
^^^Harap tenang dan bersabar. Adegan hanya fiktif belaka, kalau ada yang kebetulan sama, author pasti nggak sengaja. ^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Restu, saya harap Rista jangan dulu tahu tentang masalah ini."
"Iya Yah..."
Cklek
Pintu terbuka menampakkan dua pria beda usia.
"Mereka tidur Rin?" tanya Dika saat menghampiri Rina yang masih terjaga disamping Dedi dan Rista yang nampak terlelap dengan saling berpelukan.
"Iya. Rista nggak mau ditinggal sama Dedi."
Dika mendekati adiknya dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. Tiba-tiba ia ingat sesuatu dan mendongak menatap Rudi yang berdiri tak jauh darinya. "Yah..."
Rudi mendekat.
"Dia Rina, anaknya Om Reno." Dika lupa untuk memperkenalkan Rina pada ayah tirinya.
"Saya Rudi..." Rudi mengulurkan tangannya.
"Saya Rina Om..." Rina menjabat tangan Rudi yang terulur.
Rudi menatap wajah Rina. "Pantas saja saya merasa tak asing saat melihat wajahmu. Ternyata ada Reno di sana..."
Rina tersenyum. "Saya memang anak papa satu-satunya Om..."
"Kamu pacaran sama anak saya?"
"Ha?!" Rina tak paham dengan pertanyaan Rudi. Siapa anak Om ini yang ngaku-ngaku jadi pacar aku.
Dika tersenyum menatap wajah Rina yang tampak bingung.
"Rin, dokter Rudi ini ayah tiriku. Maaf aku baru memperkenalkan beliau sama kamu, karena selama ini ada kesalahan pahaman yang membuat hubungan kami kurang baik."
"Oh..." Rina mengerjap-ngerjap berusaha mencerna fakta baru lagi yang baru saja diterimanya. "Maaf Om, saya nggak tahu..."
Rudi tersenyum pada 2 remaja ini. "Baiklah, ini sudah siang. Kalian mau makan siang di sini lalu pulang, atau mau langsung pulang dan makan siangnya nanti pas di jalan?" tanya Rudi.
Rina dan Dika hanya saling melempar pandangan.
"Kalian nggak lupa hari kan? Besok Senin dan itu waktunya kalian masuk sekolah." Lanjut Rudi mengingatkan.
"Emm, Rina ngikut aja Om..."
"Makan siang di sini aja Yah, nunggu mereka bangun juga."
Rudi mengangguk. "Saya mau hubungi mama kamu, mau ngasih tahu kalau anak kebanggaannya sudah mau manggil saya ayah..."
__ADS_1
"Jangan Yah..." cegah Dika.
Rudi mengurungkan niatnya menghubungi Santi. "Kenapa?"
"Nanti Restu ke rumah saja langsung, sekalian buat kejutan buat mama."
Rudi mengantongi kembali ponselnya dan meletakkan sebelah tangannya di pundak Dika. "Terimakasih Nak."
"Sekali lagi ngomong makasih dapet piring cantik nih..."
Rudi dan Dika serempak tertawa. Rina pun merasakan bahagia saat melihat laki-laki yang dikaguminya terlihat bahagia.
Sekarang mereka bertiga sedang bersantai menikmati pantai di belakang villa.
"Nak Rina pendiam ya orangnya?" tanya Rudi.
"Nggak sih biasanya." Dika meraih sebelah tangan Rina. "Kamu kenapa, hmm?"
Rina menggeleng.
"Kamu takut sama Ayah?"
Kembali Rina menggeleng.
"Oh iya, tadi Rista cerita nggak kenapa dia bisa sampai keseret ombak?" tanya Dika.
"Emm, dia kecewa sama Dedi, selain itu katanya Rista pengen banget berenang di pantai, dan selama ini selalu dilarang. Jadi untuk menumpahkan kekesalannya ia diam-diam ke sana," jujur Rina.
"Kok bisa."
Celetuk Rudi yang membuat Dika dan Rina langsung menatapnya.
Sadar tengah ditatap, Rudi segera menetralkan wajahnya. "Kok bisa sama dengan saya."
"Ya kan Rista anak Ayah..."
Sekarang giliran Rina yang dibuat tak paham.
"Dika juga kan Yah?" lanjut Dika agar tak membuat Rina berfikir macam-macam.
"Kalian memang anak Ayah..." timpal Rudi. "Oh iya, tadi kamu bilang Rista kecewa sama Dedi, kecewa kenapa memang ya?"
Dika menggela nafas. "Rista dan Dedi saling suka Yah, tapi Dedi nggak pengen pacaran sama Rista mengingat usia Rista dan juga Dedi takut persahabatan kami terganggu."
Rudi mengangguk.
"Jadi hilangnya Rista tadi nggak ada hubungannya dengan Rio, ataupun Lusi?" tanya Dika pada Rina.
Rina menggeleng. "Dedi bilang Rista tadi sendiri, tak ada Lusi atau pun Dian bersamanya."
"Tapi kalau nggak gini aku nggak bakal tahu siasat Rio bersama Rahardja yang ingin menumbangkan Surya." Dika terkekeh karena sudah salah menduga.
__ADS_1
"Yah, anda ke mari karena Dedi yang bilang kan kalau Rista hilang?"
Rudi mengangguk.
"Sudah lama Ayah mata-matai kita?"
"Maafin Ayah. Ayah bingung saat Rista keluar dari rumah dan kamu juga nggak mau ketemu sama mama. Meskipun selain Dedi Ayah juga nyuruh orang untuk membacking keselamatan kalian, Ayah juga merasa perlu mengawasi kalian melalui orang terdekat. Sekali lagi Ayah minta maaf."
Dika menghela nafas. Meskipun niatnya baik, tetap saja ia merasa dicurangi. "Kalau bilang terimakasih hadiahnya piring cantik, buat maaf hadiahnya apa ya? Banyak banget hari ini Ayah ngomong terimakasih sama maafnya." Dika terus berusaha berdamai dengan hati.
Ada rasa hangat di dada Rudi diperlakukan seperti ini oleh Dika. "Dedi itu anak yang baik. Dia menolak saat Ayah menawarkan imbalan atau sekedar fasilitas untuk kehidupannya."
"Benarkah?" tanya Dika tak percaya.
Rudi mengangguk. "Sayang dia beda keyakinan dengan kita. Jika tidak Ayah tak keberatan mengatur perjodohan untuk mereka."
Tanpa ada yang tahu seseorang mengintip dibalik pintu kamar. Ia mendengar dengan jelas apa yang baru saja dibicarakan Rudi dan Dika. Awalnya ia terkejut dengan keakraban keduanya, namun setelah mendengar apa yang mereka bahas, ia mendadak di dera rasa takut. Dia adalah Rista. Dia kemudian segera kembali ke atas tempat tidur. Dia memeluk erat tubuh Dedi yang masih terlelap.
"Rista sayang sama Kakak..." Dia mengeratkan pelukan dengan menjadikan lengan Dedi sebagai bantalan.
Pergerakan Rista ini mengusik nyenyak tidurnya Dedi. "Ta..." panggil Dedi dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Rista tak menjawab. Ia justru memejamkan mata seakan belum terjaga dari tidurnya.
Dedi memiringkan tubuhnya dan menatap lekat wajah cantik gadis cilik yang sering membuatnya hilang akal. "Kamu sangat cantik? Akankah datang masa dimana aku bisa disambut wajah cantik ini setiap kali aku membuka mata?"
Ingin sekali Rista membuka mata dan mengatakan iya. Namun ia urungkan karena Dedi pasti akan merubah sikapnya jika matanya telah terbuka.
Sekian waktu keduanya masih bertahan dalam diam. Hanya hembusan nafas keduanya yang saling menyapa. Hingga akhirnya Rista tak tahan untuk membuka mata.
Dan benar saja, begitu Rista membuka mata, Dedi cepat-cepat memalingkan wajahnya. Namun dengan cepat Rista menahan bahkan menarik wajah tampan itu untuk merapat kepadanya. Sekian detik bibir itu menempel, hanya menempel dengan mata saling mengunci.
Ada lelah yang terasa saat keduanya terus menahan diri. Perlahan, kedua mata itu terpejam bersamaan tanpa aba-aba. Kemudian, bibir keduanya mulai me***at meraba yang ada di dalam sana dengan masing-masing indra perasa. Tautan itu sejenak terlepas saat keduanya merasa kehabisan nafas, dan kembali berpagut karena ada hasrat yang belum tuntas.
Tak ingin tergelincir terlalu jauh dan saat itu pula ia menyadari bahwa Rista nafasnya mulai tersengal, akhirnya Dedi melepas tautannya.
Dengan dada naik turun, keduanya saling menatap lekat. "Aku sayang kamu Ta..." ucap Dedi sebelum mendaratkan kecupan singkat di kening Rista dan mendekap tubuhnya erat.
"Kakak bohong."
"Enggak Ta, enggak. Hanya saja jika kita terus bersama, aku takut nggak bisa jaga kamu dan justru malah bikin kamu rusak."
"Rusak? Emang aku barang bisa rusak..."
Dedi memdesah frustrasi. Aku lupa usia berapa kamu ini. "Intinya kamu tunggu aku ya. Jika saatnya tiba, aku bakal jadiin kamu istri, bukan pacar lagi."
"Kenapa? Aku kan sekarang udah bisa ciuman. Bukannya Kak Restu dan kak Rina pacaran dan mereka sering ciuman..."
Dedi menatap tak percaya setelah mendengar apa yang baru saja Rista katakan. Ini bukan salah gue.
TBC
__ADS_1