
HAPPY READING
Andre menjalankan mobilnya dengan kecepatan standar. Di siang seperti ini, memang arus tak sepadat pagi sehingga sewajarnya perjalanan sekitar 10 km tak akan berlangsung lama. Namun rasanya sungguh berbeda bagi Hana. Perasaannya yang campur aduk tak karuan membuatnya gelisah dan ingin menghilang.
Feelingnya berkata bahwa ini adalah bagian dari usaha Andre untuk segera menikahinya, namun kenapa hatinya malah gelisah dan tak tentu arah?
“Jangan tegang gitu lah, kayak mau diajak nikah aja…” ucap Andre yang langsung berhasil memecahkan lamunan Hana.
Hana menatap datar Andre di sampingnya. Ia hanya diam sehingga membuat Andre memilih untuk memutus kontak terlebih dahulu. Ia harus tetap fokus pada kemudi karenahal yang ia perjuangkan masih baru memashuki babak awal.
“Gimana ceritanya?” tanya Hana setelah sekian lama diam memperhatikan Andre yang focus dengan kemudinya. Saat ini Andre dan Hana sedang dalam perjalanan ke rumah sakit di mana Indah dirawat, sementara itu Rio mengendarai mobilnya dan berjalan di depan mereka.
“Cerita apa?” tanya Andre memastikan.
“Ya cerita semua. Kenapa kak Rio bisa…” Hana sengaja menggantung ucapannya. Ia memang suka seperti ini kalau perasaannya sedang susah dikendalikan. Menggantung ucapan dan membiarkan Andre menerka sesuai dengan imajinasinya.
“I’ll tell you letter ya. Tapi kamu senang kan untuk hal ini?” Andre bertanya sambil menoleh Hana yang berada di sampingnya. Wanita ini tampak mengangguk namun wajahnya masih datar dan tanpa senyum bahkan tanpa ekspresi sama sekali di wajah ayunya.
Dengan sebelah tangannya memegang kemudi, sebelah yang lainnya Andre gunakan untuk meraih tangan Hana yang sibuk memegangi seal belt yang mengikat tubuhnya.
“Kamu sabar dulu ya, mungkin beberapa waktu ke depan akan jadi masa yang cukup berat untuk kita. Tapi aku janji itu nggak akan lama dan tujuannya hanya satu, yaitu meraup kebahagiaan bersamamu,” lanjut Andre masih dengan tangan Hana di genggamannya.
Karena letak rumah sakit yang tak terlalu jauh, sekarang Rio, Hana dan Andre sudah tiba di tempat Indah di rawat. Saat Andre dan Hana tengah berjalan mengekori Rio dari belakang, mendadak Hana berhenti membuat Andre mau tak mau melakukan hal serupa.
“Aduh kok tadi aku nggak kepikiran sih?” gumam Hana tepat setelah langkahnya ia hentikan.
“Apa yang lupa Han?” tanya Andre yang tak paham.
Hana mengangkat kedua tangannya yang kosong tanpa ada apa-apa yang di pegang. Karena otak Hana yang terlalu rumit saat perjalan, ia bahkan baru ingat kalau ia kini datang tanpa buah tangan. Jangankan buah tangan, ponsel bahkan tasnya pun tak ia bawa serta sekarang. Untung ia sekarang bersama Andre, sehingga ia tak perlu risau meski pergi tanpa sepeser uang.
“Ya udah, lain kali saja yang penting kita ketemu Indah dulu sekarang,” ujar Andre memberi saran.
“Ya nggak bisa. Malu dong…” kata Hana.
“Terus kamu maunya gimana?” tanya Andre yang meminta Hana cepat mengatakan maunya.
Hana menunjuk ke seberang jalan. “Buah baik kan untuk orang hamil?” tanya Hana. Tapi percayalah, Hana sekarang tak sedang bertanya atau minta pendapat. Ia sedang meminta Andre untuk membeli buah sebagai buah tangan saat menemui Indah.
“Ayo…” Tanpa banyak kata, Andre segera membawa Hana ketempat yang baru saja ditunjuknya.Sekali lagi Andre menunjukkan kemampuannya. kemampuan yang tak hanya ia gunakan saat bekerja, tapi juga dalam kehidupan pribadinya.
Andre dan Hana berjalan menyeberang dan membawa sekeranjang buah dan segera kembali ke dalam. Saat kaki keduanya baru saja menginjak lorong menuju tempat Indah di rawat, tiba-tiba Hana kembali menghentikan langkah. Ia memegangi tangan Andre membuat pria berperawakan sedang ini juga turut berhenti bersamanya.
“Kenapa lagi?” tanya Andre frustasi.
“Kebelet pipis.”
Andre menatap tulisan yang terpampang jajaran pintu di hadapannya. “Tuh ruangan Indah,” ujar Andre sambil menunjuk salah satu.
__ADS_1
Hana menahan langkahnya saat Andre mengajak segera menuju ke sana.
“Di dalam ruangan Indah pasti ada kamar mandi,” jelas Andre sebelum Hana kembali mencari alibi.
“Tapi…”
“Han please. Kamu please support aku, tolong biarkan aku memperjuangkan hubungan kita,” ujar Andre meyakinkan.
Bukan tanpa alasan Andre berkata seperti ini pasalnya ia tahu Hana tak benar-benar ingin pee sekarang. Ia hanya sedang mengulur waktu, syukur-syukur kalau bisa membuat Andre mengurungkan niatnya untuk menemui Indah sekarang.
Andre mengeratkan genggamannya pada Hana. “Ayo…” tanpa basa-basi, Andre segra membawa Hana.
Jika sudah begini, mau tak mau Hana mengayun langkah untuk mengikuti Andre yang akan membawanya bertemu kakak tiri dan istrinya.
Cklek!
Dengan sekali dorong, Pintu langsung terbuka menampakkan pasutri yang sedang melihat ke arah Andre dan Hana.
Rio menghela nafas dan tersenyum kemudian. “Aku pikir kalian kabur…”
Andre tak menjawab begitupun Hana. Pria berperawakan kekar ini mengangkat sesuatu yang ia bawa untuk Indah yang tengah kurang baik kondisinya.
“Kenapa repot-repot segala sih. Kalian ke sini saja aku sudahsenang sekali,” ujar Indah yang masih dalam kondisi berbaring.
“Eeeemm, ituuu..., kebetulah lewat,” ujar Hana canggung. Wajahnya tak jelas antara tersenyum dan menahan tangis.
“Sini peluk…” ujar Indah sambil merentangkan kedua tangannya.
Melihat hal ini, Hana langsung menghambur ke pelukan Indah, dan saat itu juga pecah air mata yang sebelumnya ia tahan sekuat tenaga.
“Kok malah nangis sih.” Meski berkata demikian, Indah mulai mengusap lembut punggung adik iparnya yang bergetar dalam pelukannya.
“Harusnya kamu kan seneng, kita nggak perlu ngumpet-ngumpet lagi kalau ketemu…” ujar Indah di tengah tangis Hana.
“Mbak, hiks hiks.”
Hana kembali menangis namun tapi meraung seperti sebelumnya. Mungkin ia sudah lelah atau bisa juga karena ia sadar ini sedang di rumah sakit sehingga ia tak ingin membuat kegaduhan yang bisa mengganggu pasien lainnya.
Jika bukan Rio dan Hana yang menjadi bintang di episode ini, Andre sudah mengajak Rio untuk keluar meninggalkan para wanita yang sedang berpelukan dan menumpahkan perasaannya.
“Ha?! Ya ampun!” tiba-tiba Hana berucap setengah berteriak. Ia menarik tubuhnya dari pelukan Indah dan menutup wajahnya dengan segera. Tanpa ba bi bu lagi, Hana segera berlari ke kamar mandi.
“Itu kenapa?” Indah nampak kebingungan sementara para pria sedang tertawa jenaka.
“Kok malah ketawa sih…” protes Indah.
“Nggak apa-apa,” serempak Rio dan Andre.
__ADS_1
“Kompak bener, kayak sodara,” cibir Indah.
Tiba-tiba senyum Andre pudar berganti dengan wajah serius yang biasa ia pasang saat bekerja.
“Karena Indah sudah mulai, mungkin sebaiknya segera saya lanjutkan,” ujar Andre kemudian. Dengan menyebut dirinya saya, sudah dapat dipastikan jika Andre sedang berada dalam mode serius sekarang.
Melihat Andre yang demikian, Rio memilih untuk diam dan memperhatikan. Tahu akan situasi yang tengah terjadi, Indah pun segera mengemas diri dan mundur dari segala bentuk pembicaraan kedua laki-laki ini.
“Saya tidak tahu siapa yang harus terlebih dahulu saya datangi, namun melihat bagaimana Hana selalu bersedih saat mengingat hubungannya dengan anda, saya merasa anda memang yang harus pertama saya datangi.”
Andre menjelaskan hubungan sebab akibat dengan sangat baik untuk mengungkap alasannya berbicara dengan Rio terkait hubungannya dengan Hana.
Meski demikian, Rio hanya menghela nafas dan masih enggan bersuara.
“Saya rasa kamu sudah tahu sejauh mana hubungan Hana dan saya, jadi saya berniat untuk menikahi Hana segera,” lanjut Andre mengabaikan kediaman Rio.
Rio membuang muka saat Andre terus menekannya dengan berbagai alasan logis.
“Itu sih terserah kamu…” ujar Rio dengan setengah hati.
“Mas…”
Wajah yang semula ia lempar ke sembarang arah, kini dalam satu gerakan segera kembali ke satu arah saat mendengar Indah yang menyela.
“Kok gitu sih, katanya mau damai sama hati…” lanjut Indah saat sadar sang suami sudah memperhatikannya.
“Aku sudah damai Sayang,” ujar Rio membela diri.
“Mana mungkin? Orang kata-kata sama hati belum sejalan, jadi kedamaian itu belum benar-benar kamu rasakan.”
Rio menghela nafas. Kenapa Indah jadi ikutan perang kata?
Meskipun Indah tak begitu lihai dalam perang argumen, namun ucapan sederhananya berhasil mematahkan Rio. “Iya deh iya. Kamu nikahin Hana secepatnya. Kasihan kalau sampai bunt, aw, aw!!”
“Mulutnya Mas, astaga…?!”
“Ya kan itu…” Rio nampak menahan diri. Sekuat dan sekeras apa pun pria akan lemah jika sudah dihadapkan dengan wanita yang dicinta.
“Remember. Kita nggak lebih baik Mas.” Sekarang Indah tak ngotot lagi. Ia bicara dengan nada rendah berharap Rio akan lebih mudah diluluhkan dengan cara seperti ini.
Rio yang semula berdiri segera mendaratkan pantat di ranjang Indah. Ia mengambil posisi sedikit ke belakang dan memegangi pundak wanita ini dari sana.
“Kita tunggu Hana, setelah itu kita bicarakan semua bersama sama,” ujar Rio sambil memijat pelan pundak istrinya dan sekilas menatap Andre yang masih bertahan dalam posisi berdiri.
“Baiklah. Kita tunggu dia,” balas Andre menyetujui.
Bersambung…
__ADS_1