Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Curiga


__ADS_3

HAPPY READING


Suda lepas magrib, namun Andre belum juga bisa pergi karena pekerjaannya belum selesai. Ada cemas yang menyusup di benaknya, tentang wanita yang baru saja diklaim sebagai miliknya.


Hana,apa kamu masih menungguku?


Cklek!


Pintu terbuka menampakkan Elis sekertarisnya. Elis datang untuk menyerahkan berkas yang harus Andre periksa sebelum maju ke meja Dika.


Setelah Elis keluar, tiba-tiba ia teringat beberapa waktu lalu saat Hana masih bekerja dengannya. Meskipun ia bukan sekertaris utama, ialah yang paling sering berinteraksi dengannya. Menjadi yang paling muda diantara stafnya menjadikan Andre nyaman saat harus menangani project bersama. Hana yang cerdas dan cekatan membuat Andre sangat nyaman saat bekerja. Namun dari kepercayaan ini lah petaka dimulai. Hana menghianati Andre dengan membocorkan data perusahaan. Sabotase yang Hana lakukan tak main-main. Kerugian dalam jumlah besar berhasil dibuat


Hana dan tanpa ada yang curiga awalnya.


Setelah kejadian itu Andre jadi lebih siaga. Ia tak benar-benar mempercayai orang lain dalam setiap pekerjaan setelahnya. Kegigihan Andre berhasil. Ia dapat mengungkap siapa dalang dari sabotase dan penggelapan dana perusahaan. Sulit percaya jika ternyata pelakunya adalah Hana. Seorang wanita muda yang cerdas dan berintegritas. Yang lebih membuat heran adalah Hana bekerja dengan sangat rapi. Nyaris tak ada jejak yang bisa menjatuhkannya dalam setiap aksinya. Sehingga Andre terus melakukan penyelidikan meskipun sudah tahu Hana pelakunya. Ia yakin jika ada orang


berpengaruh yang berada di belakang Hana melihat betapa rapi saat ia bekerja.


Penyelidikan berlangsung dalam diam dan hanya Dika yang tahu jika dia tengah melakukan misi ini. Awalnya ia ingin melakukan semua sendiri, namun Dika bukan orang  sembarangan yang mudah dikelabuhi, akhirnya Andre menyerah dan terus menyelidiki Hana dengan pantauan


penuh dari bosnya.


Puncak kekesalan Andre adalah saat harus mengungkap kebusukan Hana. Ia kesal kenapa bisa-bisanya ia begitu percaya dengan orang busuk seperti dia. Selama ini ia selalu berhati-hati namun malah kecolongan dengan sosok orang yang semula dinilainya tak berbahaya.


Andre berjuang keras mengusir Hana dari pikirannya dan kembali fokus pada laptopnya.


Apakah aku perlu bersusah payah mencari titik terang kehidupan Hana. Apakah aku benar-benar menginginkannya. Atau jangan-jangan ini hanya perasaan sesaat saja karena aku merasa harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya?


Andre harus menahan kesal tatkala ia tak bisa tahu kabar Hana saat ini. Salah sendiri ia tak memberinya alat komunikasi sama sekali. Apakah ia sudah lari atau masih menunggunya untuk kembali saat ini.


Terdengar suara dering panggilan masuk. Tanpa pikir panjang Andre langsung menjawabnya.


“Iya Bos.”


“Segera ke ruangan saya.”


Panggilan terputus setelah Dika menyelesaikan titahnya. Andre bangkit dan sekilas membenahi penampilannya. Ia kemudian  berjalan meninggalkan ruangannya menuju ruangan Dika.


Tok tok tok

__ADS_1


Andre mengetuk pintu begitu sampai di ruangan bosnya.


“Masuk…”


Andre berjalan menghampiri Dika.


“Coba kamu lihat ini…”


Andre memperhatikan layar computer yang diperlihatkan Dika padanya.


“Kenapa performa game besutan Rio menurun seperti ini? Apa menurutmu kita harus bertindak?” tanya Dika pada Andre yang terlihat serius memperhatikan setiap detail data.


“Kenapa anda tumben sekali perduli pada hal sekecil ini, padahal setahu saya belum ada laporan masuk dari bagian yang berwenang?” tanya Andre yang sedikitpun belum mengalihkan pandangan dari deretan data di depannya.


“Saya hanya sedang penasaran dengan segala hal yang berbau Rahardja. Bagaimanapun juga Galih adalah ayah Rio.


Sebagai anak tak mungkin ia akan diam saja melihat ayahnya hancur.”


Andre melepaskan mousenya dan beralih menatap bosnya.


“Sekarang coba kamu pikir, persaingan Surya dan Rahardja sudah ada jauh sebelum kita turun mengelola perusahaan. Masa sekarang mereka menyerah begitu saja setelah kita mampu mematahkan Hana. Em, Raihana maksudnya,” ralat Dika karena tiba-tiba teringat jika wanita yang kini dekat dengan sekertarisnya bernama Hana juga.


“Keep in touch with him. Kita harus tetap waspada pada siapa pun. Bahkan Rio juga sudah pernah mencoba turun jauh sebelum Hana muncul,” ujar Andre mengingatkan. Pasalnya saat ia menghadapi Rio saat itu, bukan Andre yang disampingnya, melainkan Dedi.


Andre mengangguk paham. “Apa kita perlu memata-matai Rio juga?”


Dika mengernyit. “Sepertinya tak perlu sejauh itu. Lakukan penyelidikan diam-diam seperti langkah awal yang kamu lakukan untuk mengungkap permainan Hana dulu. Tak perlu terlalu mencolok, santai saja yang penting datanya dapat.”


“Saya?” tanya Andre kaget.


“Sure? Bukankah kamu sudah terbiasa melakukan hal ini? Kenapa sekarang kamu…” Dika tak melanjutkan ucapannya.


“A, em, maksud saya kan saya selama seminggi ini akan off.”


“Apa kamu kehilangan kemampuan untuk melakukan pekerjaan tanpa menyentuhnya langsung?”


Andre gelagapan. “Tidak Pak. Saya bisa,” jawab Andre cepat. Ia tak ingin Dika punya pikiran macam-macam terhadapnya.


“Lakukan dengan baik sebagaimana yang biasa kamu lakukan.”

__ADS_1


Andre mengangguk paham. “Baik Pak.”


“Selesaikan pekerjaan kamu. Saya mau pulang dulu.”


Andre menunduk hormat pada Dika dan membalikkan badan. Sebelum membuka pintu ia juga sempat menunduk hormat pada Rina yang duduk di sofa.


Cklek!


Pintu tertutup menyisakan Rina dan Dika di sana.


“Kamu kayaknya ada gimana gitu sama Andre ya?” tanya Rina pada suaminya.


“Kenapa tanya gitu?” tanya Dika sambil mematikan komputernya.


“Ya kelihatan aja, makanya aku tanya,” ujar Rina menjelaskan.


Dika meraih ponselnya yang tergeletak kemudian menyimpannya.


“Enggak. Aku cuma mau bantu Andre, sepertinya tugas yang aku berikan terlalu banyak untuknya.”


“Oh…” Rina hanya ber oh ria menanggapi suaminya. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruangannya.


Sepulang Dika dan Rina, satu-persatu karyawan Surya juga turut meninggalkan kantor. Lampu yang semula menyala pun mati seiring pulangnya karyawan meninggalkan ruangan. Hingga menjelang tengah malam, hampir semua lampu padam kecuai lampu di ruangan Andre. Pekerjaannya belum selesai sehingga ia tak bisa pulang seperti yang lainnya. Ia pun sebenarnya cukup ragu untuk pulang karena ia takut jika harus menerima kenyataan bahwa Hana tak bersedia menunggunya.


Menjelang pukul dua dini hari, akhirnya Andre berhasil menuntaskan semua misi. Ia bersiap untuk mengistirahatkan diri.


“Aku sebaiknya pulang atau sebaiknya di sini saja,” gumamnya seorang diri.


Andre mendadak ragu ia sebaiknya pulang bermalam saja di sana. Ia melonggarkan dasinya kemudian melepaskan jasnya. Ia bersiap untuk merebahkan diri di sofa ruang kerjanya. dipejamkannya mata lelah itu dengan segera.


Tc tc tc tc tc tc tc


“Arrgghh!!!!” Andre bangkit dan mengacak rambutnya. Ia menyambar jasnya dan pergi meninggalkan ruangan.


Hanya kerena detak jarum jam ia tak bisa memejamkan mata. Padahal seharusnya tanpa berbaringpun ia akan mudah tertidur. Ia cukup lelah dan mengantuk, tapi hanya karena teringat rumput liar yang ia tak tahu kabarnya, ia sudah kehilangan kemampuan untuk memejamkan mata.


Tak sabar berjalan Andre pun berlari. Tiba diparkiran, ia langsung memacu mobilnya dengan kencang. Jalanan dini


hari yang cukup lengang, sehingga ia tak perlu sungkan untuk kebut-kebutan. Waktu tempuh untuk mencapai apartemennya dapat ia pangkas setangahnya. Dengan tergesa ia ingin segera tiba di ruang yang ia tinggali. Entah lah masih ada atau tidak yang ia cari, yang jelas ia tak mau banyak menduga sebelum melihatnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2