“Dokter Rudi baik-baik saja?” tanya Sidik.
“Sangat baik. Mungkin menantu saya yang kurang baik.” Rudi tertawa kecil setelah mengakhiri ucapannya.
Ketiganya kemudian tertawa kecil bersama.
“Dia anak tiri saya.”
Dua orang ini nampak terkejut, namun tak lama berselang wajah mereka sudah normal kembali.
“Saya yakin semua terkejut saat seorang perjaka tua, tiba-tiba membawa memperkenalkan anaknya yang sudah remaja beberapa tahun lalu.”
Dua orang ini hanya diam menunggu Rudi berbicara. Banyak sekali pertanyaan di kepala mereka, namun enggan mereka ungkapkan.
“Dika itu sempat menolak saya saat saya baru saja menikah dengan mamanya, namun sekarang Alhamdulillah dia sudah menerima saya.”
“Anda begitu dekat dengan pak Dika, sama sekali tak terlihat seperti hubungan anak dan ayah tiri.”
Sidiq segera menutup mulutnya saat menyadari kelancangannya. “Maafkan kelancangan saya Dokter,” lanjutnya dengan wajah segan.
Bukannya marah, malah senyum tulus tercetak di wajah Rudi. “Tak masalah Pak Sidiq. Saya senang sekali bisa sedekat ini dengan dia. Saya menikahi mamanya, dan saya sangat menyayangi dia.”
Rudi bangkit dan merapikan jasnya. “Saya permisi kembali keruangan dulu.”
Dokter Halima dan pak Sidiq menunduk hormat setelahnya.
Di tempat lain, Dika baru bisa mengejar Rina saat wanita ini tiba di lobi. Dika langsung menahan bahu istrinya dan memutar tubuhnya.
“Jangan ngambek dong,” ujar Dika saat melihat raut kecewa dan kesal tercetak jelas di wajah Rina.
__ADS_1
“Aku capek.”
Rina menghempaskan tangan Dika dan meneruskan langkahnya.
“Kita balik lagi ya,” mohon Dika sambil mensejajarkan langkah dengan istrinya.
“Terus harus lihat kamu teriak-teriak kayak gitu lagi.”
“Aku janji nggak akan gitu lagi. Aku tadi cuma kaget aja, aku kira diperiksanya nggak pake acara disuntik-suntik.”
“Siapa yang mau disuntik kamu sih, kan ambil sampel darah doang,” ujar Rina dengan nada jengkelnya.
“Aku kan tadi sudah meminta ayah buat nonjok aku, tapi dianya aja yang nggak mau," kilah Dika.
Rina mendengus dan menghentakkan kakinya sebelum berjalan lebih cepat untuk meninggalkan Dika. Namun meninggalkan Dika hanya harapan Rina saja, karena faktanya Dika tak butuh berlari untuk mengimbangi langkah Rina yang sudah setengah berlari.
“Jangan ngikutin lagi. Aku sebel sama kamu!” Rina masih belum menanggalkan keketusannya.
“Nggak bisa. Aku takut kamu hilang.”
Rina tak menggubris ucapan Dika. Ia justru mempercepat langkahnya dan berusaha meninggalkan Dika.
Dika sadar saat mereka mulai menjadi pusat perhatian. Akhirnya ia mengangkat tubuh Rina dan membawa ke mobilnya.
“Ihh, turunun, ihh. Malu.”Giliran Dika yang tak menggubris ucapan Rina. Ia terus melangkah, hingga ia tiba di samping mobil, ia segera masuk setelah pintu otomatisnya terbuka.
“Kita pulang Pak," titah Dika pada sopirnya.
“Baik Tuan.”
Dan perintah Dika langsung dilaksanakan. Mobil hitam itu pun berjalan membawa Dika yang kacau dan Rina yang kesal.
Tak ada percakapan yang mereka lakukan sepanjang perjalanan pulang, hingga tiba di rumah pun mereka masih sama-sama diam.
Rina langsung ke lantai atas langsung menuju kamarnya, sedangkan Dika terus berjalan ke bagian belakang rumah mereka.
Di dalam kamar Rina segera menanggalkan seluruh pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Dia berdiri di bawah shower dan membiarkan air mengguyur sekujur tubuhnya. Merasa tak cukup, ia menyiapkan air hangat di bath tub dan menuang minyak esensial favoritnya di sana. Tak lupa ia menyalakan lilin aroma therapy. Ia benar-benar
butuh relaksasi saat ini.
Hampir satu jam Rina bermain air, dan ia merasa sudah cukup rileks saat ini. Dengan kimono putih yang membalut tubuh polosnya, ia berjalan keluar kamar mandi.
Kenapa Dika belum juga kemari? Batin Rina saat tak juga mendapati Dika di kamarnya.
Berjalan menyusuri tangga. Ia ingin menyusul Dika yang masih asik di kolam renang. Melihat suaminya yang masih asik berenang kesana-kemari, ia menunggunya dengan duduk di tepi. Ia mencelupkan ujung kakinya dan mulai bermain di sana.
Pria sesempurna dia ternyata tetaplah manusia. Dia tampan dan juga gagah, namun menyerah hanya dengan jarum suntik saja.
TBC
__ADS_1