
HAPPY READING
Dua pria ini merasa sama-sama sudah tak sanggup lebih lama menahan gejolak dari dalam dirinya. Namun sayang, saat rasa itu sudah siap terungkapkan, taxi yang mereka pesan justru tiba dan merusak momen yang ada.
Risma juga jadi dag dig dug sekarang, karena merasa atmosfir yang ada jadi tak nyaman baginya. Ia makin dilema kalabenar-benar merasa tak punya clue tentang apa yang terjadi pada kedua temannya.
Ketiganya pun pulang dalam diam hingga tanpa terasa mereka tiba di tempat tujuan.
“Aku duluan ya…” Risma ingin segera meninggalkan kedua rekan laki-lakinya sebelum langkahnya tertahan secara tiba-tiba. Dari kiri Lutfi menahan bahunya dan dari kana Bayu menahan pergelangan tangannya.
“Apa kamu masih ada perlu dengan Risma?” tanya Lutfi
pada Bayu yang melakukan hal yang sama dengan dirinya.
“Apa kamu juga?” bukannya menjawab Bayu justru balik
bertanya.
Risma menunduk, sesekali ia mencuri pandang ke arah kedua pria ini secara bergantian. Mereka pada kenapa sih. Berasa jadi buronan tahu nggak. Dalam rangka apa coba, mana mungkin mau menyatakan cinta. Risma tertawa kecil dengan pikirannya.
Seditik kemudian Risma mengemas senyumnya. Ah, mana mungkin mereka suka sama aku. Secara mereka berdua biasa dikelilingi para wanita yang lebih dari aku. Batin Risma mencoba menjaga stabilitas hatinya agar tak oleh oleng oleh rasa percaya diri yang terlalu tinggi.
Saking sibuknya bermonolog dalam kepala, Risma hingga tak sadar jika Bayu dan Lutfi kini sudah tak lagi memeganginya. Dan saat kesadarannya kembali, Risma kembali dikejutkan dengan adanya pemandangan dua pemuda yang nampak menjulang di hadapannya saling berhadapan dan menatap tajam.
“Pada mau ngapain sih?” tanya Risma sembari menatap kedua pria ini bergantian.
Kedua sempat memutus kontak dan menatap Risma sekilas sebelum kembali saling bertemu tatap.
Tuhan. Kalau mereka sehati, aku akan berusaha rela. Setelah membulatkan tekat dalam hatinya, Lutfi perlahan menggerakkan kepalanya. Ia mengangguk mempersilahkan Bayu untuk terlebih dahulu berbicara. Ia adalah pria, jadi sepertinya ia tahu apa yang ingin Bayu sampaikan pada Risma.
“Risma.”
Tubuh Risma menegang. Ia tak tahu harus tegang untuk apa, yang jelas atmosfir saat ini sangat tak nyaman. Ia menelan ludahnya susah payah, karena meski dengan jelas Bayu menyebut namanya, namun yang kini ditatap Bayu bukanlah dirinya melainkan Lutfi yang kali ini juga nampak tak biasa.
Lutfi memilih untuk memutus kontaknya dengan Bayu secara sepihak. Ia juga enggan menatap Risma juga, sehingga ia lebih memilih untuk membuang tatapannya ke sembarang arah.
__ADS_1
Bayu tak buta. Ia juga telah curiga bahwa sebenarnya Lutfi juga ada rasa, pada wanita tangguh di hadapan mereka. Namun keberadaan Hana sempat membuat Bayu percaya diri bahwa ia tak ada saingan lagi, sehingga ia terlena dan tak lekas mengungkap perasaannya pada Risma.
“Aku sayang sama kamu…” Akhirnya Lutfi berhasil mengungkapkan perasaannya. Perasaan yang sudah lama ada dan ia biarkan menjadi rahasia.
Risma hanya mampu mengerjap. Ini pasti salah. Ini pasti hanya halusinasiku. Risma masih berusaha untuk tak melayang. Pasalnya ia merasa bukanlah tipe wanita yang akan mudah mendapat pasangan. Selain karena tampangnya yang pas-pasan, tubuh yang mengembang dan kurang tinggi badan, serta latar belakang keluarga yang tak jelas asal-usulnya pasti akan membuat pria berfikir dua kali untuk menjalani hubungan dengannya.
“Tck… mentang-mentang Hana sudah bawa gandengan, jangan kemudian jadiin aku pelarian,” balas Risma yang berusaha menafikan apa yang baru saja Bayu ucapkan. Ia tak mau dibuat malu jika terlalu serius menanggapinya, tapi ternyata Bayu hanya mengerjainya.
Lutfi yang sebelumnya sudah mengendurkan urat, kini ototnya mulai tertarik lagi. “Aku nggak akan rela kalau sampai kamu seperti itu dengan Risma,” lanjutnya dengan tangan sudah terkepal.
Risma cukup terkejut dengan reaksi Lutfi, namun ia tak mau terlalu percaya diri.
“Ya udah kamu masuk. Aku tahu Hana memang nyaris sempurna, tapi kalian harus bisa menerima kenyataan.”
Baru saja hendak berbalik namun Risma merasa tubuhnya kembali di tahan. “Apa lagi sih…”
Jika tadi ada dua tangan yang menahannya, kini hanya ada satu dan itu adalah Lutfi yang menjadi pelaku.
“Aku tadi sebenarnya sudah ingin menyerah jika Bayu kamu terima, tapi sepertinya aku masih punya kesempatan,” ujar Lutfi sungguh-sungguh.
Lutfi menarik lembut tangan Risma dan menggenggam dengan kedua tangannya. “Aku ngerasa kalau aku juga masih punya kesempatan.”
“Kesempatan apa. Ngomong yang jelas, jangan setengah-setengah,” ketus Risma yang mulai kehilangan kesabaran. Sebenarnya tak murni ia kehilangan kesabaran, namun ia jadi gugup berada di situasi yang sangat tak biasa seperti ini.
“Aku sayang sama kamu…”
Mendengar apa yang baru saja Lutfi ucapkan pada Risma, kini gikiran Bayu yang membuang muka. Ia masih bertahan di sana, namun sejujurnya ia ingin menghilang saat itu juga. Keduanya punya rasa yang sama dan punya keinginan yang sama untuk memiliki Risma. Namun Bayu sadar, hanya salah satu antara ia dan Lutfi yang mungkin akan Risma terima.
“Kalian lagi ngeprank aku ya. Nggak lucu…” Risma berusaha melepaskan diri, namun Lutfi tak dengan mudah membiarkannya.
Melihat Lutfi yang diam saja membuat Risma yakin jika ia tak aman jika terus berada di sana. Ia harus segera pergi sebelum sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Risma menghempaskan cekalan Lutfi dan berlari menuju kamarnya. Ia segera masuk dan menguncinya dari dalam agar kedua pria tadi tak bisa mengejarnya.
“Kenapa nggak kamu kejar?” tanya Bayu saat melihat Lutfi justru menjatuhkan pantatnya di atas salah satu anak tangga yang dari tadi menjadi pijakannya.
“Kenapa juga kamu nggak ngejar?” Lutfi mendongak dan balik bertanya.
__ADS_1
“Karena aku merasa Risma cenderung lebih menyukai kamu dari pada aku,” jawab Bayu sembari meringis menyimpan kecewa.
Lutfi menghela nafas dan membiarkan Bayu duduk di sampingnya. “Aku bahkan mengira kalau Risma sangat tak ingin bersamaku, makanya ia langsung lari saat baru saja aku menyatakan perasaanku.”
“Ia langsung lari, karena kamu tak menahannya lagi,” balas Bayu.
Keduanya tertawa kecil menertawakan nasibnya.
“Sejak kapan kamu suka sama Risma?” tanya Bayu setelah selesai meredam tawanya.
“Pertanyaan yang sama yang ingin aku tanyakan buat kamu,” timpal Lutfi.
“Kenapa kamu hobi sekali menimpa pertanyaan di atas pertanyaan yang bahkan belum kamu jawab,” sarkas Bayu.
Bayu menghela nafas dan menatap ke atas. “Aku suka dia yang apa adanya, aku suka dia yang pantang menyerah, aku suka dia yang tak takut hidup susah, aku suka dia yang selalu tertawa meski kadang tak tahu besok harus makan apa...” Bayu tertawa kecil membayangkan Risma.
“Bukannya di kampus kamu bisa mendapatkan yang lebih
dari Risma dengan mudah?” lanjut Bayu memastikan.
“Kamu mau ngetes ya?”
Bayu menautkan alisnya. “Bisa dibilang.”
“Tck…” Lutfi berdecak dan tersenyum miring sebagai reaksinya.
“Tapi kamu jangan sampai lengah. Aku masih belum menyerah untuk mendapatkan Risma,” ancam Bayu sebelum bangkit meninggalkan Lutfi yang sepertinya masih ingin bertahan di anak tangga.
“Aku pikir kamu tanya-tanya tadi karena kamu sudah menyerah dan membiarkanku memperjuangkan hati.”
Bayu menahan langkahnya. “Tidak semudah itu,” ujar Bayu tanpa menoleh. Ia lantas melanjutkan langkahnya dan menghilang dibalik pintu seperti Risma beberapa saat lalu.
Di dalam kamar, Risma masih belum dapat mempercayai begitu saja apa yang baru saja terjadi padanya. Ia yakin hal ini terjadi karena kedua teman prianya ini baru saja Hana buat patah hati dengan kemunculannya dengan pria kaya yang mengklaimnya sebagai calon istri. Ia masih duduk termenung sembari menekuk lutut dengan punggung bersandar di daun pintu.
“Oke Risma. Jangan sampai kamu kegeeran ya. Nanti kalau sudah sadar, mereka pasti akan mencabut pernyataan cintanya sama kamu…” ujar Risma pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung…