
HAPPY READING
“Kamu nggak lagi berhubungan sama anak mafia kan?” tanya Rina yang merasa aneh karena Andre yang kekeh tak mau menceritakan siapa wanita yang akhir-akhir ini berhasil membuat ia kacau dan kalang-kabut.
Dika menghela nafas. “Sayang tolong tutup pintunya ya, bilang juga kalau saat ini saya sedang tak bisa diganggu.”
“Tapi…”
Rina ingin membantah, karena ia masih penasaran dengan sekertaris suamiya. Namun Dika segera malayangkan tatapan tak ingin dibantah. Akhirnya Rina berdiri dan segera melaksanakan apa yang diminta suaminya.
Setelah Rina keluar, Dika mulai menatap Andre dengan serius.
“Saya tak begitu ingin masuk dalam kehidupan pribadimu, tapi saat urusan pribadimu mempengaruhi kinerjamu, saya bisa apa lagi.”
Andre membalas tatapan Dika.
“Maaf Pak…”
Ucapan Andre terhenti saat Dika menggerakkan tangannya. “Biarkan saya memainkan peran sebagai sahabat sekarang. Jadi jangan memanggil saya Pak.”
Andre menghela nafas.
“Awal pertemuan saya dengan Hana ketika kami berada dalam situasi yang kurang baik. Jadi kesan awal kami tak baik pula. Semakin kesini, saya lemah dan justru mulai nyaman saat bersamanya. Tapi saya belum dapat memastikan hubungan kami karena saya sendiri belum yakin tentang jati diri dia sebenarnya.”
Dika menghela nafas. "Apa cinta tidak cukup untuk membuatmu yakin untuk melangkah?"
"Ini tidak sederhana, dan saya khawatir akan ada banyak yang terluka kalau saya memaksa."
"Sebenarnya wanita macam apa yang kamu incar ini?"
Andre tertawa kecil melihat bosnya yang nampak begitu penasaran. "Dia hanya rumput liar yang merepotkan. Saya juga tak habis pikir, kenapa saya bisa merasa nyaman dengan wanita yang tak jelas ini, bukannya dengan wanita yang lebih jelas lainnya."
"Seperti Dian salah satunya?" goda Dika.
"Sebelumnya saya memang ragu, bahkan awalnya saya mengira rasa nyaman saya pada dia hanya karena ingin melarikan diri dari DianDian, tapi sepertinya bukan. Saya suka karena apa adanya dia."
Dika mengangguk paham.
“Jadi?” tanya Dika sambil menatap sekertarisnya.
“Saya ingin menggunakan waktu libur yang anda berikan untuk menyingkirkan semua kabut yang menjadi biang ketidak
jelasan dalam hidup saya.”
Dika menghela nafas dan mengangguk samar. “Saya percaya kamu. Saat ini semua proyek yang sedang berjalan tampaknya sedang berada dalam fase nyaman. Jadi saya rasa Rina bisa menghandle semua tugas kamu sementara.”
“Terimakasih…”
Dika mengernyit. Ia juga menyatukan kedua telapak tangannya. “Saya ingin membahasa Hana yang lain.”
__ADS_1
Degh!
Andre menelan ludah. Dia tak boleh terlihat gugup ataupun cemas.
“Bagaimana kabar terkini Raihana?”
Andre menghela nafas. Ia nampak serius berfikir saat ini. JIka saja Dika tahu, sesungguhnya bukan kabar Hana yang tengah Andre pikirkan, tapi bagaimana mengontrol emosinya agar Dika tak curiga kepadanya. Dia tahu Dika sangat jeli, untuk itu ia benar-benar harus berhati-hati. Jangankan sampai salah kata, bahkan hanya dari helaan nafas dan intonasi bicaranya saja Dika sudah tahu jika ada yang sedang mencoba bermain-main dengannya.
“Dia hilang seperti di telan bumi,” ujar Andre akhirnya.
“Kamu tak coba melacak keberadaannya. Saya yakin dia tak akan menyerah begitu saja.”
Andre mengangguk setuju. “Dia licin dan cerdas.” Andre memilih untuk memperkuat argumen Dika ketimbang membahas masalah lacak-melacak. Karena jika ia membahas hal ini, ia akan rawan ketahuan.
“Benar sekali. Galih Raharja benar-benar mendidiknya dengan baik sehingga kemampuannya bahkan mengalahkan Rio yang langsung luluh saat di sentuh hatinya.”
Andre menatap penuh tanya.
Dika tersenyum simpul. "Rio luluh saat Indah melumpuhkannya dengan cinta. Tapi untuk Raihana saya tak yakin apakan cinta bisa meluluhkannya," ujar Dika tanpa menatap Andre.
Andre kembali menghela nafas untuk mengusir sesak di dadanya. Kenapa kita harus bertemu dengan cara ini Hana? Ia sangat jelas mengingat bagaimana ia menyelidiki dan membongkar bagaimana kebusukan wanita ini.
Samar-samar sudut bibir Dika tertarik. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Bingo!
Dika langsung sadar jika ada yang tak beres hanya karena Andre menghela nafas. Andre harus berfikir cepat untuk menghalau kecurigaan Dika sebelum benar-benar dituduhkan kepadanya.
Dika tertawa kecil. “Siapa suruh kamu harus dekat dengan perempuan bernama Hana juga.”
“Saya juga nggak tahu bagaimana bisa suka dengan rumput liar seperti dia.”
Andre harus benar-benar hati-hati. Ia tak boleh terlalu keras menolak atau berbicara terlalu dibuat-buat. Jika sampai demikian, dapat dipastikan bahwa Dika akan langsung curiga.
“Sepertinya memang benar-benar liar, sampai kamu rela untuk tidak tidur sepanjang malam.”
“Ehm…” Andre mati gaya. Ia hanya mengelus tengkuk yang sebenarnya sama sekali tak membutuhkan sentuhannya.
“Sudahlah, saya bukan pak Edo yang akan memukul bokong kamu saat tahu anak laki-lakinya tidur dengan wanita,” ujar Dika saat melihat sekertarisnya salah tingkah. “Saya hanya berharap, segera nikahi dia kalau keraguanmu sudah terjawab. Meskipun sekarang hal ini sudah dianggap 'wajar', tapi tetap saja ini adalah perbuatan dosa. Mau dulu mau masu sekarang yang namanya dosa tetap saja dosa,” lanjut Dika dengan menatap teduh sekertarisnya.
“Iya. Terimakasih banyak atas pengertiannya.”
“Well, sebelum kamu cuti seminggu, sebaiknya kamu persiapkan semua dengan baik. Saya tak mau melihat Rina terlalu kesulitan saat harus menghandle pekerjaan kamu.”
“Terimakasih banyak, Dika.” Tak putus-putusnya Andre berterimakasih pada bosnya.
“Sama-sama. Kamu memang bekerja untuk saya, tapi bukan berarti kamu tak boleh memiliki ruang untuk kehidupanmu sendiri. Saya hanya berharap kinerja kamu tak akan turun setelah memiliki pasangan nanti.”
“Baik.”
__ADS_1
Dika bangkit untuk mancari istrinya sementara Andre segera kembali ke ruangannya. Dia harus mempersiapkan segala sesuatu agar Rina nanti bisa menggantikannya tugasnya dengan baik.
***
Seorang gadis cantik sedang sibuk di depan laptopnya. Ia sedang menjelajahi berbagai social media namun tak juga menemukan orang yang dicarinya.
“Kamu di Amerika ngapain aja sih. Masa main sosial media aja nggak pernah,” gerutunya karena informasi yang dicarinya sama sekali tak ia dapat.
Drrtt ddrrtt
Gadis cantik ini meraih ponselnya yang ia taruh tak jauh darinya. Setelah membaca pesan yang baru saja masuk di sana, ia segera bangkit dan keluar dari kamar. Ia menyusuri lorong asrama dan berhenti di depan.
“Makasih Pak,” ujarnya pada kurir pengantar makanan. Tak lupa ia juga menyerahkan sejumlah uang untuk membayar pesanannya. Setelahnya, ia segera kembali ke kamar untuk memakan makanan yang ia pesan.
Dia adalah Rista Andini sudah hampir tiga tahun menempati kamar ini. Dalam kamar ini ia hanya sendiri tak seperti penghuni lainnya yang satu kamar harus diisi 4 orang. Apakah diperbolehkan permintaan seperti ini? Sebenarnya tak boleh, hanya saja karena dia anak Rudi Andika dan adik dari pengusaha terkenal Restu Andika semua jadi mungkin untuknya.
Tok tok tok
“Rista.”
Tok tok tok
“Ya, masuk,” jawab Rista sambil mengunyah makanan yang baru saja dibelinya.
Seorang gadis masuk dengan membawa beberapa bukudi tangannya.
“Kamu sibuk nggak?” tanya gadis itu dengan wajah segan.
“Enggak, lagi makan aja. Kamu sudah makan?” tanya Rista pada gadis dengan rambut sebahu dan poni yang menutupi
keningnya.
“Udah kok. Kamu lanjut aja.”
Rista kemudian menyodorkan cemilan yang ia punya. “Buka sendir ya,” ujarnya sambil melanjutkan makan.
Setelah selesai makan, Rista segera membereskan sampahbaru kemudian menghampiri Mutia, teman sekelasnya yang kebetulan memilih tinggal di asrama juga seperti dirinya.
“Ada apa Mut?” tanya Rista saat baru saja duduk di sebelah Mutia.
“Aku mau nanya soal ini. Aku sudah selesai translate tapi aku bingung waktu mau nulis lagi menggunakan bahasaku sendiri,” ujar Mutia sambil menunjukkan pekerjaannya.
“Lah, kan yang juara di kelas kamu, nggak salah nih tanyanya malah sama aku?” tanya Rista sambil menatap tak percaya.
“Aku tahu kamu sebenarnya pintar, cuma nggak harus ngejar beasiswa jadi bisa santai.”
“Enggak Mut, aku tu juga serius kok kalau belajar, tapi ya emang mampu aku cuma segitu,” jawab Rista merendah.
Meski demikian Rista tetap membantu Mutia sebisanya. Rista memang cerdas sebenarnya, namun ia memang tak mau memforsir dirinya hanya untuk belajar. Ia ingin melakukan banyak hal dalam hidupnya.
__ADS_1
Aku akan melakukan apa pun yang aku suka, apa pun itu. Asalkan itu tak memikirkanmu.
Bersambung…