Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Hana Pergi


__ADS_3

Inspirasi datanglah, inspirasi datanglah, inspirasi datanglah.


Xexexe


*Dear***, bantu aminin ya.**


HAPPY READING


Duduk bersama tanpa suara, hanya empat mata tanpa orang lain di sana.


“Suruh dia keluar.”


“Siapa Ma?”


“Jangan bertele-tele Andre Wiguna.”


Andre mengacak rambutnya sebelum bangkit dari tempat duduknya. Kakinya terasa begitu berat bahkan hanya untuk melangkah ke kamarnya menyusul Hana. Saat baru saja Andre ingin mengetuk pintu, ternyata pintu sudah terlebih dahulu dibuka dari dalam. Dan setelahnya muncullah Hana dengan wajah sama babak belurnya dengan dia.


“Kenapa?” tanya Andre saat Hana menghindarkan tangannya dari Andre yang ingin mengenggamnya. Ia hanya menggeleng dan meminta Andre untuk berjalan terlebih dahulu. Keduanya pun berjalan bersama dengan Andre di depan dan Hana mengekor di belakang.


“Kalian duduk lah.” Tanpa melihatnya, wanita ini sudah tahu jika Hana dan Andre sudah tiba di dekatnya.


Suara ini terdengar lembut, namun berhasil membuat dua manusia ini merasa nyawanya sudah di ujung tanduk.


“Saya belum bisa berbicara apa pun tentang kalian sekarang, yang jelas saya mohon. Hana, kamu pulang ya, kembali ke orang tuamu.”


“Saya tak mungkin bisa melarang kalian berhubungan, tapi setidaknya mulai lah dengan hubungan yang sehat sembari kita saling mengenal satu sama lain. Kita lihat, jika memang ada jodoh untuk kalian, kita lalui semua melalui proses dengan sebaik-baiknya.”


“Ma…”


Hanya dengan gerakan tangan mamanya, Andre sudah berhasil dibuat kembali menelan suaranya. Ia menatap cemas pada wanita yang duduk di kursi yang tak jauh darinya itu. Di tengah rasa cemasnya, ia dibuat terkejut saat melihat Hana kembali pada wanita tangguh seperti yang ia kenal sebelumnya. Jika tadi saat mamanya datang Hana terlihat takut hingga gemetar dengan wajah pucat, tapi kini ia terlihat tenang dengan wibawa seorang Hana saat masih menjadi


sekertarisnya.


Hana, mana sebenarnya jati dirimu yang asli. Kamu yang lemah seperti sebelumnya atau yang kuat seperti ini?


“Nyonya.”


Andre merinding dengan aura yang ia rasakan saat ini. Dua wania ini terlihat lebih tangguh dari dirinya yang notabene adalah laki-laki.


“Bagaimana usulan saya menurut kamu, bukankah itu sebuah hal baik?” tanya mama Andre terhadap Hana. Ia sama sekali tak menatap anaknya yang juga ada di tempat yang sama dengan keduanya.


“Saya setuju.” Hana menjawab dengan mantab.


Andre sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya. “Hana, bukankan kita sudah sepakat?” protes Andre karena Hana mengambil keputusan tanpa terlebih dahulu meminta persetujuannya.

__ADS_1


“Ndre, saya juga wanita. Saya tak ingin kelak jika saya punya anak yang durhaka. Jadi kamu jangan sampai jadi anak durhaka karena saya.” Hana tersenyum di akhir katanya. Tak ada air mata karena ia telah menumpahkan semua tangis di hatinya.


“Tapi saya belum bilang setuju jika kamu harus keluar dari rumah ini,” kekeh Andre.


“Saya tidak memerlukan persetujuanmu, karena saya perempuan lajang yang belum menjadi istrimu.”


“Ya sudah kita menikah saja.”


Tuk!!


Andre hanya sekilas menatap sang mama, sebelum mengembalikan pandangannya kepada Hana. Ia tak peduli pada sentilan sang mama yang mengenai dahinya.


“Bocah sableng! Kamu pikir nikah itu perkara sederhana?!” Dengan pukulan tak berhasil menyadarkan putranya, wanita ini akhirnya menyela dengan nada tingginya.


“Ya sederhana lah Ma, kan cuma butuh mempelai, saksi, penghulu wali, kayaknya cuma itu deh…” Andre mulai  mengusap dahinya. Ternyata pukulan sang mama meninggalkan rasa sakit juga di sana.


“E mamamamama….” Andre mencegah sang mama saat hendak memukulnya lagi dengan tas tangannya.


“Ya menurut kamu kamu nggak punya keluarga, Hana nggak punya keluarga. Kamu pikir nikah itu ijab, sah, udah. Nggak cuma gitu Andre. Selain keluarga kita juga punya kolega. Apa kata semuanya kalau anak tunggal Edo Wiguna menikah diam-diam. Mau ditaruh di mana muka mama sama papa??!!!”


Andre langsung oleng saat sang mama menoyor kepalanya.


“Ya di situ aja lah Ma, mau dikemanain lagi emang?” balas Andre sambil menegakkan lagi tubuhnya.


“Dasaarrr….!!!!!”


Dalam wajah diamnya Hana menyimpan tangis di dalam hati. Ia tahu wanita ini sangat menyayangi Andre. ia memang memukul dan meneriaki, tapi itu semua semata karena begitu menyayangi anaknya.


Kenapa aku harus mengenal Andre dengan cara seperti ini? Coba saja aku mengenalnya dengan cara yang baik, pasti tak sulit untukku mencuri hati wanita ini.


Hana masih menatap lurus. Ia tak ingin terlihat lemah meskipun ia tengah menahan luka. Hana menghela nafas untuk tetap mempertahankan wajah sombongnya.


Tapi meskipun aku mengenalnya dengan cara yang baik, belum tentu juga mereka akan menerimaku juga. Aku bukan siapa-siapa, tak punya siapa-siapa, hanya punya ayah biologis yang mengakuiku saja enggan.


Hana makin menangis saat melihat Andre yang menjelma manjadi anak manja saat bersama sang mama. Mana mungkin ia tega melihat hubungan anak dan ibu rusak hanya karena orang seperti dia.


“Ehm…”


Tak begitu keras memang, tapi berhasil meninterupsi bercandaan sepasang ibu dan anak ini.


“Ndre, sepertinya ucapan mama kamu benar. Aku harus kembali Ndre. Tak seharusnya aku pasrah saat kamu memintaku bertahan di sini, sebaiknya sekarang aku harus pergi.”


“Tapi Hana, aw! Mama!!!!” Andre mendelik saat tiba-tiba dicubit dengan keras oleh mamanya.


“Sudah cukup Ndre. Biarkan aku kembali pada kehidupku sendiri. Kamu masih punya Mama, jangan kecewakan dia.”

__ADS_1


Hana bangkit setelah menyelesaikan ucapannya.


“Tapi Han…”


“Duduk.” Baru saja Andre ingin bangkit, tapi sudah ditahan oleh mamanya. “Kamu diam di sini, biar Hana membereskan barang-barangnya.”


Andre memang tak pernah bisa melawan wanita ini. Dia hanya bisa melihat punggung Hana masuk ke dalam kamarnya. Tak berselang lama, Hana sudah keluar dengan membawa koper berisi barang-barangnya.


Andre menatap penampilan Hana dari atas ke bawah. Dimana Hana bisa menemukan koper itu, bukankah dia tak tahu dimana aku menyimpannya?


“Andre, Nyonya. Saya permisi.”


Hana sempat membungkukkan badan sebelum berjalan melewati Andre dan mamanya.


“Hana tunggu.”


Hana menghentikan langkahnya dan tersenyum pada Andre setelah membalikkan badannya. “Jangan menatapku seakan aku akan menghilang di telan bumi.”


“Biar aku antar.” Andre berdiri dan menghadap sang mama. “Ma, aku antar Hana ya.”


“Tidak perlu,” ucap Hana dari tempatnya.


Serempak Andre dan mamanya menoleh menatap Hana.


“Hana bisa sendiri, permisi.”


Andre hilang akal. Bagaimana ini. Hana bahkan tidak punya uang sama sekali.


“Hana Hp kamu ketinggalan!”


Andre berlari mengambil salah satu ponselnya. Ponsel pribadi yang jarang orang tahu nomornya.


“Ini…” Andre menyerahkan ponselnya begitu ia kembali dari kamarnya.


“Ini apa?” lirih Hana saat tahu ada sebuah kartu di bawah ponsel yang Andre serahkan.


“Ini credit card kamu yang aku sita biar tak kabur.” Andre sempat menatap mamanya dengan ekor matanya.


Hana tahu maksudnya. Andre memberikan ini agar bisa ia gunakan di luar sana. Namun ia mengambalikan kartu itu tanpa berkata. Ia hanya menggeleng sebagai wujud penolakannya.


“Percayalah…” ucap Hana kemudian.


Hana mengambil ponsel yang Andre berikan dan segera meninggalkan apartemen Andre kemudian. Andre terpaksa kembali ke dalam agar tak membuat mamanya lebih curiga.


“Kenapa kamu sesedih itu? Mama kan tidak melarang kamu bertemu di luar sana, asalkan jangan coba-coba untuk tinggal bersama lagi seperti ini.”

__ADS_1


Andre menunduk lesu. Ia benar-benar tak tenang melihat Hana keluar sendiri.


Bersambung…


__ADS_2