Zona Berondong

Zona Berondong
Lulus Bareng


__ADS_3

^^^Tim Dika sama Rina langsung nikah mana nih? ^^^


^^^Tim Dika sama Rina nunda nikahnya ada juga nggak sih?^^^


...*HAPPY READING* ...


"Nilai apa sih?" tanya Rina akhirnya setelah mendapat kesempatan untuk berbicara. Ia menatap Dika secara intens saat ini.


Dika kemudian mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada Reno.


"Kan aku yang nanya kok dikasih sama Papa," protes Rina yang kemudian beringsut untuk duduk di dekat papanya.


Reno hanya menghela nafas sedangkan Rina membulatkan matanya tak percaya. Rina masih berusaha mencerna kejadian yang sedang dialaminya. Dengan mata kepalanya dan otak yang masih belum percaya, ia melihat Reno mengucapkan selamat dan menjabat tangan Dika.


Belum usai keterkejutannya, kini Ririn sudah nampak menitikkan air mata.


"Ma..." lirih Rina.


"Tenang sayang, Mama lagi bahagia ini..."


Bohong. Bohong sekali kalau Ririn bahagia. Tangisnya justru pecah setelah ia mengungkapkan kebahagiaan palsunya.


Santi bertukar tempat dengan suaminya dan beringsut menghampiri calon besannya.


"Mbak. Jangan nangis dong..."


"Eng, enggak, Mbak, hiks, hiks..."


Mulutnya memang berkata tidak, tapi air dari matanya tak berhenti mengalir juga.


Jadi selama Dika dan Rina jarang bertemu, Dika tak hanya sibuk bekerja. Ia dan Dedi sibuk menyelesaikan materi dan mengurus berbagai hal agar mereka bisa lompat kelas dan lulus satu tahun lebih cepat. Bahkan diam-diam Dika kini juga telah bertatus mahasiswa. Ia adalah mahasiswa manejemen bisnis. Ia mengambil jurusan ini bukannya tanpa alasan. Selain karena takdir hidupnya yang membuatnya menceburkan diri ke dunia bisnis, tapi juga karena ia tak mau terlalu banyak membebani pikiran dengan mengambil disiplin ilmu lain.


"Saya sebenarnya sudah bersiap akan kemungkinan ini. Tapi tetap saja saya terkejut," ucap Reno dengan iringan tawa. Tawa terpaksa yang justru nampak aneh sebenarnya.


"Untuk kali ini sebagai Ayah, saya tak bisa membendung keinginan anak saya," timpal Rudi.


"Saya jadi merasa menghadapi mendiang Hendro saat muda. Saya hanya bermain di garis belakang, membackup setiap ide besar dia. Karena ia sulit dicegah saat sudah membuat keputusan."


Rudi menengadah dan memandang ke atas.


"Tapi anda ayah saya..."


Santi yang semula menenangkan Ririn kini malah ikut menangis. Bahkan lebih heboh dari calon besannya. Entah untuk apa air mata yang mereka keluarkan saat ini. Ada air mata haru, air mata bahagia, adapula air mata karena takut kehilangan anaknya.


Meskipun berat, pembicaraan harus dilanjutkan. Janji tetaplah janji, dan pantang bagi Reno untuk mengingkari.


"Baik, sesuai dengan janji saya, pernikahan akan diadakan setelah Dika lulus SMA. Dan sekarang saya tanya, kapan Nak Dika ingin pernikahan dilaksanakan?"


"Saya ingin secepatnya Om, tapi sebelumnya saya ingin bertanya pada Rina. Apakah saya boleh bicara berdua saja?"


"Kenapa harus berdua, kenapa nggak..."


Protes Santi terhenti saat Rudi meraih tangannya.


"Biarkan mereka memutuskan," ucap Rudi dengan nada tak terbantahkan.


"Iya, saya setuju," timpal Reno.

__ADS_1


Akhirnya Dika dan Rina berjalan menuju teras belakang. Di sana mereka duduk di sebuah kursi panjang.


"Gimana perasaan kamu?" tanya Dika.


"Kaget tauk. Masa tiba-tiba kamu lulus aja."


"Tapi seneng nggak?"


"Seneng sih. Tapi banyak kagetnya."


Dika meraih tangan Rina dan menggenggamnya.


"Aku takut kita nggak berjodoh kalau pernikahan ini tak segera dilangsunhkan."


"Jodoh kan di tangan Allah. Katanya kalau udah jodoh gak akan kemana."


"Itu katanya. Nyatanya kalau sampai ada yang duluan kasih mahar kamu gimana?"


"Banyak tuh yang pacarannya lama tapi malah nikahnya sama orang."


"Tapi banyak pasangan yang menikah muda tapi nggak bertahan lama," balas Rina.


"Yang bertahan lama banyak kok, cuma yang kesorot yang cerai aja."


"Iya sih..."


Dika mencium sekilas tangan Rina.


"Jadi sayang, kamu nggak akan nolak pernikahan ini kan?"


Rina menggeleng.


Rina menghela nafas.


"Tapi ya kaget aja. Nggak nyangka kamu bisa lulus secepat ini."


"Padahal kan kamu kerja juga."


"Kamu lupa sepintar apa saya...?"


"Idih. Iya deh. Bapak Restu Andika memang nggak ada duanya."


Dika menarik bahu Rina dan membawa ke dalam pelukannya.


"Jadi udah siapkah menjadi istriku?"


Rina tak langsung menjawab. Ia menatap lekat calon suami berondongnya ini.


"Aku masih suka nggak tega sama mama..."


"Sayang. Yang aku minta sekarang sah aja dulu. Kalau kamu tetep mau tinggal di sini, aku juga akan ke sini, mau tinggal dirumah aku nggak masalah, mau tinggal di deket kampus kamu oke, yang jelas aku nggak perlu izin saat kangen sama kamu."


"Dan bahkan kalau kamu pengen pernikahan ini tak dipublikasikan dulu tak masalah. Sebenarnya aku kurang setuju tapi aku nggak bakalan maksa kamu."


Rina nampak memainkan telunjuknya.


"Kalau anak?"

__ADS_1


"Terserah kamu. Aku bisa nunda kalau kamu emang belum siap."


"Ya meskipun kalau untuk nggak nyentuh kamu...." Dika sedikit menunduk. "Aku nggak janji," bisiknya tepat di depan telinga Rina.


"Diikkaaaaa....!!"


Dika sudah melompat saja saat Rina hendak mencubit pinggangnya. Mereka terus lari kejar-kejaran bak film India. Namun bedanya nggak ada nyanyi sambil joget-joget aja.


Dika terus tertawa saat Rina nampak kelelahan saat mengejarnya. Ya jelas banget sih ya, dari kaki aja udah jelas panjang Dika, apa lagi bahas tenaga. Susah buat wanita kalau mau ngimbangi tenaga pria.


Mereka kembali bergabung dengan para orang tua setelah memperoleh keputusannya final.


"Yuk makan siang dulu..."


Ternyata selama dua sejoli ini di berbicara tadi, Santi dan Ririn memasak untuk makan siang mereka bersama.


"Kami jadi ngerepotin," kata Rudi.


"Enggak Pak Rudi. Ini semua yang masak Mbak Santi, sedangkan saya cuma buat lava cake ini," balas Ririn.


"Tapi masalah kue-kuenan saya kudu belajar sama Mbak Ririn deh kayaknya."


"Tapi kalau bikin main course saya kudu belajar dari Mbak Santi."


"Ya silahkan. Kita yang bagian makan oke aja ya Pak Reno."


"Saya sih yes."


6 orang ini segera berjalan ke ruang makan. Memang ini sudah tengah hari dan waktunya makan siang. Setelah makan, mereka melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.


Rina nampak masih bersimpuh saat yang lain sudah bangkit. Tak ingin mengganggu, 5 orang yang lainnya menunggu di ruang tengah.


"Tadi kalian udah memutuskan maunya gimana?" tanya Rudi pada Dika.


"Sudah Yah?"


"Gimana keputusannya?" tanya Reno tak sabar.


Dika menghela nafas.


"Kita tunggu Rina aja ya. Biar dia sendiri yang mengatakan keputusannya," putus Dika.


Reno menatap lekat calon menantunya ini. Kamu memang bijaksana Dika. Semoga saya tidak salah menilai kamu dan kamu bisa membahagiakan putri saya.


"Sayang, kita hampir jamuran loh nungguin kamu," kata Ririn saat putri semata wayangnya muncul.


"Jangan gitu dong Mbak, sholat kan sarana berkomunikasi langsung sama Allah. Ya nggak sih Mas?" ucap Santi sambil menatap suaminya.


"Benar. Mungkin masih banyak orang yang menganggap sholat itu sebatas kewajiban. Kalau wajib ya harus dikerjakan, kalau nggak dikerjakan dosa. Padahal lebih dari itu."


"Ketika shalat, tidak ada sekat yang membatasi seseorang untuk bertemu, berdialog, dan mengungkapkan segenap perasaannya kepada Zat Yang Mahasuci. Tidak perlu perantara, tidak perlu status yang tinggi untuk bertemu dengan-Nya. Walau ia seorang pendosa besar, rakyat jelata, atau orang yang miskin papa, Allah akan tetap menerima kehadiran sang hamba dalam shalat dengan ”tangan terbuka”. Di sinilah shalat dimaknai sebagai bentuk komunikasi yang intens dan dekat antara seorang hamba dan Tuhannya."


Sekali lagi Reno bersyukur. Yang akan menjadi mertua Rina adalah orang yang paham agama seperti Rudi.


"Jadi gimana Nak?"


Rina tak langsung menjawab pertanyaan dari sang papa. Ia masih berusaha mengumpulkan keyakinan sebelum berbicara.

__ADS_1


TBC


__ADS_2