Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Awet Muda


__ADS_3

Hai dear. Support Senja terus ya, biar lebih konsisten updatenya.


HAPPY READING


Tanpa melepas jas yang melekat ditubuhnya, Andre bergegas mematikan shower agar air dingin itu berhenti mengguyur tubuh Hana. Andre sempat melempar jasnya sebelum mengangkat tubuh dingin Hana dan perlahan dibaringkan di atas ranjang. Sebuah selimut tebal di atas ranjang ditangkupkan untuk menutupi tubuh polos perempuan cantik di hadapannya. Ia berharap hal ini akan menyelamatkan wanita ini.


“Kenapa kamu harus bertindak konyol begini, astaga.”


Andre bermonolog sambil mengeringkan rambut Hana dengan handuk di tangannya. Ia terus mengumpat saat menarik selimut yang telah basah itu dan hendak menggantinya dengan kemeja untuk menutupi tubuh polos Hana. Ingin sebenarnya dibiarkan begitu saja, namun bisa-bisa Hana benar-benar mati kemudian. Dengan pikiran kacau, ia mengambil asal sebuah kemeja dan memakaikannya pada Hana yang masih memejamkan mata.


Setelah beres dengan Hana, ia segera mengganti pakaiannya yang juga ikut basah. Dengan kaos oblong dan celana pendek, Andre kembali untuk melihat kondisi Hana.


“Kenapa kamu tak sadar juga...”


Andre coba mengecek kondisi Hana. Setidaknya nafas dan detak jantungnya masih ada. Sekujur tubuh Hana masih terasa dingin, meskipun ia telah membalutnya dengan selimut kering.


Entah apa yang Andre pikirkan, ia perlahan masuk ke dalam selimut dan mulai memeluk tubuh ramping Hana.


“Aku melakukan ini atas dasar kemanusiaan, jadi jangan berharap aku akan menghentikan penyiksaanku terhadapmu setelah ini.”


Andre bermonolog di depan wajah Hana yang matanya masih terpejam. Ia enggan memanggil dokter, karena ia takut akan ada yang tahu jika dia tengah menyembunyikan Hana di sini.


“Betah sekali matamu terpejam, jangan-jangan kamu bukannya pingsan tapi sedang merasa nyaman aku memelukmu seperti ini.”


Sejurus kemudian Andre tertawa dengan tingkahnya yang seperti orang gila. Berbicara sendiri di depan orang yang tak sadarkan diri. Hampir setengah jam Hana memejamkan mata, namun belum ada tanda-tanda dia akan segera sadar. Andre melonggarkan pelukannya dan mulai menatap wajah Hana. Ia menurunkan selimutnya hingga sebatas lutut, dan ia mulai memperhatikan Hana dalam posisi duduk. Setelah mengangkat Hana dari kamar mandi, AC dikamar langsung ia matikan. Ia berharap hal ini akan membantu membuat tubuh Hana lebih cepat hangat.


Kenapa kamu terlihat cantik sekali. Saat ini bibirmu tak lagi pucat, tapi sudah mulai


menampakkan warna aslinya.


Mata elangnya mulai menatap dari atas ke bawah. Tangannya gemetar saat membenahi kancing kemeja yang


sebelumnya tak ia pasang dengan benar. Jika tadi ia gemetar karena takut Hana mati, tapi sekarang ia gemetar karena jiwa laki-lakinya meronta saat berhadapan dengan wanita cantik dalam kondisi seperti ini.


Biasanya Andre mendapati tampilan anggun Hana dengan pakaian formal dan make up boldnya, kini ia berhadapan dengan Hana yang begitu seksi tanpa make up dan pakaian yang lengkap. Dan sialnya lagi, kemeja kebesaran yang ia pakaikan justru makin menegaskan betapa molek tubuh wanita ini.


Andre mengusap kasar wajahnya.


“Ini tak boleh dibiarkan!”


Andre segera membenahi selimut Hana, dan ia ingin segera pergi dari sana. Namun melihat Hana tiba-tiba menggeliat, Andre segera mengurungkan niatnya.

__ADS_1


“Hana, Hana…”


Andre coba menyadarkan Hana. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Ia membelai dengan lembut wajah wanita ini, hingga akhirnya Hana mulai mengerjapkan mata. Refleks Andre menarik Hana ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan erat seakan menjelaskan bahwa ia tengah mengkhawatirkannya.


Hana menatap benci pada Andre. Ingin sekali ia melempar laki-laki ini agar tak seenaknya memeluk tubuhnya, namun sayangnya ia tak punya cukup tenaga.


Andre menarik tubuh Hana dan menatap lekat wajahnya.


“Kamu bodoh sekali, kamu pikir bisa mengalahkanku dengan cara tadi?”


Cara bicara Andre terdengar dingin, tapi bahasa tubuhnya berkata bahwa ia mengkhawatirkan Hana.


Degh!!


Kamu tidak boleh seperti ini Andre.


Tiba-tiba Andre mendorong tubuh Hana dan segera pergi dari sana.


***


Rina urung ikut Dika ke kantor dan memilih mengunjungi Dian selepas makan siang. Saat tiba di restaurant, ternyata Dian sedang berbincang dengan seorang laki-laki.


“Rina!!”


“Sini…” Dian mempersilahkan Rina untuk duduk.


Rina mengangguk hormat pada teman laki-laki Dian sebelum ia mendaratkan pantat.


“Kamu apa kabar,” ujar Dian sambil mencium pipi kanan dan kiri Rina.


“Baik Di, kamu sendiri gimana?” Rina balik bertanya sambil memeluk sahabatnya.


“As you see, saya sangat baik dan bahagia luar biasa,” jawab Dian berhias tawa.


Rina merasa ada yang berbeda dengan sahabatnya. Kenapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dian. Batin Rina.


Dian memang tertawa, lepas tertawa senyum pun tak pernah luntur dari wajah cantiknya. Dia juga nampak riang mengajak teman prianya untuk mengobrol. Membicarakan banyak hal yang meluber kemana-mana. Tapi kenapa sorot matanya terlihat berbeda. Sepertinya ada luka yang berusaha disembunyikannya.


“Ya ampun, sampai lupa.” Dian menepuk jidatnya saat menyadari bahwa ada yang dia lupakan.


“Rina, kenalin ini Ken, teman kuliah aku. Sekarang dia on track dan berjalan di jalan yang benar, tidak nyasar sepertiku. Dia menjalankan bisnis yang ia rintis, mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah,” ujar Dian panjang lebar.

__ADS_1


Rina mengulurkan tangannya. “Saya Rina, sahabat Dian.”


“Saya Ken,” jawab Ken sambil menjabat tangan Rina.


“Jadi kalian temen kuliah,” ujar Rina setelah keduanya melepaskan jabatan tangan.


Ken sejenak terpaku menatap Rina, sebelum Dian memukul lengannya.


“Awas kena colok. Jangan kaya gitu ngelihatnya, bisa ditabok kamu sama suaminya.”


Rina hanya menutup mulutnya yang dengan lancang mengeluarkan tawa, melihat Ken yang meringis sembari mengusap lengannya yang dicubit Dian, sementara Dian kini tengah melotot menatap Ken.


“Dia udah nikah?” kaget Ken. “Bentar-bentar…”


“E e e eehhh, dibilangin juga.” Dian memutar paksa kepala Ken yang terang-terangan hendak menatap Rina.


“Aku cuma kaget Di. Pas tadi dateng aku pikir Rina ini keponakan kamu atau apalah yang lagi nyamperin kamu ke sini. Abis duduk aku kaget tuh pas dia bilang sahabat kamu. Nah makin kaget lagi pas kamu bilang dia udah punya suami, jadi aku pengen memastikan aja lagi kalau perempuan semuda ini sudah bersuami.”


“Kamu baru bilang Rina itu muda. Emang aku udah tua, ha?!”


“Ya muda juga sih, hanya saja terlihat lebih dewasa.”


Plak!!


Kembali Ken harus mengusap lengannya yang malang. “Suka kekerasan ya sekarang.”


“Bodo,” ketus Dian.


“Udah, udah. Nasib orang yang tinggi badannya mepet mah gini. Sering dianggap bocah, padahal mungkin aja bentar lagi punya bocah,” lerai Rina pada pria dan wanita di hadapannya ini.


“Kamu hamil?!” pekik Dian.


Rina menggelng dengan senyum manis menempel di wajahnya.


“Yaaahh, ngeprank doang ternyata. Aku pikir sebentar lagi bakal punya keponakan,” gerutu Dian.


Sementara itu Ken masih terus saja mencuri pandang ke arah Rina.


Ini perempuan aku pernah lihat di mana ya? Kok aku berasa nggak asing banget, tapi aku bener-bener nggak punya clue.


Dian asik mengobrol dengan Rina, hingga ia tak sadar bahwa Ken kembali memperhatikan sahabatnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2