
Senja mau lihat nih, masih ada yang nunggu kegilaan Senja untuk update lagi?
HAPPY READING
“Aku sudah kacau banget tadi, nggak tahunya hanya asistennya Nona Rina,” kata Rahma.
“Dia mungkin kurang qualified untuk mendaji karyawan di perusahaan ini, jadinya dijadikan asisten bu bos…” timpal Elis.
Keduanya tadi melihat Rina dan Hana keluar dari ruangan Dika. Hana memang membantu Rina membawa tasnya, sehingga Elis dan Rahma mengira Hana adalah asistennya.
Riza hanya geleng-geleng melihat kelakuan kedua rekannya ini. Ia sudah berusaha mengigatkan semampunya, namun ia justru diacuhkan.
“Kalian sholat nggak?” tanya Riza yang sudah menyelesaikan makan siangnya.
“Mbak Riza duluan saja, nanti kita nyusul.”
“Kalau menghayal kira-kira ya, nanti kalau jatuh dan nggak kesampaian sakit. Kalau sudah sakit nanti nangis,” gumam Riza yang masig bisa didengar dengan jelas oleh kedua stafnya.
“Nggak akan Mbak…” sangkal Elis.
“Nggak salah iya. Terus nyalahin Tuhan, bilang kalau takdir itu kejam…” Riza masih kekeh melawan ketidak rasionalan kedua rekannya.
“Mbak Riza jadi mau sholat nggak sih…” Rahma yang sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Elis, akhirnya bangkit dan mengurungkan niatnya. Ketiganya pun berjalan bersama menuju mushola.
Untuk kali pertama Riza merasa menyesal karena berhasil mengajak orang lain untuk mengerjakan sholat bersamanya, karena di mushola ada penyebab ketidak stabilan kedua rekannya ini. Orang itu adalah Dedi dan Andre yang nampak tengah bersiap-siap untuk melaksanakan sholat.
Dokter muda multi talenta tak terlalu tampan jika berada diantara Andre dan Dika yang menurut standar yang ada hampir memenuhi semua kriteria ketampanan yang diidamkan para wanita, namun ia nampak mempesona dengan ketenangan sikapnya. Rahma yang sebenarnya tadi kurang semangat jadi full power seketika. Ia segera mengambil wudhu karena sepertinya Dedi tinggal menunggu Dika untuk melaksanakan sholat berjamaah.
“Wajahnya kok gitu sih Mbak,” kata Elis yang tahu factor utama penyebab perubahan air muka seniornya ini.
Riza menggeleng. “Ayo ambil wudhu…” Riza menaruh mukenanya sementara ia bersiap membersihkan hadast kecil yang akan menghalangi sholatnya. Setelah itu, ia beberapa karyawan lainnya berkesempatan untuk sholat berjamaah dengan Dedi sebagai imamnya.
“Kurang idaman apa coba. Masa depan cerah deh kalau bisa bersanding dengan pak Dedi nanti. Selamat dunia akhirat pokoknya mah,” ujar Rahma saat ia dan kedua rekannya berjalan kembali ke mejanya.
Sementara itu di rumah sakit Rina tak hanya berhenti dengen pemeriksaan rutinnya, tapi juga treatment kedua untuk scar di tubuh Hana. Ia memanfaatkan benar privilege sebagai menantu pemilik rumah sakit ini, sehingga ia bisa dengan mudahnya mendapat jadwal untuk Hana meski ia tak membuat janji sebelumnya.
“Bagaimana dokter?” tanya Rina pada dokter yang menangani Hana.
“Luka ini masih terhitung baru sehingga lebih mudah untuk ditangani,” jelak dokter berperawakan besar itu.
“Syukurlah. Kira-kira masih butuh berapa kali treatment Dok?” tanya Hana ingin tahu.
“Kita lihat seminggu lagi ya. saya perkirakan tak akan lebih dari tiga kali,” lanjut dokter itu lagi.
Setelah mendengarkan saran dan anjuran dokter, akhirnya Hana dan Rina segera permisi untuk undur diri.
__ADS_1
“Makasih banyak Rina…” ujar Hana sesaat setelah ia menutup pintu.
“Sama-sama Hana. Apa rencana kamu setelah ini?” tanya Rina yang kini beristirahat di sebuah kursi panjang di lorong rumah sakit ini.
Hana menggeleng.
Rina meletakkan sebelah tangannya di pundak Hana. “Aku mau kok jadi pendengar kalau kamu berkenan cerita.”
Hana hanya tersenyum sambil menatap segan wanita cantik berhati malaikat di sampingnya ini.
“Eh, itu Mbak Indah kan… kita ke sana ya…” ujar Rina yang tak sadar Hana tengah menatapnya.
Hana langsung mengikuti arah pandang Rina.
“Loh kok kamu diam saja, ayo ke sana…” ajak Rina yang kini sudah bangkit dari posisi semula.
“Saya di sini saja ya. Saya takut ada kak Rio juga di sana,” tolak Hana.
“Kenapa harus takut. Apa Rio pernah menyakiti kamu?”
Hana terdiam. Rio memang tak pernah menyakitinya secara fisik, tapi penolakannya selama ini membuat kata sakit tak cukup untuk mewakili apa yang ia rasakan.
“Han…” panggil Rina saat Hana diam saja.
Jika sebelumnya Hana melamun, kini ia membatu setelah sadar Indah sudah berada di dekatnya.
Tanpa menunggu Hana berbicara, Indah segera menarik wanita ini ke dalam pelukannya
“Apa kabar?” tanya Indah setelah melepas pelukannya dengan Hana.
“B, baik…” karena berbicara saja ia terbata, Hana akhirnya menarik kedua sudut bibirnya untuk menutup kaku yang terjadi pada dirinya.
Ketiga wanita ini akhirnya duduk kembali.
“Gimana kabar kamu, em maksudku kandungan…” Indah sempat melakukan koreksi kala ia nampak mengulang pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.
Hana menunduk. Jujur ia malu dan berbagai perasaan tak nyaman berkecamuk jadi satu.
“Aku sudah tahu Hana, dan kamu tahu nggak aku tahunya dari siapa,” Indah menatap Hana dengan mengembangkan senyum tulusnya.
“Dari siapa?” ulang Hana.
“Dari Rio…” jawab Indah dengan senyum kian lebar dari sebelumnya.
Baru saja sedikit luwes, kini wajah Hana sudah kaku lagi. Ia senang, sangat senang mendengar apa yang baru Indah tuturkan, tapi di satu sisi hal ini juga menbuatnya terkejut bukan main.
__ADS_1
Glek!
Hana menelan ludah. Ia ingin berbicara tapi tak ada satu pun kata yang bersarang di kepalanya.
Indah kembali mengurai senyum dan menaraik Hana ke dalam pelukannya.
“HP mana HP…” ujar Indah setelah ia melepas kembali
pelukannya.
Hana tak mampu memikirkan apa-apa. Ia hanya melakukan apa yang Indah minta. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada wanita cantik yang sedang mengandung anak dari kakak tirinya ini.
Setelah sempat mengetikkan sesuatu di ponsel Hana, akhirnya Indah pun mengembalikannya. “Aku sudah save nomor kamu. Kita lanjut nanti ya. Aku harus balik buat jemput anak-anak yang aku titipin di rumah mama.”
Indah kemudian berpamitan pada Rina setelah sebelumnya kembali memeluk Hana. Tak lupa ia melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan keduanya.
Rina bahkan harus menepuk bahu Hana, karena perempuan cantik bertubuh tinggi ini hanya diam saja sejak tadi.
“Shock banget kayaknya…” ujar Rina mengomentari Hana.
Hana kembali menarik paksa kedua sudut bibirnya. “Aku masih tak menyangka saja…”
Rina tertawa kecil. “Asikin saja… Yuk balik…”
“Kemana?” tanya Hana.
“Sejujurnya aku tadi masih ada urusan dengan Rista. Karena dianya kabur, dan dia memintaku untuk menunggunya di kantor, karena dia tak mau memberi tahu dimana persembunyiannya,” jelas RIna yang terlihat lelah dengan kelakuan adik iparnya.
“Apa karena Dedi?” tanya Hana hati-hati.
Rina menghela nafas. Dia mengangguk kemudian. “Tapi jangan tanyakan sama saya kisah mereka bagaimana, karena hanya mereka dan penulis cerita yang tahu faktanya…”
Hana menelan kembali pertanyaan yang sudah ia siapkan.
“Ya udah ayo…” ajak Rina lagi.
Rina dan Hana berjalan beriringan meninggalkan area rumah sakit.
“Ngintipin saja terus. Adik kamu itu baik Mas, sampai kapan mau diemin…” ujar Indah pada suaminya. Saat ini ia sedang bersama Rio yang baru saja jadwal pemeriksaan rutin terhadap kehamilan Indah.
Rio menyandarkan punggungnya. Ia tak menyahuti ujaran istrinya sama sekali.
“Tadi aku sudah minta nomor Hana, mau disimpan di ponsel kamu?” tawar Indah.
Rio tak menyahut. “Yuk pulang…” ia merangkul istrinya untuk menjemput anak-anaknya yang tadi ia titipkan di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Yang sebenarnya terjadi tadi adalah Rio tanpa sengaja melihat kedatangan Rina dan Hana saat ia mengambil antrian untuk Indah. Ada rasa khawatir yang Rio rasa kala melihat adik yang sudah cukup lama tak diketahui kabarnya ini. Sehingga ia meminta istrinya untuk menyapa Hana. Dengan begitu Indah juga dapat melihat dengan lebih dekat bagaimana kondisi yang menghilang pasca keguguran.
Bersambung…