
HAPPY READING
Buru-buru Ken dan Dian menuju tempat Andre setelah mendengar langsung jika Hana menghilang. Hana hamil, keguguran dan sekarang menghilang benar-benar berhasil membuat pasangan ini merasakan kejutan yang bertubi-tubi.
“Ken, aku benar-benar sudah tak ada perasaan dengan Andre, aku berani bersumpah. Tapi sekarang aku sangat khawatir dengan keadaannya. Dia sahabatku Ken. Aku sudah dekat dengannya sejak masih SMP. Kita…”
Dian membulatkan mata. Dia ingin mendorong Ken, namun kedua lengan pria ini lebih kuat menahan tubuhnya.
“Ih kamu ih…” gerutu Dian saat Ken melepas pagutannya.
“Aku tahu gimana kamu. Aku mengejarmu dalam waktu lama, dan selama aku mengejarmu aku benar-benar tahu bagaimana dirimu.” Ken sempat menyentuh hidung mancung Dian sebelum kembali menyandarkan punggungnya.
Dian mengerucutkan bibirnya untuk menahan kedua sudut yang yang tertarik begitu saja. “Tapi kamu masih marah tadi…”
“Aku cemburu," ujar Ken to the point. "Maaf ya. Kalian pernah saling berbalas perasaan dan butuh waktu lama untuk saling melepaskan. Aku hanya takut kalau sisa rasa itu masih ada…”
“Kamu pikir aku wanita macam apa? Bodoh sekali kalau sampai aku pergi, padahal saku sudah menyerahkan semua...” Dian membuang muka. Bayang-bayang hari panas mereka di tengah dinginnya Beijing muncul begitu saja. Ini sudah sah, tapi ia masih malu kalau mengingat hal ini.
Ken hanya tertawa sembari kembali menginjak pedal gasnya setelah lampu berubah warna.
Baru saja mereka sedang berhenti di lampu merah. Tepat saat mobil berhenti Ken langsung menggunakan kesempatan ini untuk menyambar bibir kekasihnya yang sejak tadi terus mengomel saja.
Di jam malam seperti ini, jalanan memang sedikit sepi, sehingga Ken dapat memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Satu hal yang berbeda dengan dengan kedua orang ini setelah memutuskan sebagai pasangan. Keduanya seakan bertukar peran kini. Ken yang biasanya lebih banyak bicara dan gaduh saat masih berstatus mengejar Dian, kini lebih tenang setelah menjadi suami. Sedangkan Dian yang biasanya jual mahal sekarang lebih pecah seperti ini.
Saat di Beijing, mereka telah melakukan pernikahan di gereja. Orang tua Dian yang semula di ada di Jepang segera bertolak ke negeri tirai bamboo saat mendengar anaknya akan Ken nikahi di sana. Sehingga sekarang mereka merupakan pasangan yang sah meskipun belum diakui secara resmi oleh negara.
“Sayang, beneran nggak apa-apa kalau kamu mengantarku ke tempat Andre sekarang?” tanya Dian memastikan.
“Aku tak mengantarmu, aku juga ke sana bersamamu sekarang.”
Pandangan keduanya sempat beradu, sebelum Ken memutuskan untuk lepas terlebih dahulu karena ia tak boleh lama-lama mengabaikan kondisi jalan. Dian benar-benar meraa beruntung mendapatkan Ken. Ia tak habis pikir kenapa ia bisa mengabaikan pria sebaik ini begitu lama.
“Iya ya…” ujar Dian sebelum melepaskan pandangan dari Ken yang menyetir di sampingnya.
“Sayang, apa pun yang menjadi urusanmu sekarang adalah urusanku juga. Dan begitu sebaliknya. Kamu biasakan ya…”
Dada Dian ingin meledak rasanya. Saat kebahagiaan yang begitu besar menghabiskan seluruh ruang di dadanya.
“Ken…” panggil Dian.
“Hmm…” jawab Ken sambil menatapnya sekilas.
__ADS_1
“Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti ini. Emm, maksudku…”
Ken menghela nafas. “Aku sudah membayangkan sejak lama bisa seperti ini denganmu. Jadi sekarang aku tinggal merealisasikannya.”
Dian mencebik.
“Bibir kamu kenapa?”
“Ya kamu ngomong gitu karena aku sekarang ada di samping kamu. Aku yakin kalau bukan aku pun kamu akan ngomong begitu.”
“Itu bukan aku banget Dian. Emang kamu pernah lihat aku gonta-ganti wanita saat belum berhasil medapatkanmu?”
Dian mengernyit. Sepertinya ia tengah mengumpulkan data di otaknya. “Enggak sih… E tapi nggak tahu juga. Katanya kan kamu ngejar aku jadi nggak mungkin dong kamu mau menunjukkan sisi negatifmu di depanku.”
“Ah serah deh. Ini ke rumah Andre?”
“Bentar aku cek dulu…”
Dian mengecek ponselnya. “Duh…”
“Kenapa sayang?” tanya Ken saat melihat Dian menepuk dahinya.
“Kita salah jalur…”
“Kok bisa?” Ken meminggirkan mobilnya dan berhenti di sana.
“Terus?”
Dian mengangkat ponselnya dan menunjukkan layarnya kepada Ken. “Aku belum pernah tahu alamat ini,” ujar Dian kemudian.
“Masa? Aku jadi meragukan persahabatan kalian…” sarkas Andre.
“Keeennn…”
“Apa sayang?”
Dian mendengus. “Aku coba calling Andre sebentar ya…”
Ken hanya menggerakkan alisnya sementara tangannya nampak mencari sesuatu di dashboard mobil. Ia membiarkan Dian menghubungi Andre sekarang sementara ia berjuang mencari apa yang ia inginkan.
“Jangan minum ah,” ujar Dian saat melihat Ken membuka botol minuman.
“Biar nggak dingin doang sayang. Lagian cuma sedikit,” cuek Ken yang tak rela menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
“Kalau mabuk gimana?”
“Nggak akan…”
Sebenarnya ini hanya pengalihan saja. Meski Ken tahu Dian bukan tipe wanita gampangan, tapi tetap saja yang ia hubungi adalah sang mantan. Jadi rasa cemburu di hatinya masih belum bisa ia kendalikan dengan mudahnya.
“Kenapa?” tanya Ken saat kepala Dian menggeleng.
“Nggak aktif…”
Ken mengangkat tangannya dan mengusap kepala Dian. “Terus ini jadinya gimana?”
Dian menatap Ken dengan sendu. “Pulang aja kali ya…”
“Iya…” Ken menggantung ucapannya. Ia merasa Dian belum selesai dengan ucapannya.
Dian memegang tangan Ken dan menggoyang-goyangkannya. “Kalau lain kali aku nemuin Andre boleh ya,” ujar Dian akhirnya.
Ken menarik tangannya dan menggenggam tangan Dian. Ia mengangguk setelah menarik sudut di kedua bibirnya. “Kamu bilang aja kalau mau nemuin dia.”
“Makasih…”
Tanpa ragu Dian mencium pipi Ken, dan kemudian pasangan ini pulang untuk mengistirahatkan diri.
***
Seorang wanita dengan baju rumah sakit berbalut jas berwarna hitam yang kebesaran berjalan dengan gontai ditengah sepinya malam. Dia adalah Hana, perempuan yang baru saja kehilangan janin di dalam kandungannya. Janin yang bagi sebagian orang dianggap aib, namun bagi Hana dia adalah anugerah karena merupakan buah cintanya dengan Andre, pria yang telah bertahta penuh di hatinya.
Namun sayang, keadaan membuatnya merasa tak mungkin untuk bertahan di samping Andre. Saat ia dengar mama dari pria yang dicintainya ini akan datang, hanya pergi yang ingin segera ia lakukan. Terlebih ketika Rio menemuinya tadi. Ia merasa apa yang dikatakan Rio ada benarnya. Benar dimata kita belum tentu benar di mata orang lain. Hana memang merasa takdir lah yang membuatnya bersama Andre. Tapi ia sadar kebahagiaa Andre dan keluarganya terancam jika ia memaksakan untuk bertahan.
Merasa tak mempu berjalan lagi, Hana menyandarkan punggungnya di dinding. Ia ingin duduk sejenak dan mengumpulkan tenaga sembari berfikir apa yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan nyawa dalam keadaan yang serba tak ada seperti ini.
Hana duduk dengan menekuk lutut. Hal ini membuat rasa sakit yang ia rasa di area perutnya sedikit berkurang.
“Kak Rio, aku tak akan merusak kebahagian orang lagi. Apa dengan begini aku bisa kakak terima?” gumam Hana sambil menatap langit yang nampak hitam pekat.
“Apakah kali ini akan hujan lagi?” gumamnya lagi.
Hana langsung menyelami ingatannya di saat pertemuan tak sengajanya dengan mama Andre. Itu baru pertemuan pertama dan Hana sangat menyesalkan keadaannya saat itu. Jika saja ia bisa tampil lebih normal, mungkin ia tak akan terhempas seketika seperti kala itu.
Dan kali ini kondisinya lebih mengenaskan lagi, dimana ia baru saja kehilangan anak hasil hubungan terlarangnya dengan Andre. Meskipun rasa cintalah yang mendasari hubungan mereka, tetaplah yang mereka lakukan adalah salah. Sehingga mau dilihat dari sudut manapun, Hana dan Andre akan kesulitan mencari pembenaran.
Sehingga saat indera pendengar Hana mendengar perihal rencana kedatangan Heni, tak ada yang mempu ia pikirkan kecuali segera pergi. Setidaknya ia pergi atas kemauannya sendiri, bukan karena terusir seperti tempo hari.
__ADS_1
“Tolloooonnggg….!!!”
Bersambung…