
^^^Visual dalam sebuah cerita itu penting nggak sih?^^^
^^^-Happy reading-^^^
Dedi berusaha membersihkan semburan nasi goreng yang mengenai seragamnya.
"Dedi kan cowok Ris..."
"Apa bedanya sama Kakak?" Rista melayangkan tanya pada Dika.
"Ini pada bahas apaan sih?" Dedi menyela perdebatan kakak beradik ini.
"Kakak kan mau olimpiade hari ini," jawab Rista.
"Terus hubungannya sama aku apa?" tanya Dedi yang melanjutkan acara numpang makannya.
"Aku tadi pengen minta pendapat kamu, bocah ini enaknya di kemanain? Nggak mungkin aku ajak soalnya."
"Napa nggak di Rina aja," usul Dedi.
"Aku kira awalnya iya...?" jawab Rista.
"Akhirnya?"
"Enggak..."
Dedi dan Rista tertawa bersama. Rista masih terus tertawa, hingga tak sadar Dedi tengah mengamatinya. Kenapa dunia kita begitu berbeda, Rista. Apakah aku boleh membiarkan rasa ini ada?
"Ehm..."
Spontan Dedi dan Rista menatap Dika.
"Kayaknya aku emang cuma kamu yang bisa aku andalkan saat ini." Dika menatap tatapan Dedi dengan serius.
"Hahaha, ha, ha, ha...." tawa Dedi berangsur hilang kala Dika masih mempertahankan tatapan seriusnya. "Ini bercanda doang kan?" tanya Dedi pada Rista yang diam saja.
"Aku ngikut aja lah. Emang Kak Dedi nggak mau ya?"
"Ya nggak gitu." Dedi mendadak canggung. Aku suka lupa kalau kamu masih kecil Ta.
"Ya udah, Rista juga mau kok ditemenin Kakak malam ini...."
"Oke, nitip ya Ded..." Dika menepuk bahu Dedi dan ketiganya pun melanjutkan sarapan dalam diam.
Tiba waktunya berangkat sekolah, ketiganya sudah bersiap di depan rumah.
"Bawa ini aja ya," Dika melemparkan kunci mobilnya pada Dedi.
"Pake gra*. Tuh udah di depan." Dika berjalan mendekati Rista. "Kakak berangkat dulu ya, nurut sama Kak Dedi." Dika mencium puncak kepala sang adik kemudian berjalan dengan membawa perlengkapannya.
Dika beberapa kali melirik ponselnya yang sengaja dia setting mode diam. Sekilas nampak beberapa pesan masuk dan jejak panggilan yang ia yakini ada Rina di dalamnya. "Maaf Rin, aku belum bisa ngobrol sama kamu." Dika kemudiannya mengantongi ponsel itu dan mempercepat langkahnya.
"Yuk berangkat."
Rista langsung memasuki mobil kakaknya. Perlahan mobil itu berjalan meninggalkan pelataran rumah Dika yang luas.
"Kakak kan pinter, kok nggak ikut lomba kayak Kak Dika?" tanya Rista. Pasalnya belum lama ini Rista tahu kalau Dedi masuk di sekolah tersebut karena biasiswa.
"Ya kan otakku ada batesnya juga Ta. Aku juga lagi persiapan CTF tingkat pelajar nasional ini," jawab Dedi di balik kursi kemudi.
__ADS_1
"CTF, apa itu Kak?"
"Apa ya, ya kompetisi keamanan cyber lah."
"Emang ada kompetisi kayak gitu?"
"Ada lah, buktinya ini calon perwakilan sekolah lagi siap-siap."
"Iya, ya." Rista hanya dapat memamerkan deretan gigi rapinya, kemudian dia segera bersandar dan memandang lurus ke depan.
Dedi terkekeh dan mengusap puncak kepala Rista. "Rista kalau gede pengen jadi apa?"
Rista menatap Dedi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Rista nggak tahu."
"Kok nggak tahu?" tanya Dedi.
"Rista nggak sepinter Kak Dika, dia bisa ngelakuin apa aja. Tapi Rista enggak. Rista nggak bisa apa-apa selain nyusahin orang."
Dedi meraih tangan gadis kecil di sampingnya dan di genggamannya erat. "Jangan gitu. Kemampuan tiap orang itu nggak sama. Aku yakin Rista punya keistimewaan yang tak dimiliki orang lain."
"Tapi aku ngerasa nggak punya."
"Tapi aku yakin."
Sekilas pandangan mereka beradu, sebelum akhirnya Dedi fokus menatap jalanan.
Tak lama berselang Rista pun tiba di sekolahnya.
"Rista masuk ya." Namun setelah melepas seat belt, Rista tak langsung keluar dan justru mendekatkan wajahnya pada Dedi.
Dedi mundur hingga punggungnya terpentok pintu. "Mau ngapain?"
Dedi mendesah frustasi. Dia kemudian meraih kepala Rista dan mendaratkan sebuah kecupan di kening. Maafin aku, aku menyayangimu sebagai wanita, bukan adik seperti yang kamu mau. Perlahan Dedi melepaskan kecupan itu.
Cup
Begitu cepat namun membuat jantung Dedi nyaris melompat dari tempatnya.
"Rista berangkat Kaka..." Rista segera keluar dari mobil dan sempat melambaikan tangan sebelum berjalan memasuki gerbang dengan riang.
Dedi menatap kepergian gadis itu dengan perasaan campur aduk. Bahkan hingga Rista menghilang, bekas bibirnya masih terasa di pipi Dedi.
"Aarrgggg!!!"
Dedi mengacak rambutnya. "Bisa gila aku kalau gini terus!"
Cepat-cepat Dedi menyalakan mobil dan melesat menuju sekolahnya sebelum ia benar-benar terlambat.
***
"Galau lagi..."
Nita yang baru saja memasuki ruang kelasnya sudah di sambut dengan wajah Rina yang di tekuk berlipat-lipat.
Rina hanya menatap dengan malas sebelum akhirnya kembali menelungkupkan wajahnya di tangan yang terlipat di atas meja.
"Napa lagi sih, hmm...?" tanya Nita setelah duduk di bangkunya. "Rio lagi?"
Rina mengangkat wajahnya dan menggeleng. "Dika nggak ngangkat telpon, Wa juga nggak di read." Rina kembali menelungkupkan wajahnya.
__ADS_1
"Kalian bertengkar lagi. Atau mungkin dia sempet bilang apa gitu?"
Rina nampak berfikir. "Iya sih, dia kemarin bilang kalau dalam beberapa hari ini bakal sibuk, tapi masak iya cuma ngangkat telfon dan bilang aku sibuk atau apa gitu nggak bisa."
Nita menghela nafas. "Gini nih, umur doang yang nambah tapi pikirannya masih bocah."
"Maksud kamu?"
"Ya kan mungkin doi lagi benar-benar nggak bisa pegang hp karena tugas sekolah mungkin, atau kamu nggak inget penampilan Dika kemarin...?"
Rina mengangguk.
"Terus kemarin ngobrolin apa, Dika nggak cerita apa gitu sama kamu selama nganter kamu pulang?"
"Emm, aku udah jujur masalah Rio. Atau jangan-jangan, hwaaaa...." Dika ninggalin gue karena kelakuan gue sama Rio.
"Emang respon Dika gimana?" tanya Nita.
"Katanya dia nggak masalah. Tapi kok ngilang, hwwaaaaaa....!!!"
"Sstt, udah diem. Jangan bikin malu gue."
"Tapi sakit di sini."
"Salah elu."
"Tapi aku udah jujur, udah minta maaf, udah semua-mua deh."
"Tapi sikap kamu juga diubah dong Rin."
"Sikap yang gimana?" tanya Rina sungguh-sungguh.
"Sikap kamu yang suka menyimpulkan sesuatu yang belum jelas." Nita bangkit setelah menyelesaikan ucapannya.
Rina diam merenung. Aku terlalu banyak menuntut tapi aku memperbaiki diri. Ia menatap punggung Nita yang bergerak menjauh.
"Rina....! Dicariin nih."
Suara Tyas berhasil membuat moodnya kian berantakan. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu dengan malas.
"Siapa yang...." Rina tak melanjutkan ucapannya saat sosok pria yang cukup dihindarinya kini tengah berdiri di hadapannya.
Rio menatap Rina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu pengen dapat pengakuan kan?" tanya Rio tiba-tiba.
Rina menggeleng. Sementara itu Tyas masih berdiri di tempat dengan memainkan rambut panjangnya.
Tanpa aba-aba Rio menarik Rina dan membawanya ke salah satu ruang yang kini nampak kosong. Saking terkejutnya, Rina bahkan tak sempat berteriak minta tolong. Begitu Rio menutup pintu, Rina baru sadar kalau di sana sudah ada Indah yang tengah bersandar pada sisi tembok.
"Mas..." lirih Rio dengan suara bergetar. Dia melihat sekilas wanita di hadapannya ini. Rina ingat betul ucapan wanita itu yang akan menghancurkan wanita yang membuat Rio jauh darinya. (lihat episode 'Takut').
Rina tersudut. Rio dan Indah memenjarakannya dalam sudut ruangan.
"Yo, kamu bisa tinggalin dia sama aku."
Rio menatap tajam Indah. "Baik. Tapi ingat satu hal, jangan pernah main-main sama aku."
Rio menatap Rina dan Indah secara bergantian. Dia kemudian berjalan menuju pintu dan menghilang di sana.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya sayang.