
HAPPY READING
Risma masih dibuat berdecak kagum dengan tempat yang didatanginya sekarang. Ia masih belum percaya jika ia sekarang sedang makan malam di tempat mewah seperti ini. Ia memang tahu tempat ini karena cukup terkenal dan sering dibicarakan. Namun hanya sebatas itu tanpapernah berani berkeinginan untuk turut mencicipi menunya, karena jika ia memaksa, ia harus siap makan mi instan hingga tiba waktunya gajian bulan depan.
Kini Risma semakin yakin bahwa Hana bukan orang dari kalangan yang sama dengan dia. Karena hanya dengan melihatnya saja nampak jelas wanita cantik ini cukup piawai membawa diri sesuai dengan lingkungan dan siapa orang yang dihadapi. Tak heran jika saat berjualan Hana juga sangat pandai memuaskan pelanggan.
“Ma, kamu kok diem aja sih. Kamu capek ya, pengen pulang ya?” Tanya Hana bertubi-tubi.
“Eng, enggak kok. Aku hanya, emm…” Haruskah aku jujur
kalau aku begitu kagum dengan tempat ini? Ah, sepertinya akan terlihat memalukan. Lanjut Risma dalam hati. Ia kemudian tersenyum lebar berharap agar Hana tak lagi menerka-nerka apa yang kini Risma katakan.
Hana terpaksa melepas perhatiannya dari Risma karena kedatangan pramusaji yang mengantar pesanan mereka. Mereka kemudian menata berbagai menu yang telah dipilih oleh Andre dan Hana sebelumnya.
“Makasih,” ujar Hana setelah 3 orang pramusaji itu selesai dengan pekerjaannya. Mereka kemudian mohon diri kembali meninggalkan Hana hanya berdua bersama Risma.
Hana kemudian menatap wajah Risma yang tampak bingung. Ia jadi ingat dirinya dulu di awal kehidupannya bersama keluarga Rahardja. Ia selalu dicibir Rio saat tak tahu harus bersikap seperti yang terjadi pada Risma saat ini. Tak hanya tentang sikap, tentang cara makan, memilih pakaian, cara berjalan dan semua hal yang menjadi kebiasaan orang kaya ia benar-benar tak mengerti sama sekali.
Hingga akhirnya Galih membayar orang khusus untuk membantu Hana masalah ini. Berbagai macam aturan dan kebiasaan yang Hana pelajari memang tak akan seribet bangsawan atau anggota kerajaan Eropa, namun bagi Hana cukup karena ia benar-benar tak mengerti sebelumnya.
“Apa kamu bingung dengan semua makanan ini?” lirih Hana pada Risma. Meski kini mereka tengah berdua, tapi ia tak ingin sampai ada orang yang mendengar apa yang Hana katakan pada temannya. Ia tak ingin membuat temannya ini merasa dipermalukan.
Risma hanya mengangguk segan. Ia ingin menolak tapi kenyataannya ia tak kenal makanan ini pun bagaimana cara memakannya. Akhirnya Hana menjelaskan secara singkat tentang makanan apa saja yang ada di hadapan mereka. Ia tak tahu banyak tentang menu-menu Chinese food, tapi untuk yang ada di depannya ini untungnya semua ia tahu. Dan yang jelas bebas dari bahan non halal.
“Hai Hana. Maaf ya baru bisa nyamperin…” sapa Dian yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Untung saja Hana sudah selesai berbicara dengan Risma tentang makanan yang tersaji di hadapan mereka lengkap dengan cara makannya.
Hana dan Dian sempat saling berpelukan singkat sebelum duduk di tempatnya masing-masing. Ini memang ruang VIP dimana tak berisi banyak orang di dalamnya.
“Kamu apa kabar?” Tanya Dan begitu keduanya melepaskan pelukan.
“Baik, kamu sendiri gimana?” jawab Hana yang sekaligus langsung balik bertanya.
“Nih…” Dian memutar tubuhnya dan tertawa ceria.
“Kamu agak berisi ya?” Tanya Hana hati-hati. Pasalnya pertanyaan seperti ini kadang bisa menyinggung jika ditanyakan pada wanita.
“As you see, Ken sudah bikin aku mengembung begini. Ini belum genap dua bulan loh, nggak tahu deh bulan-bulan ke depan…” ujar Dian dengan wajah cerah bahagia.
__ADS_1
“Kamu isi ya…?”
“Iya isi nasi, ha ha ha…”
Hana sempat ikut tertawa mendengar jawaban Dian atas pertanyaannya. “Kirain. By the way selamat ya atas pernikahan kalian,” lanjut Hana kemudian.
“Makasih, terus kapan rencana kalian nyusul?”
Hana tak menanggapi pertanyaan ini. Ia hanya tersenyum kecut sambil berusaha menghindari tatapan Dian.
Dian sadar jika Hana tak ingin membahas masalah ini. “Eh makan yuk, para pria suka lupa waktu kalau lagi bahas masalah bisnis,” ujar Dian untuk mengalihkan pembicaraan. “Eh, Nona ini siapa?” lanjut Dian setelah menyadari keberadaan Risma yang sejak tadi hanya diam di samping Hana.
Hana nampak terkejut dan menoleh. Ia tertawa kecil karena sempat melupakan keberadaan Risma. “Ini Risma, teman kerja aku. Dan Risma ini Dian yang punya restoran bagus ini.”
“Tck Hana. Kamu suka berlebihan.” Dian segera mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Risma.
“Dian.”
“Risma.”
Ujar keduanya bergantian.
Saat ketiga perempuan ini hendak meraih masing-masing alat makan, tiba-tiba datang dua orang pria tampan datang dan bergabung bersama mereka. Hal ini membuat Risma diam-diam merasa insecure di tempatnya. Clan pertemanan mereka apa mewajibkan harus punya wajah cantik dan tampan ya kalau mau gabung? Terus apa kabar yang buluk seperti ini?Batin Risma dalam hati. Sepertinya Risma lupa kalau selain faktor takdir Tuhan, ada juga peran uang yang menentukan kadar kecantikan dan ketampanan seseorang.
“Kenapa berhenti, udah lanjutin,” ujar Ken saat melihat para wanita yang serempak menghentikan gerakan tangannya.
“Kalian tadi ngapain sih?” tanya Dian dengan nada kesal pada Ken yang baru saja mendaratkan pantat di sampingnya.
“Biasa sayang, bahas bisnis. Andre lagi kebanyakan uang, makanya dia ngajakin buka bisnis baru,” jawab Ken menjadikan Andre sebagai alasan.
“Bangk*! Kamu tuh yang nggak ada puas-puasnya jadi orang kaya. Udah jadi anak konglomerat masih aja pengen ngerajain bisnis receh,” umpat Andre.
“Udah deh, orang situ yang bawa rancangan sama nominal dana yang siap digelontorkan, masih nuduh kita yang nggak tahu apa-apa.”
“Tap…” Andre tak bisa lagi bersuara saat Hana tiba-tiba memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Wah, cerdas kamu Han,” puji Dian saat melihat apa yang Hana lakukan.
__ADS_1
Ken hendak mundur saat Dian bersiap sesuap besar makanan, namun hanya dengan sebuah pelototan, Ken langsung menurut dan dengan sukarela membuka mulutnya.
“Gini kan gampang. Lagian kalian itu bisa nggak sih nggak cuma mikirin kerjaan,” omel Dian sambil mengambil beberapa makanan untuk Ken. “Buat apa sih uang banyak wajah tampan tapi kesehatan badan nggak kejaga,” lanjutnya sambil kembali menyuapkan makanan.
“Ken sakit apa Di?” Tanya Hana yang juga baru saja selesai mengambilkan makanan untuk Andre.
“Lambungnya Han, sama dia ada hypoglikemi. Soalnya Ken nggak suka manisnya kebangetan,” jawab Dian sambil kembali menyuapi Ken.
“Loh, Andre juga. Kemaren pas mau nganter aku pulang tiba tiba penyakit lambungnya kambuh di jalan. Untung nggak sampai terjadi kecelakaan karena dia mendadak berhenti di tengah jalan,” jelas Hana. "Ngepas juga jalan lagi sepi," lanjut Hana.
“Emang jam berapa? Kok bisa jalan di kota bisa sepi.”
“Hampir tengah malam Ndre ya?”
Andre hanya mengangguk. Sepertinya ia tak begitu berminat nimbrung untuk membahas masalah ini. Di sisi lain Risma hanya bisa diam. Selain karena ia tak mengerti dengan apa yang dua pasangan ini bahas, ia benar-benar merasa asing juga minder di waktu yang sama dengan keadaan dirinya.
“Piara itu anak, bukannya penyakit,” omel Dian sambil kembali menyuapi suaminya.
“Tapi kamu belum lama ini deh kayaknya, soalnya sebelumnya kan nggak pernah sakit…?” tanya Hana pada Andre.
“E bentar deh, pas SMA kamu pernah sakit lambung kan Ndre?” tanya Dian memastikan.
Hana yang sempat melihat Dian saat berbicara, kini beralih menatap Andre yang nampak diam.
“Duh paham banget ya mentang-mentang mantan, aduhh….!!!” Ken memekik saat Dian tiba-tiba mencubit pahanya.
Hana tertawa kecil setelah sebelumnya sempat terkejut melihat tingkah pasangan suami istri ini.
“Ya mulutnya suka nggak dijaga sih…” kesal Dian.
Andre meraih tangan Hana dan menggenggamnya. Spontan Hana menoleh mendengar tindakan Andre yang tiba-tiba seperti ini.
“Aku nggak marah kok,” lirih Hana.
“Bukan itu,” sanggah Andre.
“Terus apa?” Hana balik bertanya.
__ADS_1
Dian menghentika debatannya dengan Ken saat melihat Andre dan Hana tangannya tertaut dengan wajah saling menatap dengan raut yang serius. Risma yang sejak tadi menjadi pengamat juga tak luput melihat kejadian ini.
Bersambung...