Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Drama Romance


__ADS_3

HAPPY READING


Andre mencium tangan Hana sebelum menggenggam erat dengan kedua tangannya


Aduh emak. Kenapa mereka main mesra-mesraan di depan Risma sih. Nggak tahu apa yang di sini pengen juga. 


Tentunya tak ada suara semacam itu yang didengar kedua pasangan yang saling mencinta ini, karena Risma hanya meratap di dalam hati.


“Yang dibilang Dian benar. Aku dulu sempat kena lambung sewaktu SMA, karena aku harus bekerja keras menyesuaikan kurikulum karena sebelum kelas 3 aku sekolah di Singapura.”


“Lalu?” tanya Hana penasaran.


“Kamu yang sembuhin aku?”


“Kok bisa?” kaget Hana.


“Selama dua bulan kita hidup bersama, kamu berhasil membuat moodku benar-benar baik. Itu lah yang membantu aku sembuh.”


Risma menggigit bibirnya untuk meredam keterkejutan yang ia rasa. Apa?! Hidup bersama ini maksudnya apa sih? Kumpul kebo kah? Aduh, masa iya tapi. Risma hanya mampu meracau dalam hati, karena untuk bertanya langsung dia mana berani.


“Apa hubungan mood dengan kesembuhanmu?” tanya Hana lagi.


“Karena lambung ini adalah penyakit lama, aku bahkan menderita vertigo sebagai penyakit penyerta.”


“Itu terus cara aku nyembuhinnya gimana? Aku bahkan nggak tahu kalau kamu sakit...” Hana masih penasaran, karena ia benar-benar baru dengar sekarang.


Andre menggunakan sebelah tangannya untuk menyentuh wajah Hana. “Karena saat ada kamu, aku tak pernah lagi melewatkan sarapan. Kamu nggak lupa kan kalau setiap hari kamu memasak untukku? Tak hanya pagi, malam pun kamu selalu menyediakan makanan meski awalnya jarang aku makan.”


Semua terdiam.


“Saat aku masih sendiri, aku selalu melewatkan sarapan kecuali saat di rumah mama, dan hampir selalu melewatkan makan malam juga jika tak ada jamuan saat pertemuan bisnis dan semacamnya.”


“Siang pun aku tak selalu makan, dan kalau pun makan, yang masuk adalah junk food dan apa pun yang aku anggap praktis. Beda cerita kalau tiba-tiba Rina mengantar makanan untuk Dika. Saat seperti itu barulah aku makan siang dengan menu yang manusiawi dan dibutuhkan badan.”


Risma mengernyit mendengar nama wanita yang baru saja


Andre sebutkan. *Aduh emak. Aku kok pusing. Mereka ini pernah menikah apa gimana sih? Dan siapa lagi Rina ini. *Sepertinya aku tak asing dengan nama ini , tapi siapa? ujar Risma membatin.


“Oh iya. Dulu sering ada gofood yang mengantarkan makanan buat kamu, sepertinya mcd ya?” tanya Hana memastikan saat ia ingat sedikit kebiasaan Andre saat ia masih menjadi stafnya.


“Nah itu ingat.”


“Terus kenapa sekarang bisa kambuh?”


“Apa aku harus menjawabnya?” Andre balik bertanya setelah sebelumnya kembali mencium tangan Hana.


Hana sama sekali tak bersuara. Ia masih menatap lekat pria yang amat dicintainya ini.


“Karena saat kamu tak ada, hidupku kacau. Bahkan lebih kacau dari sebelumnya. Yang anda dipikiranku hanya bekerja dan menemukan keberadaanmu, sehingga makan tak pernah ada dalam agendaku. Saat mama memintaku untuk mengajukan cuti, aku malah makin stress dan kondisi kesehatanku menurun karena diam di rumah semakin kalut mikirin kamu,” ujar Andre sambil mencubit hidung mancung Hana.


“Maafkan aku…” ujar Hana penuh sesal.

__ADS_1


Dengan sekali tarik, Andre berhasil membawa Hana ke dalam pelukannya. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan mendaratkan ciuman di puncak kepala Hana.


“Kawin, kawin, kawin, aw, aw, aw… Kok demen banget


nyubit sih kamu!” protes Ken pada Dian.


“Ya habis siapa suruh punya mulut lemes banget,” kesal Dian.


Spontan Andre dan Hana melepaskan pelukannya dan tertawa melihat kepecahan pasangan Ken dan Dian ini. Hana yang semula merasa terharu bahkan harus dibuat mengusap setitik air di sudut matanya dengan mulut menganga karena tertawa. Sementara Risma hanya bisa garuk-garuk kepala karena terasa seperti sedang menyaksikan drama romance di dunia nyata.


“Udah deh, mending kalian nikah saja. Kan gampang tuh


kalau kalau mau tinggal bareng lagi, aw!!”


Ken segera menahan kedua tangan Dian dengan sangat erat. “Bekas penganiayaan kamu ini kalau di visum bisa jadi bukti buat jeblosin kamu ke penjara tahu.”


“Memang kamu tega jeblosin aku ke penjara, ha?!”


“Ya kan aku cuma bilang kalau ini di visum bisa jadi bukti dan jeblosin pelakunya ke penjara.”


Andre dan Hana tak henti-hentinya tertawa.


“Ma, sorry ya…” ujar Hana saat ekor matanya tak sengaja melihat Risma yang diam dengan wajah datar sambil menggigit sumpit.


Risma menarik kedua sudut bibirnya lebar membuat seluruh deretan giginya nampak. Ia kemudian menggeleng dengan wajah lucu.


Ditatap Hana yang masih berada dalam eratnya pelukan ANdre membuat Risma salah tingkah sendiri. Ia segera memutus kontak dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mungkin langkah terbaik yang bisa ia lakukan sekarang adalah makan sebanyak-banyaknya, ketimbang terlihat mengenaskan ditengah dua pasangan yang saling uwu gila.


Intruksi Dian langsung diikuti oleh Ken, Andre dan juga Hana. Mereka memang tak lagi membahas bisnis, tapi sesekali masih mengobrol dengan tema ringan dan berupa candaan. Risma pun perlahan masuk dalam obrolan karena Dian  yang pada dasarnya gampang sekali akrab berhasil menyeretnya masuk ke dalam perbincangan mereka.


“Thanks banget ya makan malamnya. Jangan lupa undangannya kalau kalian mau meresmikan pernikahan,” ujar Hana setelah Andre berpamitan.


“Oke lah, jangan lupa untuk menyiapkan kado mulai sekarang, aw, Diaaannn. Sabar dikit lah sayang, sebenar lagi  mereka juga pul, aw, aw, aw!!!” Ken berusaha melindungi tubuhnya yang terus dihajar oleh Dian secara membabi buta. Sekali lagi Andre, Hana dan Risma dibuat tertawa dengan kelaukan pasutri yang selalu rusuh ini.


“Ndre, Hana juga gini nggak sih?” Tanya ken setelah Dian capek menghajarnya.


“Dia ganasnya kalau cuma berdua…”


Hana hanya bisa melotot saat sadar ternyata Andre sudah memegangi kedua tangannya.


“Ha ha ha…” Ken tertawa bahagia saat melihat wanita ganas yang berhasil ditakhlukkan kaumnya. Dia segera mencium Dian yang sejak tadi sudah dirangkulnya.


Sementara Risma hanya mampu membuang muka bahkan memejamkan mata karena ia yang malu sendiri saat melihat dua pasangan ini tanpa malu mengungkapkan kecintaannya pada pasangannya.


“Ya sudah kami pamit, doakan saya bisa kembali merasakan keganasan Hana…”


Hana hanya pasrah mendengar ucapan Andre yang berhasil membuat wajah hingga telinganya panas. Ia hanya bisa menunduk untuk menyembuhkan wajah yang ia yakini sudah merah sekarang.


Andre membukakan pintu untuk Hana dan ikut masuk setelah menutup pintu untuk wanitanya. Saat Risma juga sudah duduk manis di jok belakang, dan Andre segera membawa mobilnya berjalan.


“Jangan marah dong Han…”

__ADS_1


Hana hanya melihat sekilas wajah Andre sebelum kembali membuang muka.


“Kamu kayak nggak tahu Ken saja. Semua akan jadi gila kalau sudah ngobrol sama dia…”


Andre hendak meraih tangan Hana namun ditepis segera.


“Nyetir yang bener…”


Ckkiiittt!!


Brugh!!


Hana terkejut bukan main saat Andre baru saja ia memperingatkan, ia malah mendadak menginjak pedal remnya dengan tak sabar. Hal ini hingga membuat Risma terpental dan menubruk jok di depannya.


“Andre, kamu kenapa?” panik Hana saat sadar sekarang Andre kambali memegangi perutnya.


“Akh... Aku tadi lupa nggak minum obat sebelum makan…”


“Duh gimana dong…”


Hana melepaskan tangannya dan coba menemukan obat di mobil Andre.


“Obatku habis makanya tadi nggak minum…” ujar Andre masih sambil memegangi perutnya.


Hana langsung menghentikan pergerakan tangannya.


“Han, aku telfon Bayu ya, siapa tahu dia bisa mengantarkan obat untuk Andre,” usul Risma.


“Tapi terlalu jauh jarak yang ditempuh kalau Bayu harus


ke sini...” ujar Hana sebelum melepas seatbeltnya. Ia segera berlari memutar dan membuka pintu di sebelah Andre.


“Kamu kuat geser?” tanya Hana kemudian.


Andre mengangguk dan dengan gerakan cepat Hana membantunya melepaskan seatbelt. Dan dia bergeser dengan dibantu Hana. Setelah berhasil Hana segera masuk dan mengambil alih kemudi.


“Kamu mau ngapain Han?” Tanya Risma yang hanya menyaksikan dari belakang.


“Aku mau cari apotik, klinik atau apapun,” jawab Hana sambil memasang seatbelt untuk Andre kemudian pada tubuhnya sendiri.


“Eh, eh, eh. Kok duduk di situ, kamu mau apa?” panik Risma yang tak tahu kalau Hana bisa menyetir mobil.


“Kalau nggak duduk sini duduk mana Ma. Ya kali aku jalan kaki ke apotik yang aku nggak tahu dimana lokasinya.”


“Emang kamu bisa nyetir…?”


“Kamu tenang ya…”


Hana rasa meladeni Risma bukan lah pilihan yang tepat sekarang, karena kondisi Andre yang lebih mengkhawatirkan.


Ditengah sakitnya, Andre masih bisa merasakan bahagia. Meskipun ia belum siap jika harus mati sekarang, namun setidaknya ada Hana saat ia seperti ini.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2