
^^^Alhamdulillah, update kedua hari ini.^^^
^^^Ditempat kalian masih berlaku nggak sih pingit-pingitan sebelum nikah?^^^
^^^Kalau ditempatku katanya pamali calon pengentin keluar rumah menjelang hari pernikahan, takut terjadi apa-apa gitu.^^^
^^^Nah aku dulu kan tim nggak percaya begituan, dan ternyata e ternyata 3 hari menjelang ijab kabul saya kecelakaan temen-temen.^^^
^^^Untung nggak parah.^^^
^^^Share cerita kalian di komentar ya.^^^
...*HAPPY READING*...
"Tolong segera tangani teman saya. Saya jamin tak akan ada masalah jika administrasi dilakukan setelah istri teman saya ini kalian tangani."
"Baik Mas."
Tak ada yang berani membantah saat Dika meminta mereka segera melakukan tindakan, karena Dika adalah anak dari pemilik rumah sakit ini.
Dika langsung membawa Rio dan Indah ke rumah sakit ayahnya karena hanya rumah sakit ini yang ada di pikirannya.
Setelah Indah dibawa masuk ruang bersalin, Rio segera menyelesaikan administrasi. Sementara itu Dika menunggu di depan ruang bersalin sementara Rio mengurus segala sesuatunya.
"Sudah beres?" tanya Dika saat Rio datang dan menghampirinya.
"Iya, terimakasih banyak atas bantuan kamu."
"Sama-sama. Saya pamit dulu ya, karena besok saya harus bekerja."
Dika mengurungkan langkahnya saat Rio tiba-tiba mengulurkan tepat tangan di hadapannya.
"Saya minta maaf," ucap Rio saat Dika tak kunjung menjabat tangannya.
Dengan senyum tulus Dika menjabat tangan itu.
"Ternyata menyimpan rasa tak suka yang berlebihan itu tak nyaman, toh dari rasa dengki itu saya juga tak mendapat apa-apa."
"Benar," jawab Dika singkat.
"Mau kah kamu memaafkan saya?"
"Tentu..."
Suara tangisan berhasil menginterupsi keduanya. Dan pintu ruang bersalin pun terbuka.
"Temui istri kamu. Dan selamat."
Rio sempat menepuk bahu Dika sebelum bergegas untuk melihat istri dan anak yang baru dilahirkannya.
Dika berjalan meninggalkan ruang persalinan menuju mobilnya. Ia sesekali memejamkan mata karena kantuk yang mulai menyerang.
" Ya ampun udah jam 1."
Ia segera mempercepat langkahnya. Begitu masuk mobil ia langsung minum air mineral yang selalu ia bawa.
"Bismillah, kuat Dika kuat. Tinggal pulang aja kan ini. Terus istirahat," gumamnya untuk menyemangati diri.
Dika lantas menyalakan mobilnya dan perlahan meninggalkan area rumah sakit.
__ADS_1
Merasa kondisi jalan sepi, Dika tanpa ragu langsung menyeberang begitu saja.
BRRAAAAKKKKK
Tiiiiiiiinnnnnnnn!!
Pandangan Dika mulai kabur. Sekelebat bayangan Mamanya, Rista dan Rina muncul dalam benaknya.
"Ya Allah, jaga mereka," gumam Dika sebelum semuanya menjadi gelap seketika.
Satpam rumah sakit langsung berlari menghampiri mobil Dika dan beberapa orang yang tak sengaja berada sana.
Mobil Range Rover yang dikendarai Dika menabrak sebuah truk tangki yang kebetulan melintas.
Suasana sepi ini berubah menjadi ramai. Banyak mata-mata kantuk yang langsung melek dengan kejadian yang begitu mengejutkan ini.
Dika yang tak sadarkan diri dengan kepala mengeluarkan darah langsung dibawa menuju UGD. Seorang petugas rumah sakit langsung menghubungi Rudi dan mengabarkan bahwa Dika mengalami kecelakaan dan kini tak sadarkan diri.
...***...
Santi terus saja menangis sejak tahu Dika mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Rista pun tak jauh berbeda. Dia menangis hingga ingusnya meluber kemana-mana.
Dedi yang baru dikabari tiba menjelang subuh. Ia datang dengan membawa coklat panas yang sempat ia beli.
"Makasih Ded..."
"Sama-sama Om."
"Dedi bawain coklat, kamu minum ya," kata Rudi saat menghampiri Santi.
Santi menggeleng dan melanjutkan tangisnya. Rudi menyerah dan menghampiri Rista.
"Nggak, hiks, eng, eng, enggak, ma, ma, mau, hiks hiks..."
Dedi tersenyum melihat gadisnya. Gadis yang sangat cantik, bahkan saat kacau seperti ini baginya juga tetap cantik.
Ia tak bodoh. Ia tahu Dika baik-baik saja hanya dengan melihatnya saja.
Sebenarnya Rudi sudah memberi tahu anak dan istrinya, bahwa kondisi Dika tak mengkhawatirkan, namun keduanya malah marah-marah dan menganggap Rudi tak peduli dengan keselamatan Dika.
Ya sudah lah, bisa apa lagi selain pasrah.
Rudi mengajak Dedi untuk keluar. Meskipun tanpa suara tapi Dedi sangat paham maksudnya.
Rudi mengajak Dedi menuju ruangannya setelah keduanya sholat subuh di mushola.
"Apa kamu paham kondisi Dika?" tanya Rudi saat melihat wajah santai Dedi.
"Sepertinya dia baik-baik saja?"
Rudi hanya menatap dan mempersilahkan Dedi untuk meneruskan ucapannya.
"Kalau boleh saya tebak, dia bukan pingsan tapi sedang tidur."
"Hal ini karena efek pereda nyeri yang diberikan kepada dia yang tengah kelelahan."
Kedua sudut bibir Rudi samar-samar tertarik.
"Analisa kamu tepat juga."
__ADS_1
"Saya bukan menganalisa Om, hanya mengira-ngira saja."
"Analisa itu berkerabat dengan mengira-ngira. Bahkan mendiagnosa pun sebenarnya kamu mampu jika mau sedikit saja belajar."
"Apa bedanya menganalisa dengan mendiagnosa?"
"Pengertian kegiatan diagnosa atau diagnosis adalah penetapan suatu keadaan yang menyimpang atau keadaan normal melalui dasar pemikiran dan pertimbangan ilmu pengetahuan. Sedangkan kegiatan analisa atau analisis adalah sekumpulan kegiatan, aktivitas dan proses yang saling berkaitan untuk memecahkan masalah atau memecahkan komponen menjadi lebih detail dan digabungkan kembali lalu ditarik kesimpulan."
" Dalam kasus Dika yang menjadi komponen adalah Dika kecelakaan dengan cidera ringan, Dika kelelahan, dan Dika yang diberi pereda nyeri. "
" Efek pereda nyeri adalah rasa kantuk yang timbul selain efek utamanya yaitu menghilangkan rasa sakit. "
"Jadi kamu menyimpulkan, tubuh lelah Dika yang kemasukan pereda nyeri membuat tidurnya menjadi lebih nyenyak dari biasanya. Betul."
"Iya Om."
Rudi merogoh ponsel Dika yang terus bergetar di saku celananya.
"Kenapa tak diangkat Om?"
"Ini Rina. Menghadapi Santi dan Rista saja saya sudah pusing, bagaimana kalau Rina juga datang kemari. Bisa cekot-cekot kepala ini."
"Mungkin sebaiknya Rina dikasih kabar kalau Dika sudah sadar saja," usul Dedi.
"Saya juga berfikir seperti ini."
Tak terasa mereka sudah berada di depan pintu ruangan Rudi.
"Saya sudah mengurus semua untuk kamu. Silahkan kamu periksa, barang kali ada yang harus dibenahi."
Dedi berjalan menuju setumpuk berkas dan sebuah amplop besar berwarna coklat. Ia memeriksa berkas-berkas secara seksama.
"Siapa yang sudah tahu masalah ini?" tanya Rudi.
"Sementara hanya kita Om."
"Apa tak sebaiknya kamu segera memberi tahu Dika dan Rista?"
"Saya masih menunggu momen yang tepat Om."
"Saya hanya mengingatkan, waktu terus berjalan dan cepat atau lambat mereka akan tetap tahu."
"Iya Om."
Selesai dengan keperluannya, Rudi dan Dedi segera kembali ke ruangan Dika. Jika pun Dika masih tidur, mereka berharap dua wanita yang ada di sana sudah tenang sekarang.
2 pria beda usia ini berjalan sambil membicarakan berbagai hal, termasuk kehidupan. Dedi kagum dengan Rudi. Bagaimana bisa orang yang kaya sejak lahir ini bisa humble dan sesederhana ini.
Jika dia bisa menjadi Rudi, pasti ia tak mau repot-repot dan hidup enak dengan harta yang banyak.
Tangan Dedi sudah memegang handle pintu, namun urung membukanya saat perasaannya tiba-tiba tak enak.
Rudi menyingkirkan tangan Dedi dan memutar kenopnya. Di sana nampak Ririn dan Santi yang berusaha menenangkan Rina yang memeluk tubuh Dika tanpa suara.
Tak jauh dari mereka, ada Reno yang berdiri dan tak melakukan apa-apa.
Rudi bergegas menghampiri Reno berharap jika laki-laki ini tak ketularan kehebohan para wanita di sana.
TBC
__ADS_1