Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 RR Fashion


__ADS_3

HAPPY READING


Hari ini Hana merasa jauh labih baik dari pada sebelumnya. Ia sudah mulai mengerjakan apa pun agar bisa membantu Risma. Ia tak ingin terus-terusan menjadi beban untuk orang yang sudah banyak membantunya ini.


“Hai Hana…” sapa Bayu pada Hana yang baru saja membuang sampah di depan kosan.


“Hai Bay, mau kerja?” sapa balik Hana sambil tersenyum menatap satu orang lagi yang sudah sangat baik kepadanya.


“Iya. Mau ikut…?”


Hana menarik kedua sudur bibirnya lebar. “Suka aneh-aneh kamu.”


“Ya kali aja kamu mau ikut,” ujar Bayu sambil mengenakan sepatunya.


Hana tak dapat menahan diri untuk tertawa saat ini.


Hana terpaku saat melihat Hana seperti ini. Saat diam Hana sudah terlihat cantik, saat tersenyum dan tertawa seperti ini ia jadi jauh makin cantik. Diam-diam Bayu merasa malas untuk bekerja. Ingin rasanya sekarang ia bolos saja, agar punya waktu untuk mengobrol dengan Hana.


Saat Bayu sedang asik memperhatikan Hana yang sedang menyapu di depan kamar Risma, tiba-tiba ponselnya bergetar membuat ia harus rela mengalihkan pandangannya dari bidadari yang nampak nyata di hadapannya ini beralih pada benda kotak yang selalu ia bawa kemana-mana ini. Ia harus mengecek apa geranganyang membuat ponselnya bergetar tanpa henti.


“Ngapain Risma telfon?" gumam Bayu "Halo Ris…” ujarnya saat ponselnya sudah ia tempelkan di telinga.


Hana menghentikan aktifitasnya saat mendengar Bayu menyebutkan nama Risma. Ia memperhatika dengan seksama saat Bayu terlihat berbicara pada Risma, meski ia tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan.


“Oh, oke, oke. Aku bilangin sama Hana.”


Hana makin penasaran setelah mendengar namanya juga dibawa-bawa, terlebih saat melihat Bayu yang tak juga menyelesaikan panggilannya.


“Ada apa?” tanya Hana langsung bahkan saat Bayu  belum sempat menyimpan ponselnya. Ia penasaran dengan apa yang baru saja ia dan Risma bicarakan.


“Risma tadi HPnya ketinggalan, terus mau aku anter tapi kita beda arah,” ujar Bayu dengan ragu.


“Ya udah, aku saja yang antar,” tawar Hana.


“Tapi kondisi kamu gimana?” tanya Bayu khawatir.


“Tenang, aku baik-baik saja. Nggak jauh kan?”


Bayu nampak berfikir. “Lima belas menitan ngegrab,” lanjutnya.


“Oh, oke deh. Makasih ya Bay…”


Setelah mengucap terimakasih, Hana langsung masuk ke dalam. Ia ingin bersiap-siap dan mengantarkan posel Hana ke tempat kerjanya. Namun baru saja ia menutup pintu, ia sudah keluar lagi.


Di luar, Bayu langsung menyambutnya dengan senyum lebar. “Nanya alamat,” tebaknya pada Hana yang menyembulkan kepala.

__ADS_1


“He he he, iya…” Hana hanya meringis saat Bayu bisa menerka dengan tepat.


“Hmmm. Nih…” Bayu langsung menyodorkan ponselnya untuk memberitahu Hana di mana lokasi toko yang menjadi tempat kerja Risma.


Setelah mencatat dengan teliti, Hana kemudian mendengarkan arahan Bayu dengan seksama. Ia tak mau nyasar dan menyusahkan Risma padahal niat awalnya ingin membantu.


“Ciiyyeeee, gercep banget Bay…”


Mendengar ada yang mengajak bicara, serempak Hana dan Bayu menoleh ke arahnya.


“Apa, apa…” ujar Bayu menanggapi.


Dua pria yang baru bergabung ini mengabaikan Bayu dan menatap Hana semua.


“Hai Hana, mau dong diajakin ngobrol juga.”


Hana hanya tersenyum segan. “Bay, semua, aku masuk dulu ya…” pamit Hana cepat.


Ia segera masuk ke kamar Risma menutup pintu saat itu juga meninggalkan Bayu dan dua orang pria yang belum ia kenal di sana. Sejak peristiwa ia membantu Risma melepaskan diri dari kejaran penagih hutang, ia memang menjadi terkenal di kosan ini. Bukan hanya karena aksi yang sebagian orang menganggap itu heroik tapi juga karena paras cantik yang ia miliki. Hanya saja selama ini ia tak pernah keluar sehingga ia nyaris tak pernah ada yang melihat secara langsung seperti ini.


Setelah sekitar 15 menit, kini Hana siap mengantarkan ponsel


Risma ke tempat kerjanya. Ia tak lupa mengunci pintu sebelum pergi meninggalkan kamar kos Risma.


Di luar dia sudah di sambut oleh ojek daring yang sebelumnya ia pesan, dan setelah mengenakan helm, ia segera pergi ketempat tujuan.


“Sudah sampai Mbak.”


Hana nampak linglung saat sadar motor yang membawanya kini telah berhenti. Ternyata Hana melamun cukup lama, hingga perjalanan yang kata Bayu membutuhkan waktu tempuh sekitar lima belas menit tidak terasa sama sekali.


“Iya Pak. Bayarnya Via aplikasi ya…” ujar Hana.


“Iya Mbak…” jawab bapak ini sopan.


Hana segera melepas helmnya setelah mengucap terimakasih sebelumnya. Ia menatap toko tempat Risma kerja ini. Tak terlalu besar memang, namun cukup ramai seperti yang Risma katakan semalam.


“Kenapa ada logo Surya di sini?” gumam Hana sebelum ia masuk ke dalam.


Ia masih bertahan di depan saat memperhatikan baik-baik toko di hadapannya ini.


“Astaga.” Mulut Hana terbuka lebar saat ia ingat sesuatu


sekarang.  Surya Group memang meluncurkan produk fashion dimana ia juga sempat ikut menggarapnya sebelumnya ia terhempas keluar dari perusahaan.


“Ya ampun. Apa perusahaan ini tak pernah gagal dalam meluncurkan produk?” gumamnya lagi yang ikut takjub dengan antusiasme customer yang nampak jelas di hadapannya.

__ADS_1


Diam-diam Hana merasakan kebanggan dalam hatinya. Ia yakin selain karena tangan dingin dan otak cemerlang Dika, Surya Group bisa berkembang seperti sekarang juga berkat kerja keras Andre sosok yang selalu menyokong Dika dari belakang. Ia yang angkuh dan dengan congkaknya memenuhi seluruh ruang di hati Hana.


Ddddrrttt ddrrttt ddrrttt


Hana harus rela menghentikan lamunannya tentang sosok Andre saat ponsel Risma yang ia kantongi terus menerus bergetar seperti ini. Hana sempat memeriksa siapa yang tengah menghubungi Risma sebelum ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam agar bisa segera menyerahkan ponsel Risma.


Setelah di dalam, Hana tak melihat ada seorang pun yang menganggur, sehingga ia memutuskan untuk menghampiri salah seorang pramuniaga yang sedang melayani pelanggannya.


“Permisi Mbak, Rismanya ada?” tanya Hana pada seorang pegawai dengan baju pink dan bawahan celana hitam.


Bukannya menjawab, wanita ini justru bengong dan menatap Hana tanpa berkedip. Tak hanya wanita ini saja, bahkan pelanggan yang tengah ia layani juga tertegun menatap Hana.


“Mbak…” panggil Hana lagi. Bahkan ponsel yang sebelumnya bergetar itu sudah berhenti saking lamanya berdering dan tak kunjung diangkat oleh Hana.


“Ada yang bisa saya bantu…” ujar pramuniaga itu akhirnya.


“Hana, ya ampun…” Tiba-tiba Risma muncul dari belakang dan langsung menghampiri Hana.


“Dia temen aku Mbak,” ujar Risma pada perembuan dengan name tag Haning.


“Loh, kirain…”


"Permisi..." ujar Risma yang langsung menarik Hana pergi dari sana. Haning sempat menatap kemana Hana dan Risma pergi sebelum kembali fokus kepada langganannya.


“Saya kira tadi artis loh…” ujar pelanggan yang Haning layani.


“Sama…” jawab Haning sambil cengar-cengir.


Sementara itu di salah satu sudut toko, Risma membawa Hana untuk duduk di sana.


“Hp aku mana?” ujar Risma.


Hana langsung menyodorkan Hp yang sejak tadi ia pegang. “Ini… belum lama ada yang telfon ,” ujar Hana.


“Itu tadi aku. Aku takut kamu nyasar,” jawab Risma menjelaskan.


Hana hanya tersenyum menanggapi, sementara Risma langsung sibuk melihat ponselnya. Ya mana mungkin aku tersesat. Aku sebelumnya juga tinggal di kota ini, hanya saja bukan di daerah ini, batin Hana.


“Aku mati kutu tanpa HP ini sumpah,” ujar Risma lagi.


“Kenapa? Apa kamu masih mau main HP sementara toko seramai ini?” tanya Hana penasaran.


“Bukan. Aku nggak hafal nama baju, bahan sama ***** bengek RR fashion. Yang baru menjalin kerjasama dengan toko ini. Jadi glageban deh kalau harus berhadapan sama pelanggan.”


“RR fashion yang produknya Surya Group?” tanya Hana memastikan.

__ADS_1


“Iya kok kamu tahu?”


Bersambung…


__ADS_2