
Hana muncul lagi nih.
Seneng nggak, seneng nggak?
Andre juga loh.
HAPPY READING
“Andre. Apa kamu memikirkanku?”
Hana selonjoran di pinggir jalan. Ia sudah sarapan tadi, tapi bahkan belum sampai jam 10 ia sudah lapar lagi. Ia melihat bawaannya. Masih ada barang dengan dua tujuan lagi baru ia bisa pulang. Ia sengaja tak mau meminta bayaran pada bunda Lili sebagai wujud terimakasih karena sudah diterima di keluarganya.
Hana meminum lagi sebotol air yang selalu dibawanya. Meskipun lelah dan lapar, ia memaksa dirinya untuk berdiri dan berjalan lagi.
“Bismillah…”
Terdengar aneh memang saat Hana mengucapkannya, tapi kata-kata itu mulai biasa ia ucapkan di bibirnya akhir-akhir ini. Hana yang sepanjang perjalan hidupnya selalu terombang-ambing, membuatnya lupa memikirkan kalau Tuhan itu tak hanya butuh di kenal, tapi juga perlu di dekati. Dan selama ini ia tak pernah belajar cara mendekat dengan Tuhan hingga ia terlempar cukup jauh dari jalan yang semestinya.
Hana kembali bangkit dan mulai mengayuh lagi sepedanya, hingga akhirnya tiba lah di salah satu tujuan.
“Terimakasih,” ujar Hana saat ia menerima uang pembayaran dan tanda terima yang telah ditanda tangani.
Hampir jam 11 siang, dan matahari mulai bersinar dengan teriknya. Hana mendesah lelah dan mengusap peluh yang menetes di pelipisnya. Setelah mengusap keringat, ia beralih mengusap perutnya. “Sabar ya cacing, sebentar lagi kita pulang dan kamu akan bertemu dengan masakan bunda,” ujar Hana seakan perutnya bisa diajak berbicara. Ia kembali mengayuh sepedanya kemudian.
Namun di tengah jalan, Hana baru ingat kalau belum sempat mengecek alamat tujuannya. Ia segera berhenti untuk memastikan hal yang satu ini.
“Astaga, kenapa harus kantor Surya Group. Mana kantor utama lagi. Bagaimana kalau di sana ada yang mengenaliku.”
Hana meminggirkan sepedanya dan istirahat lagi. Di sana ia kembali meminum sisa air yang masih ada di botolnya. Laparnya sudah hilang, namun ia begitu pusing hingga ia merasa tubuhnya melayang.
Hana yang sudah lemas akhirnya duduk lagi. Sambil mengumpulkan tenaga, ia melihat bucket besar yang harus ia antar. Nominal pesanan ini paling besar diantara barang-barang yang ia bawa. Jadi tak mungkin ia pulang dan tak mengirimkannya, membiarkan bunda rugi dan kehilangan pelanggan besar seperti ini.
“Ya Tuhan, kuatkan hamba.”
Hana memaksa tubuhnya untuk berdiri. Ia mencengkeram erat stang sepedanya. Ia berusaha mengayuh, mengabaikan rasa tak nyaman yang diisyaratkan tubuhnya. Dan sepeda pun mulai berjalan meskipun pelan.
Hingga akhirnya Hana merasa tubuhnya melayang.
Brak!
Hana harus tersungkur saat keseimbangannya hilang. Hana tak langsung bangun dan terlebih dahulu melihat ke sekeliling. Tak ada mobil atau motor yang lewat di sampingnya. Ia murni jatuh karena kesalahannya sendiri.
__ADS_1
Hana langsung duduk dan melihat kondisi bunganya. Syukurlah tidak rusak. Batinnya lega.
Ia membenarkan posisi bunganya sebelum kemudian hendak mengayuh lagi. Baru saja hendak mendorong sepedanya untuk melaju, tiba-tiba sebuah mobil mundur dan berhenti tepat di sampingnya. Hal ini membuat Hana urung berjalan.
Tiba-tiba Hana teringat penyerangan yang di alami bersama Andre beberapa waktu lalu. Ia mendadak takut dan ingin segera berlari meninggalkan sepedanya.
“Tunggu!”
Hana mendengar ada suara yang begitu familiar di telinganya. Reflek ia menoleh dan segera menunduk saat tahu siapa yang baru saja memanggilnya.
Pria tampan bertubuh tinggi itu turun sesaat setelah pintu mobilnya terbuka.
“Apa kabar Raihana Rahardja.”
Hana membeku. Ternyata semudah itu Dika mengenalinya.
“Anda mungkin salah orang, permisi…” hana berusaha mengelak dan mencoba segera pergi dari sana secapatnya.
“Kamu mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi tidak dengan saya, Hana.”
Langkah Hana terhenti. Rasanya ia sudah tak bisa lari lagi kali ini. Akhirnya Hana berusaha menegakkan tubuhnya dan mengangkat wajahnya. Ia memberanikan diri membalas tatapan tajam Dika yang dihujamkan padanya.
Dika berbicara dengan suara rendah dan tepat sasaran.
Hana membuang nafasnya kasar. “Pak Restu Andika, sebenarnya apa gunanya anda menanyai saya? Apakah jawaban saya masih berpengaruh terhadap penilaian anda?”
Saya sudah menyerah, benar-benar menyerah. Saya benar-benar menyerah pada sekertaris anda. Ah percuma.
Hana enggan mengutarakan isi hatinya. Ia lebih memilih memendamnya karena ia yakin Dika tak akan percaya dengan apa pun yang ia katakan.
“Saya hanya minta satu hal, jauhi Andre. Saya tak mau dia menderita setelah berhubungan dengan keluarga Rahardja.”
Dika masuk lagi ke dalam mobilnya. Mobil itu pun kembali melaju meninggalkan Hana yang masih diam di posisinya. Tanpa terasa setetes air meluncur dari sudut matanya.
Bahkan saat tak melakukan apa-apa pun, kenapa aku masih terus di tekan.
Hana terduduk lagi. Ia tak sanggup melanjutkan perjalanan, terlebih ia harus ke Surya Group. Tempat dimana ia sempat merasakan kejayaan sekaligus kehancuran dalam hidupnya.
Hana menengadah menatap atap abadinya, yaitu langit yang tak pernah bosan selalu menemani dari atas. Ia menunduk saat merasa kepalanya kian pening. Matahari begitu terik, namun pandangan Hana berubah gelap.
“Ya Tuhan…”
__ADS_1
***
“Lili, pesanan bungaku mana? Kenapa belum sampai juga?”
“Sebentar Nona…”
Lili segera meraih ponselnya untuk menghubungi sang bunda. Ia ingin bertanya apakah Hana sudah berangkat membawa pesanan dari bosnya.
“Halo Bun,” ucap Lili saat panggilannya dengan sang bunda tersambung.
“…”
“Apa Hana sudah berangkat?”
“…”
“Iya Bun. Sudah ditunggu sama Nona ini.”
Rina menatap asistennya sambil bersantai di sofa. Katanya mau membantu kerja suaminya, namun nyatanya ia hanya bersantai sambil memakan buah strawberry mahal yang didatangan dari luar negeri itu. Bagaimana mungkin Dika membiarkan istrinya bekerja, sementara saat rapat tadi pagi Rina ketiduran, dan pada siang menjelang, rapat harus terhenti karena perut istrinya yang berbunyi nyaring di tengah rapat. Hari ini Andre juga sudah ditarik lagi ke kantor oleh Dika karena ia benar-benar kerepotan tanpa Andre.
“Lili, kenapa kamu nggak pulang saja untuk mengambil bunga yang saya pesan. Ruangan ini terasa kaku tanpa bunga, jadi saya ingin buru-buru menghiasnya.”
“Tapi Nona, saya masih dalam jam kerja, mana bisa…”
“Saya yang memberikan perintah, ada masalah?” potong Rina cepat.
Lili menghela nafas. “Baik Nona.”
Setelah menunduk, Lili segera pamit dan meninggalkan ruangan.
***
“Hana sadarlah.”
Di tengah perasaan tak menentunya, Ken berusaha menyadarkah Hana. Sebelumnya ia benar-benar tak tahu jika ada sesuatu yang terjadi dengan Hana. Ia spontan berhenti hanya untuk menanyakan kemana hilangnya Hana malam itu saat ia hendak mengantarnya pulang. Namun di luar dugaan. Begitu ia berhenti dan turun dari mobil, ia melihat Hana yang semula duduk tiba-tiba ambruk.
“Hana sadarlah, sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit.” Ken berbicara sendiri di samping Hana yang tak sadarkan diri.
Ken membenarkan posisi Hana kemudian menambah laju kendaraannya.
Bersambung…
__ADS_1