
HAPPY READING
Sudah menjelang dini hari, Andre belum juga mampu memejamkan mata. Tak hanya karena tak ada Hana di sampingnya, tapi juga karena memikirkan siapa dalang di balik peristiwa semalam. Jika saja semenit saja ia menunda kepulangannya, ia yakin kini Hana sudah tak lagi bersamanya.
Andre sudah curiga saat tadi malam tiba-tiba perusahaan Rio mengajukan proposal untuk melakukan upgrade pada produk kerjasama yang digarap bersama Surya Group. Setahu Andre produk kerjasama perusahaan Rio dan Surya tak ada kendala dan semua berjalan baik-baik saja. Namun Rio bersikukuh ingin menambahkan peningkatan performa.
Namun yang membuat Andre heran adalah proposal yang Rio ajukan. Rio adalah orang yang cukup perfeksionis. Biasanya ia tak akan mengirimkan proposal dengan banyak kesalahan, namun kali ini yang dikirimkan bukan lagi memuat banyak kesalahan tapi menurut Andre sangat berantakan. Ini lebih pantas disebut rancangan proposal karena disebut setengah jadi saja belum pantas sepertinya.
Karena Andre sedang kalut pikirannya, akhirnya ia memutuskan pulang saja. Ia merasa tak mungkin membereskan semuanya malam ini, karena jika ia nekat
itu sama saja artinya dengan dia harus membuat proposal baru. Selain itu otaknya yang tak bisa diajak berfikir cepat dan cermat akan membuat pekerjaannya bertambah berat.
Setibanya di rumah, ia melihat salah seorang yang ia siagakan dipukul dari belakang dan langsung tak sadarkan diri. Sementara tiga yang lainnya sudah tergelak tak jauh darinya.
Andre dengan gegabah langsung turun. Ia tak sempat melihat lebih cermat, sehingga ia langsung mendapat kejutan dengan munculnya 4 orang yang sebelumnya bersembunyi entah di mana. Sepertinya semua sudah direncanakan dengan matang. Terbukti dengan kerapian kerja mereka. 1 orang beraksi dan empat orang bersiaga. Penjaga yang Andre siagakan bisa dilumpuhkan semuanya tanpa perlawanan. Dan Andre yang tak sempat mencari bantuan harus melawan lima orang tanpa persiapan.
Saat keributan yang terjadi antara Andre dan lima orang tak dikenal tadi berhasil mendatangakan beberapa orang yang berjaga di dalam, kelima orang itu segera melepaskan Andre dan pergi dari sana. Sayang Andre tak berhasil menahan salah satu diantara mereka, jadi ia tak bisa mengetahui siapa dalang dibalik penyerangan ini.
Andre yang keburu panic tidak tahu harus berbuat apa. Melihat penyerangan ini dilakukan saat ia tak ada, ia yakin jika Hana lah yang menjadi sasarannya. Sehingga satu-satunya cara yang ada di pikirannya adalah dengan segera membawa Hana pergi dari sana.
***
Saat bagun pagi ini, Rina yang sudah diberitahu Dika bahwa ada Hana di rumahnya yang menginap sejak semalam. Namun hingga matahari setinggi ini, ia belum juga bertemu dengan wanita ini. Beberapa kali ia mengecek kamar Hana, namun pintunya masih tertutup sejak tadi.
“Bi…” panggil Rina saat ada salah satu asisten lewat tak jauh darinya.
“Iya Nona…” jawab perempuan itu tadi.
“Kata suami saya ada dua tamu di rumah ini, di mana mereka?” tanya Rina padanya.
“Yang satu masih istirahat Nona, yang satu lagi sedang bersama Lili di depan,” tarang wanita itu.
“Terimakasih Bi. Silahkan Bibi lanjutkan pekerjaan lagi,” ujar Rina dengan ramah.
__ADS_1
Rina kemudian berjalan mencari keberadaan Lili. Di sana Lili nampak berbincang sambil memegang guntung untuk merawat beberapa tanaman.
“Lili…”
Lili langsung meletakkan gunting yang ia pegang saat mendengar suara Rina yang memanggil namanya.
“Iya Nona.”
Sementara Lili menghampiri Rina, Novi hanya menundukkan kepala di tempatnya.
“Ada yang bisa saya lakukan untuk Nona?” tanya Lili begitu berdiri di hadapan Rina.
Rina mengacuhkan Lili dan berjalan menghampiri perempuan asing yang ia yakini datang bersama Hana ini.
“Kamu asistennya Hana?” tanya Rina.
“Bukan Nona. Saya Novi perawat sang ditugaskan untuk merawat Nona Hana.”
“Oh… Selamat datang di rumah saya…” ujar Rina dengan ramahnya.
Setelah sempat tersenyum, Rina berbalik menatap Lili. “Apa kamu butuh tambahan pekerjaan?” tanya Rina pada asistennya ini.
Dari tempatnya, Novi nampak mencuri pandang ka arah Rina. Nona ini sangat muda. Bahkan terlihat lebih imut dari Nona Hana. Kenapa di usia yang sangat muda mereka sudah benar-benar kaya? Batin Novi dalam hati. Novi memang sempat berbincang dengan Lili bahwa Rina ini merupakan istri dari Dika, bukan seperti Hana dan Andre. Dan ternyata Rina ini juga merupakan anak orang kaya, jadi ia menikah dengan Dika bukan semata karena harta.
Lili terlihat nyengir menanggapi pertanyaan Rina. “Maaf Nona, sebagai anak penjual bunga, saya suka geli kalau lihat tanaman yang telat dirawat. Jadi kerena pak yang biasanya mendapat tugas untuk hal ini sedang merawat tanaman lain, jadi saya gantian merawat yang ini sembari menunggu Nona memberikan tugas untuk saya.”
Rina memang suka seenaknya kalau sudah punya mau, tapi ia berlaku sangat baik kepada Lili sehingga Lili juga nyaman bagaimana pun Rina memperlakukannya.
“Oh iya…” Rina menjeda ucapannya. “ Siapa nama kamu tadi?” tanya Rina pada Novi.
“Novi Nona,” jawab Novi yang paham kebingungan wanita cantik ini.
“Coba deh kamu cek Hana, saya takut terjadi apa-apa,” ujar Rina.
__ADS_1
“Atau kita cek sama-sama,” lanjut Rina sebelum Novi membuka mulutnya.
Novi pun mengangguk.
Lili yang merasa belum mendapat tugas pagi ini, akhirnya ikut saja. Kebetulan ia juga merindukan Hana.
Ketiga wanita ini berjalan dengan Rina berada paling depan. Tak ada yang membuka suara, bahkan ketika para pekerja di rumah Rina menyapanya hanya dibalas oleh senyuman oleh ketiga wanita ini. Hingga akhirnya tibalah mereka di depan pintu kamar Hana, Lili segera membukakan pintu dan mempersilahkan Rina untuk masuk terlebih dahulu.
“Loh, nggak ada…” ujar Rina saat ia melihat ranjang yang seharusnya Hana tempati sudah kosong.
“Sepertinya di kamar mandi Nona,” ujar Lili saat mendengar suara gemericik air yang mengalir.
Lili dan Rina mengecek ke sana dengan segera, sementara Novi masih mematung di tempatnya. Ia tak mampu membayangkan bagaimana kalau Hana sampai hilang. Bisa-bisa nyawanya juga Andre hilangkan. Ia memang hanya perawat bukan penjaga, namun Hana sudah menjadi tanggung jawabnya.
“Ya ampun…!!!”
Mendengar teriakan Rina, Novi reflex dengan cepat menghampiri.
“Nona jangan angkat!” cegah Lili saat melihat Rina ingin mengangkat tubuh Hana yang tergeletak tak sadarkan diri. Ia tahu betul bagaimana kondisi Rina yang terlihat baik namun sebenarnya cukup lemah jika harus mengangkat beban berat seperti ini.
Lili segera mematikan air, agar tak ada air yang menggenang lagi.
“Novi, tolong kamu urus Nona kamu dulu, saya mau turun cari bantuan,” ujar Lili dengan cekatan.
“Ya ampun Hana. Kenapa kamu harus jatuh lagi…” ujar Rina dengan cemasnya.
Novi dengan cekatan mengganti baju Hana. Melihat darah bukanlah suatu hal yang baru untuknya, namun ini adalah darah Hana. Darah yang takutnya adalah signal bahwa terjadi hal buruk dengan kehamilannya. Kehamilan yang mendatangakan gaji besar untuknya, namun kini bisa berubah mengancam nasibnya.
Nona, kamu harus baik-baik saja Nona. Batin Novi.
Hana memang matanya terpejam, namun ia bisa mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Ia tahu ini Rina. Ia tahu ini adalah wanita yang pernah ingin disingkirkannya, tapi kini wanita ini sungguh mencemaskannya.
Rina. Maafkan aku. Aku menyesal sudah pernah berniat buruk terhadap wanita sebaikmu.
__ADS_1
Bersambung…