
Simsalabim banyak yang ninggalin jejak prok prok prok.
HAPPY READING
Miko dan Andre menatap takjub deretan makanan yang tersaji di hadapan mereka. terlebih lagi saat katanya ini semua adalah hasil buatan Hana.
“Ini kamu semua yang buat?” tanya Miko pada Hana.
Hana mengangguk sambil mengambil piring.
“Nggak delivery kan?” Jika sebelumnya ia tak akan terima tentang jika Miko memberikan kesan buruk atau meragukan kekasihnya, maka saat ini justru Andre menimpali pertanyaan sepupunya.
Hana tersenyum dan menyodorkan sepiring makanan untuk Andre. “Entah lah, yang penting ayo makan,” ucapnya sebelum mengambil piring untuk makannya sendiri.
“Luwes juga kamu Han? Kalian udah lama jadian?” tanya Nita yang belum paham sama sekali cara melayani Miko seandainya mereka menikah nanti.
“Aku pernah bekerja Nit, sebagai bawahan sering kali beban yang diberikan tak hanya berhenti diurusan pekerjaan, tapi kadang-kadang makan juga harus…”
“Uhuk, uhuk…”
Hana terkejut sebelum akhirnya tertawa kecil melihat reaksi mantan bos yang dibicarakannya. Ia menyodorkan air minum untuk Andre. Ia juga mengusap punggung pria ini untuk meredakan batuknya.
“Kamu kenapa Ndre?” tanya Nita yang sebelumnya fokus bicara dengan Hana.
Andre tak menjawab. Ia masih sibuk meredakan batuknya. Ia jadi ingat bagaimana ia semena-mena terhadap Hana, memerintahkan apa yang bukan menjadi tugasnya, bahkan meminta wanita ini untuk membelikan makanan dengan reques yang macam-macam. Ini semua ia lakukan setelah tahu Hana punya maksud lain saat masuk ke perusahaan.
“Nita, ini alasan kita nggak pernah boleh bicara saat makan, karena katup udara yang seharusnya tertutup saat makan, akan terbuka sehingga menyebabkan makanan yang harusnya masuk ke tenggorokan akan salah jalan dan masuk ke tenggorokan. Inilah yang membuat kita tersedak, seperti…” Miko menunjuk Andre dengan dagunya.
Andre tak berniat menanggapi. Ia lebih baik diam karena kalau dia sampai salah bicara, hal ini bisa memancing kedua sahabatnya ini untuk mencari tahu lebih banyak tentang siapa
Hana sebenarnya.
“Ya udah, nih makan.”
Nita mengambil lauk dan meletakkannya di piring Miko. Meskipun ia belum seterampil Hana, setidaknya sudah ada inisiatif kan.
***
Sudah larut malam dan Andre masih terjaga sementara tiga orang lain sudah terlelap dan memejamkan mata. Andre perlahan menarik lengannya dari bawah kepala Hana.
“Mau kemana?”
Suara lirih ini berhasil membuat Andre kaget bukan main.
Di luar dugaan, tiba-tiba Hana mambuka mata. Ternyata tak hanya Andre yang tak bisa tibur, melainkan Hana juga.
“Kamu belum tidur?” tanya Andre yang merebahkan lagi tubuhnya.
Gara-gara keinginan gila Andre yang memaksa untuk tidur dengan Hana, akhirnya Nita memutuskan untuk menginap dan bersama Miko menjadi orang ketiga dan keempat untuk Andre dan Hana. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggelar
karpet dan berempat tidur di kamar utama rumah Miko.
Andre menjalani kehidupan yang keras sajak lulus SMA. Ia memutuskan hidup sendiri dan menanggung semuanya seorang diri. Saat tak sengaja membawa Hana ke dalam kehidupannya, ia juga tanpa sengaja pula mulai membagi beban hidupnya dengan dia. Dan bukan hanya bermaksud membual dan memanfaatkan kesempatan, kini bahkan Andre sulit untuk sekedar memejamkan mata jika Hana tak berada di sampingnya.
“Kamu kenapa juga belum tidur?” tanya Andre dengan berbisik.
__ADS_1
“Aku masih kepikiran soal tadi,” jawab Hana dengan cara berbisik pula.
Andre menggenggam tangan Hana. “Percayalah, semua akan baik-baik saja.”
“Tapi aku sudah…”
“Sssttt…” Andre meletakkan terlunjuknya persis di depan bibir Hana. “Aku tadi sudah menyuruh orang untuk menyisir, tapi tak ditemukan mayat di tempat kejadian?”
Hana meraih tangan Andre dan menggenggamnya. “Benarkah?!” pekik Hana senang.
Andre membungkam mulut itu seketika. “Ssssttt…., kamu mau mereka bangun? Aku nggak minat ngebacot sama Miko jam segini.”
Hana tiba-tiba duduk.
“Mau ke mana?”
Hana tak menjawab. Hana justru menarik Andre untuk bangun ikut bangun bersamanya. Kali ini Andre ikut. Ia ingin sesekali mengkikuti kemauan Hana, tak hanya membuat Hana mengikuti semua kemauannya.
Ia menatap Hana yang membiarkan hembusan angin malam menerpa tubuhnya. *Seandainya kamu tahu, j*ika orang yang kamu ceritakan benar-benar meninggal tapi tak ada jenazah yang ditemukan, ini bukanlah pertanda baik. Dalang dari penyerangan pasti tak ingin meninggalkan jejak apa pun terkait penyerangan yang ia lakukan. Dengan kata lain, entah aku atau kamu masih terancam karena telah mereka targetkan.
“Di sini dingin Hana…” ujar Andre memecah suasana.
“Apa kamu tak tahan?” tanya Hana yang sesekali memeluk tubuhnya sendiri.
“Tahan sih, hanya saja aku takut kamu masuk angin.”
“Angin sudah muak dan tak mau masuk ke dalam tubuhku,” ujar Hana dengan santai.
“Maksud kamu?”
Ia kemudian membawa Hana ke dalam pelukannya.
“Ndre…”
“Hmm.”
“Apa kamu lupa? Saat di awal aku tinggal bersamamu? Kamu tak mengijinkanku masuk kamar dan membuarku di ruang tamu dengan pengaturan suhu dingin untuk siang hari, tanpa selimut tanpa…”
Hana tak dapat melanjutkan ucapannya saat Andre tiba-tiba membungkamnya. Ia membalas bungkaman lembut itu, sebelum akhirnya terlepas dan keduanya sama-sama tertawa.
“Maafkan aku saat itu,” ujar Andre sungguh-sungguh.
Hana tak menjawab. Ia lebih memilih menatap lekat mata kekasihnya.
“Kamu sedang apa?” tanya Andre heran.
Hana masih enggan menjawab. Ia menangkup wajah Andre dan terus menatap matanya lebih dalam.
“Kamu ngapain sih?”
Hana menggeleng. “Buka mata yang lebar.”
“Apa sih Han…” Andre ingin melepaskan wajahnya namun masih Hana tahan.
Hana masih fokus, sebelum ia melepaskan wajah Andre begitu saja. Air mukanya langsung berubah.
__ADS_1
“Sudah lah. ternyata dengan cara ini pun tak bisa.”
Hana berjalan meninggalkan Andre begitu saja.
Menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan wanitanya, Andre segera berjalan dan mengejarnya.
“Kamu kenapa sih Han?” tanya Andre setelah berhasil menahan tangan Hana.
Hanya menatap Andre dan kembali memalingkan wajahnya.
“Oke, oke.”
Andre tiba-tiba mengakat tubuh Hana dan membantingnya di atas ranjang.
“Kamu mau ngapain?”
Tanya Hana pada Andre yang wajahnya tiba-tiba berubah menyeramkan.
“Membuatmu bersuara. Membuatmu berteriak dan mendesah aku kira bukan ide yang buruk untuk dilakukan sekarang.”
“Tunggu, tunggu, tunggu.”
Hana menahan Andre yang sudah bersiap menindihnya. Ia kemudian duduk dan merapikan rambutnya.
“Ayo ngomong,” desak Andre.
Hana menghela nafas.
“Ndre, aku ini siapa?” tanya Hana.
“Ya kamu Hana, siapa lagi.”
“Aku ini siapa kamu?”
Andre tak langsung menjawab. Ia menatap Hana dengan tatapan tak biasa.
“Kamu sebenernya mau ngomong apa sih,” kesal Andre.
Hana kembali menghela nafas.
“Jujur, aku mengalami cemas dan was-was setiap saat. Aku nggak tahu siapa yang tulus kepadaku atau yang hanya memanfaatkan ku.”
Andre merasa ia dan Hana akan melewati sebuah obrolan panjang.
“Ayo ngobrol di luar,” ajak Andre.
Saat keduanya masih di kamar Miko. Di sana ada Miko dan Nita yang terlelap dalam tidurnya. Untung dua dokter ini kebo semua. Jika tidak, kegaduhan yang sudah Hana dan Andre perbuat pasti akan membangunkan mereka.
Saat ini Hana dan Andre sedang duduk di ruang tengah. Mereka masih diam hingga beberapa saat lamanya.
“Kamu tadi mau ngomong apa?” tanya Andre membuka suara.
“Aku cuma ingin tahu kesungguhan kamu. Aku takut jika aku terlanjur percaya tapi…”
Bersambung…
__ADS_1