Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Terlanjur


__ADS_3

HAPPY READING


“Karena kamu diam saja, berarti boleh kan?” tanya Dedi sambil menatap Andre penuh percaya diri.


Andre benar-benar tak habis fikir dengan tindakan Dedi. Ingin sekali ia memprotes dan memaki, namun rasanya ia terhimpit dan tak ada waktu lagi. Dipikirannya hanya ada ketakutan  besar akan hilangnya Hana karena bisa saja Hana menyambut uluran Dedi.


Segera Andre bangkit dan berjalan melewati papanya. Begitu sampai di samping Hana, ia pun berhenti dengan segera meraih tangan kekasihnya. Hana yang semula duduk kini seketika bangkit bersamanya.


“Hana ini milikku, dan selamanya akan bersamaku,” ujar Andre sambil menatap lekat Hana yang berdiri di sampingnya.


Mata yang sejak tadi memerah itu berkaca-kaca seketika.


“Dan sebentar lagi aku pun akan melamar Hana, memohon restu pada orang tuanya untuk dapat menikahinya,” lanjut Andre tanpa memutus kontaknya dengan Hana.


Tess!


Rasa lega menyeruak dalam sanubari Hana. Kegalauan tentang keseriusan Andre terhadapnya sirna hanya dalam sekejab saja. Ia benar-benar terharu akhirnya kalimat semacam ini didapatnya juga.


Selanjutnya Andre membawa Hana pergi meninggalkan papanya dan Dedi di ruang kerjanya.


Entah nanti Andre akan kembali atau melanjutkan pekerjaannya esok hari, yang jelas ia butuh waktu bersama Hana saat ini. Menikah bukan hanya tentang keputusannya tapi juga kesediaan Hana untuk hidup dengannya sehingga ganjalan tak kasat mata yang ia rasa harus ia tuntaskan sekarang juga.


Di ruangan ini tersisa Edo dan Dedi. Dedi nampak tersenyum menang, sementara Edo terlihat belum paham sepenuhnya dengan kondisi yang sebenarnya.


“Maafkan kelancangan saya Om,” ujar Dedi membuka suara setelah kini hanya tersisa ia dan Edo saja.


Edo yang tengah menyandarkan punggungnya terlihat menunduk sembari memijat pangkal hidung. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Edo yang merasa paling tak tahu segalanya di sini.


Dedi mulai menceritakan kedatangan Andre dalam kondisi mabuk hingga cerita Andre akan ketidak pantasan dirinya bersanding dengan Hana. Dimana kondisi Hana yang tak seperti ia duga awalnya dan ternyata dialah yang merupakan anak yang sudah ada di rahim sebelum pernikahan orang tuanya.


Edo benar-benar terkejut dengan hal ini. Bisa-bisanya kesalahan di masa itu kini nyatanya menjadi bumerang untuk langkah anak tunggalnya saat ini.


“Saya tidak menyangka kalau semua gara-gara saya…” ujar Edo dengan tatapan tak habis pikirnya. Selama ini ia begiru percaya diri, tapi nyatanya tak begitu dengan sang buah hati.


Dedi jadi tak enak mendengar reaksi Edo setelah beberapa lama keduanya berbicara. “Maafkan kelancangan saya Om.”


Dedi tak segan mengakui kesalahannya. Meski tujuannya baik, tetap saja ia sudah bertindak lancang terhadap Edo sebagai orang tua sahabatnya.


Edo menggeleng. “Jika bukan karena kamu bisa-bisa anak saya salah langkah lagi. Dan saya pun tak menyadari bahwa ada andil saya di dalamnya,” jelas Edo yang meski kecut berusaha tertawa.

__ADS_1


Dedi sedikit merasa lega mendengar hal ini. Meski rasa tak enak tak sepenuhnya sirna. Ia juga tak membayangkan jika tadi Andre tak termakan pancingannya. Sulit membayangkan jika ia harus menikah dengan Hana sementara di dalam hatinya masih menyimpan sosok nama wanita.


“Tapi yang membuat saya penasaran, jika Andre tak segera bertindak, apa benar kamu akan melamar Hana?” tanya Edo mencari tahu rasa penasarannya.


Dedi menggaruk tengkuknya kala gugup tiba-tiba menyergap. Dalam hati ia tengah merisaukan hal ini, ternyata secara langsung Edo malah menyanyakannya juga.


“Saya bukan orang yang well planed Om. Kalau tadi Andre tak bertindak, saya menganggap itu lah takdir yang harus saya terima,” jelas Dedi dengan gaya tenang khas dirinya.


“Saya pasrah dengan ketentuan Allah, karena sudah terlalu banyak takdir di luar perkiraan saya yang secara nyata saya terima. Bahkan saya tak pernah membayangkan akan punya kehidupan seperti sekarang. Semua ini terjadi di luar nalar saya sebagai manusia. Jadi kemutlakan Allah memang nyata dalam keyakinan saya.”


Edo menggut-manggut mendengar ucapan Dedi. Antara kagum dengan pemikiran pemuda ini dan fakta dirinya masih sulit menerima alasan dibalik kerumitan yang diterima anaknya.


Edo menepuk pundak Dedi. “Jika orang tuamu masih ada, mereka akan bangga punya anak seperti kamu.”


“Om terlalu memuji,” balas Dedi tak enak hati. Karena ia sebenarnya juga punya banyak kekurangan. Hanya saja orang lain tak tahu.


“Dika sedang menantikan kelahiran buah hatinya, Andre juga sudah yakin untuk melangkah lebih lanjut dengan Hana, lantas apa kamu tak mau berfikir untuk segera menemukan pasangan?” tanya Edo dengan hati-hati. Karena Dedi sedikit berbeda dengan Andre dan Dika yang akan mudah diajak bercanda.


Edo juga tahu kisah masa lalu Dedi dengan anak sahabatnya, namun ia bukan papa rumpi yang membicarakan sesuatu hanya berdasarkan spekulasi.


Dedi tersenyum simpul. Sepertinya ia enggan menanggapi pertanyaan ini.


Sudah tahu Dedi enggan menanggapi, tapi masih saja Edo bertanya lagi.


Namun kali ini respon Dedi cepat sekali. Kepalanya seketika menggeleng begitu ditanyai.


Jelas respon ini membuat Edo tertawa geli. Ditambah wajah Dedi yang nampak panik saat ini.


“Om hanya menyarankan, setinggi apa pun karir yang kamu titi, keberadaan pasangan itu sangat berarti. Kamu akan lebih nyaman karena punya tempat untuk pulang. Kamu akan lebih bersemangat karena akan ada yang kamu perjuankan. Dan satu hal yang paling penting, memiliki pasangan adalah ibadah terpanjang kita sebagai umat islam,” ujar Edo menasehati.


Dedi merenungkan setiap kata yang baru saja Edo ucapkan. Ada benarnya dan memang itu benar adanya. Namun sayang, dia merasa tak cukup memiliki kepantasan untuk meraih insan yang masih belum tergantikan di dalam lubuk hatinya yang  paling dalam. Sehingga ia kembali pada pendiriannya, membiarkan Tuhan memainkan perannya untuk menyatukan Dedi dengan pasangan yang memang ditakdirkan menjadi jodohnya.


“Kamu ada rencana apa setelah ini?” tanya Edo setelah keduanya terdiam beberapa saat lamanya.


“Saya akan pulang Om. Rencana saya sebenarnya hari ini ingin istirahat setelah hempir seminggu saya hampir tak ada waktu untuk tidur dalam posisi berbaring nyaman,” jujur Dedi.


Edo tersenyum mendengar penuturan pemuda ini. “Jangan terlalu diforsir. Kasian tubuh mudamu ini.”


Setelah kembali sedikit berbasa-basi, Dedi dan Edo akhirnya memisahkan diri. Keduanya pulang ke kediaman masing-masing untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan esok hari.

__ADS_1


***


“Pakai EO saja Nak, kalau mempersiapkan sendiri mana bisa kalau kamu maunya serba cepat seperti ini.”


“Tapi aku nggak mau asal-asalan Ma. Meskipun ini hanya lamaran, tapi ada banyak hal bertolak belakang yang akhirnya disatukan dalam acara ini.”


“Papa paham maksudmu. Tapi mana mungkin kamu mau menangani urusan ini. Kapan waktunya, sedangkan di kantor sementara tak ada Dika.”


Andre terdiam. Iya juga.


Saat Ini Andre sedang bersama kedua orang tuanya membahas tentang rencapa pertunangannya dengan Hana. Bagaimana pun cakapnya dia, untuk hal yang satu ini ia sama sekali belum memiliki pengalaman menghadapi.


“Apa sebaiknya rencana ini di tunda saja?” ujar Andre penuh ragu di setiap ucapannya.


“Galih pasti tak berkenan jika acara untuk putrinya dilaksanakan secara ringkas dan sederhana,” lanjut Edo yang setuju dengan ujaran putranya.


Tiga orang yang saling berhadapan dengan banyak makanan yang taracuhkan itu kemudian diam. Nyawanya sedang berkelana kemana-mana memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan dan konsekuensi apa yang mungkin diterima setelahnya.


“Kalau langsung nikah aja mungkin nggak ya?” gumam Heni.


“Ya nggak mungkin Mamaaaa…” tolak Andre dengan kerasnya. Ia sempat memandangi kedua orang tuanya bergantian sebelum dengan pelan mulutnya bergumam. “Bisa dikira nikah dadakan karena hamil lagi,” ujarnya dengan begitu pelan.


Meski Andre sudah berusaha cari aman, namun suara pelannya masih dapat didengar kedua orang tuanya. Alhasilnya ia dihadiahkan tatapan yang begitu tajam dari mereka.


“Andre nggak maksud nyindir papa mama ya,” ujarnya dengan wajah tanpa dosa, namun dengan posisi telah bersiaga.


“Andre Wigunaaaa....”


“Andre berangkaatt...!!!”


Segera Andre melompat dan berlari seketika. Ia meninggalkan ruang makan tempat ia dan kedua orang tuanya bicara. Ia harus segera kabur sebelum garpu di tangan mamanya membuat ia terluka.


“Tuh Mas lihat. Kamu sih pake acara kasih tahu masa lalu kita. Jadi kurang ajar kan dia,” omel Heni dengan bersungut sungut pada suaminya. Ia yang sempat bangkit pun duduk kembali dengan garpu yang ia genggam erat di tangannya.


“Ya habis gimana? Sudah terlanjur nurun juga,” jawab Edo sambil mengaruk tengkuknya yang tak gatal.


“MAAASSSSSSSS!!!”


Edo yang tak sempat menutup telinga hanya mampu memejamkan mata. Berharap dengan demikian akan meredam suara sang istri yang menggelegar dan siap memecahkan gendang telinga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2