
Hai, hai.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
HAPPY READING
“Kamu mau minum apa?” tawar Dika begitu Melvin duduk di sofa ruangannya.
“Kamu punya apa?”
“Apa pun, kecuali alcohol,” jawab Dika santai.
“Yah, nggak asik lu Bos.”
“Stop kebiasaan minum alcohol kamu. Paham kan kalau itu nggak baik untuk kesehatan,” ujar Dika.
“Bukan pecandu juga kali bos, cuma sesekali nggak masalah kan ya,” kilah Melvin.
Mereka mulai berbincang, membicarakan tentang pribadi mereka masing-masing. Menceritakan apa saja yang bisa dibagi dan apapun sembari menunggu kopi datang.
“Terimakasih…,” ujar Melvin saat seorang OG mengantarkan kopi.
Dika geleng kepala melihat kelakuan Melvin. “Dasar buaya. OB saja kamu goda,” ujar Dika saat OG tadi keluar dari ruangannya.
“Aku bukan lagi menggoda Bos, aku hanya ingin menyampaikan rasa terimakasih. Tak salah kan.”
“Ya salah lah, karena ini adalah tugas mereka. Aku menggaji mereka untuk mengerjakan hal-hal seperti ini.”
“Iya, iya. Detail sekali penjelasan anda. Saya juga kesini karena telah anda bayar untuk melakukan misi. Terimakasih anda telah membiarkan saya menerima dua kali gaji untuk melakukan satu misi.”
Dika tertawa dengan ucapan Melvin yang sok formal ini. “Ayo diminum.”
Setelah acara basi-basi dan minum kopi, tibalah saatnya kedua pria dewasa ini membicarakan inti permasalahan yang mempertemukan mereka saat ini. Melvin mengeluarkan flasdisk dan menghubungkannya ke laptop Dika. Ia segera membuka beberapa file dan memunjukkan beberapa data pada bosnya.
“Kamu yakin dia benar orang yang kalian terjunkan ke jurang saat peresmian gallery perhiasan tempo hari?” tanya Melvin pada Dika.
“Aku yakin. Meskipun penampilannya sedikit berubah, tapi aku yakin ia orang yang sama. Mungkin Rina dan beberapa orang akan terkecoh, tapi aku tidak.”
"Aku setuju dalam hal ini, tapi sepertinya wanita ini tak seburuk yang kamu kira."
"Dia memang tidak buruk Vin, bahkan cukup menarik. Tapi dia sangat berbahaya."
Dika mengamati setiap data yang Melvin tunjukkan.
“Tapi sepertinya dia benar-benar takhluk dengan Andre.”
“Kamu salah Melvin. Andre yang takhluk sama dia,” ujar Dika dengan wajah seriusnya.
Saat ini Melvin tengah berdiri dengan tangan bersedekap dada di samping Dika yang tengah serius di kursi kebesarannya. Ia melihat bagaimana Dika memeriksa setiap data yang ia berikan dengan teliti. Ia menjelaskan setiap
detail informasi yang tidak Dika mengerti.
“Dari data yang kamu masukkan di sini sepertinya Hana bukan wanita ular yang menyeramkan. Ia bagai peri yang baik hati dan ditindas dengan keji oleh Andre,” ujar Dika menyampaikan komentarnya.
__ADS_1
“Ya emang gitu hasil yang aku dapat Bos,” kesal Melvin yang diragukan keakurasiannya.
“Tapi tidak mungkin persis seperti ini. Pasti kamu sudah missing informasi,” kekeh Dika.
“Tidak. Percayalah. Bukankah selama ini akurasi dari setiap informasi yang aku berikan cukup tinggi.” Melvin masih mempertahankan kredibilitasnya.
“Iya biasanya. Tapi aku yakin sekali ini ada yang salah. Ini pasti salah Vin. Hana itu tak lemah. Dia cerdik, ambisius, keras, pandai menguasai keadaan, kemampuan berbicaranya juga lumayan,” kekeh Dika.
“Ya mungkin saja Andre sudah bisa merubah dia.” Melvin coba mengalah.
“Bukan Hana yang dirubah tapi Andrenya yang berubah,” kekeh Dika.
Meski pun kemampuan berbicara Melvin cukup baik, tapi pasti tak akan menang saat harus mendebat pengusaha muda ini. Karena kemampuan berbicara Melvin sudah digunakan untuk merayu wanita cantik yang ia temui.
“Istri kamu kemana Bos?” tanya Melvin.
“Kenapa kamu menanyakan istri saya? Bukan kah itu bukan bagian dari kerjasama kita?”
Melvin pilih meninggalkan Dika. Ia berjalan ke sofa dan duduk dengan santai di sana. Saat itu juga pintu tiba-tiba terbuka.
Klek!
Seketika Dika menutup laptopnya.
“Loh, ada tamu. Sudah lama Melvin?” sapa Rina yang muncul dari balik pintu.
Rina menyalami Melvin dan duduk di sofa tak jauh dari laki-laki ini.
“Sudah cukup lama,” jawab Melvin setelah selesai berjabatan tangan dengan Rina.
“Rista kemana?” tanya Dika pada istrinya yang tadi pergi untuk menemani Rista jalan-jalan.
“Dia langsung balik ke asrama,” jawab Rina.
“Ck. Dasar bocah. Memangnya dia nggak kangen apa sama kakaknya.”
Rina tertawa kecil melihat kekecewaan suaminya. “Maaf ya…” ujar Rina tiba-tiba.
“Buat?” tanya Dika tak paham.
“Buat aku yang bohong sama kamu.”
Dika mengernyit. Katanya berbohong, tapi kenapa wajahnya biasa saja. Bahkan masih sempat tersenyum seperti itu.
“Kebohongan apa yang sudah kamu buat?” tanya Dika dengan menatap istrinya.
Rina memainkan jarinya. “Sebenarnya Rista tidak datang menemuiku.”
Dika terkejut bukan main setelah mendengar penuturan istrinya. “Jadi kamu bertemu dengan siapa?” suara Dika terdengar berbeda. Melvin yang berada di sana pun tak berani ikut bersuara.
“Emm.” Rina menggeleng.
“Bicara yang jelas Rina Malinda. Atau kamu sengaja ingin aku marah.”
__ADS_1
Rina mengangkat wajahnya dan menatap wajah marah suaminya.
“Aku bener-bener pengen makan es krim, jadi aku tadi ke kedai es krim yang ada di dekat rumah nenek.”
Dika menepuk dahinya. “Astaga Rina. Bukankah aku sudah bilang akan mengajakmu akhir pekan ini?”
“Iya aku tahu, tapi aku sudah nggak tahan. Lagi pula aku juga ingin mempelajari berbagai rasa es krim demi menemukan formula es krim yang terbaik yang akan perusahaan kita luncurkan.” Rina berusaha mencari alasan yang masuk akal. ia sendiri tak paham kenapa dirinya begitu ingin makan es krim di tempat itu.
“Ya tapi kamu jangan kabur-kaburan gini. Bagaimana kalau tadi sampai terjadi apa-apa,” kesal Dika.
“Tapi buktinya aku nggak apa-apa kan?”
“Tapi bahaya sayang.”
Rina beringsut menghampiri Dika. Dia mengamit lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di sana. “Maafin aku ya.”
“Nggak.”
Rina mengangkat kepalanya. “Kok gitu?”
“Iya. Karena kalau aku maafin kamu bakal ngulangin lagi.”
“Ihh, enggak sayang.” Rina menggoyang-goyangkan lengan suaminya. “Janji,” lanjutnya lagi.
Dika menarik lengan yang dipegangi Rina dan segera merangkul istri mungilnya.
“Ehm, ehm. Drama rumah tangganya sudah selesai kan?” sela Melvin yang merasa jadi manusia yang tak dianggap di sana.
“Urusan kita sudah selesai. Siapa suruh kamu masih di sini dan tak segera pergi.”
Ucapan Dika berhasil membuat Melvin kesal karena selain itu ia juga berbicara tanpa sedikitpun menatap yang sedang diajak bicara. “Ck. Untung kaya, kalau enggak sudah…” Melvin tak menemukan kata yang tepat. Ia memilih bangkit dan ingin segera pergi dari sana.
“Bicara yang baik sebelum pergi.”
Melvin menatap malas laki-laki yang usianya bahkan lebih muda darinya ini. Dia kaya dan sudah punya istri, sedangkan dia masih melajang walaupun juga punya banyak uang.
“Sudah aku mintai bayaran,” ujar Melvin sekenanya sambil memamerkan senyum di wajahnya.
Dika meraih ponselnya. Ia mengotak-atiknya sebentar sebelum kembali meletakkannya.
“Sudah saya transfer uang bensin untuk kedatanganmu kali ini. Sekarang silahkan pergi.”
Melvin segera menarik ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Ternyata benar, notifikasi masuknya sejumlah uang rekeningnya lah yang membuat ponselnya bergetar. “Makasih Pak Restu.” Melvin mengambil flashdisknya dari laptop Dika
dan segera pergi meninggalkan sejoli yang sering membuatnya iri ini.
“Sayang…”
“Hmm.”
“Maafin aku ya,” pinta Rina tulus.
“Jangan diulangi lagi.”
__ADS_1
Rina mengangguk dan memeluk suaminya.
Bersambung…