
Senja itu mata komenan.
Iya banget.
Makasih ya ka yang udah kasih gelar itu. saya sangat bahagia.
Komen terus ya kalian biar Senja cair terus idenya.
HAPPY READING
“Kenapa tatapan kalian seperti itu? Apa ada rahasia yang tidak boleh diungkapkan?” tanya Dian penasaran.
Hana hanya mampu memamerkan deretan gigi putihnya, sementara Andre tanpa sungkan mulai merangkulnya.
“Ini ya Hana, sudah aku kenalkan kan sejak aku ke tempatmu malam itu,” jelas Andre.
“Iya, tapi masa cuma boleh tahu namanya doang. Rumah kamu di mana?” Dian masih coba menanyai Hana.
Rumah? Aku kan tidak punya rumah? Batin Hana.
“Kamu sudah kayak penyidik aja,” sela Andre. Ia tahu pasti Hana bingung harus menjawab apa.
“Ya kan aku cuma pengen tahu. Kali aja aku bisa main kalau lagi sengang.”
“Jangan deh?”
“Kenapa emang?”
“Aku takut Hana nggak punya waktu yang cukup buat aku,” bohong Andre. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Hana.
Mata Hana membulat. Sebegininya sih acting Andre. Tapi aku senang ya Tuhan. Kalau gini caranya mana mungkin aku bisa move on kalau sudah dilepeh sama Andre nanti.
“Dih bucin,” cibir Dian.
Andre tertawa kecil mendengar cibiran Dian.
“Aku memang sudah tergila-gila sama dia,” ujar Andre sambil menatap lekat Hana. Tangannya mengelus lembut rambut panjang wanitanya.
Diperlakukan seperti ini, Hana hanya mampu menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
“Gila, gila, gila, ha ha ha.” Dian tidak tahan untuk tidak menyemburkan tawanya.
Andre mulai usil dengan berusaha meraih wajah Hana, memaksa wajah cantiknya yang memerah untuk bertatapan langsung dengannya. Tentu Hana menolak, karena ia sedang malu bukan main saat ini.
Capek menggoda Hana, Andre meraih piring berisi spaghetti yang Dian belikan tadi.
“Mau aku pesenin lagi?” tawar Dian.
“Nggak usah deh Di, kita beneran udah makan tadi,” tolak Andre.
“Kali aja Hana mau pesen yang lain?”
Merasa dibicarakan, Hana perlahan mengangkat wajahnya.
“Nggak usah, aku udah kenyang kok.”
__ADS_1
Baru saja bilang kenyang, tiba-tiba Andre malah menyodorkan makanan di depan mulutnya.
“Ndreee…”
“Dikiiiiitt aja,” bujuk Andre.
Akhirnya Hana membuka mulutnya. Andre masih belum puas mengerjai Hana. Ia sengaja mendorong garpunya sedikit menyamping, sehingga lelehan sausnya mengenai sudut luar bibir Hana.
Hana yang kesal memukul asal tubuh Andre. Bukannya marah atau kesakitan, Andre justru tertawa melihat wajah merengut Hana. Wajah Hana kembali memerah karena kesal, untung mulutnya penuh jadi tak ada omelan yang disemburkan sekarang.
Sambil mengunyah makanan, Hana sibuk mencari sesuatu. Saat tahu apa yang sedang dicari wanitanya, Andre justru menyembunyikannya.
“Ndreeee tisunya mana,” kesal Hana setelah menelan habis makanannya.
“Nggak usah tissue, sini aku bersihin.”
“Nggak mau, paling malah kamu cemongin.”
“Enggak. Udah sini.”
“Nggak mau. Udah siniin aja tissunya, biar aku bersihin sendiri.”
Jika tak bisa diajak baik-baik, maka pilihan terakhir Andre adalah memaksanya. Ia meraih dagu Hana dan mengelap setitik saus di sudut bibir Hana dengan ibu jarinya. Tanpa ragu ia memasukkan sisa saus itu ke dalam mulutnya dan tersenyum menatap Hana yang terpaku dalam keterkejutannya.
Hana hanya mampu mengulum bibirnya setelah mendapat perlakuan yang begitu manis dari pria yang amat dipujanya ini. Ya Tuhan, aku mau Andre gini terus. Apa permintaanku ini berlebihan?
“Ya ampun Ndre, sumpah deh ya, kayak bukan lu banget.”
Andre tak menanggapi. Ia lebih memilih memasukkan satu gulung spaghetti ke dalam mulutnya. Sementara Hana hanya mampu memegangi kedua pipinya yang terasa panas saat ini.
“Lu bahaya Ndre kalau gini terus kayaknya. Dari pada kalian lost, mending kalian cepet kawin deh...”
“Uhuk…”
Cepat-cepat Hana menyodorkan minuman untuk Andre ketika melihat laki-laki ini tersedak tiba-tiba. Ia juga sama sebenarnya, hanya saja ludah yang salah masuk ke saluran pernafasannya tak mengakibatkan batuk bertubi-tubi seperti
yang Andre alami.
“Kalian kenapa sih, kayak maling ketangkep deh, jangan-jangan…”
“Uhuk, kamu, uhuk uhuk, jangan ane, uhuk uhuk uhuk…” batuk Andre panjang sekali. Mungkin ada spaghettinya mau coba jalur lain. Sudah mainstream jika makanan masuk ke saluran pencernaan sehingga ia ingin mencoba masuk ke jalur pernafasan.
Hana bahkan harus mengusap-usap punggung Andre untuk meredakan batuknya.
Sementara Dian masih setia menertawakan sahabatnya.
Pantas saja Andre tampak sangat ingin memiliki Hana. Di saat aku hanya memikirkan apa yang bisa Andre lakukan untukku, tapi Hana melakukan banyak hal untuk Andre. Dia tak hanya cantik, tapi begitu sabar dan telaten.
Andre harus menghabiskan segelas minuman dahulu, dengan begitu baru batuknya mereda.
“Enakan?” tanya Hana. Jika tadi ia mengusap punggung Andre, sekarang ia mengusap-usap lengan kekar pria ini. Tapi kalau dipikir, buat apa coba Hana kayak gini, kan nggak bisa ngurangin batuknya juga. Hana baru melepaskan usapanya saat Andre menginterupsi dengan gerakan tangan.
“Heboh banget, jadi penasaran gua,” ujar Dian dengan tatapan menggoda.
“Ck, jangan suka aneh-aneh,” kilah Andre.
__ADS_1
“Siapa yang aneh. Atau jangan-jangan…” Dian masih belum menyerah menggoda mereka.
“Kayaknya udah malem deh, kita balik dulu.”
Andre segera mengajak Hana bangkit dari sana. Ia tak ingin Dian menghujaninya dengan pertanyaan yang lebih macam-macam lagi.
“E eh, main kabur aja.”
Andre memang sudah melesat, tapi Dian masih bisa meraih tangan Hana.
“Di, udah malem. Bisa repot kalau nggak bisa mulangin Hana,” ujar Andre memperingati.
“Ya lu nggak bisa ninggalin gue gitu aja,” protes Dian.
“Tenang aku bayar,” sahut Andre.
“Gua nggak butuh duit lu, gue butuh tumpangan pulang,” jawab Dian dengan memamerkan deretan gigi putihnya. Dian ikut bangkit kemudian. Kemudian, mereka bertiga berjalan beriringan.
“Udah gue bayar,” ujar Dian saat Andre hendak berbelok ke kasir.
“Thanks,” ucap Andre sambil menyimpan kembali dompetnya.
Tiba di dekat mobil Andre masuk begitu saja tanpa peduli siapa yang akan duduk di sampingnya.
“Lah, kalian kok malah di belakang?!” protes Andre saat Hana dan Dian membiarkan dirinya duduk sendiri di depan.
“Nggak masalah kan. Aku pengen kenalan intensif sama Hana,” jawab Dian.
“Ya Hana di depan pun kan bisa, udah kayak supir aja kalau sendir gini.”
“Nggak bisa. Hana bakal kamu monopoli kalau duduk di sana, ya kan Han?”
Hana manggut-manggut saja. Karena kemampuan ngeyel Dian nampaknya juga cukup tinggi, seperti Andre. Itu semua pasti karena keduanya sudah dekat sejak lama, makanya secara tak langsung membuat karakter mereka hampir sama.
“Han,sumpah deh kamu cantik, nggak pengen coba ikut casting apa?” celetuk Dian tiba-tiba.
“Jangan asal ngomong ya.”
Bukan Hana yang menjawab, tapi justru Andre yang menyahut dari depan.
“Eh, nyaut aja kaya bemo.”
“Ya kamu sih aneh aneh aja.”
“Ya nggak aneh Ndre, Hana itu cantik, dan posisi sekarang dia nggak lagi terikat kerja, ya why nggak coba peruntungan, ya kan?”
“Nggak boleh.”
“Siape elu, lakinya bukan bapaknya apa lagi,” cibir Dian.
“Ya pokoknya nggak boleh. Udah ngobrolin yang lain aja.”
Dian benar-benar puas melihat Andre kesal. Ia memang kecewa, tapi ya sudah lah. Yang namanya hati tak bisa dipaksa. Kalau ada takdir yang memungkinkan dia sama Andre bersama, pasti nanti balik juga.
Bersambung…
__ADS_1