
...*HAPPY READING* ...
Bulan september telah tiba, dan ini merupakan bulan ketiga pernikahannya dengan Dika. Sepakat menunda kehamilan dan melanjutkan rencana menyembunyikan pernikahan, namun mereka memutuskan untuk tinggal bersama karena keduanya benar-benar tak bisa saling berjauhan.
Dika benar-benar menjadi sentral dalam perusahaan, dan namanya sering sekali wara-wiri di berbagai media dan surat kabar. Padahal ia tak pernah menerima apa pun jenis wawancara.
Andre berhasil bertahan menjadi tangan kanan Dika, namun dia tak mempu muncul dan bersinar seperti Dedi. Hanya saja ia tetap menjadi luar biasa untuk ukuran anak muda yang masih minim pengalaman.
Rina juga mulai sibuk dengan kuliahnya demi memperoleh gelas Sarjana Jewellery desain yang diimpikannya. Ia bersiap menyambut 4 tahun studynya.
Pada tahun pertama ini, Rina memilih beberapa modul tahun dasar yang sesuai dengan minatnya bersama dengan program-program dasar wajib seperti desain, film, intermedia, dan paint & print. Selain itu ia juga mengambil modul menggambar dan modul seni liberal, pengantar budaya visual, serta menulis untuk seni.
Ia kian bersemangat mempelajari jurusan ini, terlebih saat tahu perhiasan yang ia desain bersama Jasmine waktu itu diberikan oleh Dika sebagai hadiah sebulan pernikahan mereka.
Diam-diam Rina bangga pada dirinya yang sudah mampu menghasilkan karya padahal ia baru mengenalnya.
***
"Sayang, kenapa sekarang kamu jadi sok ganteng sih..."
Baru saja Dika menginjakkan kaki di rumah, ia sudah disambut oleh omelan sang istri yang tengah menonton tv.
"Apa sih. Suaminya pulang bukannya di sambut malah diomeli."
Dika segera menghampiri sang istri yang duduk di sofa dan mengecup puncak kepalanya. Rina beringsut dan memeluk pinggang Dika.
"Itu tuh, kamu sekarang sering banget muncul di tv. Mana kamu kayak ganteng banget lagi di sana."
"Emang aslinya nggak ganteng?"
"Ganteng sih, tapi kan nggak banyak orang yang lihat kalau gini."
Dika dan Rina kembali menyimak televisi ditemani minuman yang baru diantarkan oleh pembantu di rumah mereka.
"Mereka kok bisa ya bikin berita, padahal aku nggak pernah mau lo menerima wawancara."
"Kok bisa ada muka kamu kalau nggak ada sesi wawancara?"
Dika menggela nafas. Kamu nggak denger kalau dari awal itu yang ngomong pembaca berita, dan itu muka aku kan cuma foto yang nggak tahu kapan tanggal pengambilannya. "
"Nah, kamu bisa tuntut kan acara ini, biar mereka nggak sembarangan bikin berita."
Dika kembali menyimak apa yang sedang diberitakan, baik tentang dirinya ataupun tentang perusahaan.
"Tapi sayang, apa yang mereka bicarakan itu benar semua."
Rina memdelik menatap suaminya sebelum menyambar jus tanpa gula di hadapannya.
"Kecuali satu hal."
"Apa?" tanya Rina bersemangat.
"Status aku. Aslinya aku sudah menikah tapi di dalam berita aku dikatakan masih single."
Rina mendengus. Kalah lagi sepertinya ia kali ini.
__ADS_1
"Jadi perlu dilurusin nggak masalah ini?"tanya Dika dengan tatapan menggoda.
" Jangan sekarang dong. Aku baru mulai nih, kudunya kamu nyemangatin biar bisa menyelesaikan study dengan baik, menghasilkan karya luar biasa baru aku bisa percaya diri muncul sebagai istri Restu Andika. "
" Iya, iya. Aku nggak akan maksa."
"Makasih sayang." Rina mencium kilat pipi suaminya.
"Mandi yuk, tadi airnya udah sempet aku siapin."
3 bulan resmi, Rina yang manja menjelma menjadi istri yang baik untuk Dika, suaminya. Ia selalu berusaha melayani segala keperluan Dika meskipun ia sendiri cukup sibuk sebenarnya.
***
"Rista kapan sih pulangnya?" tanya Rina yang datang bersama segelas susu hangat menyusul Dika yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
Dika tersenyum dan menatap istrinya.
"Makasih," ucapnya sambil menerima gelas yang Rina ulurkan.
Dika meminum susu itu sedikit kemudian perlahan diletakkannya di atas meja.
"Habisin dulu." Rina menahan tangan Dika dan membantu sang suami untuk meminumnya.
"Nggak perlu ini lagi, aku sudah cukup tinggi..."
Rina tak menggubris perkataan Dika dan lebih memilih untuk menarik sebuah kursi untuknya.
"Nih udah." Dika menyerahkan gelas yang sudah tandas isinya.
"Lagian kok ada lo ya bisa bebas pulang ke rumah malah minta ke asrama."
"Itu masih mending, ketimbang minta nyusulin Dedi ke Amerika. Dan kalau pun ketemu, belum tentu Dedi ada waktu buat dia.
" Iya juga ya. Bahkan setahuku Dedi baru sekali hubungi kamu. Emang kuliah kedokteran sesibuk itu apa? "
Dika menggidikkan bahu sebagai tanda tak tahu.
"Dasar Rista. Nggak ngerti apa kalau aku kangen. Lagian nih ya, dia nggak ngerasa kangen rumah apa gimana sih?"
"Justru karena besarnya rindu itu dia nggak berani pulang."
Rina mengernyit. "Aku nggak paham."
Dika menandai pekerjaannya sebelum meletakkan pulpen dan beringsut menghadap istrinya.
" Terlalu banyak kenangan mereka di rumah makanya ia enggan pulang."
Rina mengangguk kecil.
"Ck, baru juga umur segitu udah sebegitunya mikir laki-laki. Kamu dulu pas seumur Rista apa udah mikirin cewek juga."
"Iya," jawab Dika santai.
"Ya ampun. Dasar kakak adik sama aja."
__ADS_1
"Jangan suka ngehujat suami, pamali."
Rina mendengus dan memalingkan muka. Namun tak lama karena ia penasaran juga.
"Emang cewek mana sih yang udah bisa ngrecokin pikiran suami aku pas masih bocil, hm..?"
Dengan raut yang susah di tebak Dika mendekat, membuat wajahnya sejajar dengan Rina. Refleks Rina menggigit bibir untuk meredakan gugup. Ya ampun, sampai kapan engkau menyiksaku ya Allah.
Matanya mengerjap cepat ketika hembusan nafas Dika membelai wajahnya.
Bukannya marah, Dika justru tersenyum saat Rina menghindari ciumannya.
"No kiss, jawab dulu!" ketua Rina.
Kali ini Dika tak menurut. Dia meraih pinggang Rina dan mulai bermain di bagian depan tubuh istrinya.
"No bra?"
Rina mendelik menatap wajah bahagia suaminya.
"Jangan suka ngalihin pembicaraan, iihhhhh..." Rina mencoba mendorong tubuh Dika namun justru kancingnya yang terlepas.
"Jangan ganggu. Aku lagi nambah daya."
"Tadi kan udah abis satu gelas."
"Yang tadi terlalu banyak tambahan bahan kimia."
Kah lagi. Rina sepertinya susah menang berdebat dengan Dika. Meskipun kesal, Rina tak sepenuhnya menolak permainan Dika di tubuhnya.
"Stop!"
Dika yang sudah konek terlihat kecewa karena Rina menghentikan tangannya yang hampir tiba di sana.
Tak ingin bertengkar di momen intim dengan suaminya, Rina tersenyum dan membelai lembut rahang tegas lelakinya.
"Jawab dulu," tanyanya dengan suara lembut nan manja.
"Dia itu kamu. Aku selalu mikirin kamu sejak kelas 5 SD. Saat tubuhku lebih pendek dari kamu, tapi nilai olimpiadeku berhasil mengalahkanmu," jawab Dika menggebu. Sepertinya pemuda ini benar-benar tak ingin membuang waktu untuk melahap mangsa halalnya.
Dada Rina menghangat. Ia sudah tahu hal ini, namun mendengarnya kembali membuat ia begitu bahagia.
Wajah keduanya kembali mendekat, namun tanpa diduga Rina kembali menolak.
Dika sepertinya benar-benar kecewa. Ia segera menarik tubuhnya menjauh dari Rina.
Namun tanpa diduga, Rina justru mendorong tubuhnya ke sofa.
"Let me do it Mr. Restu Andika."
Dika sempat terkejut, namun hanya sekejap berubah dengan seringai bahagia.
"Time yours Mrs. Malinda."
Dalam malam panas pun dimulai.
__ADS_1
TBC