Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kuman


__ADS_3

HAPPY READING


Hana menghembuskan nafas lega setelah tahu siapa yang baru saja memanggilnya.


“Ya Allah… aku pikir siapa?” lirih Hana di hadapan pria jangkung yang ternyata dokter muda yang menjadi salah satu orang penting di perusahaan ini.


Hana juga mengucap syukur kepada Tuhan karena telah menjawab doanya. Dengan munculnya, ia bisa minta talong untuk memberikan ponsel Anin tanpa ia perlu masuk ke dalam. Ia juga yakin Dedi dapat menemukan Rista karena Anin tengah bertemu dengannya.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Dedi to the point.


Buru-buru Hana menunjukkan ponsel Anin yang dibawanya. “Saya tadi habis mengantarkan seorang teman untuk melapor karena ini adalah hari pertamanya resmi sebagai keryawan Surya Group. Tapi dia tak sengaja meninggalkan ponselnya di saya,” jelas Hana.


Dedi hanya menggerakkan alisnya seakan meminta Hana untuk melanjutkan ucapannya.


Hana menghela nafas. “Apa saya bisa minta tolong pada Anda? Kebetulan teman saya ini sedang bertemu dengan dengan Rista, dan aku…” lanjut Hana.


Tanpa berucap atau bahkan menolak terlebih dahulu, Dedi langsung mengambil langkah untuk meninggalkan Hana.


“Eh, eh, tunggu…” Hana meraih tangan Dedi dan menahannya.


Spontan Dedi menatap tajam tangan mereka yang bersntuhan. Hana yang tanggap langsung melepaskannya.


"Maaf," ujar Hana kemudian.


Ya Tuhan, sombong banget sih ini orang. Tapi sayang, aku lagi butuh banget bantuan dia. Kesal Hana dalam hati.


“Maaf, maaf. Aku nggak sengaja memegang tangan anda. Saya cuma mau minta tolong.” Sekali lagi Hana menjelaskan ,berharap Dedi tak salah paham.


“Kenapa tidak kamu antar sendiri ke dalam. Palingan dia ada di ruang Dika.” Ujar Dedi tanpa menjelaskan siapa yang ia maksud dia.


“Justru itu. Saya masih sedikit trauma menginjakkan kaki di kantor ini. Tidak perlu kan saya jelaskan tindakan criminal yang pernah saya lakukan…” Dengan berat hati Hana harus mengakui kalau dirinya pernah berbuat kriminal, dari pada pria batu ini salah paham dengan permintaan tolongnya.


Dedi nampak acuh. Ia kembali melangkah tanpa mempedulihan Hana yang sangat membutuhkan bantuannya..

__ADS_1


Melihat Dedi yang kembali meninggalkannya membuat Hana kembali berusaha mengejarnya.


“Berhenti mengikuti saya,” ujar Dedi pada Hana yang terus mengikutinya sementara ia sedang menunggu pintu lift terbuka.


“Saya mau minta tolong ini Pak. Ini nggak berat kok. Dikantongi pun saya kira tak akan berasa.” Hana masih berusaha membujuk Dedi agar bersedia membantunya.


“Karena ini tak sesuatu yang kecil, lebih baik kamu antarkan sendiri saja…”


Pintu lift terbuka dan Dedi langsung masuk di dalamnya. Hana tak punya waktu berfikir, jadi dia memutuskan untuk ikut Dedi masuk saja. Hal ini tak ayal memicu berbagai spekulasi dari karyawan yang tak sengaja melihat keduanya memasuki lift yang sama.


“Pacar pak Dedi ya. Wah sudah nggak sama Nona Rista sepertinya…” ujar salah sorang karyawan yang kebetulan sudah pernah mengetahui romansa lama adik dan sahabat bosnya ini.


“Gila, nggak kalah cantik yang ini. Beruntung banget ya jadi dia…” kata seorang lagi


“Mana berani banget dibawa ke kantor. Padahal dia kan bukan siapa-siapa sebelum berteman dengan pak Restu...”


Dan kicauan itu tak berlanjut lagi saat mereka ingat jika pekerjaannya tak akan selesai hanya dengan dipandangi.


“Pak Dedi please. Saya akan segera keluar jika anda bersedia menolong saya…” ujar Hana memohon.


“Iya. Tapi saya yakin dia sedang subuk karena sejak tadi panggilan saya sama sekali tak mendapat respon…”


Ting!!


Hana tertunduk lemas, saat pintu lift tiba-tiba terbuka. Belum juga ia berhasil membujuk Dedi tapi keduanya sudah berada di lantai belasan. Di depan pintu lift nampak seorang wanita yang diam saja saat melihat keberadaan Dedi dan Hana. Dedi tak ingin membuang waktu. Ia segera menekan tombol dan lift pun kembali berjalan setelah pintu kembali tertutup.


Hana sempat menatap Dedi yang wajahnya tetap kaku seperti sebelumnya. Rista cantik, ramah dan ceria. Masa iya pernah jalan sama cowok kaku dan sombong seperti ini, batin Hana dalam hati.


Wanita tadi siapa? Kenapa dia nggak jadi masuk? Apa saat Dedi di dalam lift tak ada karyawan yang berani masuk? Jika memang demikian, kenapa juga Dedi tidak menggunakan privat lift yang biasa digunakan Dika dan orang dekatnya? Hana terus meracau dalam hati karena rasanya ia sudah menyerah untuk membujuk Dedi.


Hana nampak beberapa kali menghela nafas. Ia nampak ingin berbicara namun tak berselang lama, suara itu kembali ditelannya.


Bismillah saja lah. Semoga nggak ada kejadian buruk seperti yang aku khawatirkan. Membujuk pria batu ini sepertinya akan percuma.

__ADS_1


Hana terus meracau dalam hati. Karena jika ia bersuara, tak mustahil dia akan dipaksa keluar dari dan artinya ia gagal memberikan ponsel Anin sekarang ini.


Ting!


Pintu kembali terbuka, dan tibalah ia di lantai teratas kantor ini. Hana merasa ini adalah kesempatan terakhirnya. Jika ia tak mencoba, artinya ia harus masuk sendiri dan kemungkinan besar akan bertemu dengan mantan rekan kerjanya.


Hana kembali menahan Dedi setelah keduaya keluar dari lift. Dan entah kebetulan macam apa ini, wanita yang tadi hendak masuk dan urung saat mendapati keberadaan Hana dan Dedi pun puncul sudah berdiri dan menatap keduanya dalam keadaan seperti ini.


“Mari ikuti saya…”


“Ha…?” Hana terkejuta saat Dedi tiba-tiba berbicara ramah padanya. Ia bahkan mempesilahkan Hana untuk ikut dengannya, padahal sebelumnya sekedar menyentuh saja sudah ditatap layaknya kuman.


Dedi kembali mempersilahkan Hana untuk berjalan bersamanya. Padahal masih membutuhkan waktu untuk menelaah perubahan Dedi yang tiba-tiba. Ia juga masih belum dapat menangkap makna tatapan Rahma, wanita yang sempat menjadi rekan kerjanya beberapa waktu lalu di kantor ini.


“Mari…” ujar Dedi sekali lagi.


Hana masih tak mengerti. Perasaan kepalanya nggak kepentok sama sekali, kenapa dia tiba-tiba menganggap aku manusia seperti ini? Batin Hana yang kini melangkah mengikuti Dedi karena diam pun ia rasa tak akan baik karena bisa saja Rahma akan segera mengenalinya. Hana takut diteriaki atau lebih parahnya wanita yang berusia sedikit di atasnya ini akan memukulnya dengan sepatu hak tinggi yang dikenakannya kini karena menganggap Hana penjahat yang harus dilempar dari persahaan ini.


Padahal faktanya para pegawai tahunya ia keluar karena berusaha mendekati Dika, bukan karena tindakan kriminal yang dilakukannya selama bekerja.


Disela langkah gontainya, Hana merasa jantungnya seakan tak nyaman di tempatnya dan ingin melompat mencari tampat baru. Entah kenapa ia sekarang jadi seperti ini. Ia gampang takut dan cemas untuk hal-hal yang bahkan kurang beralasan.


“Mbak, Mbak, Mbak…” Elis dengan suara lirih yang sarat kepanikan memanggil Riza yang sepertinya tak sadar sedang ada kejadian apa sekarang.


Riza meninggalkan sejenak pekerjaannya. “Ada apa?” tanyanya pada Elis.


Elis tak lagi bersuara. Ia hanya memberi isyarat agar Riza mengikuti arah pandangnya. Ia kemudian beringsut untuk menghampiri Riza kala objek yang ditatapnya nampak berhenti untuk berbicara.


“Untung Rahma nggak ada, kalau ada bisa kejang-kejang dia,” lirih Elis sebelum kembali ke tempatnya.


Riza sama sekali tak tertarik untuk menjawab ucapan Elis. Ia lebih memilih untuk memperhatikan wanita cantik yang nampak berbincang dengan salah satu petinggi perusahaannya ini.


Kenapa aku seperti mengenal wanita ini? Batin Riza yang masih focus pada objek yang ditatapnya.

__ADS_1


Sementara itu Elis masih saja ketawa-ketiwi membayangkan jika Rahma ada di sana. Ia kasihan sih, tapi lucu lebih mendominasi pikirannya.


Bersambung…


__ADS_2