Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Mencari Alasan


__ADS_3

HAPPY READING


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Andre bisa bebas juga dari nyeri yang menyerang perutnya. Penyakit asam lambung yang dideritanya akhir-akhir ini kambuh lagi karena kebiasaan hidupnya yang kembali kacau seperti dulu. Makan tak teratur, bahkan sama sakali tak makan dalam sehari, sering makan junk food dan berbagai makanan tak sehat yang diklaim praktis, kembali akrab dengan cafein dan nikotin membuat penyakit yang sempat tak sudi mendekatinya kini mulai kembali lagi.


Dulu saat masih ada Hana bersamanya, wanita ini selalu memperhatikan makanannya, meskipun sikapnya di awal kurang baik. Tapi hal ini tanpa sengaja membuat kondisi kesehatannya membaik seiring dengan kondisi hatinya yang hangat.


Saat ini bisa saja ia melanjutkan perjalanan untuk mengantar Hana kembali ke tempat Risma, namun ia masih betah berlama-lama menatap wajah cantik Hana yang terlelap di sampingnya. Sudah lama ia tak melihat Hana seperti ini, jadi ia merasa sayang jika harus segera mengakhirinya.


Waktu terus berputar dan tak terasa sekarang sudah menjelang pagi. Jalanan yang semula sepi, kini sudah mulai menggeliat lagi. Para penjemput Riski sudah harus berjuang sedini ini untuk mendapatkan sesuap nasi. Bukan dengan mobil yang nyaman tapi yang dikendarai adalah motor butut dan jaket usang untuk menghalau dingin yang menusuk tulang. Bahkan ada beberapa diantaranya nampak mengayuh sepeda tua yang Andre tak paham apa yang akan mereka lakukan nanti.


Diam-diam Andre merasa tersentil. Betapa tak bersyukurnya ia. Di usia yang masih sangat muda, bahkan belum berkeluarga ia sudah punya segalanya. Tapi ia dengan cerobohnya justru menyia-nyiakan hidupnya dan merasa menjadi orang yang paling menyedihkan karena ditinggal Hana yang pergi setelah keduanya tak berhasil menyelamatkan anak hasil perbuatan dosa mereka.


Andre bahkan dengan sembrononya menyia-nyiakan tubuhnya yang notabene merupakan asset berharga yang Tuhan anugerahkan. Hanya karena makhluk Tuhan yang tak boleh sepenuhnya memenuhi hati dan pikiran hambanya.


“Astaghfirulloh hal adzim…”


Mulut Andre begitu ringan mengucap istighfar. Mulutnya yang lebih sering mengumpat, ternyata Allah mudahkan saat umatnya menyadari kesalahannya.


Akhirnya Andre mulai beranjak dari posisinya dan direngangkan satu-persatu otonya untuk kemudian membangunkan Hana.


“Hana, Hana…” panggil Andre sembari mengguncang pelan tubuh wanita cantik yang masih larut dalam lelapnya ini.


“Enngghhhh…”


Tak butuh waktu lama, Hana nampak menggeliat kemudian menguap. Ia sempat mengucek matanya sebelum sadar bahwa ada Andre di sampingnya. Setelah ia ngeh dengan apa yang terjadi sebelumnya, ia segera membuang muka dan membersihkan wajahnya. Secantik-cantiknya Hana, ia tetaplah manusia biasa, bukan bidadari yang cantik paripurna tanpa cela. Sehingga saat bangun tidur sering kali ada belek di mata dan iler di sudut bibirnya. Meskipun tak sampai mengalir atau pun mengucur, tapi tetap saja meninggalkan jejak yang tak sedap dipandang mata.


“Kamu kanapa?” Dengan sengaja Andre meraih dagu Hana dan secepat itu pula Hana menariknya.


“Kenapa sih? Apa kamu masih merasa bisa menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Andre lagi.


Masih dengan muka bantalnya, Hana menggelengkan kepala. “Ya setidaknya kamu tidak perlu melihat wajah kacauku sekarang?” Hana berujar nyaris tak terdengar.


“Kenapa? Kamu takut aku berpaling?” Andre belum menyerah untuk meraih dagu lancip Hana, memaksa perempuan cantik ini untuk membalas tatapannya.


Awalnya Hana masih kekeh menolak, namun Andre berhasil memaksanya. Akhirnya momon mereka saling mentap satu sama lain dapat terulang sekarang.

__ADS_1


“Aku setuju…”


“Setuju apa?” kaget Hana. Ia bingung, pasalnya mereka belum memulai percakapan apa pun sebelumnya.


“Aku setuju dengan keinginanmu untuk memulai semuanya dari awal,” jelas Andre yang paham kebingungan di mata Hana.


Hana tak langsung menjawab. Ia memutus kontak keduanya dan mengucek matanya sekali lagi. Selain untuk membersihkannya dari sisa kotoran, ia juga ingin mengembalikan kesadarannya yang belum benar-benar terkumpul sekarang. Setelah ia yakin dengan penampilannya, Hana mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Andre yang sejak tadi terarah padanya.


“Bolot banget ngak sih kalau aku masih bingung dengan apa yang baru kamu katakan?” tanya Hana malu-malu.


Andre tertawa kecil, tak hanya ia yang kehilangan akal sehat karena cinta, tapi juga Hana yang hilang sebagian besar keceradasan otaknya. Sehingga hanya untuk hal sesederhana ini ia masih merasa bingung dan memerlukan penjelasan lebih untuk dapat dimengerti.


Andre mengangkat tangannya dan perlahan membelai lembut rambut panjang Hana. setelah sampai ke ujung, ia mengangkatnya tangannya lagi dan menyelipkan jemarinya ke sela rambut Hana. Dengan begini Hana sama sekali tak punya peluang untuk menghindari kontak dengan Andre.


“Aku sayang kamu, aku paham mau kamu, tapi kita tak perlu benar-benar berpisah kan?” tanya Andre dengan mata saling mengunci.


Hana hanya mengerjap sebagai reaksi.


“Kita bisa kan menjalin hubungan yang sehat, mulai dari pacaran sebagaimana orang pada umumnya, sebelum melangkah sebuah hubungan yang lebih serius.”


“Tapi orang tua kamu bagaimana?” tanya Hana akhirnya.


“Kita lakukan semua pelan-pelan, jika kamu memang ingin memantaskan diri di tempat kamu berada, ijinkan aku memperbaiki diri di tempatku berada. Dan jika semua sudah membaik, kita akan bertemu lagi insyaallah dalam kondisi yang lebih baik.”


Hana tercengang. Apa yang sebenarnya terjadi pada Andre selama ia ketiduran tadi. Kenapa dia bisa berubah sedrastis ini?


“Apa kamu yakin? Apa mama papa kamu tak akan sakit hati jika kita nekat melanjutkan hubungan?”


Andre melepaskan tangannya dan menyatukan dengan tangan yang satunya.


“Sebenarnya apa sih yang menjadi alasan kamu tiba-tiba pergi beberapa waktu lalu?”


Hana menghela nafas. Ia harus berfikir cepat, untuk menentukan kata-kata yang tepat dalam menyampaikan semuanya. Ia tak boleh gegabah dan membuat Andre salah tafsir karena ia menggunakan pemilihan kata yang salah.


“Apa karena Rio yang sempat menemui kamu?”

__ADS_1


Jdderrrr!!!


Belum juga Hana membuka suara, tebakan Andre sudah tepat saja.


“Tapi kak Rio tak memintaku ninggalin kamu?”


Andre tersenyum simpul. Lagi-lagi Hana mudah sekali ia jebak. Penolakan spontan yang Hana berikan justru memperjelas fakta sebenarnya yang ingin ia sembunyikan.


“Aku cuma tanya Hana, apa ada hubugannya dengan Rio. Jangan panic gitu lah…”


Hana menunduk. Ia baru sadar dengan kebodohan yang baru saja ia ucapkan.


“Kamu sebenarnya sudah tahu kan?” sarkas Hana setelah berani mengakat wajahnya.


“Aku hanya ingin sebuah kejelasan Hana. aku tak mau banyak menduga dalam hal semacam ini, makanya aku ingin mendengar jawaban kamu secara langsung,” jelas Andre dengan sabar.


“Aku tak menghubungi Rio atau pun menemuinya. Aku merasa ini cukup diselesaikan antara aku dan kamu saja. Tapi kalau hal yang sederhana kamu buat jadi sulit, tak menutup kemungkinan aku akan melibatkan orang lain untuk membereskannya.”


Hana menelan ludah. Susah memang kalau mau berkamuflase dengan orang macam Andre. Ia sangat teliti dan peka sehingga pemenang oscar pun akan kesulitan untuk beracting di hadapannya.


“Saat kak Rio datang aku masih belum sadar benar, tapi aku sudah dapat mendengar baik apa yang terjadi di sekitar,” jujur Hana mengawali ceritanya.


Hana menatap Andre sekilas.


“Lanjutkan. Aku hanya akan mendengarkan,” ujar Andre yang tak suka melihat Hana terlalu sering diam.


“Aku sangat senang saat kak Rio menyebutku adik,” ujar Hana dengan mata menerawang. “ Saat itu ingin sekali aku membuka mata dan mengatakan bahwa aku sangat senang mendengarnya. Sayang aku sama sekali tak bisa menggerakkan bibir. Jangankan menggerakkan bibir dan mengeluarkan suara, membuka mata saja aku tak bisa,” ujar Hana sebelum kembali menundukkan wajahnya.


Andre masih mendengarkan dengan seksama.


“Aku terus bersabar mendengar kak Rio yang saat itu banyak  sekali mengajakku bicara, hingga akhirnya aku berhasil membuka mata dan bersuara. Sayang, dia malah pergi setelah aku berhasil memegang tangannya.”


“Lalu apa hubungan semua ini dengan kepergianmu?”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2