
^^^Pacaran sama saudaranya sahabat. ^^^
^^^Gimana rasanya? ^^^
^^^-Happy reading - ^^^
"Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?" tanya Rina saat melihat Dika yang duduk di serambi masjid terlihat sesekali tersenyum sendiri.
"Emm, selain keyakinan apa yang menurutmu bisa menghalangi cinta?"
Rina menegang. Kenapa kamu menanyakan ini padaku? Apa kamu ingin bilang kalau meskipun saling cinta kita belum tentu bisa bersama?
"Sayang, kamu kebanyakan bengong deh hari ini."
Rina tersenyum dan menggeleng. "Ke mobil yuk..." Rina berjalan meninggalkan Dika yang masih menunggu Dedi yang berjalan-jalan di sekitar masjid.
Tak lama berselang, mobil berjalan membelah jalanan sore ini.
"Rista pengen es krim Kak..." ucap Rista tiba-tiba.
"Kita cari minimarket ya..." jawab Dika.
Setelah menemukan sebuah minimarket, Dika langsung menghentikan mobilnya.
Dedi bersiap keluar dari mobil untuk mengantarkan Rista.
"Kak Rina, temenin Rista ya...," pinta Rista pada Rina tanpa memandang Dedi yang di sampingnya.
"Ha?! A, ayo..." Rina sedikit terkejut karena biasanya Rista lebih suka jika Dedi yang menemaninya.
Dedi menyadarkan tubuh lesunya.
"Aku nggak bakal minta kamu jadian sama Rista, tapi apa aku boleh tahu alasan kamu sebenarnya nolak dia?" tanya Dika.
Dedi mendesah. "Aku ngerasa nggak pantes buat Rista."
"Apa maksudnya!?"
"Who Am I Dika? And see, Who you are? Aku cukup nyadar diri lah untuk tidak memaksa takdir."
Dika menepuk jidatnya. "Astaga. Aku pikir kita itu saling mengenal, ternyata kamu sama sekali tak mengenaliku..."
"Apa maksudmu?"
"Apa kamu menolak Rista karena latar belakang kita?"
"Of course."
"Dan kalau memang aku seperti itu, mana mungkin aku lebih nyaman berteman denganmu, bukan dengan anak para pengusaha kaya yang banyak terdapat di sekolah kita."
Dedi speechless. Tak tahu sejak kapan rasa itu ada, yang jelas ia sudah memendam rasa yang begitu dalam kepada Rista. Hingga ia banyak mengkhawatirkan berbagai sandungan yang bisa saja memisahkan mereka.
"Kenapa diam. Speecless?" Dika menduga dengan tepat. Sepertinya kemampuan analisanya sudah tak boleh diremehkan. "Ded, terserah kamu mau punya hubungan apa dengan Rista, aku nggak pernah ada masalah, tapi aku ingin mengajukan syarat."
"Apa?"
"Jaga dan jangan sakiti dia."
Dedi menatap nanar sahabat di depannya ini. Dia nampak ragu, namun berusaha diusir dengan helaan nafas. "Sebenarnya ada satu lagi alasan yang membuat aku ragu..."
__ADS_1
Dika sedikit memutar duduk ya agar bisa menatap Dedi yang ada di belakangnya.
"Aku yakin semua ini ada kerena Tuhan, tapi..." Dedi diam. Sepertinya ia masih ragu dengan apa yang akan dia ucapkan.
"Tapi..." ulang Dika saat Dedi tak juga melanjutkan ucapannya.
"Tapi aku nggak yakin, tapatkah Tuhan yang aku sembah."
Dika menggela nafas lega. Meskipun sahabatnya ini bimbang dengan keyakinannya,, setidaknya orang yang diinginkan adiknya ini bukan atheis yang tak meyakini keberadaan Tuhan. "So..."
"Apanya yang so?" tanya Dedi.
"Apa rencana kamu?" Dika balik bertanya.
Dedi menghela nafas. "Belajar yang pinter, ngumpulin duit yang banyak biar berani deketin adik kamu, hahaha..." kata Dedi dengan tawa jenaka yang sudah lama tak dilakukankannya.
"Oke, kalau masalah uang, aku punya solusi. Kamu nggak lupa kan apa yang pernah aku tawarin?"
Dedi mengangguk. "Tapi apa aku mampu? Aku kan sama sekali tak punya pengalaman."
"Justru itu." Dika menyugar rambutnya. "Kamu hanya perlu mengumpulkan informasi tentang cabang-cabang perusahaannku. Catat setiap ada kajanggalan. Dari situ secara tidak langsung kamu akan belajar. Dan... Sebenarnya aku juga masih belajar." Dika tertawa miris.
Tepat saat Dika menyelesaikan ucapannya, pintu di sampingnya terbuka. Namun bukan Rina yang muncul, melainkan Rista.
"Lhoh, kok kamu depan sih?" heran Dika.
Rista cuek dan segera menutup pintu setelah masuk.
Dika kembali menyugar rambutnya dan keluar dari pintu di sampingnya.
"Kak, loh, Kak. Mau kemana?"
Dedi tak menjawab dan keluar seperti permintaan Dika. Rista hendak keluar saat Dedi masuk dan duduk di sampingnya.
"Awalnya sih aku udah oke Dedi jadi calon adik ipar, tapi kayaknya Rista nggak mau kan ya...?"
Rista terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Kakak bilang apa?!" Rista belum yakin dengan apa yang baru di dengarnya.
"Kakak cabut ya izin jadian buat Rista dan Dedi...?" Dika sengaja ingin menggoda adiknya.
"Jangan!" tolak Rista cepat.
"Jadi boleh nggak aku masuk?" tanya Dedi yang masih berada diambang pintu kemudi.
Dengan senyum yang merekah indah, Rista mengangguk. Di jok belakang, Dika meraih tangan Rina dan menggenggamnya erat. "Love you..." ucap Dika tanpa suara.
Rina tersenyum. Akan kah ia dapat merengkuh cinta seorang Restu Andika Putra Surya.
***
Di kediaman Rudi, terdengar suara ketukan pintu.
"Iya sebentar...!" teriak Santi yang baru menyelesaikan sholat magribnya.
Cklek
Saat pintu terbuka, nampaklah 4 remaja yang mana dua diantaranya adalah mereka yang sangatlah berarti bagi hidupnya.
"Mama...!" Rista menghambur ke pelukan Santi yang disambut dengan rengkuhan bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terimakasih ya Alloh..."
Keduanya berpelukan dengan sangat erat. Rista sebelumnya memang tak pernah berpisah dengan Santi, jadi pastilah keduanya akan merasakan rindu yang begitu hebat setelah hampir 2 bulan mereka tak bertemu dan sama sekali tak berkomunikasi.
" Mama kangen sama kamu Nak..." ucap Santi yang masih meneluk erat putri kecilnya.
Rista mengangguk dalam pelukan Santi.
"Jadi kangennya cuma sama adik Ma, sama kakaknya enggak?"
Santi dan Rista langsung melepas pelukannya.
Santi tersenyum dan mengusap setitik air di sudut matanya. "Sini Mama peluk..." Santi merentangkan tangannya berharap Dika akan masuk dalam pelukannya.
"Nggak ah." Dika segera menarik Rina dalam pelukannya. "Restu meluk dia aja..."
Rina masih terkejut hingga membuatnya diam saja.
Santi menatap lekat gadis cantik bertubuh mungil di hadapannya. "Cantik," gumamnya.
"Iya lah Ma." Dika mencium pipi Rina yang langsung dihadiahi sebuah cubitan di perutnya.
"Eh, eh, eh, Mama apaan sih. Ma, Ma..." Dika terus mengaduh saat Santi tiba-tiba menjewer telinganya.
"Kamu yang apa-apaan. Siapa yang ngajarin kamu nyium anak gadis orang sembarangan!"
Santi terus mengomeli Dika tanpa melepas jewerannya. Sementara itu, Rista segera mengajak Dedi dan Rina masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, Santi masih terus menatap lekat 2 remaja yang lahir dari rahimnya.
"Ma, nggak ada makanan atau apa gitu kek, masak kita cuma dipandangin aja," ujar Dika untuk memecah hening.
"Eh maaf," Santi langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikum salam..." serempak semuanya saat mendengar Rudi mengucap salam.
Dedi juga menjawab salam tersebut, meskipun aneh di bibirnya namun salam itu begitu akrab di telinganya.
"Mas..."
Santi mendadak panik, takut jika suasana akan keruh mengingat Dika yang belum bisa menerima Rudi sebagai ayahnya. Kepanikannya belum usai saat Dika tampak berdiri dan menghampiri suaminya.
"Mas, aku antar ke kamar..." Santi ingin segera menarik Rudi dari sana.
"Mama ini apaan sih..." Dika menahan mereka.
Rudi tersenyum saat tiba-tiba Dika mencium tangannya. Rista, Dedi, dan Rina pun segera mengikuti hal yang sama.
Santi masih bengong menatap kejadian di depan matanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kamu siap-siap ya, kita makan malam di luar, saya sudah menyiapkan semua."
"Ha...?!"
"Udah ayo...." Rudi membimbing istrinya untuk segera bersiap-siap.
TBC
__ADS_1